LITERASI DI ERA POST-TRUTH
Abadi Wijaya Senin, 7 Oktober 2019 . in Berita . 1777 views
2430_perpustakaan.jpg
BAGI ILMU: Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd saat menyampaikan materinya.


GEMA-Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar literasi, Sabtu (5/10). Seminar ini dilaksanakan di Auditorium Saintek lt. 4, dan diikuti kurang lebih 200 mahasiswa UIN Maliki sebagai peserta seminar. Literasi di era post-truth menjadi tema seminar kali ini karena dewasa ini, faktanya masyarakat lebih mempercayai perkataan tokoh terkenal dibanding dengan data dan fakta yang ada.
“Era pasca-kebenaran merupakan bentuk perubahan yang luar biasa dengan sangat cepat”, Ujar Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. dalam memaparkan materinya. Era ini berada pada zaman disrupsi dimana perubahan yang sangat besar secara tiba-tiba yang menimpa seluruh sektor manusia. Tambah guru besar UM Malang tersebut. Indonesia sudah mulai memasuki zaman ini sejak dari 3-4 tahun yang lalu.
Post-Truth juga dapat difahami dengan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi tetapi dibuat terjadi, seperti: hoax, fake news, kabar palsu dan istilah-istilah lainnya. Dalam revolusi 4.0 ini tidak ada yang dapat menanggulangi kemajuan teknologi, sehingga Kepala Perpustakaan Pusat UM ini memberikan beberapa prinsip kemanusiaan dan humanitisme yang harus dimiliki untuk mencegah hal tersebut.

2431_cc.jpg


Pertama, memiliki karakter, tata krama, akhlak, dan etika. Sehingga, karakter yang kuat dapat mengontrol diri dalam revolusi digital ini. Kedua, memiliki kompetensi, kemampuan dalam memilih dan memilah teknologi dan informasi secara baik dan benar. Ketiga, literasi digital, mengerti dan memahami informasi tersebut mulai dari sumber, isi, penganggung jawab dan mengerti dengan tepat mengenai hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang dalam dunia kepenulisan literasi.
Setelah memahami prinsip, tidak bisa untuk dihindari dalam era revolusi digital ini dengan munculnya penyakit revolusi digital. Penyakit tersebut adalah kedangkalan berfikir. Dalam seminarnya Prof. Djoko memberikan dua pilihan untuk menghadapi revolusi digital yang kilat ini. Pertama, dengan memperlambat laju perubahan. Kedua, mempercepat laju perubahan. Menurut Prof. Djoko, lebih baik memilih untuk memperlambat lajunya karena untuk menyelamatkan saraf kejiwaan masing-masing individu. “Tujuannya agar seorang anak dapat tempat bercerita secara fluent kepada orangtuanya tanpa diburu kuota dan baterai,” terangnya.
Melalui literasi ini tambah dia, informasi dapat cepat, tepat, cermat, cendikia, dan informatif. “Disinilah perpustakaan dan ilmu informasi memiliki peran yang menjadi tonggaknya masyarakat agar ber-literate dengan tepat”. Ucap pria ramah ini sebelum menutup materinya. Sehingga, ilmu perpustakaan menjadi mercusuar masyarakat untuk mencari informasi. (ofi)

Reporter: Ach. Basofi
Foto: Basofi

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up