HUMAS UIN Malang - UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan Seminar Nasional dengan tajuk "Tracing History and Intellectual Legacy of Maulana Malik Ibrahim: Pathways to Enlightenment." Seminar tersebut diadakan untuk mengetahui sejarah panjang kehidupan dan intelektualitas salah satu dari 9 wali nusantara (Walisongo), yaitu Maulana Malik Ibrahim. (18/10)
Seminar Nasional yang diselenggarakan di Fakultas Humaniora ini sebagai salah satu agenda Perayaan Ulang Tahun (Harlah) ke-62 sejak berdirinya Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag. Dalam pidatonya, beliau menceritakan sejarah berdirinya Universitas dengan logo "Ulul Albab" tersebut. Namun, pada tahun 2004 akhirnya resmi menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan menanamkan nilai-nilai agama yang moderat serta mengintegrasikan ilmu pendidikan tinggi dibarengi dengan pendidikan pesantren.
Acara ini resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. KH. Isroqunnajah, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa acara seminar tentang sejarah dari Maulana Malik Ibrahim akan menjadi komitmen terhadap tahun-tahun yang akan datang. “Seminar nasional sejarah dan kebudayaan seperti ini merupakan salah satu cara yang cocok untuk merayakan harlah UIN Maliki Malang dari sekarang hingga seterusnya,” ucapnya.
Acara seminar nasional ini juga merupakan wujud pengenalan dan juga pengkajian lebih lanjut terhadap sejarah tentang Maulana Malik Ibrahim. Bahan-bahan kajian yang didiskusikan diambil dari sumber-sumber primer seperti prasasti ataupun manuskrip dari berbagai versi (perspektif) seperti Yogyakarta, Solo dan beberapa tempat lainnya yang tersebar di pulau Jawa sebagai wujud untuk memperkuat diskusi.
KH. Ahmad Baso dan Dr. Ali Akbar, S.S, M.Hum. menjelaskan sejarah Syeikh Maulana Malik Ibrahim, mulai dari islamisasi di Samudera Pasai hingga penanaman nilai-nilai kebudayaan dan Pendidikan. Dengan kata lain, artefak yang dilestarikan sampai saat ini bukan hanya sekedar pajangan saja, melainkan ada unsur keilmuan yang lebih penting dari itu.
Reporter: Rayhan Hafizh Ananda
Photografer: Ariel Alvi
Editor: Edy Hyto



