Dekan Pendidikan se-ASEAN dalam Gala Dinner
Humas UIN Malang - Setelah mengumumkan menjadi tuan rumah International Conference on Islamic Education (ICIED) yang ke-8 yang bersamaan dengan Forum Dekan Pendidikan ASEAN, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Gala Dinner di Hotel Swiss Belinn, Rabu (8/11) malam.
Pagelaran Gala Dinner ini yang berlangsung berlangsung begitu meriah. Kehadiran para pembicara dan tamu undangan disambut dengan penampilan Tari Bang Bang Wetan yang dibawakan oleh mahasiswa PGMI UIN Malang untuk menghibur para tamu. Gala Dinner ini juga dihadiri seluruh dekan pendidikan se-ASEAN serta para pembicara ICIED yang terlibat dalam sharing pengalaman dan berkolaborasi dalam menghadapi tantangan bersama di sektor pendidikan.
“Terima kasih kepada para tamu undangan sekalian yang sudah hadir. Kami merasa terhormat bisa menyelenggarakan pertemuan bergengsi ini yang menumbuhkan kolaborasi, berbagi ide, dan kemajuan praktik pendidikan dalam pendidikan Islam. Tujuan kami adalah menciptakan wacana dan inovasi di era modern yang berdampak positif pada masa depan pendidikan, khususnya pendidikan Islam,” ucap Dekan FITK.
Basori dan Prof. Like menjadi moderator dalam, suasana gala dinner yang dikemas dalam sharing sessions pecah dan meriah karena semangatnya yang tak lelah untuk menghibur para tamu undangan. Sharing sessions tersebut membahas tentang moderasi beragama dan pendidikan inklusif dari masing-masing perspektif. Orang-orang yang terlibat dalam diskusi ini diantaranya Mahan Mirza, Ph.D (University of Notre Dame, Indiana), Mira Sambada (TIM USAID), Prof. Dr. Zawawi Ismail (Ketua Majlis Dekan Pendidikan Malaysia), Prof. Dr. Anis Malik Thoha (UNISSA Brunei Darussalam), Prof. Sri Sumarni, M.Pd (Ketua FORDETAK PTKIN se-Indonesia), hingga Prof. Dr. Nor Aniza Ahmad (Universiti Putra Malaysia).
Mahan Mirza, Ph.D, selaku perwakilan dari pembicara menyampaikan bahwa friendly terhadap agama apapun itu penting agar terbangun rasa inklusi antar sesama.
“Dalam menempuh pendidikan, tidak harus beragama Islam untuk menghormati sesama. Karena inklusi itu perlu dipupuk bersama,” ujarnya.
Di penghujung acara, terpilih Prof. Nur Ali (Indonesia) menjadi Ketua Dekan Pendidikan se-ASEAN melalui musyawarah dalam forum dekan pendidikan se-Asia Tenggara. Dibantu wakilnya, Prof. Dr. Zawawi Ismail (Malaysia), Prof. Dr. Anis Malik Thoha (Brunei Darussalam). (sf)
Reporter: Sulthan Fathani Elsyam
Fotografer: Mukhammad Iskandar Amrulloh
Editor: Edy Hyto



