GEMA-Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) UIN Malang menyelenggarakan seminar international perdana, Rabu (30/10). Bertajuk International Conference on Halal Innovation, Engineering, and Science (ICOHTES) acara dibuka langsung oleh Wakil Rektor IV bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga Dr. Uril Bahruddin, MA. Konferensi yang mendatangkan narasumber dari berbagai negara ini berlangsung di Hotel Sahid Montana II Malang.
Director Halal Standard Institute of Thailand Prof. Dr. Pakorn Priyakorn menjadi salah satu narasumber berkenaan dengan halal tourism. Menurutnya ada beberapa fakta penting terkait dengan Halal Innovation di Thailand. Salah satunya negara ini menjadi satu dari sepuluh negara pengekspor produk halal terbesar di dunia. “Thailand also ranked 18 out of 130 destinations for muslims worldwide,” lanjut Pakorn. Langkah Thailand dalam mencapai hal tersebut adalah dengan menyesuaikan sistem sertifikasi halal. “Akan semakin banyak sertifikasi untuk hotel, restoran, produk, dan jasa lainnya untuk pelanggan muslim,” tambahnya. Sertifikasi ini telah diatur oleh kerjasama antara Halal Standard Institute of Thailand (HSIT), the Halal Science Center, Chulalongkorn University (HSC-CU) dan Central Islamic Council of Thailand (CICOT), salah satu badan sertifikasi terbaik dunia untuk produk halal.
Hal senada disampaikan oleh Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Lc, MA., inisiator halal tourism di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang juga merupakan narasumber konferensi. Ia menegaskan kemajuan industri halal tidak ada kaitannya dengan faktor demografis. “Thailand bukan negara Islam, tapi bisa mencapai semua itu,” tuturnya. Menurutnya, yang terpenting ialah kebijakan dan keinginan politik pemerintah. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim, lanjut Zainul sudah didukung oleh sistem politik yang semakin kuat. “Jadi tidak berlebihan jika kita berharap nantinya Indonesia menjadi negara acuan halal industri,” jelasnya.
Ia melanjutkan, halal tourism bisa menunjukkan wajah Islam rohmatan lil alamin. Kebijakan pemerintah seharusnya tidak perlu membahas regulasi yang kebermanfaatannya hanya dirasakan internal muslim, seperti aturan sholat berjamaah. “Lebih baik memprioritaskan nilai-nilai Islam dalam regulasi pemerintah,” tambah Zainul. Terbukti dengan disahkannya NTB menjadi Halal Tourism, wisatawan asing bertambah mencapai 190%. “Selain itu mereka juga akan melihat Islam Indonesia yang moderat,” pungkasnya. (ir/nhl)



