HUMAS UIN MALANG – Seremoni pembukaan The 8th International Conference on Islamic Education (ICIED) yang diadakan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (9/11) menarik perhatian seluruh presenter yang hadir di aula rektorat lantai 5 UIN Maliki.
Pasalnya, dalam seremoni itu diwarnai dengan penampilan Tari Bang-bang Wetan. Di mana tarian ini adalah tarian yang menggambarkan semangat juang putra-putri daerah Jawa Timur dalam mengusir penjajahan. Selain itu, tarian ini sangat kental dengan jawa timuran yang rancak dan gagah. Ciri lain dari tarian ini adalah nuansa warna yang mencolok pada kostum penarinya.
Tari Bang-bang Wetan sendiri diartikan sebagai "abang-abang ing sisih wetan" (semburat merah di ufuk timur). Semburat warna merah ini menandakan waktu pagi akan muncul. Sebab, pagi merupakan waktu yang digunakan manusia untuk mewujudkan mimpi membumi, menjadikan harapan menjadi kenyataan.
Tarian yang ditampilkan tiga mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) ini menuai apresiasi dari berbagai kalangan. Mulai dari tamu undangan yang hadir hingga para mahasiswa. Seperti ungkapan dari salah satu presenter, Shobihatul, salah satu tamu undangan yang mengapresiasi penuh atas penampilan mereka. “Keren luar biasa sih, penari dan penampilannya. Full-apresiasi untuk mereka, kita harus support terus,” ungkap wanita berkacamata itu.
Salah satu penari Bang Bang Wetan, Najib menceritakan, sehari sebelum seremoni pembukaan, penampilan seni budaya di hadapan para tamu undangan konferensi internasional sudah ditampilkan dalam acara Gala Dinner ICIED dan pertemuan dekan se-Asean. "Sebenarnya tadi malam kami sudah tampil di Gala Dinner, di depan ratusan tamu undangan yang hadir. Pagi ini juga tampil di acara pembukaan konferensi, alhamdulillah berjalan dengan lancar,” ungkap Najib.
Dirinya menambahkan, dalam acara Gala Dinner, lima mahasiswa PGMI yang membawakan tarian Bang-bang Wetan. Gerakannya yang sangat energik namun tetap lemah gemulai, karena tarian ini berisi gerakan-gerakan semangat perjuangan serta gerakan lain yang dibuat menarik. “Karena tarian ini kental dengan semangat juang Jawa Timuran, jadi gerakannya ya penuh semangat tapi tetap luwes,” imbuhnya.
Ikha selaku Dosen Tari menjelaskan, selain betujuan mengembangkan potensi mahasiswa, penampilan ini juga bertujuan meningkatkan rasa percaya diri mereka, serta melatih berhubungan sosial antar sebaya maupun dengan lingkungan sekitarnya. “Melatih hubungan sosial siswa tentu tidak terlepas dari kenyamanan emosional yang dirasakan, sehingga keberhasilan hubungan sosial berkaitan erat dengan kondisi emosional mahasiswa, dengan kondisi emosional yang sering kali mengalami perubahan,” jelas Ikha.
Dengan berpastisipasi dalam kegiatan konferensi internasional seperti ini, Ikha berharap, tarian-tarian tradiosional semacam ini mampu dikenal luas di mancanegara. “Harapannya tarian-tarian tradisional ini bisa dikenal dunia, khususnya Tari Bang-bang Wetan yang dibawakan mahasiswa kami,” harap Ikha.
Wakil Dekan 3 FITK Marno, M.Ag turut mengapresiasi mengajak semua pihak untuk terus melestarikan budaya daerah. “Apresiasi yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa dan tim kesenian PGMI atas pertunjukan yang luar biasa nan menghibur presenter dan tamu undangan di konferensi internasional, dan mari sama-sama kita jaga dan lestarikan budaya, khususnya kesenian tari," ungkapnya seraya mengajak.
Gita salah satu personel tari ini berharap kepada seluruh mahasiswa untuk mengapresiasi dengan cara mendukung dan melestarikan kebudayaan lokal agar budaya tersebut tidak luntur dan terlupakan.
Sebagai informasi, para mahasiswa PGMI ini tergabung dalam Sanggar Seni Bina Madrasah (SSBM) sanggar yang dimiliki oleh program studi PGMI yang telah berdiri sejak tahun 2013 dengan banyak prestasi yang telah ditorehkan.
Reporter: Sulthan Fathani Elsyam
Fotografer: Mukhammad Iskandar Amrulloh
Editor: Edy Hyto



