HUMAS UIN MALANG-Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar penilaian Zona Integritas, Kamis (2/3), dengan kehadiran tim penilai eksternal. Pembangunan Zona Integritas dipandang sebagai kebutuhan yang penting untuk meningkatkan percepatan reformasi birokrasi, termasuk di lingkungan kampus ini.
Wakil Rektor Bidang AUPK Dr. Hj. Ilfi Nurdiana, M.Si menyatakan bahwa UIN Maliki Malang telah berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang bersih tanpa adanya gratifikasi atau kepentingan pribadi. "Hal ini sudah menjadi komitmen bersama sebagai lembaga yang bersih, adil, dan melayani dengan setulus hati," kata Ilfi.
Segala upaya nyata dalam mewujudkan wilayah bebas korupsi (WBK) serta birokrasi bersih dan melayani (WBBM) harus terus dilakukan oleh unit-unit kerja di bawah Kementerian Agama, termasuk UIN Maliki Malang. Hal ini dilakukan agar masyarakat khususnya mahasiswa UIN Maliki Malang dapat menikmati beragam pelayanan publik yang lebih cepat, mudah, murah dan berkeadilan.
Penilaian mandiri pelaksanaan Zona Integritas ini perlu komitmen bersama, mulai dari tenaga pendidik, dosen dan mahasiswa harus menjadi contoh. Penilaian ini tidak hanya dijadikan sebagai kegiatan formalitas saja, tetapi juga untuk membudayakan dan komitmen bersama untuk memberikan keteladanan yang baik.
Lebih dari itu, lembaga ini juga harus cepat beradaptasi dengan regulasi baru dan tidak boleh keluar dari aturan yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. Penilaian Zona Integritas ini saat ini masih dipusatkan di Fakultas Saintek, dan jika berhasil maka Fakultas Saintek bisa dijadikan percontohan bagi fakultas lain di UIN Maliki Malang.
Diharapkan dengan adanya penilaian Zona Integritas ini, UIN Maliki Malang dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang lebih baik, memperkuat integritas lembaga, dan menciptakan lingkungan kampus yang bersih dan bebas dari korupsi.
HUMAS UIN MALANG-Fakultas Saintek Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mulai mempersiapkan diri untuk meraih predikat "Zona Integritas dengan Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM)". Persiapan tersebut dimulai dari menyiapkan sarana prasarana yang memadai, dokumen Laporan Kinerja Instansi (LKI) PMPZI, dan Sumber Daya Manusia (SDM) guna menunjang pelaksana ZI agar bisa tercapai dengan baik, Kamis (2/3).
Dekan Fakuktas Saintek Dr. Sri Harini, M.Si yang sekaligus Ketua PMP ZI UIN Maliki Malang menjelaskan bahwa Fakultas Saintek bekerja sama dengan pihak rektorat seperti SPI, OKH, PTIPD, dan LPM dalam mempersiapkan diri menghadapi penilaian ZI yang terdiri dari 6 instrumen penilaian yaitu manajemen perubahan, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan akuntabilitas, penguatan pengawasan, dan peningkatan kualitas pelayanan publik. "Ini semua dilakukan dalam rangka untuk memberikan pelayanan yang bersih dan penuh dengan integritas," jelasnya.
Meski demikian, tambah dia, Fakultas Saintek menyadari bahwa menggerakkan budaya kerja dan perilaku sesuai ZI membutuhkan proses yang panjang dan komitmen dari seluruh pegawai. "Oleh karena itu, mereka terus melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada seluruh pegawai tentang pentingnya penerapan ZI dalam lingkungan kerja," bebernya.
Proses penilaian ZI sendiri hanya berlangsung selama satu hari. Pasalnya, sebelumnya, telah dilakukan penilaian pendahuluan oleh Tim Penilai Pendahuluan (TPP) dari Kementerian Agama RI untuk melakukan klarifikasi eviden PMPZI yang sudah disubmit.
Saat ditanya soal harapan kedepan, Dekan Fakultas Saintek ini berharap hasil penilaian PMPZI Fakultas Saintek berhasil meraih predikat ZI dengan WBK dan WBBM. "Dengan meraih predikat ini, Fakultas Saintek dapat semakin meningkatkan kualitas pelayanan publik dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat" hqrapnya.
HUMAS UIN MALANG-Dalam upaya untuk mengembangkan kurikulum kelas Internasional terbaik, tim peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan penelitian ke Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam. Kunjungan ini dilakukan mulai tanggal 27 Februari 2023 hingga 2 Maret 2023 dalam kegiatan Penelitian Kolaboratif Internasional. Tim Peneliti dipimpin oleh Dr. Hj. Samsul Susilawati, M. Pd adalah Ketua Program Studi Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (MPGMI) dan anggota peneliti yang lain Prof. H. Triyo Supriyatno, M. Ag, Ph. D Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Zuhrotul Hani’ah, S. Pd. Bersama sama mereka membentuk sebuah tim yang berkomitmen untuk mengembangkan desain pengembangan internasionalisasi kurikulum berbasis capaian indikator kinerja utama perguruan tinggi di Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Indonesia. Dalam rentang waktu kunjungan mereka tim peneliti bertemu dengan berbagai pihak terkait untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Pertemuan pertama mereka adalah dengan Rektor Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunai Darussalam UNISSA Dr. H. Norafan bin Haji Jainal dan Wakil Rektor bidang akademik Dr. Arman bin Hj Asmad, Pengarah pusat perhubungan awam dan antar bangsa Hj Muhamad Saman bin hj Mohamad Noh, Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunai Darussalam. Dalam pertemuan ini tim peneliti aktif bertanya dan berdiskusi mengenai pengembangan kurikulum yang telah dilakukan di Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam. Terakhir tim peneliti juga bertemu dan berdiskusi dengan perwakilan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam. Mereka ingin mendapatkan tanggapan langsung mengenai pengalaman studi di luar negeri. Melaui berbagai pertemuan dengan berbagai pihak di Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam, tim peneliti akhirnya berhasil mendapatkan beberapa jawaban yang mereka cari dalam penelitian ini. Kami berharap bahwa pengalaman kunjungan penelitian ini akan memberikan dampak positif dan bermanfaat bagi civitas akademik, terutama bagi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dalam upaya mereka menuju menjadi kampus unggul dengan reputasi internasional. Kunjungan penelitian ini menjadi Langkah konkret dalam upaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk terus mengembangkan kualitas Pendidikan dan reputasi internasionalnya. Diharapkan, temuan dan pengalaman yang diperoleh dari kunjungan ini akan memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan kurikulum internasional Universitas Islam Negeri Malang serta meningkatkan posisinya dalam kancah Pendidikan tinggi internasional.
UIN MALANG-Memasuki hari kedua pertemuan, perwakilan dari sembilan PTKIN ex-IAIN Sunan Ampel masih mematangkan persiapan KKN Kolaborasi Nusantara Persemakmuran IAIN Sunan Ampel di Ruang Meeting Hotel Swiss-Belinn, Malang, Kamis (2/3). Setelah pembukaan di hari sebelumnya, perwakilan yang terdiri dari Kepala LP2M dan Ketua Pusat Studi Pengabdian Masyarakat itu fokus pada penyusunan pedoman dan persiapan pelaksanaan KKN yang dimulai Juli hingga Agustus mendatang. Mengawali sesi pagi, Dr. Syaiful Mustofa menyampaikan bahwa tema KKN Kolaborasi Nusantara tahun 2023 adalah "Membangun Desa Berkelanjutan Berbasis Penguatan Moderasi Beragama dan Potensi Lokal". Hal ini sesuai dengan amanah Kementerian Agama agar moderasi beragama disebarkan ke seluruh penjuru Indonesia untuk mengurangi radikalisme.
Pada kesempatan tersebut, seluruh perwakilan bekerjasama dalam pengeditan buku pedoman yang ada. Hal ini dianggap urgen agar pelaksanaan KKN yang diikuti mahasiswa dari berbagai kampus tersebut dapat berjalan baik dan lancar sesuai petunjuk. "Tentunya, tujuan pelaksanaan KKN pun akan tercapai sesuai ketetapan," jelas Ketua Pusat Studi Pengabdian Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.
Di tengah diskusi, Dr. Muhammad Muntahibun Nafis dari UIN SATU Tulungagung menyatakan persetujuannya atas tema Moderasi Beragama yang ditetapkan. "Namun, jadikan itu sebagai ruh KKN. Jangan sampai, karena kita hanya fokus di situ, sehingga mengabaikan potensi lain yang bisa dikembangkan saat pelaksanaan KKN Nusantara Persemakmuran ini," jelasnya. Ia melanjutkan, banyak sekali potensi di masyarakat yang sayang sekali jika dilewatkan. Ia menekankan, inilah tugas utama kesembilan Persemakmuran IAIN Sunan Ampel, yakni menemukan, mengembangkan, serta memberdayakan potensi masyarakat.
Nafis melanjutkan, Petunjuk Teknis (juknis) pelaksanaan KKN Nusantara Persemakmuran IAIN Sunan Ampel harus disusun dengan maksimal agar dapat berlaku secara umum. "Artinya, juknis ini tidak hanya relevan untuk satu kampus saja, namun juga berlaku untuk kesembilan instansi yang tergabung dalam Persemakmuran IAIN Sunan Ampel," tambahnya.
Tahun ini, giliran UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang menjadi host KKN Nusantara Persemakmuran IAIN Sunan Ampel setelah tahun sebelumnya bertempat di UIN SATU Tulungagung. Kesembilan Ex-IAIN Sunan Ampel yang berpartisipasi dalam KKN Nusantara Persemakmuran ini adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Mataram, UINSI Samarinda, IAIN Ponorogo, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN KHAS Jember, IAIN Kediri, IAIN Madura, dan UIN SATU Tulungagung. (nd)
UIN MALANG-Sembilan perwakilan Ketua LP2M dan Kepala Pusat Studi Pengabdian Masyarakat dari instansi ex-IAIN Sunan Ampel memenuhi undangan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pasalnya, tahun ini, kampus berlogo Ulul Albab ini akan menjadi host dari KKN Nusantara Persemakmuran Ex-IAIN Sunan Ampel. Artinya, para mahasiswa dari kesembilan kampus akan datang dan melakukan pengabdian masyarakat di area Malang. Untuk mengawali program tahunan tersebut, seluruh perwakilan mengikuti pembukaan Sarasehan Program Pengabdian KKN Nusantara Persemakmuran Ex-IAIN Sunan Ampel di Ruang Meeting Gedung Rektorat lt. 3, Rabu (1/3).
Mewakili pimpinan kampus, Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Dr. Isroqunnajah, M.Ag. hadir untuk menyambut para tamu dalam kunjungan akademis tersebut. Ia menyampaikan, sesuai dengan amanah Bupati Kabupaten Malang, maka program KKN harus fokus pada penyelesaian problem di masyarakat tujuan. Hal ini karena Kabupaten Malang menjadi objek KKN Nusantara Persemakmuran tahun 2023. Tujuan sarasehan hari ini adalah agar ada program dan pedoman yang jelas sebelum hari-H pelaksanaan KKN Nusantara Persemakmuran yang rencananya dilaksanakan pada Juli dan Agustus mendatang. "Mahasiswa hadir di tengah masyarakat untuk mengedukasi, berbagi apa yang sudah dipelajari, sesuai dengan kebutuhan di tempat tujuan," ujar Gus Is.
Sebagai tuan rumah, Kepala LP2M UIN Malang, Prof. Dr. Agus Maimun, M.Pd. menyampaikan pesan langsung dari Drs. Sanusi, Bupati Kabupaten Malang. "Ada dua kegiatan penting yang harus dimasukkan dalam program KKN, yakni Moderasi Beragama serta sosialisasi parenting dan pencegahan stunting," paparnya. Hal ini menyesuaikan dengan isu utama yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Tak hanya mendiskusikan KKN Nusantara, Prof. Agus meminta agar kesembilan PTKIN yang hadir juga membahas pelaksanaan KKN Luar Negeri. "Dari beberapa kunjungan yang saya lakukan, terbukti belum banyak yang melakukan pengabdian hingga mancanegara," imbuhnya.
Menutup sambutannya, Prof. Agus menekankan agar "Maju Bersama" harus menjadi prinsip instansi ex-IAIN Sunan Ampel. Karena, menurutnya, ketika semua kampus berkembang bersama, maka hasilnya akan semakin unggul. "Jika ada program kampus kita yang berhasil, tentu kita wajib berbagi dengan kampus lain agar diikuti dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang lebih luas," pesannya.
Menurut Ahmad Abtokhi, Sekretaris LP2M UIN Malang, KKN Nusantara Persemakmuran telah dilaksanakan keempat kalinya sejak 2018. Di tahun pertama, pengabdian dilaksanakan di Mataram, Propinsi NTB. Pada 2019, tujuan KKN beralih ke Samarinda. "Sedangkan pada 2020 dan 2021, program ini sempat vakum karena pandemi Covid-19," jelasnya. Baru pada 2022 dilanjutkan kembali setelah aturan PSBB mulai dilonggarkan dan KKN ditempatkan di Kabupaten Tulungagung. Ia berharap, sebagai host tahun 2023, UIN Malang dapat memanfaatkan kegiatan ini secara maksimal. Kesembilan Ex-IAIN Sunan Ampel yang berpartisipasi dalam KKN Nusantara Persemakmuran ini adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Mataram, UINSI Samarinda, IAIN Ponorogo, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN KHAS Jember, IAIN Kediri, IAIN Madura, dan UIN SATU Tulungagung. (nd)
HUMAS UIN MALANG - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang akan kembali menggelar acara pengukuhan guru besar. Kali ini, Prof. Dr. Rifa Hidayah, M.Si akan dikukuhkan menjadi guru besar bidang ilmu psikologi pada Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang, Rabu (1/3).
Rencananya pelaksanaan pengukuhan kali ini akan dihelat pada Selasa 7 Maret ini bertempat di Aula Pertemuan Gedung Rektorat Lt.5.
Salah satu Penanggungjawab kegiatan pengukuhan guru besar, Dr. H. Barnoto, M.Pd.I menjelaskan bahwa segenap panitia sudah mulai bekerja ekstra untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. "Meskipun prosesi pengukuhan sudah biasa dilaksanakan, Akan tetapi, persiapan pengukuhan harus disiapkan dengan sebaik mungkin," paparnya.
Agar kegiatan ini terlaksana dengan baik, lancar dan sukses maka dibutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari persoalan anggaran, teknis pelaksanaannya hingga persoalan audio dan tamu undangan. "Acaranya tertib tapi jika masih ada kendala di elektronik bisa audio maupun kelistrikan akan mengganggu kesakralan prosesi pengukuhan ini,"pesannya sembari memberikan evaluasi kepada para panitia.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Pengukuhan Gubes Dr. Achmad Khudori Soleh, M.Ag meminta semua koordinator seksi kepanitiaan bisa segera melaporkan dan melengkapi segala kebutuhannya. Setidaknya jika ada kendala bisa diambil langkah kongkrit agar persiapan pengukuhan ini bisa termonitoring demi kelancaran prosesi pengukuhan ini. "Koordinasi ini sekaligus untuk melihat progres report dari masing-masing seksi, jika ada kendala maka bisa segera mengambil langkah cepat untuk proses penyelesaiannya," paparnya tegas.
UIN MALANG-Tak seperti biasanya, para mahasiswa berbagai jurusan tidak duduk manis di kelas untuk mengikuti perkuliahan sesuai jadwal. Mereka justru hadir dalam seminar umum di Aula Gedung Rektorat lt.5 yang diselenggarakan pihak universitas pada minggu kedua semester genap untuk belajar langsung mengenai Kompetensi Mahasiswa dalam Dunia Kerja dari Area Manager PT. Bank Syariah Indonesia, Malang, Anang Hery Anshory, Selasa (28/2). Didampingi rektor dan para wakil rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pemateri utama menjelaskan tantangan-tantangan dunia kerja di masa mendatang di pandang dari segi pendidikan, kebutuhan berbagai sektor, hingga populasi. Memasuki zaman milenial dan global, dunia kerja pun makin berubah. “Baik itu di dalam maupun luar negeri, lapangan kerja sangat dinamis,” tutur Anang. Kualifikasi yang diharapkan penyedia kerja juga semakin tinggi. Karenanya, kebutuhan akan pendidikan tidak menjadi semata-mata ukuran diterimanya seseorang dalam suatu pekerjaan. “Ada continous atau life-long learning yang diharapkan dimiliki oleh pencari kerja,” imbuhnya.
Yang dimaksud pemateri ialah, seseorang harus bisa beradaptasi dengan new technology dan new environment dengan memiliki new skills. “Special skill sudah mahasiswa dapatkan di perkuliahan karena itu berkaitan dengan minat studi,” ujar Anang. Hal ini dibarengi dengan kemampuan terhadap pengoperasian komputer dan juga bahasa asing yang mumpuni. Ia melanjutkan, ada non-technical skills yang juga menjadi penilaian penting para perekrut di perusahaan. Apakah calon pegawai cukup tangkas dalam menyelesaikan pekerjaan? Apakah calon pegawai memiliki pemikiran yang kritis serta inisiatif dalam menyelesaikan setiap masalah? Tentunya, karena bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga, calon pegawai harus bisa bekerja dalam tim. “Memiliki kemampuan komunikasi yang efektif juga kreatif akan membuat seseorang bertahan lebih lama,” jelas Anang. Untuk itu, ia harap mahasiswa tidak hanya terpaku pada pembelajaran hard skills yang didapat di ruang kuliah. Ia ingin mahasiswa belajar membangun relasi sejak dini dan mengikuti berbagai kegiatan agar mendapatkan soft skills yang nantinya akan berguna di dunia kerja. (nd)
HUMAS UIN MALANG-Untuk mengurangi pengangguran terhadap lulusan sarjana S1 di perguruan tinggi. Career Development Center (CDC) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan penandatangan nota Kerjasama dengan Direktur jenderal Pembinaan pelatihan Vokasi dan produktivitas kementerian Ketenagakerjaan RI, Muhammad Ali, SS, MA., Ph.D, dan juga Manager BSI area Malang Anang Hery Anshory, Selasa (28/2). Kegiatan yang dipusatkan di Aula rektorat Lt.5 ini diikuti oleh ratusan peserta dan dihadiri langsung oleh Rektor beserta jajaran pimpinan lainnya.
Mengawali kegiatan seminar kewirausahaan ini, Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Zainuddin, MA menyampaikan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang tahun 2022 menunjukkan jumlah pengangguran terdidik di Indonesia tidak sedikit sehingga kampus harus berperan dalam mengurangi lulusannya yang belum terserap di dunia kerja. "Melalui pola kerjasama yang dibangun melalui CDC UIN Maliki Malang dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan perusaahan BUMN ini diharapkan bisa membantu para lulusan kampus ini mendapatkan pekerjaan," harapnya.
Pasalnya, tambah dia, perguruan tinggi atau kampus masih menyumbang banyak angka pengangguran. Di Malang raya saja BPS mencatat sepanjang 2022 ada 10.673 lulusan kampus yang menganggur. Itu berasal dari semua jenjang pendidikan di kampus. Baik diploma maupun sarjana.
Sementara itu, sepanjang 2022 di kota Malang tercatat ada 8.500 lulusan kampus yang menganggur. Itu adalah 25,18 persen dari total pengangguran yang tercatat. "Insyaallah lulusan UIN Malang siap bekerja profesional dan yang terpenting amanah, karena lulusannya sudah dibekali hard skill dan soft skill," paparnya.
Direktur Bina Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi dan Pemagangan M. Ali,S.S.,M.A.,PhD dalam materi seminarnya menjelaskan bahwa fakta di lapangan banyak lulusan SMK yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dunian kerja malah banyak yang tidak memiliki kompetensi yang layak sesuai dengan akademiknya. "Ini fakta di lapangan yang saya temukan begitu," urainya.
Seharusnya, tambah dia, selama tiga tahun sekolah SMK lulusannya siap di serap di dunia kerja. Bukan persoalan lulusan SMK saja, bahkan banyak lulusan sarjana yang nganggur dan mereka kembali mendaftar di balai pelatihan. "Seharusnya lulusan sarjana sudah tidak lagi membutuhkan pelatihan. Akan tetapi, lagi-lagi faktanya mereka banyak yang tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja."Sehingga mereka mengikuti program pelatihan kerja," jelasnya.
Masih kata M. Ali, saat ini di tengah masyarakat banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai akademiknya, bahkan passionnya di dunia kerja tidak sesuai dengan lulusan akademiknya. "Banyak yang mendapatkan pekerjaan di luar pendidikan formalnya dan ini fakta di lapangan begitu," paparnya. (ff)
HUMAS UIN MALANG-Bagian Organisasi Kepegawaian dan Hukum (OKH) Universitas Islam negeri Maulana Malik Ibrahim Malang bekerjasama dengan Pusdiklat Tenaga Administrasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama mengadakan kegiata Pelatihan Teknis Karya Tulis Ilmiah kali kedua bagi tenaga kependidikan atau fungdionsl di lingkungan UIN Maliki Malang, Senin (27/2). Kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan LPM gedung Rektorat lt. 4 itu diikuti oleh seluruh Tenaga fungsional UIN Maliki Malang guna meningkatkan kemampuan mereka dalam menulis karya ilmiah.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. H. M. Zainuddin, MA ini diikuti oleh 30 peserta tenaga fungsional. Dalam sambutannya, Prof. ZainUddin menilai bahwa kegiatan pelatihan peningkatan kompetensi menulis karya ilmiah bagi tenaga fungsional ini memang sangat di butuhkan di UIN Maliki Malang. Apa lagi kampus ini sudah menuju kampus unggul bereputasi internasional. Sebagai pelayan akademik, sudah sepatutnya para tenaga kependidikan atau ASN fungsional diberikan kesempatan untuk melakukan riset ataupun penelitian untuk meningkatkan skil dan wawasannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. “Saya berterimakasih sekali kepada Kepala Badan Litbang dan Diklat atau pusdiklat tenaga Administrasi bapak Syafi’I telah bekerjasama dengan UIN Malang untuk mengadakan pelatihan menulis karya ilmiah ini,” paparnya.
Masih kata Rektor, bahwa Ini kegiatan yang sangat baik sekali untuk memberikan pelatihan menulis karya ilmiah bagi para pegawai ASN fungsional, dan saya berharap kegiatan ini bisa diikuti secara serius agar apa yang diharapkan bisa tercapai. “Karena tidak semua tenaga fungsional di kampus mendapatkan pelatihan seperti ini, dan kesempatan ini harus betul-betul dimanfaatkan dengan baik,” tegasnya. Selain itu, kata dosen pengampuh mata kuliah filsafat dan pemikiran Islam ini bahwa tenaga kependidikan yang berstatus ASN untuk persyaratan kenaikan jabatan dan jenjang karir tidak ada aturan untuk menulis karya ilmiah. Akan tetapi, saat ini aturan tersebut sudah mulai diberlakukan. “Regulasi terbaru pejabat fungsional diharuskan memiliki karya ilmiah, jika tidak dipenuhi maka tenaga fungsional tidak bisa mengajukan kenaikan jabatan,” pungkasnya.