GEMA-Pasca pemberian nama-nama gedung (17/7) di lingkungan Kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, rektor mulai melakukan pemasangan prasasti. Prasasti pertama disematkan di menara samping Masjid At Tarbiyah yang bernama Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Jumat (24/7). Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. mengungkapkan bahwa pemilihan nama Prof. Imam untuk menara merupakan pilihan yang bersangkutan. Ia meminta agar namanya diabadikan di bangunan yang paling tinggi. Prof. Haris pun tak lupa mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Prof. Imam yang telah memimpin kampus berlogo Ulul Albab ini selama beberapa periode, bahkan sejak masih berstatus STAIN Malang. Dr. Moh. Padil (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) dan Dr. Abdul Bashith (Wakil Dekan Bidang AUPK, FITK) menyatakan bahwa pengabadian nama-nama para pemimpin terdahulu adalah bukti penghargaan tinggi kampus. Mereka berharap agar jasa-jasa para pimpinan terdahulu dapat diresapi oleh seluruh sivitas akademik UIN Malang. “Semoga siapa saja yang melihat Menara Prof. Imam Suprayogo ini mendapat insporasi untuk membangun lembaga pendidikan Islam di mana saja,” tutur Moh. Padil. (ptt/nd)
GEMA-BTN Syariah menambah fasilitas parkir roda dua di area UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Peresmian lahan parkir dua lantai ini dilakukan bersamaan dengan acara rutinan Khotmil Quran yang kali ini dilaksanakan di area parkir lt. 2 depan Gedung Fakultas Sains dan Teknologi, Jumat (24/7). Nurul Astuti Branch Manager BTN Syariah didampingi Deputy Branch Manager Business Abdul Syukur beserta jajarannya memberikan tanda serah terima kepada Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag.
Rektor mengapresiasi niat BTN Syariah Kota Malang untuk membantu mencarikan solusi terhadap kurangnya lahan parkir di area kampus. Dengan memanfaatkan lahan kosong di depan Fakultas Saintek, penataan ruang di UIN Malang diharapkan semakin rapi. Nurul pun mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan UIN Malang terhadap timnya. Ia berharap agar kerjasama antara kedua pihak ini makin erat dan berlangsung untuk jangka waktu yang lama. “Semoga bantuan dari pihak BTN Syariah kepada UIN Malang bermanfaat untuk semua sivitas akademik,” tuturnya. (ptt/nd)
GEMA-Menjadi salah satu narasumber dalam webinar yang dihelat Pusat Studi Gender dan Anak UIN Malang, Fauziah Fauzan El Muhammady, M.Si., Pengasuh Perguruan Diniyyah Puteri, Padang Panjang mengungkapkan bahwa anak di usia dini pun bisa mengalami stres layaknya orang dewasa, Kamis (23/7). Bedanya, jika orang dewasa masih bisa berpikir untuk mencari solusi dari stres yang diderita, anak kecil justru sebaliknya. Alhasil, proses tumbuh kembang anak menjadi tidak normal. Zizi, sapaan akrabnya, mengenalkan istilah toksin stres yang berarti derita mental yang bersifat merusak. Menurut penelitian yang ia baca, toksin stres dialami sebagian besar anak. Mereka banyak yang menjadi korban perundungan (bullying) di sekolah. Bukan siksaan dalam bentuk fisik yang sering terjadi, namun siksaan verbal. Kata dan kalimat tidak pantas sering dilontarkan anak-anak usia sekolah dimana pun. Ditambah lagi, masih kata Zizi, ketika di rumah mereka juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Dan ini dilakukan oleh para orang tua yang seharusnya menjadi sumber kasih sayang,” imbuhnya. KDRT yang mereka dapatkan bermacam-macam. Persentase terbanyak masih dalam bentuk verbal. “Seperti hinaan, cacian, dan makian,” jelasnya. Tak hanya itu, ada juga yang sudah memasuki wilayah kekerasan fisik seperti pukulan dan menjewer telinga. Jika terjadi secara berulang-ulang dan dalam kurun waktu yang cukup lama, bisa dipastikan, di usia mudanya, anak tidak tumbuh dengan semestinya. Banyak yang akhirnya menjadi pendiam dan bermental pesimis. “Penelitian juga menunjukkan bahwa akibat dari bullying yang berulang ini merubah struktur otak,” tambahnya. Akibatnya, koneksi saraf dalam tubuh anak tidak berkembang. (nd)
GEMA-Makin terbukanya ruang media bagi pembaca atau audien, membuat topik bahasan makin menarik. Ini sejalan dengan konsep Discourse on Media yang memang mengharuskan audien dalam praktiknya. Hal tersebut disampaikan Pakar Studi Budaya dan Media dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Rulli Nasrullah, M.Si. dalam webinar bertema Jurnalistik yang diselenggarakan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (23/7). Beberapa tahun belakang, dengan pemanfaatan internet sebagai wadah penyiaran berita, makin bermunculan pembaca-pembaca aktif. Jika dulu pembaca hanya sekadar membaca melalui koran dan menyaksikan berita di televisi dan radio secara pasif, kali ini pembaca bisa dengan bebas memberi komentarnya di setiap berita yang dipajang melalui dari. Bahkan, komentar-komentar para warga internet (netizen) pun menjadikan sebuah produk Jurnalistik makin hidup. Mulai dari yang bernada positif bahkan mungkin lebih banyak yang mengandung unsur negatif. “Karena komentar-komentar yang tidak bisa dikontrol ini, maka muncullah istilah maha benar netizen dengan segala komentarnya,” ujar Rulli. Ia bahkan tidak menampik jika terkadang lebih seru membaca komentar netizen dibanding berita utamanya. Narasumber lain di webinar tersebut, Dr. Mundi Rahayu pun menambahkan bahwa hal ini mungkin karena media menjadi open space bagi semua orang untuk berinteraksi. Komentar netizen pada sebuah berita menjadikan sebuah berita terlihat atraktif. Pasalnya, media online memberi peluang luas bagi pembaca untuk memberi feedback berupa komentar. “Yang bahkan terkadang itu semua out of our control,” imbuh dosen Jurusan Sastra Inggris tersebut. Dengan adanya media yang mewadahi audien untuk interaktif ini, membuat media makin dinamis. “Ada ruang-ruang yang membuat audien bisa menyuarakan kepentingan dan melakukan resistensi yang lebih frontal,” jelas lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu. Selain Rulli dan Mundi, narasumber lain yang juga berkesempatan berbagi mengenai pandangannya tentang wacana Jurnalistik ialah Saira Asad, Ph.D. (Universiti Tun Hussein Onn, Malaysia). Rencananya, akan ada webinar lanjutan dengan tema Jurnalistik di lain waktu. (nd)
GEMA-Memperingati Hari Anak Nasional 2020, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghelat webinar yang khusus membahas hal berkaitan dengan anak. Dalam sambutan pembukanya, Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag., Rektor UIN Malang, mengaku takjub dengan tradisi turun-temurun yang sering dilakukan ibu-ibu di Jawa yang berkaitan dengan pendidikan anak, Kamis (23/7). Yang ia maksud ialah, kebiasaan calon ibu atau ibu hamil untuk membaca surat-surat tertentu dalam Alquran. “Biasanya mereka membaca Surat Maryam atau Surat Yusuf setiap hari,” jelasnya. Kebiasaan ini merupakan gambaran bahwa seorang Ibu menaruh harapan yang sangat tinggi kepada anaknya. Dengan membaca kedua surat tersebut, mereka ingin anak-anaknya tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam kisah Nabi Yusuf dan Sayyidah Maryam (Ibunda Nabi Isa). Kebiasaan yang dilakukan ibu-ibu ini menurut Prof. Haris merupakan realisasi dari hadis Nabi Muhammad saw. bahwa pendidikan anak dimulai sejak masih dalam kandungan. Dengan memberi eksposur yang bernilai agama kepada mereka sejak dalam rahim Ibu, anak diharapkan dapat menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan. “Ini bentuk tanggung jawab yang luar biasa besar dari Ibu-Ibu yang terefleksikan dalam sebuah tradisi positif,” ujar rektor kelahiran Lamongan tersebut. Webinar yang digagas PSGA ini juga menghadirkan tiga narasumber utama. Mereka ialah Drs. M. Sanusi, MM. (Bupati Kabupaten Malang), Harry Setia Budi, M.Si. (Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten Malang), dan Fauziah Fauzan El Muhammady, M.Si. (Pengasuh Perguruan Diniyyah Puteri, Padang Panjang). (nd)
GEMA-Bupati Kabupaten Malang, Drs. M. Sanusi, MM. Menyampaikan sambutan singkatnya melalui webinar yang digagas Pusat Studi Gender dan Anak UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sambutan yang fokus pada realisasi hak anak ini dilakukan sebagai perayaan Hari Anak Nasional tahun ini, Kamis (23/7). Ia menekankan bahwa seluruh pihak harus bekerjasama untuk memastikan anak-anak Indonesia, khususnya yang ada di area Malang Raya, agar terpenuhi hak-haknya. Hak yang dimaksud termasuk hak memperoleh tempat tinggal dan kasih sayang dari keluarga, hak belajar, dan hak dalam layanan kesehatan. Ia berharap, tumbuh kembang anak akan semakin meningkat seiring perkembangan zaman. “Kita bangun lingkungan yang ramah anak sehingga tidak ada lagi pelanggaran hak-hak anak,” paparnya sebelum berpamitan untuk mengikuti acara lain di Kabupaten Malang. (ptt/nd)
GEMA-Seri webinar terbaru yang dihelat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kali ini khusus mengundang para Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di beberapa negara, Rabu (22/7). Menjadi pembuka dari ketiga narasumber, Mokhammad Farid Maruf, Ph.D., Atdikbud KBRI di Kuala Lumpur, Malaysia menyoroti perubahan drastis pembelajaran di masa pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease). Di tengah momen yang sangat bergantung pada teknologi ini, ia menyatakan bahwa perguruan tinggi harus siap. Baik itu dari pihak dosen, mahasiswa, maupun juga sarana dan prasarana yang disiapkan pihak kampus. Pembelajaran yang beralih ke jalur daring ini tentu membutuhkan persiapan yang ekstra dan tidak biasa. “Media belajar bisa menggunakan animasi-animasi yang menarik,” imbuhnya. Untuk mewujudkannya, kata Farid, setiap perguruan tinggi harus menyiapkan tim IT yang kuat dan solid. Tugas tim ini adalah untuk merealisasikan media pembelajaran yang membutuhkan kelihaian orang-orang IT. “Bukan malah kita memaksa dosen untuk harus bisa membuat media animasi pembelajaran. Buang-buang waktu,” tutur pria berkacamata ini. Dengan menyediakan tim sumber daya manusia yang mumpuni, maka perguruan tinggi mempunyai support system yang memadai. “Kreativitas pembelajaran pun terjamin,” jelasnya. Karenanya, harus ada komunikasi antara tim pengajar dan tim IT untuk merealisasikan apa saja yang dibutuhkan selama proses belajar-mengajar. Selain Atdikbud KBRI di Malaysia, ada dua atase lain yang menjadi narasumber di webinar ini. Mereka ialah Usman Syihab, Ph.D. (Atdikbud KBRI Kairo, Mesir) dan Achmad Ubaedillah, MA., Ph.D. (Atdikbud KBRI Riyadh, Arab Saudi). (nd)
GEMA-Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS) Kemenag RI Prof. M. Arskal Salim, GP., MA., Ph.D. memotivasi dan mendukung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), Selasa (21/7). Ia menambahkan, karena adanya konsep Kampus Merdeka, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan relaksasi dalam hal persyaratan transformasi pendidikan tinggi dari status Badan Layanan Umum menuju PTNBH. “Semoga pak rektor (UIN Malang, Red.) dan jajarannya sudah menyiapkan proposal dan rancangan agar UIN Malang menjadi salah satu kampus di bawah Kemenag yang berstatus PTNBH,” tuturnya. (ptt/nd)
GEMA-Menanggapi konsep Merdeka Belajar-Kampus Merdeka yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Nadiem Makarim, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membahasnya dalam episode webinar pendidikan terbaru, Selasa (21/7). Untuk menjelaskan konsep tersebut Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud RI, Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D. pun diutus menjadi pembicara. Sistem pembelajaran di beberapa semester awal, jelas Aris, tidak akan jauh berbeda. Dari semester 1 hingga 5, mahasiswa harus mengikuti mata kuliah sesuai jurusan yang dipilih. “Di lima semester ini, CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan, Red.) mahasiswa di jurusannya harus tercapai,” imbuhnya. Setelah itu, di semester berikutnya, mahasiswa boleh memprogram mata kuliah lintas jurusan. “Mereka bebas menambah pengetahuan lain yang diinginkan di jurusan manapun,” terang Aris. Hal ini dicanangkan agar mahasiswa tak hanya menguasai satu bidang saja, namun multidisiplin. Pasca merampungkan jumlah SKS tertentu, mahasiswa tetap harus memprogram praktik kerja lapangan atau magang. Di sini pun, konsep Kampus Merdeka memiliki gebrakan baru. Mahasiswa tidak harus praktik di perusahaan layaknya karyawan, namun mereka juga bisa merencanakan praktik independen. “Bisa saja dalam bentuk proyek kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggalnya atau proyek kemanusiaan,” jelas Aris. (nd)