Tiada keraguan bahwa bahasa merupakan unsur pokok dan prasyarat utama perkembangan peradaban manusia. Oleh karena itu, menjadi menarik untuk kembali mengajukan sebuah pertanyaan klasik seputar kelahiran bahasa yang selama ini telah menjadi perdebatan para ahli dan filsuf bahasa. Sejak kapan bahasa ada? Secara sambil lalu mungkin bisa dijawab sejak manusia ada. Bila nirmana (perspective) evolusionisme Darwinian digunakan, maka bahasa lahir bersamaan dengan munculnya spesies homo sapiens.
Dalam mitos Yunani Kuno, Hermes diyakini sebagai dewa yang bertugas khusus menerjemahkan pesan-pesan Tuhan untuk manusia melalui bahasa manusia. Tuhan perlu mengangkat Hermes sebagai penerjemah (walau mungkin tanpa Surat Keputusan) karena bahasa Tuhan tidak bisa dimengerti oleh manusia. Penyebabnya bisa karena bahasa Tuhan yang terlampau sulit, atau karena kemampuan manusia yang sangat terbatas, atau bisa jadi Tuhan berbahasa berbeda dari bahasa manusia. Kemungkinan-kemungkinan lain bisa saja terjadi. Jadi tugas Hermes ialah bagaimana menyampaikan kehendak Tuhan yang menggunakan bahasa langit kepada manusia dengan menggunakan bahasa manusia di bumi.
Berita Kompas (29/12/09) tentang banyaknya penggunaan bahasa asing (Inggris) di hotel dan tempat hiburan dalam rangka menyambut malam tahun baru 2010 menarik untuk disimak. Ini mengingatkan kita pada kriktik sejarawan Swiss terkemuka, Hebert Luethy, sebagaimana dikutip Benedict Anderson (1990) bahwa “sebagai bahasa, bahasa Indonesia suka meminjam istilah asing apa saja dengan begitu melimpah, sehingga bahasa ini merupakan bahasa “sintesis”. Sikap sinis lain disampaikan oleh sejarawan Perancis , Jerome Samuel, sebagaimana dikutip P. Ari Subagyo (Kompas, 24/10/2009) bahwa penambahan puluhan ribu istilah baru secara cepat --- terutama demi perannya sebagai bahasa ilmiah--- membuat bahasa Indonesia “sama dengan bahasa baru”.
Pernahkah anda mendengar atau mungkin mengetahui bahwa nama-nama hewan seperti gudel (anak kerbau), pedet (anak sapi), kancil, beluk (anak kuda) dan sebagainya dijadikan nama diri atau nama panggilan seseorang? Bagi orang yang hidup di masyarakat modern, pemberian nama hewan sebagai nama diri tentu sangat aneh sepertinya kok tidak ada lagi nama lain yang lebih baik. Padahal, nama itu sangat penting karena menyangkut identitas, jati diri dan bahkan harga diri seseorang. Islam bahkan mengajarkan agar kita memberi nama yang baik kepada anak keturunan kita. Harapannya adalah agar kelak si anak akan menjadi orang baik, sebaik nama yang disandang.
From its term, sociolinguistics is derived from two different disciplines: sociology and
Sebagai warga masyarakat bisa, akhir-akhir ini saya merasa tidak nyaman menyaksikan perilaku masyarakat kita baik pada tingkat elit maupun tingkat bawah. Berbicara lantang katanya demi tegaknya demokrasi. Berbicara lepas kendali dengan menghujat sana sini katanya wajar sebagai perwujudan demokrasi. Tidak memenuhi panggilan aparat penegak hukum untuk klarifikasi sebuah masalah dikatakan sebagai haknya sebagai warga negara untuk menolak. Berunjuk rasa dengan membakar dan menginjak-injak foto tokoh yang didemo dan membawa binatang kerbau dan kambing dianggap sebagai seni berekspresi yang dijamin oleh undang-undang dalam alam demokrasi. Menirukan dan bahkan melecehkan gaya seorang tokoh dipandang sebagai bunga-bunga demokrasi. Masih banyak lagi perilaku atas nama demokrasi yang tidak sesuai ukuran masyarakat beradab.