GEMA-Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag secara resmi membuka langsung kegiatan konferensi internasional pertama tentang
Teknik, Teknologi, dan Ilmu Sosial atau the 1st Internasional Conference On Engineering, Technology and Social Science (ICONETOS) di hotel Ijen Suites Malang, Kamis (10/10).
Turut hadir keynote speaker Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP, M.Ag, (Director of Islamic Higher Education) Prof. Faisol Mahmud Adam Ibrahim (Universitas Al-Qur’an Al-Kareem wa ‘Ulum Al-Islamiyyah, Sudan), dan Prof. Akira Kikuchi (Hiroshima University, Japan).
Prof. Haris dalam sambutannya menyampaikan bahwa UIN Malang telah melakukan upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui proses integrasi keilmuan yang dikembangkan di kampus ulul albab. Dia menilai Proses integrasi di UIN Malang bisa dilakukan melalui dua aspek yaitu keilmuan dan lembaga kampus.
Ilmu itu tidak bisa lepas dari literasi, dan transendensi atau berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta, sehingga Allah dalam firmannya menegaskan melalui surat yang pertama kali diturukan kepada Rasulullah yaitu surat Al Alaq. "Sejak awal Islam tidak ada dikotomi keilmuan, ini terjadi karena arus sekularisme keilmuan menjadi terkotak-kotak," jelasnya.
Ada sekitar 73 makalah yang akan di bahas dalam konferensi tiga hari tersebut, untuk itu, tambah dia, melalui forum diskusi dari para ilmuan ini diharapkan bisa menyumbangkan pemikiran integrasi keilmuan yang dikembangkan di UIN Malang," harapnya.
Sementara itu, salah satu kynote speaker Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP, M.Ag membeberkan perkembangan era digital 4.0 yang tidak bisa dipungkiri adanya. Kehadirannya harus bisa diambil manfaat dan kontribusinya. “Sehingga generasi milenial saat ini tidak ketinggalan,” paparnya.
Adanya perkembangan teknologi ini, kata dia, memiliki dampaknya luar biasa, semua informasi bisa dihadirkan dengan cepat, sehinggah muncul istilah ustaz google dan ustadzah youtube. "Ketika siswa tidak puas dengan gurunya, maka mereka akan berselancar dengan google dan youtube untuk menggalih informasi," paparnya.
Generasi milenial ini kiblatnya sudah ke internet, malalui pintu google yang mudah diakses di HP Androidnya masing-masing. Namun, ini bisa menjadi pemicu terjadinya kesalah pahaman dalam perbedaan. "Tentu kita tidak bisa mengklaim pemahaman kita benar dan yang lain salah, bisa jadi mereke yang lebih benar," paparnya.
Tayangan televisi saat ini turut menjadi promosi gratis dan sekaligus memiliki dampak yang nyata terhadap prilaku masyarakat. "Ini menjadi penggerak nyata terhadap pola hidup bagi generasi dan masyarakat," paparnya.
Untuk itu, tambah dia, jadilah generasi kritis yang tidak mudah termakan hoax, selalu open mind, terbuka dan mau menerima masukan untuk perbaikan. “Seorang muslim yang moderat itu perlu melihat perkembangan global, lokal, dan bersikap moderat,” pungkasnya.



