GEMA-Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang secara resmi membuka kegiatan Rapat Tinjauan Manajemen Mutu tahun 2019 di hotel Golden Tulip Batu, Senin (25/11). Kegiatan RTM ini akan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dan berakhir Rabu, (27/11).
Dalam sambutannya, Prof. Haris mengapresiasi kepada seluruh pimpinan yang ada di UIN Maliki Malang, pasalnya tahun 2019 ini berdasarkan hasil laporan yang diterima mahasiswa dan dosen UIN Maliki banyak meraih prestasi yang membanggakan, salah staunya UIN Maliki juara umum pekan ilmiah olah raga seni dan riset (PIONIR), juara umum OKI di Makassar dan Geography. “Total ada 39 prestasi juara,” paparnya.
Selain itu, UIN Malang tahun ini juga sudah melakukan pengukuhan tiga guru besar, dan jika tidak ada halangan Desember 2019 ini aka nada pengukuhan dua guru besar lagi di kampus tercinta ini. “Saya mohon bagi dosen yang sudah memenuhi syarat untuk segera mengajukan guru besarnya,” pintanya.
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Kemenag RI Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi saat melakukan kunjungannya ke UIN Maliki, dia berharap UIN Malang bisa menjadi kampus yang bisa dibanggakan bagi seluruh masyarakat muslim dunia. Untuk itu, beliau menegaskankan bahwa UIN Malang menjadi al Azhar nya Indonesia.
UIN Malang, kata dia, harus menjadi salah satu PTKIN yang bisa dibanggakan di tiga sektor utama, yaitu soal Pendidikan, penelitian danpengabdian kepada masyarakat. Untuk itu, melalui RTM dengan tema “Penguatan Outcome Based Education (OBE) atau pendidikan berbasis capaian pembelajaran di Era Industri 4.0” sangat tepat sekali.
RTM ini setidaknya bisa menelurkan ide atau gagasan segar yang out of the box, dengan cara melakukan perubahan metode pembelajaran konfensional yang sudah dilakukan selama ini, sehingga dampaknya sering terjadi kres atau bahkan berebut ruangan kelas saat hendak kuliah.
“Jika memang bisa dilakukan pembelajaran online kenapa tidak, tapi tetap dosen dan mahasiswa tidak meninggalan pembelajaran tatap muka, komposisinya bisa diatur misalkan 30 persen system pembelajaran online dan yang 70 persen tatap muka,” jelasnya.
Yang terpenting, kata dia, dosen tetap bisa mengontrol para mahasiswanya dan begitu juga lembaga ini bisa mengontrol para dosennya dengan system pembelajaran online tersebut.



