MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Melalui program "UIN Mengabdi", dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi pencegahan stunting dengan pendekatan nilai-nilai Islam di Desa Kedaleman, Banyuwangi, Sabtu, 1 November 2025. Dipimpin oleh Dr. Ridwan, M.Pd.I, kegiatan di Masjid Baiturrahmah ini menyasar 56 orang tua murid TK dan MI.
Acara dibuka dengan gerakan sambung hati dan doa untuk anak-anak tercinta, melalui pembacaan Al-Qur'an, sholawat, dan istighosah. Dr. Ridwan dalam sambutannya menyatakan bahwa pencegahan stunting harus bersifat holistik, menggabungkan aspek kesehatan dengan penguatan nilai-nilai keimanan dalam keluarga. “Kesehatan anak adalah amanah dan ibadah. Orang tua harus menanamkan pola hidup sehat dan nilai-nilai iman sejak dini,” jelasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Desa Kedaleman, H. Mohammad Shofwan, S.Ag., dan Kasubbag TU Kemenag Banyuwangi, Drs. H. Mohammad Jali, M.Ag.. Keduanya memberikan apresiasi atas inisiatif UIN Malang yang mengintegrasikan pendekatan religius dalam upaya pencegahan stunting di wilayah mereka.
Puncak acara ditandai dengan pembacaan ikrar bersama untuk membangun generasi sehat dan penyerahan buku panduan karya Dr. Ridwan kepada para peserta. Inisiatif ini menegaskan komitmen UIN Malang dalam mengintegrasikan ilmu dan iman untuk aksi nyata di masyarakat. (af)
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Dalam upaya memperkuat ekosistem halal nasional, Halal Center Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Pelatihan Juru Sembelih Halal (JULEHA) Batch 1 Tahun 2025, pada Jumat - Ahad (31 Oktober–2 November 2025) di Gedung D Kampus UIN Malang.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Timur hingga Kendari, yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pentingnya kompetensi juru sembelih halal yang profesional dan bersertifikat.
Acara dimulai pada hari Jumat pagi dengan registrasi peserta dan pre-test, dilanjutkan pembukaan resmi yang berlangsung khidmat. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara diawali dengan sambutan pertama oleh Kepala Halal Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ibu Eny Yulianti, M.S.I. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pelatihan ini tidak sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran akan tanggung jawab moral dan spiritual dalam menjaga kehalalan produk hewani.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Dr. H. M. Lutfi Mustofa, M.Ag. Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPP2M) UIN Malang, yang mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini sebagai bentuk sinergi antara kampus dan lembaga sertifikasi dalam mencetak sumber daya manusia halal yang kompeten dan siap terjun ke masyarakat.
Selama tiga hari pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi penting, di antaranya koordinasi pekerjaan, pemeriksaan fisik hewan, penerapan higiene dan sanitasi, keselamatan kerja (K3), hingga penetapan kesiapan dan status kematian hewan sesuai syariat Islam. Pelatihan ini juga menghadirkan asesor profesional, drh. Aris Wahyudi dari LSP KESWAN, yang turut mendampingi dan menguji langsung kemampuan peserta pada sesi praktek penyembelihan halal. Kehadiran asesor ini memastikan seluruh peserta memahami standar penyembelihan yang benar, aman, dan sesuai regulasi nasional.
Pada hari berikutnya, peserta mengikuti praktek penyembelihan menggunakan hewan ayam dan sapi, diikuti dengan ujian kompetensi untuk menilai aspek pengetahuan, keterampilan, dan penerapan syariat dalam penyembelihan hewan. Suasana pelatihan terasa antusias dan penuh semangat, mencerminkan komitmen peserta untuk menjadi juru sembelih halal yang terpercaya.
Melalui kegiatan ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap dapat melahirkan juru sembelih halal yang profesional, berintegritas, dan memahami nilai-nilai syariat Islam secara mendalam. Pelatihan ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kehalalan dari hulu ke hilir, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri halal dunia.
“Pelatihan JULEHA ini bukan hanya pembekalan teknis, tetapi juga pembentukan karakter dan tanggung jawab moral dalam menjaga kehalalan dari hulu hingga hilir,” ujar salah satu panitia Halal Center. (af)
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY–Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM., CRMP., menegaskan komitmen kampus dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Hal itu disampaikan dalam Seminar Nasional dan Konsolidasi Ulama Perempuan Indonesia bertema “Menuju Kampus Inklusif: Memperkuat Peran Ulama dan Akademisi dalam Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas” pada Kamis, 30 Oktober 2025 di Rumah Singgah Lantai 4 Kampus 2 Pascasarjana UIN Malang.
Dalam sambutannya, Prof. Ilfi menyampaikan apresiasi kepada KUPI dan Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) atas kerja sama strategis dalam penyelenggaraan kegiatan ini. “Terima kasih kepada pimpinan Fahmina dan juga KUPI yang telah mempercayai UIN Malang menjadi tuan rumah kegiatan penting ini. Melalui kolaborasi ini, kita bersama-sama membangun komitmen nyata menuju kampus inklusif,” tutur Prof. Ilfi.
Lebih lanjut, Bu Rektor menekankan bahwa visi UIN Malang untuk menjadi universitas unggul bereputasi internasional tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberdampakannya terhadap masyarakat. “Apalah artinya unggul jika keberdampakannya tidak dirasakan masyarakat. Karena itu, UIN Malang bertekad menjadi kampus inovatif, kolaboratif, dan adaptif yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi semua,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan peluncuran Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UIN Malang sebagai bentuk penguatan kelembagaan yang berfokus pada riset dan advokasi inklusivitas. Kegiatan ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UIN Malang dan Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) oleh Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM., CRMP. dan Dr. H. Marzuki Wahid, M.A.
Melalui langkah ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan diri sebagai perguruan tinggi Islam yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga hadir sebagai ruang ramah bagi keberagaman, kemanusiaan, dan inklusivitas.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY, Depok – Upaya membangun perdamaian dunia tak selalu dimulai dari meja politik, melainkan sering kali lahir dari ruang-ruang dialog lintas iman. Hal inilah yang menjadi sorotan penelitian berjudul “Bridging Faiths, Building Peace: Comparative Interfaith Engagement in Indonesia and the United Kingdom” yang digagas oleh empat akademisi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yakni Devi Pramitha, Faridatun Nikmah, Ida Fitri Anggarini, dan Shobihatul Fitroh Noviyanti. Hasil karya ilmiah ini disampaikan dalam ajang Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025, konferensi bergengsi yang mempertemukan ilmuwan lintas disiplin dari berbagai penjuru dunia. Gelaran ke-24 ini berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada 29–31 Oktober 2025.
Melalui riset komparatif antara Indonesia dan Inggris, tim peneliti menemukan bahwa dialog lintas agama bukan hanya wadah berbagi gagasan, tetapi juga mekanisme nyata dalam membangun perdamaian dan mencegah polarisasi sosial.
“Indonesia memiliki kekuatan pada praktik akar rumput yang kental dengan solidaritas budaya dan nilai kebersamaan. Sementara Inggris menonjol lewat pendekatan institusional dan pelatihan kepemimpinan lintas agama,” ungkap Devi Pramitha, peneliti utama sekaligus dosen UIN Malang.
Penelitian ini menyoroti bagaimana Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, menanamkan semangat toleransi melalui nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika. Upaya membangun kerukunan diwujudkan dalam program seperti interfaith youth camp, kegiatan lintas agama di pesantren, hingga proyek kemanusiaan bersama antarumat beragama.
Kementerian Agama RI melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) juga berperan penting sebagai jembatan komunikasi dan mediasi antarumat beragama di tingkat daerah. Tradisi lokal seperti pengajian, selametan, dan shalawatan menjadi sarana efektif menumbuhkan kebersamaan dalam perbedaan.
Sementara itu di Inggris, riset ini menelusuri kiprah lembaga Faith & Belief Forum dan Bahu Trust Mosque yang mendorong dialog antarumat beragama melalui program pendidikan, kunjungan lintas tempat ibadah, dan kerja sama dengan parlemen setempat (ParliaMentors Program). Melalui kegiatan ini, para pemuda dari berbagai latar belakang agama belajar langsung tentang kepemimpinan, toleransi, dan kerja sama sipil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun berbeda konteks sosial dan politik, baik Indonesia maupun Inggris memiliki semangat yang sama: menjadikan keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan pemisah.
“Model berbasis komunitas di Indonesia bisa menginspirasi Inggris dalam memperkuat solidaritas akar rumput, sedangkan Inggris dapat memberi contoh bagaimana sistem kelembagaan mampu menopang kerja sama lintas agama yang lebih terstruktur,” ujar Faridatun Nikmah.
Keduanya, lanjutnya, bisa saling belajar untuk membangun jejaring global yang mendorong nilai-nilai kemanusiaan universal, menghadapi tantangan radikalisme, migrasi, dan disintegrasi sosial.
Penelitian yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan analisis dokumen ini menegaskan pentingnya interfaith engagement sebagai proses berkelanjutan yang melibatkan semua pihak—mulai dari masyarakat, lembaga agama, hingga pemerintah.
“Dialog lintas iman bukan sekadar diskusi, tetapi praktik nyata dari empati, saling percaya, dan tanggung jawab bersama,” ujar Devi menutup wawancara.
Melalui pembelajaran timbal balik antara Indonesia dan Inggris, riset ini memberikan pesan kuat bahwa perdamaian global hanya bisa terwujud jika umat beragama mau membuka diri, saling belajar, dan menjadikan perbedaan sebagai jembatan, bukan jurang pemisah.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY, Depok– Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang turut meramaikan gelaran Education Expo dalam rangkaian Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025 yang berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, 29–31 Oktober 2025.
Acara yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia ini berhasil menarik antusiasme luas dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag — mulai dari madrasah aliyah negeri (MAN), perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), hingga penerbit buku ternama seperti Gramedia.
Tak hanya menjadi wadah akademisi dan ilmuwan kampus untuk berbagi gagasan, AICIS+ 2025 juga menghadirkan sesuatu yang baru: Riset Expo. Termasuk tim expo UIN Maliki Malang di bawah komando Ketua Humas M. Anwar Firdaosy yang menyuguhkan hasil riset indra penciuman elektronik dan juga kabut anti virus yang diciptakan Imam Tazi Dosen Fakuktas Sain dan Teknologi, serta aplikasi pembelajaran bahasa arab 4 jilid yang diciptakan oleh pusat bahasa UIN Maliki Malang.
Tak hanya itu, pameran ini juga menjadi ruang kreatif bagi madrasah unggulan dan perguruan tinggi untuk menampilkan hasil-hasil riset terbaiknya kepada publik.
“Nanti peserta bisa melihat langsung hasil riset anak-anak madrasah, misalnya tentang cara menjadi ibu yang tetap slim, atau minuman herbal yang membuat bapak-bapak awet muda. Semuanya hasil riset orisinal dan ilmiah,” ungkap Amien, salah satu panitia pameran, sambil tersenyum.
Lebih lanjut, Amien menambahkan bahwa beberapa hasil riset siswa madrasah bahkan telah siap melangkah ke level internasional. “Ada beberapa karya yang sudah layak dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus. Ini menunjukkan bahwa madrasah kita telah melahirkan peneliti-peneliti muda yang potensial dan inovatif,” tegasnya.
Kehadiran UIN Malang dalam ajang bergengsi ini menegaskan perannya sebagai kampus riset yang aktif mendorong integrasi ilmu keislaman, sains, dan teknologi. Melalui AICIS+ 2025, semangat kolaborasi dan inovasi lintas jenjang pendidikan di bawah Kemenag semakin terasa nyata — dari madrasah hingga perguruan tinggi, dari laboratorium kecil hingga panggung internasional.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY - Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar "Konsolidasi Multipihak" sebagai forum strategis untuk merumuskan kebijakan kampus inklusif. Kegiatan ini diselenggarakan pada Kamis, 30 Oktober 2025 dengan berhasil mempertemukan ulama perempuan, aktivis, komunitas disabilitas, akademisi, dan perwakilan pemerintah di Rumah Singgah Lantai 3, Gedung Pascasarjana UIN Malang.
Konsolidasi ini merupakan salah satu sesi dari rangkaian Seminar Nasional "Menuju Kampus Inklusif" yang digagas UIN Malang dalam rangka Dies Natalis universitas. Berbeda dengan seminar di pagi hari yang difokuskan untuk menyusun rencana tindak lanjut konkret dan dokumen rekomendasi bersama.
Diskusi intensif ini dirancang UIN Malang secara partisipatif, dengan formasi meja U-shape untuk mendorong dialog yang setara antar pemangku kepentingan. Forum ini menjadi langkah awal UIN Malang dalam merumuskan draf Naskah Akademik Kebijakan Kampus Inklusif.
Untuk memandu jalannya diskusi yang kompleks ini, PSGA UIN Malang menggandeng mitra strategis, yakni Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dan Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon. K.H Marzuki Wahid, MA, yang juga Rektor ISIF Cirebon, bertindak sebagai fasilitator utama yang memandu diskusi.
Kolaborasi ini sangat penting bagi UIN Malang, yang pada pagi harinya telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Fahmina Institute/Jaringan KUPI. Keterlibatan Jaringan KUPI membantu UIN Malang dalam menjembatani narasi keagamaan yang progresif dan ramah disabilitas dengan advokasi kebijakan yang implementatif di lingkungan perguruan tinggi.
Sesuai tujuan utamanya, UIN Malang menjadikan forum ini sebagai wadah untuk menyerap aspirasi langsung dari komunitas disabilitas. Berbagai organisasi disabilitas di Malang Raya turut hadir memberikan masukan krusial berbasis pengalaman nyata (lived experience), di antaranya Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), dan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI). (af)
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY, Depok –Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Humas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang digelar di sela-sela perhelatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2025 di Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, menghasilkan pemimpin baru bagi Forum Humas PTKIN. Dalam forum yang berlangsung selama dua hari, 29–30 Oktober 2025 itu, Zidnie Ilman Elfikri dari UIN Salatiga terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Forum Humas PTKIN menggantikan Hayatul Islam, yang telah memimpin periode 2023–2025. Pemilihan diikuti oleh perwakilan 32 PTKIN se-Indonesia dan berlangsung dalam suasana penuh keakraban serta semangat kolaboratif.
Dalam sambutannya, Zidnie menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas amanah yang diberikan kepadanya. Ia berharap dukungan penuh dari seluruh anggota forum agar kepengurusan baru dapat bekerja optimal. “Terima kasih atas kepercayaan ini. Saya berharap kita semua terus bersinergi dan berkolaborasi untuk meningkatkan profesionalitas serta memperkuat citra humas PTKIN di mata publik,” ujarnya. Zidnie juga mengumumkan telah dibentuk tim formatur yang akan segera menyusun komposisi kepengurusan forum untuk periode berikutnya. Sementara itu, Ketua Tim Humas dan Publikasi Ditjen Pendis Kementerian Agama, Alip Nuryanto, dalam arahannya menegaskan pentingnya peran humas dalam menyebarluaskan program-program Kementerian Agama secara masif dan strategis. “Alhamdulillah, sekarang publikasi kita sudah menggeliat. Saya mengajak seluruh humas PTKIN untuk terus berkolaborasi dengan Ditjen Pendis. Jangan hanya berhenti pada berita seremonial, tapi juga angkat prestasi-prestasi akademik dan kemahasiswaan,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Humas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, M. Anwar Firdausi, turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam pembahasan arah penguatan komunikasi publik di lingkungan PTKIN. Sebelumnya, mantan Ketua Forum Humas PTKIN, Hayatul Islam, menceritakan awal terbentuknya forum tersebut sebagai wadah kolaborasi dan berbagi strategi komunikasi antar-PTKIN. “Forum ini lahir dari semangat untuk saling berbagi, bersinergi, dan memperkuat jejaring antarhumas PTKIN di seluruh Indonesia,” ungkapnya. Dengan terpilihnya kepengurusan baru, Forum Humas PTKIN diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam memperkuat publikasi dan citra positif perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia—selaras dengan semangat AICIS 2025 yang mengusung inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan.
MALIKI ISLAMIC UNIVERSITY, Depok – Kementerian Agama RI kembali menggelar Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025, konferensi bergengsi yang mempertemukan ilmuwan lintas disiplin dari berbagai penjuru dunia. Gelaran ke-24 ini berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada 29–31 Oktober 2025, dengan mengusung tema besar “Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidisciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future.”
Mengangkat isu-isu global terkini seperti ekoteologi, transformasi teknologi, dan keberlanjutan sosial, AICIS+ 2025 menghadirkan ruang diskusi terbuka bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai latar belakang untuk menggagas inovasi berbasis nilai-nilai Islam.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Prof. Amien Suyitno, menyampaikan bahwa AICIS+ tahun ini menjadi yang paling selektif sepanjang sejarah penyelenggaraannya.
“Tahun ini kami menerima lebih dari 2.400 abstrak dari 31 negara, namun hanya 230 yang diterima. Ini menunjukkan bahwa minat terhadap AICIS terus meningkat, sekaligus menandakan kualitasnya yang semakin kompetitif,” ungkap Amien dalam konferensi pers di Kampus UIII, Senin, 29 Oktober 2025.
Menurutnya, keberagaman partisipan dan topik penelitian yang dikirimkan menandakan reputasi AICIS yang semakin diakui di kancah internasional. “Ini merupakan capaian luar biasa. AICIS kini menjadi magnet akademik yang mempertemukan berbagai pemikiran lintas bangsa dan lintas disiplin,” tambahnya.
Tak hanya menjadi ajang ilmuwan kampus, AICIS+ 2025 juga menampilkan Riset Expo, sebuah inovasi baru yang memamerkan karya penelitian dari madrasah unggulan hingga perguruan tinggi.
“Nanti peserta bisa melihat langsung hasil riset anak-anak madrasah, misalnya tentang cara menjadi ibu yang tetap slim, atau minuman herbal yang membuat bapak-bapak awet muda. Semuanya hasil riset orisinal dan ilmiah,” terang Amien sambil tersenyum.
Ia menegaskan bahwa beberapa riset siswa madrasah sudah siap dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus. “Ini menunjukkan bahwa madrasah kita sudah melahirkan peneliti-peneliti muda yang potensial dan inovatif,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UIII, Prof. Jamhari, menilai AICIS+ 2025 sebagai ajang kolaborasi ilmuwan lintas negara dan lintas agama.
“Pembicaranya tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga dari berbagai agama dan latar belakang lain. Peserta dan pembicara datang dari empat benua,” ujarnya.
Bagi Jamhari, AICIS bukan sekadar konferensi akademik, melainkan juga simbol diplomasi intelektual Indonesia. “Ini menjadi kesempatan bagi ilmuwan Indonesia untuk menampilkan karya dan pemikirannya di panggung dunia, sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai negara plural, toleran, dan terbuka terhadap perbedaan,” tuturnya.
Adapun sejumlah subtema yang akan dibahas meliputi Science and Technological Transformation, Ecotheology and Environmental Sustainability, Islamic Law and Eco-Feminism, Sustainable Economic System, hingga Peace Building and Humanitarian Crisis.
Tema-tema tersebut, kata Jamhari, menunjukkan keluasan cakupan AICIS tahun ini. “Isu-isu sosial, ekonomi, lingkungan, dan kemanusiaan dipadukan dengan nilai-nilai Islam, menjadikan konferensi ini wadah dialog multidisipliner yang membangun harapan masa depan umat dan dunia,” jelasnya.
Melalui AICIS+ 2025, Kementerian Agama berharap dapat memperluas jejaring akademik internasional sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai Islam.
“Program ini juga mendukung visi Presiden dalam pembangunan SDM unggul. Kemenag berkomitmen mencetak generasi yang cerdas, berdaya saing global, dan berakhlak mulia,” tutup Amien.
Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, AICIS+ 2025 bukan hanya forum ilmiah, tetapi juga cermin kebangkitan pendidikan Islam Indonesia di era transformasi teknologi dan ekoteologi global.