GEMA-Usai dilakukan workshop metodologi pengabdian masyarakat berbasis riset, kali ini LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali memompa motivasi dan produktifitas penulisan artikel daripara dosen di lingkungan UIN Malang. Melalui kegiatan riview karya ilmiah pra peneliti diajak duduk bersama pembimbingnya guna mempersiapkan proses publikasi, Jumat (8/11).
Sekretaris LP2M Ahmad Abtokhi, M.Pd, mengatakan bahwa kegiatan review ini diperuntukkan bagi dosen peneliti yang telah menyelesaikan kegiatan penelitiannya pada tahun 2019. “Selain itu juga memberikan pengetahuan dan bimbingan praktis agar artikel bisa masuk dan terindek di jurnal internasional bereputasi,” jelasnya.
Oleh karena itu, kata Abtokhi, hampir sepenuhnya acara ini dihadiri para dosen peneliti dari berbagai fakultas. LP2M kali ini mendatangkan dua orang pakar publisher artikel di jurnal bereputasi, yakni Dosen Universitas Brawijaya, Malang Prof. Muhaimin Rifa'i, PhD.Med.Sc, dan Dosen Universitas Airlangga, Surabaya Prof. H. Hery Purnobasuki, Drs., M.Si., Ph.D.
Dalam arahannya, Prof. Muhaimin menjelaskan tentang cara mengecek tingkat Quartile (Q) sebuah jurnal melaui aplikasi atau laman ScimagoJr di www.scimagojr.com. Quartile (Q) menunjukkan peringkat sebuah jurnal. Terdapat empat tingkat Quartile (Q) sebuah jurnal, yaitu: Q1, Q2, Q3, dan Q4. Tingkat tertinggi adalah Q1 dan terendah adalah Q4. Berikutnya dijelaskannya juga tentang teknik uji kualitas bahasa suatu artikel, yakni melalui grammarly.
Grammarly kata dia, merupakan aplikasi yang secara otomatis mendeteksi potensi tata bahasa, ejaan, tanda baca, pilihan kata, dan kesalahan gaya dalam penulisan, mengikuti resep linguistik umum. “Hasilnya memang tidak sempurna tapi cukup membantu, dan ini biasa saya gunakan untuk check artikel yang berbahasa Inggris,” jelas Profesor di bidang Imunologi itu.
Sementara itu, Prof. Hery Purnobasuki. Melengkapi dari apa yang telah dibahas dan didiskusikan oleh Prof. Muhaimin Rifai. Kali ini lebih menekankan pada pemahaman dasar tentang penulisan artikel yang baik dan benar sekaligus tips dan triknya sehingga bisa terindeks di jurnal scopus. Namun demikian, saran dosen yang juga merupakan salah satu guru besar UNAIR ini bahwa semua proses harus dimulai step by step. “Jadi semua penulis artikel di sini mesti sabar dan belajar pede,” ungkapnya.
Alasannya, tegas dia, ada bekal utama agar bisa submit di jurnal internasional bisa melalui ketrampilan menulis, bahasa, dan selalu update informasi literasi perjunalan. “Saya yakin dosen di sini bisa asalkan terus berusaha, belajar menulis, menikmati proses hingga melakukan revisi berkali-kali dan itu memang posisi anda semua sekarang ini!,” ungkapnya sambil menjawab pertanyaan dari dosen di akhir acara. (ptt)
Reporter: Putut



