GEMA-Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) hari kedua fokus pada materi kefakultasan. Fakultas Ekonomi (FE) mengumpulkan seluruh mahasiswa barunya di Auditorium Utara, Fakultas Sains dan Teknologi, Selasa (14/8). Dekan FE Dr. Nur Asnawi membagi kiat sukses di acara bertema Aktualisasi Gerakan Mahasiswa Ekonomi di Era Milenial sebagai Manifestasi Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat. Menurutnya ada empat hal yang harus diperhatikan untuk membuka pintu kesuksesan. Pertama, literasi atau memperbanyak membaca. Kebiasaan membaca buku harus dilakukan bahkan sejak masih kecil. “Karena sekarang rakyat Indonesia cenderung menghabiskan waktunya bermain gadget,” tambahnya. Kiat kedua, lanjutnya, ialah mengasah kemampuan. Asnawi menyebut, skill berbahasa asing adalah salah satu yang harus dipelajari. Mengingat zaman yang sudah mengglobal, menguasai bahasa asing tentu mempunyai nilai plus. “Makanya di UIN Malang, program dwi bahasa di tahun pertama dan kedua sangat diwajibkan,” jelasnya. Kiat selanjutnya ialah networking. Terlalu akrabnya seseorang dengan gadget dan dunia maya berimbas pada kehidupan sosialnya. Karena itu lah, Asnawi mengingatkan kepada maba FE agar berteman dengan kalangan yang luas. “Perbanyak relasi, suatu saat kalian pasti akan saling membantu untuk mengembangkan diri,” paparnya. Yang terakhir, ia ingin agar maba FE bersikap serius namun tetap santai. Ia tidak ingin mahasiswa terlalu fokus belajar hingga stres. “Hadapi hidup dengan senyum dan kebahagiaan,” ujarnya mengutip kata bijak. Dalam kesempatan itu pula, Asnawi menyampaikan bahwa FE UIN Malang masih menjadi salah satu jujugan favorit. Dari data yang terhimpun, peminat Prodi Akuntansi 1875 pendaftar, Prodi Manajemen 3844 pendaftar, dan Prodi Perbankan Syariah 11805 pendaftar. (syf/nd)
GEMA-Sosialisasi mengenai sistem akademik bagi wali mahasiswa baru dilaksanakan secara bersamaan dengan Wisuda Tahfiz XI. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Sport Center ini dihadiri oleh seluruh civitas akademik UIN Malang, Sabtu (11/8). Keberadaan UIN Malang yang menjadi salah satu kampus islam terbaik di Indonesia, memiliki dua jenis pendidikan di dalamnya. Pertama, pendidikan formal seperti pada kebanyakan kampus. Kemudian pendidikan non formal melalui Pusat Mahad Al Jamiah (PMJ) selama satu tahun di awal perkuliahan. Kegiatan mahad menjadi poin khusus bagi kampus yang memiliki visi Integrasi Islam dan Sains ini. Acara temu wali kali ini dihadiri oleh Drs. Lahaji Haedar, M.Ag. Rektor IAIN Sultan Amei Gorontalo ini merupakan orang tua wali mahasiswa baru angkatan 2018. Kedatanagan orang nomor satu di Kampus Islam Gorontalo ini menjadi perhatian khusus. Menurutnya, UIN Malang dengan sistem mahadnya telah menginspirasi banyak perguruan tinggi.”Bahkan kami di Gorontalo telah mencoba menerapkan sistem mahad ini, namun belum sempurna,” ungkap pria kelahiran 14 April ini. “Dengan ini saya sebagai perwakilan wali mahasiswa menyerahkan anak kami agar menjadi cendekiawan muslim yang moderat,” tutupnya. (aqa/nhl)
GEMA-Materi pertama Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018 langsung disampaikan oleh Khofifah Indar Parawansa, Senin (13/8). Gubernur Jawa Timur terpilih 2019-2024 itu mengawali materinya dengan pengenalan Generasi Z. Menurut data yang dipaparkan, mahasiswa baru (maba) yang kali ini mengikuti PBAK 2018 tergolong Gen Z. Karena terlahir di awal tahun 2000, generasi ini memiliki beberapa karakteristik. Akrabnya Gen Z dengan gadget, tutur Khofifah, menjadi ciri utama mereka. Gadget pula yang mendekatkan diri mereka dengan beragam media sosial. Sehingga tidak heran jika Gen Z terlihat aktif di dunia maya. “Beragam informasi yang mereka dapatkan membuat mereka jadi ingin tahu banyak hal,” ujar wanita kelahiran 1965 itu. Imbasnya ialah ke karakteristik berikutnya, yakni generasi yang gig eco. Karena ingin tahu, mereka cenderung mencari banyak pengalaman. Salah satunya dalam hal pekerjaan. “Gen Z akan lebih memilih pekerjaan yang tidak mengikat dalam jangka waktu panjang,” jelas wanita yang pernah menjabat Menteri Sosial itu. Generasi tersebut, masih kata Khofifah, akan memiliki riwayat kerja yang banyak dengan kurun waktu yang singkat. Kebanyakan dari mereka, tertarik dengan kerjaan yang berhubungan teknologi seperti programmer. “Bahkan, bisa jadi, tren menjadi PNS akan menghilang beberapa tahun lagi,” sambungnya. PBAK 2018 yang diikuti 3.424 maba berlangsung hingga Kamis (16/8). Di hari pertama dan kedua, maba dikenalkan dengan visi misi UIN Malang dalam berbagai sesi keuniversitasan. Selanjutnya, pengenalan fakultas dilakukan dan diatur oleh setiap fakultas. (nd)
GEMA-Memeriahkan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018, panitia penyelenggara mengajak mahasiswa baru untuk membuat kreasi. Paper Mob dipilih dengan beragam tema. Mulai dari bentuk dukungan terhadap Asian Games 2018, menangkal radikalisme, hingga ekspresi kecintaan tanah air, Senin (13/8). Kertas warna merah, putih, dan hijau disiapkan panitia dan dibagikan ke seluruh maba. Panitia juga menyiapkan balon warna-warni untuk membuka peresmian PBAK. Wildan Taufiqurahman, panitia PBAK, menyatakan bahwa pihaknya mempersiapkan matang-matang selebrasi ini. Mulai dari perencanaan hingga sosialisasi atau melatih maba membutuhkan waktu lama. “Karena kita ingin membuat sesuatu yang berbeda, maka usaha yang kita kerahkan pun harus lebih ekstra,” tambahnya. Salah satu mahasiswa menyatakan perasaan senangnya setelah menyelesaikan Paper Mob. “Semalaman latihan kami terbayarkan dengan hasil selebrasi indah pagi ini,” tutur mahasiswa asal kediri tersebut. (aqa/nd)
GEMA-Acara Maliki English Festifal (MEF) yang akan dilaksanakan pada (26-28/10) membuka tiga lomba baru. MEF 2018 direncanakan berlangsung di Home Theater dan Auditorium Fakultas Humaniora. Acara ini ditujukan untuk siswa SMA/sederajat, mahasiswa, dan umum. Pendaftaran dibuka secara online (1/8-7/10). Mochammad Elfithruzzuhru M., Ketua Pelaksana, menjelaskan MEF merupakan salah satu proker tahunan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Inggris (Sasing). Peserta MEF dibatasi 60 peserta tiap lomba kecuali English Olympiad. “Tahun sebelumnya, hanya ada lima lomba yaitu, Story-Telling, Singing Contest, Speech, News Reading dan English Olympiad,” ujarnya. Elfith melanjutkan, tiga lomba baru tersebut yaitu Immediate Translation, Short Story, dan Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN). LKTIN hanya ditujukan untuk mahasiswa sedangkan Short Story dan Singing Contest ditujukan untuk umum, sisanya untuk peserta SMA. “Untuk lomba Immediate Translation merupakan saran dari ketua jurusan Sasing kepada HMJ,” imbuhnya. Selain cabang lomba baru, MEF memperluas jangkauan peserta English Olympiad yaitu Jawa, Madura, dan Bali. Sedangkan untuk tahun kemarin hanya Jawa Timur. “Kami ingin agar lomba MEF tahun ini lebih bervariatif dan menarik minat peserta,” harap Elfith. (ilm/nd)
GEMA-Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang Dr. Agus Maimun menandatangani MoU dengan 12 sekolah/madrasah binaan. Dihadiri perwakilan sekolah dan madrasah, MoU juga disaksikan oleh Wakil Rektor Dr. Isroqunnajah, Dekan Fakultas Psikologi Dr. Siti Mahmudah, dan jajaran pimpinan FITK, Selasa (31/7). Di Meeting Room Gedung Megawati Lt. 1, dekan FITK menuturkan kerjasama ini juga menjadi salah satu langkah memajukan dunia pendidikan. Kerjasama ini tentunya akan menguntungkan kedua pihak. FITK akan membantu perbaikan kurikulum, peningkatan sumber daya pendidik, dan mendampingi seleksi penerimaan siswa. Dengan kerjasama ini, lanjutnya, sekolah atau madrasah akan meningkat dari segi kualitas dan berdaya saing. “Dampak positifnya tentu akan mampu meningkatkan minat dan menjadi pilihan utama masyarakat untuk mendidik anaknya,” harap mantan wakil rektor ini. Wakil Rektor Dr. Isroqunnajah menambahkan harapannya. Ia ingin agar nantinya madrasah dan sekolah binaan dapat menunjukkan prestasi dan keunikannya. “Hal ini akan menjadi virus baik untuk lembaga pendidikan lainnya agar semakin meningkatkan kualitas,” tutur Gus Is, sapaan akrabnya. Acara ditutup dengan penandatanganan berkas MoU oleh dekan FITK dengan 12 perwakilan sekolah/madrasah binaan. Kedua belas sekolah/madrasah itu ialah RA Al-Husna Probolinggo, MI Al-Husna Probolinggo, MTs Al-Husna Probolinggo, MA Al-Husna Probolinggo, SMPI Assalam Jambewangi Blitar, SMKI Assalam Jambewangi Blitar, MA Assalam Jambewangi Blitar, SMP Sunan Giri Malang, MIN 2 Malang, SMP Wahid Hasyim Malang, RA Syihabuddin Malang dan yang terakhir Ponpes Sabilul Hikmah Malang. (ptt/nd)
GEMA-Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengumpulkan para peneliti dan pemerhati Filologi dalam workshop Penelitian Filologi. Dilaksanakan di Aula Gedung Humaniora Lt.3, dua pemateri sekaligus dihadirkan. Keduanya yakni Kepala Pusat Kajian Naskah dan Khazanah Islam Nusantara Dr. Islah Gusmian yang juga dosen IAIN Surakarta dan Wakil Dekan Fakultas Humaniora Dr. M. Faisol Fatawi, Rabu (1/8). Workshop ini merupakan kegiatan yang dirancang Unit Laboratorium Kajian Bahasa dan Budaya (LKBB) yang merupakan salah satu unit di fakultas tersebut. Workshop berfokus pada memberikan pengetahuan tentang konsep dan pelaksanaan riset di bidang Filologi. Sri Muniroch, Ketua Pelaksana, menyatakan pihaknya ingin memberi bekal bagi para dosen yang tertarik mengkaji dan meneliti Filologi. Filologi sendiri merupakan cabang ilmu yang mengkaji teks dan naskah manuskrip sebagai sumber sejarah tertulis. Karena masuk dalam konsentrasi bahasa dan budaya, tugas Fakultas Humaniora ialah untuk mengembangkan keilmuan tersebut. Sebelum mengajarkannya pada mahasiswa, lanjut Sri, para dosen yang harus diberi pemahaman mendalam mengenai Filologi. Sehingga ke depannya, mereka dapat berbagi ilmu pada mahasiswa sekaligus melakukan penelitian. Unit LKBB sendiri merupakan wadah yang dirancang fakultas untuk menggerakkan kajian dan penelitian bahasa serta budaya. Khususnya yang berkaitan dengan budaya Islam nusantara. Filologi masuk ke dalam salah satu konsentrasinya. “Sesuai dengan tujuan, tugas LKBB ialah memfasilitasi para peminat dan peneliti dengan mengadakan beragam kegiatan,” jelas lulusan program doktor di Australia ini. (ptt/nd)
GEMA-Jajaran pimpinan UIN Malang menghadiri workshop yang mendatangkan dua pemateri dari Diktis (Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam), Rabu (25/7). Keduanya ialah Kabag Kerjasama Luar Negeri Anwarudin Ambary, Ph.D. dan Kepala Subdirektorat Kelembagaan Kerjasama Drs. Agus Sholeh, M.Ed. Dalam kegiatan yang dihadiri rektor dan wakilnya, serta dekan tiap fakultas dan wakilnya itu, Agus menuturkan perlu adanya usaha yang lebih giat untuk mempromosikan institusi besar seperti UIN Malang. Pasalnya, promosi kampus di bawah Kemenag belum gencar. Pihaknya sering mengatakan kepada para pimpinan kampus dalam naungan Kemenag bahwa potensi menarik mahasiswa, dosen, dan peneliti asing itu sudah ada. Namun, masih tertutupnya akses informasi ke luar negeri, menghambat segalanya. “Di luar negeri sana tidak semua tahu UIN ataupun IAIN. Maka bukalah diri kita agar dikenal,” ujarnya. Ia melanjutkan, perlu adanya kerjasama yang apik antara pimpinan di tingkat fakultas dan universitas. Seluruh elemen harus bersatu untuk mengeksplorasi lagi potensi institusinya. “Bahkan jika memungkinkan, institusi tersebut juga memberikan beasiswa prestasi untuk menarik minat mahasiswa asing,” imbuhnya. Dalam kesempatan tersebut, pemateri lainnya, Anwarudin fokus pada alur penerimaan mahasiswa asing. Ia menjelaskan detil proses kedatangan, pendaftaran, perizinan tinggal, juga berkas-berkas yang harus dilengkapi. Pihak Kemenag, menurut kedua pemateri, sangat apresiatif jika institusi pendidikan dapat menggaungkan namanya di tingkat internasional. Hal ini juga sekaligus mendukung kebijakan baru Dirjen Kemenag tentang Program 5000 Mahasiswa Asing. (ptt/nd)
GEMA-Akrabnya generasi milenial dengan perangkat seluler, menjadi bahan pertimbangan panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Memanfaatkan situs PBAK yang terintegrasi dengan situs resmi kampus, panitia mewajibkan seluruh mahasiswa baru (maba) untuk mengakses akunnya. Wakil Ketua Panitia Mohammad Miftahusyai’an menyatakan, jika penerapan tahun ini berhasil, maka UIN Malang akan menjadi kampus pertama yang menerapkan hal itu di kalangan PTAIN/S. Di kemudian hari, hal ini bisa menjadi percontohan sekaligus panduan bagi kampus lain yang belum menerapkan orientasi mahasiswa berbasis online. Edi Thoyib, panitia divisi penugasan, menjelaskan di situs PBAK, maba bisa mendapatkan semua informasi terkait PBAK. Seperti jadwal dan materi PBAK, perlengkapan yang dibutuhkan, ketentuan pakaian, dan lainnya. Tak hanya itu, ia menambahkan, seluruh tugas PBAK yang akan diberikan harus diunggah ke akun masing-masing. Ini akan memudahkan panitia dalam menilai keaktifan maba dalam kegiatan PBAK. “Setiap tugas yang diunggah akan memberikan poin tertentu,” jelas dosen Jurusan Sastra Inggris tersebut. Ia memaparkan lebih lanjut, poin yang didapat akan menjadi penentu apakah maba lulus PBAK atau tidak. Jika maba dinyatakan lulus, ia berhak mendapatkan sertifikat. Demi nilai guna, sertifikat PBAK di kemudian hari bisa digunakan untuk mendaftar beasiswa studi yang diberikan kampus. “Tidak ada lagi ceritanya sertifikat PBAK yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” tegas Edi. (nd)