AICIS BALI USUNG TEMA FUTURE RELIGION IN G20
Abadi Wijaya Rabu, 2 November 2022 . in Berita . 532 views

 

4602_ali-ramdhani.jpg

HUMAS-Kementerian Agama (Kemenag) RI kembali melaksanakan ajang bergengsinya yaitu Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-21 di Bali, yang dijadwalkan akan berlangsung selama empat hari, Selasa-Kamis (1-4/11). 

AICIS di Bali ini merupakan kali kedua setelah AICIS Lombok. Konferensi kali ini mengusung tema besar yang dikaitkan dengan isu G-20, yaitu Future Religion in G-20 dengan tiga isu utama, yaitu Digital Transformation, Knowledge Management, dan Social Resilience. 

4603_audiens.jpg

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Prof. Dr. M. Ali Ramdhani, S.TP., M.T pada acara pembukaan AICIS di Pandawa Ballroom Four Point Hotel, Bali menegaskan bahwa tajuk dan isu utama yang diusung AICIS kali ini untuk merespons isu terkini khususnya yang menyangkut kajian keislaman kontemporer di tingkat nasional maupun internasional. "Jadi AICIS kali ini mengusung tema besar yaitu Religion in G20, yang dikemas dalam sebuah ruang kekinian dengan tiga fokus utamanya yaitu Digital Transformation, Knowledge Management and Social Resilience," jelasnya.

Kang Dhani, sapaan akrabnya, membeberkan bahwa tema yang diambil itu bagian dari respon menghadapi era 5.0 yang mengubah drastis paradigma dalam setiap lini kehidupan. Future religion pada dasarnya untuk memberikan nilai-nilai keagamaan pada tempat yang seharusnya. Agam hadir penuh cinta dan rasa toleransi, dalam Alquran Allah SWT telah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan suku dan kulit yang berbeda dan agama hadir untuk memberikan ruang kasih sayang. "Dalam Islam yaitu rahmatan lil alamin, agama yang penuh rahmat dan kasih sayang," tegasnya.

4604_siap.jpg

Kang Dhani menyampaikan bahwa ahli manajemen menyebut hari ini dunia global mengalami gejolak ketidak pastian. Dalam kehidupan kontemporer lawannya perubahan dan kompleksitas penuh ambigu dasar kebenaran semakin tidak jelas. "Untuk itu agama harus hadir penuh cinta dan jangan dijadikan sekat untuk menghancurkan satu sama lainnya," bebernya.

Dulu agama datang untuk menghancurkan berhala tapi sekarang agama dijadikan berhala untuk menghancurkan sesama. Sebenarnya agama hadir membawa cinta bukan sekat dan melakui forum AICIS ini setidaknya bisa menghadirkan agama yang ramah dan penuh toleransi sesuai dengan tema AICIS kali ini.

Sebuah transformasi pengetahuan harus mengetuk tularkan nilai kebaikan bukan soal benar dan salah. Akan tetapi menajamkan nilai yang baik dan buruk itu harus utuh tanpa mengubah esensi dari agama itu sendiri.

4610_jelas.jpg

Banyak orang salah kaprah soal moderasi beragama, moderasi yang diusung Kemenag adalah setiap insan mempelajari agama secara baik dan benar agar bisa tampil memahami ayat pengiring kehadiran Rasulullah. "Wama arsalnaka illa rohmatan lilalamin," tegasnya.

Tema AICIS kata kang Dhani, untuk menghadapi dinamika masa depan, segala sesuatunya akan berjalan baik Digital Transformation, Knowledge Management and Social Resilience. Para ahli menegaskan bahwa seluruh spesies dunia ini akan hilang kecuali yg responsif terhadap perubahan. Ukuran kecerdasan seseorang adalah kemampuan untuk berubah. "Orang yang cerdas bukan orang yang pandai menghafal rumus dan menghitung dengan cepat. Akan tetapi mereka yang mampu mengikuti perubahan," pesannya.

(Ajay)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up