GEMA-Seluruh aspek kehidupan sosial tentu terkena dampak dari kebijakan lockdown untuk menekan korban Covid-19 (Corona Virus Disease). Tak terkecuali, aktivitas keagamaan. Banyak simpang siur informasi terkait apakah aktivitas ibadah tetap dijalankan atau mengikuti kebijakan pemerintah. Untuk menjawab hal tersebut, Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. mengundang perwakilan pemuka agama di Kota Malang. Mereka diajak berdiskusi dalam talkshow rutinan yang dihelat di depan Gedung Rektorat, Jumat (17/4).
Para tokoh tersebut ialah H. Ahmad Taufiq Kusuma (Islam), Nugroho Sugiwiyono (Katolik), Pdt. Dr. Stefanus Hadi Prayitno (Kristen), Pandito Hariono (Buddha), dan Bintarto Mulyo (Konghucu). Mereka tidak memungkiri bahwa aktivitas keagamaan yang biasa dilakukan juga akan menjadi salah satu cara perpindahan virus. Pasalnya, dalam satu waktu, puluhan jamaah berkumpul di satu tempat yang sama. Hal ini tentu merisaukan.
Cara dari masing-masing pemuka agama pun beragam. Nugroho Sugiyono telah menghimbau kepada umat Katolik agar tetap mengikuti peribadatan secara daring. Ia beralasan, ibadah umatnya harus dilakukan secara langsung agar diterima oleh Tuhan. “Maka, kami bekerjasama dengan stasiun televisi lokal untuk menyiarkan kegiatan agama di Gereja secara langsung,” jelasnya.
Sementara itu, pemuka agama Buddha menghimbau agar umatnya melakukan ibadah atau bertapa di rumah. “Kami ingin agar mereka menggunakan momen ini untuk merenung serta tak lupa mendoakan agar wabah pandemi ini segera berakhir,” tutur Pandito Hariono.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) H. Ahmad Taufik Kusuma menegaskan bahwa bagaimana pun kondisinya, ibadah tetap harus jalan. Karena, ini menyangkut urusan individu dan Sang Pencipta. “Kita tidak boleh diliputi ketakutan yang berlebihan, namun juga jangan meremehkan apalagi bertingkah sembrono,” tekannya. (kh/ptt/nd)



