GEMA-Minggu, 13 September 2020. UKM Pramuka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan Seminar Nasional Berbasis Online. “Creative Entreupeneur dalam Menyambut New Normal setelah Dampak Pandemi COVID 19” menjadi tema yang di usung dalam seminar kali ini, hal ini didasari oleh banyaknya keresahan masyarakat tentang apa yang harus dilakukan untuk tetap produktif di Era New Normal ini, yang diikuti oleh ratusan peserta baik anggota Pramuka maupun bukan anggota Pramuka dari berbagai kota di Indonesia. Seminar ini mengundang pemateri handal dan sukses dalam bisnisnya. Adapun 2 pemateri tersebut yaitu, Kak Martalinda Basuki seorang founder sekaligus owner brand Cokelat Klasik dan Kak Wahyudi Sukarno seorang founder beberapa lembaga training sekaligus purna Wakil Ketua Dewan Nasional (DKN) Kwarnas Gerakan Pramuka. Pada kesempatan kali ini, kedua pemateri menyampaikan berbagai ilmu dan juga motivasinya melalui pertemuan via Zoom. Disamping itu, berjalannya seminar nasional ini, juga dipimpin oleh sorang moderator handal yaitu Kak Rahna Mahesi alumni dari UKM Pramuka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan para peserta seminar bisa mendapatkan ilmu baru mengenai entreupeneur.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kak Isroqunnajah selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan sekaligus Kaharmabigus UKM Pramuka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam sambutannya Beliau menyampaikan bahwa Pramuka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan UKM pertama yang mengadakan Seminar Nasional berbasis virtual pada masa pandemi ini. Suatu kebanggaan tersendiri bagi UKM Pramuka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, karena bisa menjadi pelopor dalam mengadakan kegiatan positif yang berbasis online pada masa pandemi seperti ini.
Selanjutnya yaitu penyampaian materi dari kedua narasumber yang dipimpin oleh Kak Rahna Mahesi. Kak Lala ini merupakan pebisnis muda yang mengawali karirnya sejak tahun 2011, yaitu pada masa pertengahan kuliah tepatnya pada semester 4. Berawal dari hobinya memasak, Kak Lala menemukan ide untuk merintis bisnisnya yaitu dengan membuka cafe di Malang. Pada awal merintis bisnisnya, Kak Lala mengalami jatuh bangun yang sangat luar biasa, karena masih sedikit pengetahuan tentang manajemen bisnis. Hingga akhirnya mencoba menjual beberapa jenis minuman yang berbeda-beda guna melakukan riset. Adapun riset yang dilakukannya, guna mengetahui selera yang diminati konsumen pada saat itu. Setelah melakukan bebarapa riset dan juga belajar dari kegagalan sebelumnya, Kak Lala menemukan ide untuk menjadikan bubuk cokelat sebagai bahan utama dalam produknya. Kemudian seiring berjalannya waktu, produk tersebut dikenal banyak kalangan dengan label Cokelat Klasik. yang sampai sekarang berkembang pesat dan memiliki banyak outlet yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.
Menurut Kak Lala, dalam membangun sebuah bisnis harus memiliki dasar alasan yang kuat, diantaranya binis harus dimulai dari diri sendiri dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Selain itu, juga melakukan riset sesuai dengan yang dibutuhkan pasar/konsumen. Dalam enterpreneur juga dibutuhkan persiapan mental yang kuat dan modal, namun modal yang dimaksud ini bukanlah hanya mengacu pada uang saja, tetapi juga pengetahuan dan kemampuan dalam manajemen bisnis.
Dilanjutkan pada pemateri kedua, yaitu Kak Wahyudi Sukarno yang biasa disapa dengan Kak Karno. Kak karno ini merupakan spesialis pada bidang soft skills dan building yang mendirikan beberapa lembaga pengembangan sumber daya manusia. Adapun lembaga yang telah dirintisnya yaitu, Eagle Fundamental Training, Silver Hawk El, dan Mata Rajawali Competency Assignment. Menurut pandangan beliau, langkah awal untuk mendirikan bisnis yaitu membutuhkan modal, adapun modal yang dimaksud yakni, mentalitas yang kreatif dan membangun berfikir kreatif.
Dalam perjalanan bisnis tentunya akan ada hambatan-hambatan yang dihadapi, baik dari faktor internal, seperti : takut mengambil resiko, takut untuk dikritik, kurangnya usaha berkreasi, kekauan dalam berfikir dan kurang percaya diri, serta faktor eksternal, seperti : sikap orang tua dan cara mengajar guru yang otoriter, masyarakat/lingkungan yang tidak mendukung, serta fasilitas yang kurang mendukung. Selain itu, kak Karno juga memberikan macam-macam tips dalam mengembangkan kreatifitas. Yang pertama, tingkatkan penggunaan otak kanan ; melalui similasi visualisasi tujuan, pelajarai seni musik, berolahraga jalan kaki tanpa alas. Kedua, kenali hambatan kreativitas dan lakukan rencana aksi untuk mengurangi hambatan tersebut dan yang ketiga, biasakan berfikir berbeda dari yang lain. Juga pesan beliau jadilah pemuda yang berperan jangan jadi pemuda yang baperan.



