GEMA-Masa pandemi Covid-19 ternyata memang benar-benar mempengaruhi banyak aktifitas di ranah Perguruan Tinggi tak terkecuali pada agenda Pemilihan Wakil Mahasiswa (pemilwa) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pada tahun ini, kali pertama kampus hijau berlogo Ulul Albab di kota Malang ini menyelenggarakan pemilwa secara online, Selasa (18/8). Wakil Rektor bidang kemahasiswaan UIN Maliki Malang, Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag memberikan penjelasan tentang agenda pemilwa yang sedang berlangsung di kampus yang beralamatkan di Jl. Gajayana 50 Malang ini. Menurutnya, bahwa semua mahasiswa UIN Maliki yang saat ini ada di daerahnya masing-masing, bisa secara online menggunakan hak pilihnya dalam ajang pesta demokrasi kampus. Dalam pelaksanaannya secara online, pihak kampus UIN Maliki telah menyediakan fasilitas semacam aplikasi berupa E-VOTE sebagai media dalam menyalurkan hak pilih para mahasiswa. E-VOTE merupakan produk aplikasi yang dimiliki UIN Maliki sendiri dan dapat dibuka lewat link simira.uin-malang.ac.id. Agenda ini bertujuan untuk memilih beberapa diantara para calon wakil mahasiswa yang nanti menduduki amanah di jajaran elite kemahasiswaan yakni sebagai perwakilan para mahasiswa dengan jabatan sebagai Dewan Mahasiswa(DeMa) dan Senat Mahasiswa(SeMa). Selanjutnya, Gus Is sapaan akrab dari Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag mengucapkan terimakasih kepada semuanya yang terlibat dan ikut berpartisipasi langsung pelaksanaan pemilwa tahun 2020 ini. "Selamat dan sukses atas untuk PEMILWA tahun ini," pungkasnya. (ptt)
GEMA-Hari terakhir Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pedagogik masih diikuti 53 dosen muda di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (14/8). Seperti jadwal yang ditetapkan panitia, seluruh peserta diwajibkan melakukan praktik mengajar. Ketua Panitia Dr. Muh. Yunus, M.Si. menjelaskan bahwa sesi terakhir dari pelatihan diisi peer-teaching. “Masing-masing kami beri durasi 20 menit untuk menyampaikan materi yang sudah dipersiapkan,” imbuhnya. Untuk mengefisiensikan waktu, maka para peserta dibagi ke dalam lima kelas dan diawasi oleh dua pengawas profesional yang diutus panitia. Seluruh kegiatan praktik mengajar dihelat di Gedung Perkuliahan A. Melalui sesi ini, panitia akan menilai dan mengevaluasi apa yang perlu ditingkatkan oleh para dosen dalam hal kapabilitas mengajarnya. “Kita akan tahu siapa saja yang sudah baik dalam penyampaian materi saat di depan mahasiswa,” ujar Yunus. Penilaian kelulusan dari pelatihan ini tak hanya dari kualitas mengajar para dosen. Panitia juga akan menilai kedisiplinan setiap peserta dalam mengikuti seluruh sesi pelatihan dan penugasan. Sementara itu, Hilda Halida, peserta dari Fakultas Psikologi merasa bahwa pelatihan ini bisa membuat seluruh dosen muda memahami visi-misi kampus lebih mendalam. Dengan begitu, mereka dapat menyesuaikan materi ajar sesuai konsep keilmuan yang dibangun UIN Malang. “Kami tahu bagaimana harus mengintegrasikan materi umum dengan ilmu agama dan mengelaborasinya sehingga tidak keluar dari target kampus,” paparnya. (aj/nd)
GEMA-Menyesuaikan situasi pandemi Covid-19, Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghelat seleksi daring bagi calon mahasiswa baru (maba) semester ganjil tahun akademik 2020/2021. Seleksi yang diikuti calon mahasiswa program magister dan doktor itu dilakukan melalui laman cbt.uin-malang.ac.id mulai pukul 09.00 hingga 11.30 WIB. Materi tes tulis meliputi Tes Potensi Akademik, Kemampuan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Sementara itu, sesi wawancara atau presentasi proposal penelitian bagi calon mahasiswa S3 juga dilaksanakan dalam hari yang sama melalui teleconference, Rabu (12/8). Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Umi Sumbulah. M.Ag. menyatakan proses seleksi berjalan lancar sesuai rencana. Tidak menutup kemungkinan, seleksi daring akan tetap dipertahankan oleh Pascasarjana UIN Malang melihat pelaksanaannya yang efektif dan efisien. “Tes CBT bisa jadi alternatif kami untuk menyeleksi calon-calon maba Program Pascasarjana di masa mendatang,” imbuh Prof. Umi. Wakil Direktur Pascasarjana Drs. Basri Zain, Ph.D. membagi data maba periode ini. Sebanyak 473 calon maba mengikut Computer-Based Test (CBT) di semester ganjil ini. Mereka terdiri dari 45 calon mahasiswa Program Doktor dan 428 calon mahasiswa Program Magister. Ketua Panitia Seleksi Maba Pascasarjana Dr. Triyo Supriyatno menambahkan, calon maba tak hanya berasal dari Indonesia. “Ada juga pendaftar dari Malaysia dan Arab Saudi,” jelasnya. Ia juga menjelaskan, bahwa presentasi proposal bagi maba Program Doktor dilakukan melalui aplikasi Zoom dan WhatsApp Video Call. Mereka diuji langsung oleh direktur, serta kaprodi dan sekprodi masing-masing. Pihak Pascasarjana secara khusus dan intensif bekerjasama dengan Pusat Teknik Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) UIN Malang untuk menyukseskan seleksi daring ini. Pihak PTIPD menyediakan laman khusus CBT yang dapat diakses calon maba dimanapun pada waktu bersamaan. Sehingga, gangguan apapun dapat diminimalisir. Triyo melanjutkan, hasil seleksi maba Pascasarjana akan diumumkan pada 18 Agustus 2020. Rencananya, proses registrasi juga akan dilangsungkan secara daring mulai hari pengumuman hasil hingga 28 Agustus 2020. (nd)
GEMA-Sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. tentu bangga saat melantik profesor-profesor baru di kampus, Rabu (12/8). Program kerjanya untuk menggeliatkan calon guru besar membuahkan hasil. Hingga Agustus 2020 saja, tujuh guru besar sudah mendapatkan Surat Keputusan resmi. Beberapa calon guru besar masih menanti sidang bersama DIKTIS untuk lulus kualifikasi sebagai profesor. Pada acara pengukuhan guru besar Prof. Dr. A. Muhtadi Ridwan, M.Ag. dan Prof. Dr. drh. Bayyinatul Muchtaromah, M.Si., rektor mengungkapkan rasa bahagianya. Ia pun berpesan agar para guru besar terus melanjutkan penelitiannya. “Apalagi setelah tadi mendengar orasi ilmiah, saya rasa hasil risetnya sangat kontekstual dengan kondisi kita sekarang,” tuturnya. Ia ingin para profesor di UIN Malang mendapat pengakuan oleh masyarakat luas. “Dengan begitu, bukan nama profesor saja yang terangkat, nama kampus kita pun akan makin baik,” ujar Prof. Haris. (nd)
GEMA-Prof. Dr. drh. Bayyinatul Muchtaromah, M.Si. menjabarkan pemaparannya tentang usaha para pakar dalam menstandarisasi obat herbal di dunia medis. Hal itu disampaikan saat pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Biologi di Aula Gedung Rektorat lt. 5 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (12/8). Meski terbukti aman sebagai pengobatan beragam penyakit, obat herbal masih digolongkan sebagai jamu dan OHT (Obat Herbal Terstandar). “Khasiatnya belum diuji secara klinis untuk memasuki dunia medis modern,” jelasnya. Prof. Bayyin melanjutkan, obat herbal memang aman namun ia belum terbukti mengobati penyakit secara optimal. Pasalnya, obat herbal belum terstandar sempurna agar dapat diserap tubuh. Untuk itu, pakar obat herbal bekerja sangat keras. Misalnya saja dalam memformulasi tingkat kelarutan, stabilitas, bioavailabilitas dan sistem tertarget agar penggunaannya lebih efektif. Sebagai akademisi yang menggeluti Nanoteknologi terutama di Bidang Kesehatan, Prof. Bayyin memandang obat herbal akan dapat terstandar jika direkayasa dengan penerapan nanoteknologi. Penggunaan metode ini telah dikembangkan beberapa tahun terakhir terutama di kalangan pengembang obat herbal. Nanoteknologi mampu menghasilkan sediaan partikel dalam skala atom dan molekuler. Ukuran partikel yang kecil menjadikan ekstrak mudah terserap dalam plasma darah dan lebih efektif mencapai sel target. “Karena ukurannya yang kecil dengan kapasitas muatan besar, nanopartikel dapat diberikan meski dalam dosis yang tinggi,” jelas mantan dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang ini. Ia pun menyinggung peluang obat herbal atau yang lebih sering disebut jamu ini bagi mereka yang berkecimpung di Industri Jamu dan UMKM. Dengan begitu banyaknya tumbuhan obat yang bisa dimanfaatkan, akan banyak industri yang bisa bermunculan hanya dengan memproduksi jamu. Prof. Bayyin juga berharap penggerak industri jamu dapat memanfaatkan sentuhan teknologi nano agar jalannya menuju obat terstandar di dunia medis semakin mulus. (nd)
GEMA-Mengkaji ilmu umum dan dikaitkan dengan nilai beragama menjadi pusat keilmuan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Maka tak heran, saat hari pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ekonomi Syariah, Prof. Dr. A. Muhtadi Ridwan, M.Ag. menyampaikan hasil riset integratif. Dalam orasi ilmiahnya, ia memaparkan perilaku beragama dalam relevansinya dengan ketahanan ekonomi nasional di Indonesia, Rabu (12/8). Prof. Muhatdi menyatakan keharusan bekerja kerasa sudah diajarkan kepada umat Islam. Bekerja keras tidak semata untuk menumpuk materi melainkan juga untuk memastikan perekonomian tetap berjalan di suatu wilayah. “Banyak ayat dalam al Quran juga hadis Nabi Muhammad yang memerintahkan muslim untuk tidak memupuk rasa malas,” tutur Bapak kelahiran Desa Glagah, Kabupaten Lamongan itu. Sejalan dengan perintah bekerja keras, jika dipahami lebih lanjut, maka muslim juga harus memastikan bahwa yang dilakukan bernilai halal. “Artinya, jenis pekerjaan yang kita pilih juga proses untuk mencapai hasil yang diinginkan sejalan dengan ajaran agama,” paparnya. Dengan memastikan kehalalan dalam bekerja, maka muslim bisa menciptakan sistem perekonomian masyarakat yang kokoh. Dalam orasi ilmiahnya pula, Prof. Muhtadi juga berpesan agar umat manusia, khususnya muslim menyeimbangkan ibadah serta muamalah. Ia menyayangkan sebagian orang yang hanya memandang agama hanya sebagai aktivitas sakral, seperti ibadah sholat. “Padahal nilai agama itu bisa kontekstual untuk menciptakan norma sosial di masyarakat,” ujar peraih gelar Doktor di IAIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. Dengan begitu, lanjut Bapak kelahiran 1955 ini, ada tiga proses penyerapan nilai agama yang setidaknya harus dipraktikkan manusia. Pertama ialah al-'ilmu. Di sini lebih memusatkan pada proses penambahan pengetahuan agama. Kedua ialah al-fahmu, yakni proses memperdalam pemahaman ajaran-ajaran agama yang telah dipelajari. Yang terakhir ialah proses al-'amal, sebuah tahapan mempraktikkan ilmu yang telah dipahami dengan sebenarnya. “Jika kita masih menemukan orang beragama yang berperilaku menyimpang, berarti ada yang salah di antara proses itu. Entah itu proses belajarnya atau proses pemahamannya,” jelasnya. (nd)
GEMA-Kewajiban dosen tidak hanya sebatas mentransfer ilmu kepada mahasiswa. Lebih dari itu, untuk mempermudah proses mengajar, seorang dosen juga harus menjalin hubungan yang positif dengan mahasiswa. Hal ini ditekankan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. saat menghadiri Pelatihan Pedagogi di hadapan 53 dosen, Selasa (11/8). Ia juga menegaskan bahwa UIN Malang mengintegrasikan keilmuan pesantren dan perguruan tinggi. Hal tersebut diperlengkap dengan empat pilar yang sudah mengakar di kampus, yakni Kedalaman Spiritual, Keagungan Akhlak, Keluasan Ilmu, dan Kematangan Profesional. “Semua itu merupakan hasil breakdown dari visi-misi kampus,” lanjutnya. Maka, apapun yang dosen lakukan harus merujuk pada dasar keilmuan di UIN Malang. Baik itu dalam melakukan riset maupun tri dharma lainnya. “Jika ini ditanamkan dan diaplikasikan maka saya yakin semua dosen akan menjadi expert di bidangnya masing-masing,” tutur Prof. Haris. (aj/nd)
GEMA-Dalam sambutannya melalui teleconference saat Pelatihan Pedagogi bagi dosen muda di UIN Malang, Direktur DIKTIS Prof. M. Arskal Salim, GP., MA., Ph.D. mengapresiasi kampus yang tetap memperhatikan keterampilan dosen saat pandemi. Ia menilai kegiatan rutinan dari Lembaga Penjaminan Mutu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini adalah cara menanamkan prinsip dasar pengembangan keilmuan di kampus. “Memang penting sekali bagi dosen untuk mengenal dan memahami pengembangan keilmuan di kampus tempatnya mengabdi agar tradisi dan nilai kampus tetap terjaga,” imbuh Prof. Arskal, Selasa (11/8). Ia menambahkan, untuk mewujudkan UIN Malang sebagai World Class University (WCU), hal yang sangat diperhitungkan ialah kualitas riset dan mutu para dosennya. Jalan kampus menuju international recognition akan lebih mudah jika para dosen secara berkala tiap tahunnya mempublikasikan hasil risetnya. Selain itu mengikuti seminar keilmuan baik offline maupun online juga sangat dianjurkan. Melakukan segala kewajiban akademik seperti itu tidak dimaksudkan semata untuk menambah materi atau honor. “Imbasnya tentu pada angka kredit dosen yang terkumpul lebih cepat untuk menuju jenjang karir tertinggi yaitu menjadi guru besar,” papar lulusan The University of Melbourne, Australia itu. Selain riset, ia melanjutkan, lembaga akan lebih berkembangan dengan pola pengabdiannya. Dosen pun memiliki kewajiban untuk turut dalam program pengabdian masyarakat seperti yang tertuang dalam Tri Dharma Universitas. “Kita ingin ada dosen yang menjadi agent of change terhadap perubahan dan kemajuan di masyarakat, terutama dalam moderasi beragama,” ujarnya. (aj/nd)
GEMA-53 dosen muda di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berkesempatan mendapatkan pelatihan pedagogi. Program rutinan yang dihelat di Aula Microteaching tersebut diadakan selama tiga hari (11/8 dan 13-14/8). Meski banyak kegiatan yang terhambat karena pandemi Covid-19, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui LPM dan LP2M tetap berupaya untuk membekali para dosen muda di lingkungan kampus. Pihak LPM berharap, dosen-dosen tetap menyibukkan diri untuk meningkatkan mutu serta kualitasnya dalam mendidik generasi bangsa. Dr. Muh. Yunus, M.Si., Ketua Panitia Pelatihan Pedagogik, mengatakan pihaknya menyiapkan format yang berbeda dalam pelatihan kali ini. Pendekatan Blended Learning diterapkan sehingga 3 hari sesi pelatihan tidak hanya berisi pembekalan di tempat, namun juga pemaparan materi secara daring. “Di hari terakhir pelatihan (Jumat, Red.), pelatihannya full offline karena ada pemaparan tugas per kelompok,” jelasnya. Untuk presentasi penugasan, para dosen memang dituntut memiliki produk pembelajaran. Yakni, sebuah modul untuk mengajar sesuai disiplin keilmuan masing-masing. Di akhir pelatihan, panitia akan menilai kecakapan individu para dosen. Akan ada dosen yang dinyatakan lulus dan tidak. “Yang belum lulus harus mengikuti pelatihan pedagogi di periode berikutnya di tahun mendatang,” papar Yunus. Ia menambahkan, ada beberapa kriteria kelulusan yang dipatok pihak kampus. Setidaknya dua hal yang menjadi penilaian utama, yaitu kedisiplinan dan kemampuan mengajar. Para dosen muda yang mengikuti pelatihan berasal dari beberapa fakultas yakni Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Fakultas Psikologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Humaniora, dan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. (aj/nd)