GEMA-Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. secara simbolis meresmikan nama-nama gedung di lingkungan Kampus 1. Tercatat ada sembilan nama mantan pimpinan yang diabadikan. Mulai dari pimpinan ketika kampus masih berstatus IAIN hingga beralih menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (17/7). Peresmian dilakukan pasca pelaksanaan acara rutinan Khotmil Quran dan Istighosah di Ruang Kuliah Bersama (RKB Gedung D). Sembilan gedung yang resmi memiliki nama ialah Gedung D diberi nama Prof. Dr. H. Moh. Koesnoe, S.H., Gedung Fakultas Humaniora diberi nama Gedung KH. Oesman Mansoer, Gedung Micro Teaching FITK diberi nama Drs. KH. Maksoem Oemar, Gedung Kuliah A menjadi Gedung Drs. KH. Abd. Mudjib, Gedung Kuliah B menjadi Gedung Drs. H. Moh. Anwar, Sc., Gedung Poliklinik UMMI menjadi Gedung Prof. Dr. Hj. Zuhairini, Gedung Pusat Informasi menjadi gedung Dra. M. Djumransjah Indar, M. Ed. Gedung C Pusat Pengembangan Bahasa menjadi Gedung Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si., dan Bangunan Menara setinggi 60 meter diberi nama Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Prof. Haris mengungkapkan, inisiasi pengabadian nama-nama tersebut ialah sebagai penghormatan tertinggi atas jasa pimpinan terdahulu. Kesembilan nahkoda kampus tersebut telah mengabdikan diri untuk mengembangkan kampus berlogo Ulul Albab ini. "Semoga pemberian nama ini memberi semangat tersendiri bagi sivitas akademik UIN Malang,” harapnya. Nampak hadir Prof. Dr. Imam Suprayogo dan Prof. Dr. Mudjia Rahardjo dalam acara tersebut. Sedangkan perwakilan keluarga almarhum dan almarhumah pimpinan lain juga turut hadir. Peresmian nama gedung ditandai dengan penandatangananan prasasti yang telah disiapkan. (aj/nd)
GEMA-Keseriusan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam melakukan pelatihan audit internal kepada para dekan dan kabag di masing-masing fakultas terus dilakukan. Kali ini mereka kembali mengikuti proses Surveillance Audit ISO 9001:2015 kelima di Ruang LPM, Kamis (16/7). Mengawali kegiatan tersebut Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. membuka langsung acara yang diikuti 35 auditor tersebut. Dalam arahannya, Prof. Haris meminta kepada seluruh pemimpin di unit, lembaga, dan fakultas betul-betul menguasai dan memahami situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan kerjanya. Hal ini untuk mengontrol dan mengendalikan semua yang terjadi. Sehingga, pimpinan bisa sesegera mungkin mengambil keputusan yang tepat sasaran.
Adanya pelatihan audit ini, menunjukkan bahwa wewenang dan tanggung jawab seorang pimpinan betul-betul dipertaruhkan. Baik buruknya pendidikan di perguruan tinggi ini tergantung dari para pimpinannya. Sehingga, seorang pemimpin harus mengetahui apa yang terjadi di lembaganya masing-masing. Melalui audit internal ini diharapkan para auditor bisa menemukan formulasi yang tepat bagaimana proses akademik dilakukan dan mengetahui apa kekurangannya hingga mengetahui apa yang harus diperbaiki dan dilakukan ke depannya. Melalui audit mutu ini, tambah dia, pimpinan perguruan tinggi juga bisa mencermati kesesuaian antara standar pendidikan tinggi yang ditetapkan dengan kenyataannya di lapangan. Untuk itu, audit mutu harus dilakukan secara utuh dan tidak lagi sekadar formalitas saja. (aj/nd)
GEMA-Sebanyak 35 auditor dari berbagai fakultas mengikuti proses pelatihan Surveillance Audit ISO 9001:2015 kelima di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Rektor Bidang AUPK UIN Malang Dr. Ilfi Nurdiana, M.Si. meminta seluruh auditor untuk bekerja secara total dan menyampaikan data seakurat mungkin, Kamis (16/7). Menurutnya, meskipun masyarakat masih berjuang dalam kondisi pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease), tetapi semangat untuk menuntaskan tugas dan amanah tidak boleh kendor. Jangan sampai, situasi pandemi menjadi alasan untuk malas-malasan melaksanakan tugas. "Jadi auditor jangan dijadikan sebagai beban. Ini amanah yang dititipkan ke Bapak Ibu untuk dilaksanakan sebaik mungkin," tuturnya. Ia melanjutkan, dengan menjadi auditor, peserta pelatihan memiliki kesempatan untuk menemukan gap yang harus diperbaiki di lingkungan kerjanya. Setelah menemukannya, maka kita bisa mencari tahu solusi untuk menjadikannya lebih baik. Jika proses audit bisa dilakukan rutin per semester dan ditangani oleh tenaga kompeten, maka akselerasi perbaikan mutu lembaga akan terwujud. Ilfi menegaskan, proses audit mutu yang benar juga akan mewujudkan budaya mutu di perguruan tinggi. Artinya perguruan tinggi tersebut sudah memiliki modal besar untuk bersaing bukan saja pada level lokal, atau bahkan nasional, tetapi juga global. Imbas positifnya, akreditasi unggul juga akan mudah diperoleh, bahkan akreditasi internasional. (aj/nd)
GEMA-Persoalan audit jaminan mutu sebenarnya pembahasan yang saling terkait satu sama lain. Seperti halnya tali atau rantai yang saling terhubung. Satu persoalan saja bisa berpengaruh pada persoalan yang lain. Hal ini disampaikan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Dr. Malik Karim Amrullah dalam sesi kelima Pelatihan Surveillance Audit ISO 9001:2015, Kamis (16/7). Malik dalam arahannya mengajak seluruh peserta agar bekerja sesuai dengan sistem yang ada dan menjalankan segala aturan sesuai dengan standar ISO. Hal ini dilakukan untuk menjaga mutu layanan pendidikan dan kualitas output atau lulusan di kampus berlogo Ulul Albab ini. Seorang auditor internal kampus, lanjutnya, harus bisa menentukan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan, menentukan waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyajikan laporan pemeriksaan. Tidak hanya itu, hasil auditnya pun harus dilakukan dengan transparan dan akuntabel, sehingga proses perbaikan bisa dilakukan secara menyeluruh dan bisa dipahami oleh semua pihak yang berkepentingan. Seorang Auditor juga harus bisa memberikan peringatan bila ditemukan adanya penyelewengan pada lembaga kemahasiswaan yang diauditnya dan melakukan penyelidikan dalam proses audit yang dilakukan. (aj/nd)
GEMA-Melalui webinar yang dihelat Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag. membahas keterlibatan perempuan dalam gerakan radikalisme, Kamis (16/7). Makin banyaknya jumlah perempuan dalam gerakan yang sering dikaitkan dengan kaum laki-laki itu, tentu menjadi PR bagi pemerhati kaum perempuan khususnya di Indonesia. Dalam paparannya, Prof. Umi menyatakan bahwa perempuan bisa menginisiasi diri sebagai agen perdamaian atau Peacemaker. Mengapa harus perempuan? Nalurinya yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kelembutan dan rasa keibuan memungkinkan perempuan untuk menjadi agent of change. Menurut Prof. Umi, gerakan perdamaian dapat dilakukan dengan memperkuat pemahaman anti radikalisme dimulai dari keluarga kecil hingga lingkungan sekitar. Perempuan juga bisa mengkader banyak perempuan lainnya untuk menjadi daiyat yang fokus menyebarkan paham perdamaian. “Dengan begitu, seluruh elemen masyarakat dapat membangun kehidupan yang harmonis,” ujarnya. Ia juga membahas faktor-faktor yang membuat perempuan tertarik masuk ke dalam gerakan radikalisme. Menurutnya, faktor religiusitas menjadi yang utama. Tak dapat dipungkiri jika perbedaan dalam memahami ajaran agama membuat sebagian orang membenarkan perbuatan-perbuatan radikal. “Mereka menganggap perbuatan tersebut merupakan simbol kemurnian agama,” imbuh Guru Besar Studi Islam itu. Webinar bertema “Peta Intelektualisme Islam Pasca Orde Baru – Era Industri 4.0” ini digagas Pusat Studi Islam dan Masyarakat, Prodi Magister Studi Ilmu Agama Islam UIN Malang. Selain Prof. Umi Sumbulah, ada juga beberapa pembicara lain. Mereka ialah Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. (Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Malang), Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. (Rektor UIN Malang), dan Prof. Dr. M. Zainuddin, MA. (Wakil Rektor 1 UIN Malang). Selain dapat disaksikan melalui ruang virtual aplikasi Zoom, webinar ini juga bisa disaksikan melalui siaran langsung di saluran @PASCA UINMLG milik Pascasarjana UIN Malang. (nd)
GEMA-UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ingin segera merealisasikan model Smart Islamic Campus. Hal tersebut dinyatakan langsung oleh Prof. Dr. H. Abdul Haris, M. Ag selaku Rektor UIN Maliki saat menjadi salah satu keynote speakers dalam acara Webinar Internasional dengan tema "Pengembangan dan Implementasi SMART Islamic Campus: Peluang dan Tantangan". Rabu(15/7) Prof. Haris, begitu sapaan akrab Rektor UIN Maliki ini menjelaskan bahwa menjadi smart Islamic Campus bagi UIN Maliki sekarang ini bukan lagi bagian dari pilihan-pilihan namun sudah menjadi keharusan. Jika UIN Maliki memilih dan harus mewujudkannya, maka hal yang pertama yang dilakukan adalah mendesain sedemikian rupa sehingga sumber daya manusia(SDM)nya yang diperlukan untuk menuju smart Islamic campus itu benar-benar siap. Menurutnya, UIN Maliki sudah cukup mumpuni dari segi SDM yang dimiliki karena sekarang di kampus yang berlogo Ulul Albab ini telah mempunyai prodi Teknik Informatika (TI) Strata (S1) dan juga Strata 2 (S2) ditunjang dengan adanya guru besar yang profesional di bidang tersebut. Selain itu, dari informasi yang didapat bahwa ada alumni dari UIN Maliki yang telah direkrut menjadi bagian dari PT. Lintasarta-Indonesia. Oleh karena itu, Prof. Haris menyarankan untuk memanfaatkan seoptimal dan semaksimal mungkin SDM yang dimiliki UIN Maliki untuk nantinya benar-benar terlibat dan berpartisipasi penuh dalam mewujudkan smart Islamic campus. Selanjutnya, hal kedua yang diperlukan adalah membangun jaringan dengan lembaga-lembaga di luar kampus. Ketiga, yakni UIN Maliki harus segera bertindak dan tidak boleh menunda-nunda dalam usaha memenuju era smart Islamic campus. Keempat, UIN Maliki harus memulai dengan apa yang ada dan dimiliki saat ini. "Jangan menunggu hingga semuanya lengkap, kita harus mulai dari apa yang bisa kita lakukan!", tegas Prof. Haris sambil mengakhiri paparan materinya.(ptt)
GEMA-UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan webinar bertema “Pengembangan dan Implementasi SMART Islamic Kampus: Peluang dan Tantangan”, Rabu (15/7). Selain pembicara dari dalam kampus, dua narasumber utama diundang dari luar kampus. Mereka ialah Alfi Asman (Direktur Bisnis, Lintasarta) dan Muhammad Anshari, Ph.D. (Senior Assistant Professor dari School of Business & Economics, Universiti Brunei Darussalam). Saat menjelaskan komponen infrastruktur yang harus diperbaiki agar menjadi Smart Campus, Alfi menekankan pentingnya pusat data (Data Center). Menurutnya, harus ada kesiapan dalam database agar semua sivitas akademik dapat mengakses seluruh data yang diperlukan. “Data harus tersedia selama 24 jam. Non-stop!” tegas pria kelahiran Yogyakarta ini. Untuk merealisasikannya, Alfi menuturkan harus ada personel yang disiapkan untuk mengatur data center. Seluruh individu yang bertanggung jawab harus memiliki bekal yang memadai untuk menangani dan menjaga data. Dengan begitu, data yang tersimpan akan reliable karena jauh dari kesalahan. Selain data center, infrastruktur lain yang harus diperhatikan saat merintis Smart Campus ialah WiFi (Wireless Fidelity). Tentu akses ke dalam data kampus tidak akan bisa tanpa koneksi internet. Karenanya, harus dipastikan jika seluruh individu memiliki sambungan internet yang memadai menggunakan operator seluler. “Bisa juga memanfaatkan sinyal wifi yang tersebar di wilayah kampus,” tuturnya. Terakhir, Intranet Access juga menjadi hal yang harus dipikirkan. Pihak kampus juga harus memastikan bahwa data kampus dapat diakses sivitas akademik dimana pun mereka berada. Karenanya VPN harus disiapkan agar sistem siap diakses kapan saja. (nd)
GEMA-Mengikuti tren zaman, banyak hal yang dipermudah dan bahkan tergantikan oleh penggunaan teknologi. Dalam sesinya, Muhammad Anshari, Ph.D. (Senior Assistant Professor dari School of Business & Economics, Universiti Brunei Darussalam) mengajak peserta webinar untuk mulai mengantisipasi perubahan dengan melek teknologi, Rabu (15/7). Pasalnya, beberapa tahun ke depan akan ada beberapa pekerjaan yang tidak lagi dibutuhkan. Sebut saja kasir, pencuci piring, buruh, dan customer support. Pernyataan ini ia keluarkan mengingat era Revolusi Industri 4.0 yang semakin menggeliat. Hal tersebut ditandai dengan makin familiarnya setiap individu dengan penggunaan gawai dan pemanfaatan aplikasi-aplikasi yang mempermudah aktivitas. “Di siklus ini pekerjaan jenis human-to-machine interaction akan lebih dibutuhkan,” tuturnya. Jenis profesi ini tidak dilakukan dengan manual. Segalanya tergantung kebutuhan yang dipenuhi dengan cara memanfaatkan teknologi. Beberapa pekerjaan yang termasuk dalam tipe ini ialah data scientist, application developer, cyber security, AI specialist, content creator, dan lainnya. Menyikapi hal ini, lanjut Anshari, maka kampus perlu mendesain ulang kurikulum belajarnya. Tujuannya tentu agar lulusan yang dihasilkan nantinya lebih bersaing di era teknologi mutakhir dan modern. Istilah yang dipakai untuk perubahan kurikulum ini ialah Smart Campus. Dalam merubah imej kampus ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan. “Pada dasarnya, smart campus membutuhkan smart people, smart technology, dan smart process,” jelas pria asal Indonesia ini. Untuk merealisasikannya, maka kampus perlu membangun ekosistem digital. Tak hanya sekadar berkutat dan familiar dengan penggunaan teknologi, dalam ekosistem ini, kampus bertugas merubah ilmu yang dipelajari menjadi suatu inovasi. “Karenanya kita butuh smart people dalam perubahan ini. Smart people didefinisikan sebagai mereka yang berpengetahuan dan inovatif,” ujarnya. Namun, karena UIN Malang adalah kampus yang berbasis Islam, maka ada tambahan lagi untuk definisi smart people, yakni wisdom (kebijaksanaan). Walaupun era teknologi mutakhir, kualitas karakter tiap individu tetap diutamakan. Di sinilah peran universitas berbasis Islam untuk menjadi factory of wisdom. Lulusan-lulusan kampus Islam, selain dipersiapkan menjadi individu yang bersaing juga harus memiliki kepribadian yang mulia. (nd)
GEMA-Prof. Dr. H. Abdul Haris, M. Ag, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim mengungkapkan bahwa kita semua harus benar-benar memperhatikan pendidikan anak khususnya saat masih usia dini. Hal ini ia sampaikan saat menjadi keynote speech dalam acara Webinar S2 Psikologi UIN Maliki Malang, dengan tema "Strategi Mengasuh dan Belajar Menyenangkan, Menjaga Mental Anak SEHAT". Selasa (14/7) "Anak-anak di usia yang masih dini itu harus benar-benar kita jaga, rawat dan diperhatikan dengan segala macam cara terutama soal proses pendidikannya," ungkapnya diawal acara webinar. Lanjut, kata rektor asal Lamongan ini bahwa pendidikan anak di usia dini itu menentukan begitu banyak hal penting bagi tumbuh kembangnya sang anak pada saatnya nanti. Apa pun yang saat itu anak-anak alami, lakukan, ia lihat, ia rasakan akan menjadi suatu memori yang menakjubkan. Hingga akhirnya bisa mempengaruhi dan menentukan pola hidup sampai personality dari anak-anak tersebut. Oleh karena itu, masih kata Prof. Haris sapaan akrabnya, ia berpesan agar ketika kita memberikan pendidikan anak di usia dini sebisa mungkin juga bisa menjaganya dengan penuh ekstra hati-hati, terutama soal psikisnya. "Jadi jangan sampai perkembangan psikisnya terganggu," harapnya. Apalagi di saat situasi pandemi covid-19 seperti ini, proses pendidikan bagi anak-anak menjadi sangat terbatas. Ia pun menyarankan dalam mendidik anak agar mentalnya sehat diperlukan strategi agar bagaimana pun caranya kondisi obyektif kejiwaan anak-anak terjaga dengan baik, sehingga mereka tetap bisa bebas berkreasi, berekspresi dengan kebiasaannya bahkan sampai hal keharusannya. Kemudian jika sudah ditemukan strategi yang tepat maka segera dikaji dan dikonsultasikan dengan para psikolog, pakar pendidikan, guru dan siapa pun yang terlibat proses pendidikan untuk diimplementasikan dalam kegiatan mengasuh hingga belajar mengajar anak. (ptt)