HUMAS UIN MALANG - Dengan penuh kesan dan kenangan, KKM 10 UIN Malang secara resmi menutup program kerja bidang pendidikan di SDN 01 Ngebruk, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Kamis, 23 Januari 2025.
"Saya ucapkan terimakasih kepada kepala sekolah dan juga bapak/ibu guru yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama kegiatan mengajar di sekolah, serta ucapan terimakasih kepada adek-adek SDN 01 Ngebruk karena telah memberikan pengalaman yang mengesankan selama kegiatan mengajar, dan juga meminta maaf atas segala perbuatan yang dianggap kurang berkenan dalam hal mengajar dan kepada anak-anak SD," ungkap Arif selaku Ketua.
Ibu Rurun Indayati, S.Pd., selaku kepala sekolah SDN 01 Ngebruk, juga menyampaikan sambutan dan ucapan terimakasih kepada KKM UIN Malang Kelompok 10. "Saya juga berterimakasih atas segala dedikasi yang diberikan selama di SDN 01 Ngebruk, kami berharap siswa-siswi SDN 01 Ngebruk nantinya dapat terinspirasi untuk melanjutkan studi sampai ke jenjang berikutnya seperti kakak-kakak KKM, sehingga dapat meningkatkan semangat dan rajin belajar," ungkapnya.
Acara penutupan diakhiri dengan do’a yang dipimpin oleh Akhmad Fakhrul Aziz, diikuti dengan penyampaian pesan dan kesan dari kakak-kakak KKM UIN Malang. Selain itu, dilakukan pamitan kepada siswa-siswi dan bapak/ibu guru, yang menciptakan suasana emosional. Banyak siswa yang tidak dapat menahan air mata, menandakan kedekatan dan rasa nyaman yang telah terjalin dengan kakak-kakak KKM.
HUMAS UIN MALANG, (21/1) – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) sukses menyelenggarakan Lomba GEMANTING (Gerakan Memasak Anti Stunting) di Desa Argosari. Acara ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat, khususnya ibu-ibu, dalam menyajikan makanan bergizi untuk mencegah stunting pada anak.
Kegiatan ini diikuti oleh ibu rumah tangga dan kader PKK Desa Argosari yang memiliki anak berisiko stunting. Sebelum lomba dimulai, peserta mendapatkan sosialisasi tentang stunting dan pola pengasuhan yang baik dari Ibu Ainindita Aghniacakti, M.Psi, dosen Psikologi UIN Malang. Dalam pemaparannya, beliau menekankan dampak buruk stunting, seperti gangguan tumbuh kembang fisik, penurunan daya konsentrasi, hingga risiko penyakit di masa depan.
"Stunting bukan hanya masalah tinggi badan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas hidup dan masa depan anak. Dengan asupan gizi yang seimbang serta pola asuh yang baik, dampak buruk stunting bisa dicegah," ungkap Ibu Ainindita di sela pemaparannya. Selain itu, peserta juga mendapatkan tips praktis, seperti penyusunan menu bergizi dengan bahan lokal yang mudah diakses.
Ketua PKK Desa Argosari menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswa KKM UIN Malang atas inisiatif mereka. "Terima kasih kepada teman-teman KKM UIN Malang yang telah menyelenggarakan acara bermanfaat ini. Harapan saya, ibu-ibu dapat mempraktikkan ilmu yang telah diajarkan, seperti memasak makanan bergizi, misalnya rolade bayam dan nasi tim hati ayam," ujar beliau dengan antusias.
Lomba memasak berlangsung meriah. Para peserta menunjukkan kreativitas mereka dalam mengolah bahan makanan bergizi menjadi hidangan menarik dan lezat. Beberapa menu andalan yang disajikan meliputi bubur sum-sum kacang hijau, nasi tim hati ayam, rolade bayam, dan perkedel daun singkong. Sorakan semangat semakin terasa ketika mahasiswa KKM memperkenalkan jargon inspiratif mereka: "GEMANTING 2025 – Memasak Cermat, Gizi Hebat, Anak Sehat." Jargon ini disambut antusias oleh peserta, menciptakan suasana penuh semangat dan kebersamaan.
Pemenang lomba diumumkan di akhir acara, dengan hadiah simbolis diberikan kepada peserta yang berhasil menyajikan menu terbaik. Kepala Desa Argosari turut hadir dan menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswa KKM atas kontribusi mereka dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. "Saya berharap kegiatan seperti ini dapat diteruskan untuk menciptakan generasi bebas stunting di Desa Argosari," ujarnya.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, mahasiswa KKM UIN Malang berharap lomba GEMANTING dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan. "Kami ingin masyarakat semakin sadar akan pentingnya gizi seimbang untuk masa depan anak-anak Indonesia," ungkap salah satu mahasiswa KKM.
Lomba GEMANTING tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga momen edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Semangat dan antusiasme yang tercipta dalam acara ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju generasi yang lebih sehat dan bebas stunting.
HUMAS UIN MALANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Acara Silaturahmi Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur'an (FKPQ) di Kecamatan Poncokusumo baru-baru ini sukses digelar. Keberhasilan acara ini tak lepas dari peran aktif mahasiswa KKM Carya Waksudha. Kec. Poncokusumo, Malang. Desa Poncokusumo, Kec. Poncokusumo, Malang.
Acara tersebut dihadiri oleh para guru TPQ yang menggunakan berbagai metode pengajaran, seperti Qiroati, Tilawati, Yanbua, dan Iqro. Kegiatan yang diawali dengan pembacaan Khatmil Qur'an yang khusyuk ini diikuti dengan pembacaan tahlil dan sambutan-sambutan dari tokoh masyarakat setempat yang memberikan apresiasi kepada para guru TPQ atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam mendidik generasi muda.
Sesi inti acara diisi dengan pemaparan materi mengenai manajemen pembelajaran TPQ yang disampaikan oleh Ketua FKPQ. Materi tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pengelolaan keuangan dan sarana prasarana hingga strategi membangun hubungan yang efektif dengan santri dan wali santri. Pemaparan ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan inspirasi bagi para guru TPQ dalam meningkatkan kualitas pengelolaan lembaga pendidikan mereka. Di akhir acara Silaturahmi Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur'an (FKPQ), ditutup dengan doa bersama dan mushafahah, yang menciptakan suasana kekeluargaan hangat di antara para peserta.
Tak ketinggalan, mahasiswa KKM Carya Waksudha menunjukkan dedikasi yang tinggi dengan membantu proses pembersihan dan penataan lokasi acara setelah kegiatan selesai. Keberhasilan acara ini tidak hanya menjadi bukti nyata peran penting mahasiswa dalam mendukung kegiatan keagamaan dan sosial, tetapi juga menegaskan potensi kolaborasi yang positif antara perguruan tinggi dan komunitas lokal dalam memajukan pendidikan agama di Indonesia. Dengan semangat kebersamaan yang terjalin, partisipasi aktif mahasiswa KKM ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat, sehingga menciptakan generasi yang lebih peduli dan berkomitmen terhadap nilai-nilai keagamaan dan sosial di masa depan.
HUMAS UIN MALANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Carya Waksudha, sukses menyelenggarakan sebuah seminar edukasi yang berfokus pada pencegahan pernikahan dini dan stunting. Sabtu, 18 Januari 2025.
Bertajuk "Sayangi Tubuhmu, Jaga Mimpimu," seminar ini merupakan respons terhadap permasalahan sosial yang signifikan di Desa Poncokusumo, sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Desa Samsul: “Angka pernikahan dini di desa kami cukup mengkhawatirkan, dan kami melihat seminar ini sebagai langkah penting untuk mengatasinya.”
Seminar yang diadakan di MTs Al Fathoni ini, dihadiri oleh sejumlah besar siswa sekolah menengah pertama. Para peserta mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai dampak negatif pernikahan dini dan stunting dari dua narasumber ahli. Dr. H. Abd. Rouf, M.HI., menekankan pentingnya persiapan yang matang sebelum memasuki jenjang pernikahan dan bahwa "Pernikahan dini bukanlah solusi atas permasalahan sosial, melainkan dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif bagi individu dan keluarga." Sementara itu, Dr. Muhammad Irfan Dzihni memaparkan secara detail dampak stunting terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak, mengungkapkan bahwa "Stunting tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan intelektual anak, yang berdampak jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia."
Metode penyampaian materi yang interaktif dan partisipatif berhasil menciptakan suasana belajar yang efektif. Ketua Pelaksana, Fitrohul Illyiin, menyampaikan bahwa tujuan utama seminar ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan pernikahan dini dan stunting. Para peserta yang aktif berpartisipasi dalam sesi tanya jawab, menunjukkan antusiasme dan keinginan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu-isu krusial tersebut.
Melalui program edukasi ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang bagi Desa Poncokusumo. Mahasiswa KKM Carya Waksudha berkomitmen untuk terus memantau dan mengevaluasi dampak seminar ini, serta berupaya untuk mengembangkan program-program serupa di masa mendatang. Keberhasilan seminar ini menjadi bukti nyata kontribusi positif mahasiswa UIN Malang dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih baik.
HUMAS UIN MALANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, tak hanya mencetak sarjana, tetapi juga agen perubahan. Buktinya, Mahasiswa KKM Carya Waksudha sukses menggelar program bimbingan belajar (bimbel) kreatif di Desa Poncokusumo dengan metode belajar yang inovatif dan menyenangkan. Desa Poncokusumo, Kec. Poncokusumo, Malang.
Program ini diinisiasi atas permintaan Ketua RW setempat, Bapak Edi Sugianto, untuk memberikan kegiatan edukatif yang menarik dan bermanfaat bagi anak-anak selama masa liburan. Bimbel yang bertemakan "Belajar Ceria, Pintar Berkembang" ini diselenggarakan setiap Selasa dan Rabu malam di posko tempat tinggal mahasiswa KKM, dengan peserta sebanyak 15 anak dari jenjang SD dan SMP. Adanya bimbel ini, bapak Edi Sugianto menyampaikan apresiasinya. Beliau menekankan pentingnya program-program seperti ini untuk memotivasi anak-anak agar terus semangat belajar dan memiliki kebiasaan belajar yang baik. “Semoga program ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi anak-anak di desa kami,” harap Bapak Edi.
Program bimbel ini merupakan bagian integral dari upaya KKM Carya Waksudha dalammendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam konteks pengentasan kemiskinan ekstrem. Kurikulum dalam bimbel ini dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan efektif. Materi pembelajaran meliputi pengayaan materi sekolah, pengenalan bahasa asing dasar, hingga wawasan umum seperti pengetahuan tentang bendera dunia dan anatomi tubuh manusia. Metode pembelajaran yang diterapkan menekankan pada interaksi, permainan edukatif untuk meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan sosial anak.
Melalui program pengabdian itu, mahasiswa KKM Carya Waksudha juga berharap program bimbel ini memberikan dampak positif jangka panjang bagi perkembangan pendidikan di Desa Poncokusumo serta menjadi contoh bagi program-program pengabdian masyarakat lainnya. Mereka juga berencana untuk mengevaluasi program ini secara berkala untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutannya.
HUMAS UIN MALANG – Moderasi beragama menjadi kunci dalam membangun harmoni di tengah keberagaman, termasuk di dunia pendidikan. Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Gantari Bhumi UIN Malang mengambil langkah konkret dengan menyusun buku pedoman sholat yang dirancang khusus untuk siswa sekolah dasar (SD). Dengan bimbingan guru agama, buku ini diserahkan sebagai inventaris pembelajaran di sekolah pada (16/1) guna mendukung pengajaran agama yang lebih inklusif dan terstruktur.
Buku ini dirancang tidak hanya sebagai panduan sholat, tetapi juga memuat materi fiqih dan thaharah yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak-anak. Pendekatan ini membantu siswa, khususnya yang sedang berada di masa transisi menuju remaja, untuk memahami kewajiban agama dengan cara yang sederhana namun mendalam. Pemahaman agama yang benar sejak dini diyakini dapat membentuk kebiasaan positif serta ketaatan beragama yang berkelanjutan.
Guru-guru di sekolah menyambut baik kehadiran buku pedoman ini. Mereka merasa terbantu karena materi yang biasanya dianggap kompleks kini dapat disampaikan dengan lebih terstruktur dan menarik. Buku ini menjadi alat bantu yang efektif dalam proses pengajaran agama, mendorong siswa untuk lebih disiplin dalam menjalankan ibadah sekaligus memahami nilai-nilai agama secara praktis.
Selain membantu pelaksanaan ibadah, buku ini juga menanamkan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Anak-anak diajak untuk tidak hanya mempelajari teori agama, tetapi juga menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, buku ini berkontribusi pada pembentukan karakter siswa secara holistik.
Mahasiswa KKM Gantari Bhumi UIN Malang yang terlibat dalam proyek ini mendapatkan pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu yang mereka pelajari di kampus. Mereka belajar untuk memahami kebutuhan pendidikan di tingkat dasar dan menawarkan solusi yang relevan serta aplikatif.
"Inisiatif ini adalah bentuk nyata kolaborasi antara mahasiswa sebagai agen perubahan dan guru sebagai pendidik utama. Kami berharap langkah ini menginspirasi institusi pendidikan lain untuk menciptakan inovasi serupa," ujar salah satu mahasiswa KKM.
Langkah sederhana ini menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat diimplementasikan dalam pendidikan untuk membentuk generasi muda yang religius, moderat, dan berwawasan luas. Semoga inovasi seperti ini terus berkembang demi kemajuan pendidikan dan pembentukan karakter bangsa.
HUMAS UIN MALANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Carya Waksudha, memiliki progam pengabdian yang menarik yakni mulai dari pembelajaran rutin, banjari, hingga BCM. Desa Poncokusumo, Kec. Poncokusumo, Malang.
Program pengabdian Masyarakat ini bertempat di TPQ Baiturrahiim. Kegiatan ini berlangsung setiap hari, mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, para mahasiswa secara konsisten mengajarkan anak-anak membaca jilid dan Al-Qur’an menggunakan metode tilawati. Metode ini dinilai efektif dalam mempermudah anak-anak mengenal huruf hijaiyah, membaca Al-Qur’an dengan tartil, serta meningkatkan pemahaman dan kualitas bacaan mereka. "Kehadiran mahasiswa KKM ini sangat membantu perkembangan anak-anak kami, baik dalam kemampuan membaca Al-Qur’an maupun pengembangan karakter mereka. Kami sangat bersyukur atas dedikasi mereka." ungkap Hasan Bisri, Kepala TPQ Baiturrahiim.
Selain kegiatan pembelajaran rutin, program ini juga dilengkapi dengan kegiatan ekstrakurikuler setiap Sabtu, seperti seni Al-Banjari, kaligrafi, dan Baca, Cerita, Menyanyi (BCM). Melalui program Al-Banjari, mahasiswa bekerja sama dengan anggota IPNU setempat untuk mengenalkan seni shalawat khas Nusantara. Kegiatan kaligrafi menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dalam menulis ayat-ayat Al-Qur’an, sementara program BCM dirancang untuk meningkatkan imajinasi, keberanian, serta kemampuan komunikasi anak-anak. Seluruh kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk memperkaya wawasan agama, tetapi juga untuk mengembangkan potensi kreatif dan karakter anak-anak.
Program pengabdian ini tidak hanya memberikan manfaat bagi anak-anak TPQ, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa. Melalui interaksi dengan para santri, mahasiswa belajar menghadapi berbagai dinamika sosial sekaligus menanamkan nilai-nilai moderasi beragama yang mengedepankan toleransi dan inklusivitas. Para mahasiswa berharap, kontribusi mereka dapat memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat setempat dan menginspirasi generasi muda untuk terus berperan aktif dalam pembangunan masyarakat. Dengan pendekatan yang sistematis dan penuh dedikasi, kelompok KKM ini mengemas berbagai kegiatan secara inovatif agar memberikan manfaat yang luas. Dukungan penuh dari pengelola TPQ serta antusiasme anak-anak serta warga setempat juga menjadi faktor pendukung keberhasilan program ini.
HUMAS UIN MALANG – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bersama seluruh sivitas akademika mengucapkan selamat dan sukses atas pelantikan para pejabat baru di Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Pelantikan ini menjadi momen penting bagi penguatan institusi Kemenag RI dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Rabu, 22 Januari 2025. Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Zainuddin MA, menyampaikan rasa bangganya atas pelantikan empat tokoh berpengaruh yang memiliki peran strategis di Kemenag RI. Keempat pejabat tersebut adalah: 1. Prof. Dr. H. Kamaruddin Amin, MA Dilantik sebagai Sekretaris Jenderal Kemenag RI, Prof. Kamaruddin Amin diharapkan mampu memperkuat tata kelola administrasi dan operasional kementerian. 2. Prof. Dr. H. Suyitno, MA Sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag RI, Prof. Suyitno memiliki tanggung jawab besar dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia. 3. Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, MA Dilantik sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam), Prof. Abu Rokhmad diamanahi tugas untuk memperkuat pembinaan keagamaan dan kehidupan beragama di tengah masyarakat. 4. Prof. Dr. H. Ali Ramdhani, ST., MT Mengemban jabatan sebagai Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenag RI, Prof. Ali Ramdhani diharapkan dapat memperkuat komitmen moderasi beragama sebagai pilar kehidupan berbangsa. “Kami yakin keempat tokoh ini akan membawa Kemenag RI menuju arah yang lebih baik, selaras dengan visi moderasi beragama dan penguatan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Prof. Zainuddin. Sivitas akademika UIN Malang juga berharap agar sinergi antara perguruan tinggi keagamaan Islam dan Kemenag RI semakin erat, khususnya dalam mendukung program-program strategis yang berorientasi pada pengembangan pendidikan dan moderasi beragama. Semoga amanah yang diberikan kepada para pejabat baru ini dapat dijalankan dengan baik demi kemajuan bangsa dan negara.
HUMAS UIN MALANG-Menteri Agama Nasaruddin Umar, meminta ekoteologi dan pelestarian alam masuk dalam kurikulum pendidikan agama dan keagamaan. Pesan ini disampaikan Menag saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Islam 2025 di Jakarta, Selasa (21/1/2025) . Rakernas mengusung tema "Execution Matters! Beres Ya." Menag mengungkapkan tiga fokus pengembangan pendidikan agama dan keagamaan di masa depan, yakni isu lingkungan, toleransi, dan nasionalisme. Menag menekankan relevansi pendidikan dalam menjawab tantangan zaman, terutama krisis lingkungan. Ia menyebutkan pentingnya pendekatan ekoteologi untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam pelestarian alam.
Ekoteologi bisa dipahami sebagai konsep yang membahas tentang inter-relasi antara pandangan teologis-filosofis yang terkandung dalam ajaran agama dengan alam, khususnya lingkungan. "Konsep 'khalifah' dalam Islam menjadi landasan moral untuk mengajarkan siswa menjaga lingkungan hidup. Al-Quran dan hadis memberi pesan tegas untuk tidak merusak bumi," ujar Menag. Dalam tafsir Al-Quran yang diterbitkan Kementerian Agama, kata khalifah (QS Al Baqarah: 30) diterjemahkan sebagai pengelola alam semesta. Menag berharap nilai-nilai ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan agama, menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia. Visi kedua yang diangkat adalah penguatan toleransi melalui moderasi beragama. Menag menyebut "Kurikulum Cinta" sebagai pendekatan inovatif untuk mengintegrasikan nilai moderasi ke dalam pembelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.
"Pendidikan adalah jalan utama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman," tegasnya. Moderasi beragama dianggap strategis dalam membangun masyarakat yang inklusif serta menanamkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di berbagai tingkatan pendidikan. Nasionalisme menjadi pilar ketiga. Menag menekankan pentingnya pendidikan sejarah, penguatan budaya lokal, dan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai upaya menanamkan cinta tanah air. "Nasionalisme bukan sekadar slogan, melainkan ruh dari setiap kebijakan pendidikan kita," ungkap Menag. Pendidikan agama diharapkan menjadi benteng untuk menjaga identitas bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya asing. Sehingga, generasi muda memiliki wawasan global tanpa kehilangan akar budaya dan cinta tanah air.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Abu Rokhmad, menambahkan pentingnya eksekusi program yang tepat untuk mendukung kemajuan pendidikan Islam. "Perencanaan yang baik tidak berarti apa-apa tanpa eksekusi yang bersih, responsif, dan melayani. Oleh karena itu, tema Rakernas kali ini menjadi pijakan bagi kita semua untuk memastikan segala rencana dapat terealisasi dengan hasil nyata," ujar Abu.
Ia memperkenalkan visi besar Pendidikan Islam, yakni "MAJU dan HEBAT." MAJU merupakan akronim dari Melayani, Amanah, Juara, dan Unggul, sementara HEBAT adalah Helpful, Excellent, Brave, Active/Authentic, dan Think. Rakernas ini dihadiri berbagai stakeholder Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dari seluruh Indonesia. Rakernas menjadi ajang refleksi, evaluasi, dan sinergi. Agenda Rakernas meliputi talkshow inspiratif bersama Dr. Ary Ginanjar untuk membangun Pendis Culture dan sidang komisi yang membahas empat topik utama: Guru dan Tenaga Kependidikan Islam, Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, KSKK Madrasah, serta Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam. "Rakernas ini adalah momentum untuk memperkuat komitmen kita bersama. Kita harus memastikan bahwa semua keputusan di sini membawa manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa," tutup Dirjen Pendis.