GEMA-Dalam perhelatan Wisuda Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab (PKPBA) UIN Malang di Gedung Sport Center, Direktur Pusat Pengembangan Bahasa Dr. Abdul Hamid berbagi motivasi, Sabtu (7/9). Di hadapan 2.968 mahasiswa yang telah lulus menempuh dua semester perkuliahan Bahasa Arab, ia mengungkapkan bahwa tidak ada kesuksesan tanpa hambatan dan kesulitan. Hal ini tentu merujuk pada perkuliahan Bahasa Arab yang menjadi kewajiban bagi seluruh mahasiswa baru di UIN Malang. Pihaknya menyadari bahwa menjalani dua kelas Bahasa Arab dalam sehari tentu tidak mudah. Rasa malas pasti ada. Namun, bagi yang melawan rasa malas lah yang saat itu berhasil dan menerima tanda lulus perkuliahan dari PKPBA. Syahadah (ijazah, Red.) menjadi simbol kelulusan lebih dari 2.000 mahasiswa berjas almamater tersebut. Hamid berpesan agar syahadah disimpan dengan sebaik mungkin. “Syahadah akan sangat bermanfaat nantinya sebagai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI),” jelasnya. (*/nd)
GEMA-Di hari ulang tahunnya yang ke-58, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mendapat ‘kado’ dikukuhkannya dua guru besar Fakultas Syariah. Itu artinya, jumlah guru besar UIN Malang bertambah lagi. Pengukuhan yang dijadwalkan besok (10/9) mengundang sejumlah pejabat pemerintah tingkat kota, provinsi dan pusat. Salah satunya adalah Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi. Ada dua guru besar yang akan dikukuhkan, yakni Prof. M. Nur Yasin, M.Ag sebagai guru besar di bidang Ilmu Hukum Ekonomi Syariah dan Prof. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag sebagai guru besar bidang Ilmu Studi Islam atau Dirasah Islamiyah. Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag menyampaikan selamat kepada kedua profesor. Beliau berharap keduanya bisa mengabdikan diri sepenuhnya kepada nusa dan bangsa ini, sehingga ilmunya bisa bermanfaat bagi masyarakat secara luas. “Saya amat senang sekali profesor di UIN Malang terus bertambah dan semoga calon profesor yang lain segera menyusul,” harapnya.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengundang 22 guru PAUD di Kelurahan Karangbesuki Kecamatan Sukun Kota Malang, Sabtu (7/9). Kegiatan 'UIN Mengabdi 2019' yang dilakukan Dr. M. In'am Esha, M.Ag, Kusumadyahdewi, M.AB dan Ahmad Abtokhi, M.Pd itu berlangsung di hotel pelangi jl. Merdeka Selatan, mengawali materinya, peserta diberi motivasi dan wawasan bagaimana memanfaatkan golden age pada anak usia dini mulai dari usia 0-7 tahun hingga memasuki 8-14 tahun dan usia 15-21 tahun. Menurut In'am, yang menjadi tantangan guru PAUD saat ini bagaimana menyikapi perubahan lingkungan yang serba digital ini dan bagaimana memanfaatkan teknologi yang berkembang agar bisa memberikan kontribusi yang positif terhadap tumbuh kembangnya anak. "Untuk itu, melalui kegiatan penguatan keterampilan kepengasuhan guru PAUD harus diupgrade," tegasnya.
Para guru dilatih bagaimana mengelola pendidikan non formal ini bisa memaksimalkan masa keemasan tumbuh kembangnya anak secara maksimal yang sesuai dengan perkembangan era digital atau native digital. In'am menyampaikan bahwa berdasarkan hasil survei yang dilakukan kementerian pemberdayaan perempuan dan anak menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan saat ini dalam kependidikan hampir seimbang. "Hal ini menunjukkan bahwa tren tingkat partisipasi pendidikan laki dan perempuan hampir seimbang," jelasnya.
Sementara itu, kata dia, orang tua pun jangan hanya mengukur kecerdasan anak itu hanya dari nilai raport saja, guru pun juga harus memiliki kemampuan beradaptasi yang bagus baik dengan anak didiknya dan lingkungan untuk mendukung terhadap perkembangan anak. "Ini hal sederhana tapi sangat penting untuk dilakukan," terangnya.
Selain itu, turut hadir narasumber dari Lembaga Penjaminan Mutu UIN Maliki Malang Dr. Abdul Malik Karim Amrullah, M.Pd, ia memberikan materi dengan judul Optimalisasi Bakat dan Minat Anak Sejak Dini dengan Pendekatan Cybernetik.
GEMA-Setahun sudah mahasiswa angkatan 2018 menempuh Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab (PKPBA). Sebagai selebrasi sekaligus apresiasi, Unit Pusat Pengembangan Bahasa mengadakan Haflah Takharruj. Tercatat ada 2968 mahasiswa-mahasiswi yang dinyatakan lulus perkuliahan PKPBA selama dua semester. Kegiatan ini, merupakan kegiatan gelaran wisuda PKPBA perdana. Beberapa tahun sebelumnya, pihak PKPBA hanya mengadakan Haflah Ikhtitam tanpa seremonial wisuda. Dalam acara tersebut, peserta mendapat Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) sebagai bukti lulus perkuliahan wajib Bahasa Arab. Surat ini akan menjadi nilai plus bagi lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang saat berkompetisi di dunia kerja. Pada puncak acara, pihak PKPBA juga memberikan penghargaan kepada beberapa mahasiswa yang dinyatakan sebagai lulusan terbaik di tiap fakultas. Para dosen PKPBA berharap agar para mahasiswa tidak berhenti belajar Bahasa Arab selepas PKPBA. Karena dalam pembelajaran bahasa asing, yang paling penting adalah kontinuitas dan komitmen dalam mengembangkan kemampuan komunikasi. (nd)
GEMA-International Conference of Islamic Economics and Business (ICONIES) milik Fakultas Ekonomi tahun ini menginjak usia ketujuh. Acara yang dihelat di Aula Rektorat lt. 5 UIN Malang ini mengundang beberapa ahli, Selasa (3/9). Salah satunya Muhammad Mahbubi Ali, Ph.D dari International Institute of Advanced Islamic Studies, Malaysia. Melalui presentasinya, Muhammad menekankan peran universitas dalam pembelajaran Ekonomi Islam. Menurutnya, universitas harus mewadahi mahasiswa dengan berbagai penunjang. Seperti, Human Development and Capacity Building, Research and Advocacy, Link and Match, Technology-based dan Soft-skill Oriented. Ia juga memuji upaya UIN Malang dalam menyediakan fasilitas berupa pusat-pusat pembelajaran dan laboratorium untuk menunjang keterampilan mahasiswa dalam ranah Ekonomi Islam, baik secara teori maupun praktik. Di samping itu, Muhammad memaparkan tentang urgensi perkembangan teknologi dalam Ekonomi Islam. “Sepuluh tahun lagi, bank akan tetap ada, tetapi bankir sudah tidak ada lagi. Semuanya digantikan dengan mesin. Tapi, hal-hal seperti kreativitas dan moral tetap tidak akan tergantikan,” tutupnya.
ICONIES diikuti oleh ratusan mahasiswa dan dosen bidang Ekonomi Islam. Acara ini turut diisi oleh akademisi dan praktisi ternama seperti Dr. Suliman Hasan Suliman dari Arefak University Libya dan Prof. Dr. M. Djakfar, M.Ag dari UIN Malang. (*/nd)
GEMA-Salah satu Pustakawan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ari Zuntriana, terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa di California, Amerika Serikat. Beasiswa kursus singkat selama lima hari (5-9/8) tersebut merupakan Summer Course di University of California Los Angeles (UCLA). Kursus bertajuk FSCI (FORCE11 Scholarly Communication Institute) 2019 tersebut merupakan kerjasama lembaga non profit FORCE11 dan kampus UCLA. Puluhan delegasi dari 13 negara terpilih belajar bersama. Mereka berasal dari berbagai latar belakang keilmuan dan pekerjaan. Di antaranya akademisi, peneliti, pustakawan, mahasiswa pascasarjana, pengembang program (developer), serta profesional yang bekerja di bidang penerbitan ilmiah. Selama lima hari, Ari mengikuti tiga kelas, yaitu FAIR data, penggunaan Dataverse sebagai platform untuk manajemen data penelitian (research data management), dan open publishing tools sebagai alat bantu ajar di perpustakaan. “Ada banyak pilihan kelas yang ditawarkan. Semua topiknya menarik dan benar-benar mengangkat isu terkini bidang komunikasi ilmiah,” tuturnya. Karena hanya bisa mengambil tiga kelas, maka ia memilih yang sekiranya bisa diaplikasikan untuk diadopsi UIN Malang. Para pemateri merupakan pakar kenamaan. Seperti Tom Olijhoek, Editor-in-Chief DOAJ yang menjadi narasumber implikasi penerapan Plan S di Eropa terhadap penerbitan ilmiah. Selain mengikuti kelas, Ari juga mempresentasikan materi lightning talk. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat upaya advokasi sains terbuka di Indonesia. “Kebetulan saya merupakan anggota Tim Sains Terbuka Indonesia. Saya presentasi tentang perkembangan pre-print di Indonesia dengan menggunakan INA-Rxiv sebagai model. Saya juga berbicara tentang MOOC yang tengah dikembangkan oleh teman-teman Tim Sains Terbuka,” lanjut alumni pascasarjana Information School The University of Sheffield, Inggris ini. Menurut Ari, ada banyak sekali yang harus dipersiapkan jika ingin menerapkan apa yang diajarkan selama short course. Sebagai contoh, negara-negara Global North atau negara maju, sudah menerapkan pengelolaan data riset sejak beberapa tahun lalu. Sementara di Indonesia, masih sangat sedikit lembaga riset maupun universitas yang sudah mengimplementasikannya. Kursus ini, akunya, sangat membantu memahami perkembangan komunikasi ilmiah terkini. Yang jelas, sembari mengadopsi RDM dengan FAIR principles, misalnya, upaya advokasi sains terbuka (open science) dan akses terbuka (open access) harus lebih digiatkan dan harus melibatkan lebih banyak pihak. “Tidak cukup jika hanya pustakawan,” pungkasnya.
GEMA-Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. menghadiri sekaligus membuka Orientasi Program Studi Mahasiswa Baru Program Magister dan Doktor Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam acara di Rumah Singgah lt.4 Kampus 2 tersebut, rektor menekankan pentingnya membiasakan riset bagi mahasiswa Pascasarjana, Kamis(29/8). Sejak awal perkuliahan, kata rektor, 400 lebih mahasiswa baru Pascasarjana UIN Malang harus sudah memikirkan riset di bidang yang diminati. Untuk itu, bagi yang belum terbiasa menulis dan riset, ia ingin agar mahasiswa tersebut segera beradaptasi. “Salah satunya dengan cara belajar kemampuan riset,” jelasnya. Hal ini ditekankan karena menurut Prof. Haris, hasil akhir bagi mahasiswa S2 dan S3 adalah hasil risetnya. Hasil riset diutamakan yang memiliki proses analisis data yang tepat sesuai dengan metode penelitiannya. Dengan begitu, dalam pembahasan serta simpulannya akan diperoleh teori-teori mutakhir. “Tidak harus membuktikan teori yang sudah ada. Kalian bisa menolak teori atau membuat yang baru,” papar rektor kelahiran Lamongan tersebut. Oleh karena itu, rektor berkacamata ini berharap hasil riset dari studi S2 dan S3 mampu menghasilkan karya berbobot. Bukan dilihat dari segi ketebalan hasil cetakan risetnya tetapi lebih pada kualitas isinya. Orientasi tersebut juga dihadiri Wakil Rektor Bagian Akademik, Dr. M. Zainuddin, MA., Wakil Rektor Bagian AUPK, Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si. dan Kabiro AAK, Drs. A. Heru Achadi Hari, M.Si. (ptt/nd)
GEMA-Sekolah Tinggi Agama Budha Negeri (STABN) Sriwijaya Tangerang dan STABN Raden Wijaya Wonogiri Jawa Tengah mengajak UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk bekerja sama, Rabu (29/8). Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dilangsungkan di Ruang Rektor lt. 1. Bentuk kerjasama ini agar UIN Malang memberi arahan-arahan terkait perubahan sekolah tinggi. Mereka masih memerlukan beberapa tahap untuk menuju status universitas. Dalam obrolan santai sebelum tanda tangan MoU, Rektor UIN Malang Prof. Haris menyampaikan, walau tahap sangat panjang, segala sesuatunya tetap harus ditempuh. “Jika tidak dicoba, tidak akan punya kesempatan untuk berhasil,” tambahnya. Rektor STABN Sriwijaya Tangerang Dr. Sapardi, M.Hum. mengungkapkan ada beberapa fokus yang ingin dipelajari dari UIN Malang. Di antaranya mengenai pengembangan program kampus, sertifikasi dosen, dan penilaian beban kerja dosen. “Dan kami merasa UIN Malang adalah tempat yang cocok untuk mempelajari hal-hal tersebut,” imbuhnya. Dengan mempelajari hal-hal krusial bagi sebuah institusi pendidikan, kedua sekolah tinggi Agama Budha tersebut berharap agar Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampusnya terimplementasi dengan baik. “Sehingga nantinya kami bisa meningkatkan kualitas lulusan kami lebih baik lagi,” tutur Dr. Hesti Sadtyade, M.Si. Rektor STABN Raden Wijaya. (ofi/nd)
GEMA-Muhammad Nasrullah menjadi lulusan terbaik pada wisuda periode dua tahun 2019 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu (24/8). Mahasiswa yang kerap disapa Anas ini mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.93. Dalam acara di Gedung Sport Center tersebut, lulusan Fakultas Syariah tersebut mewakili wisudawan memberikan sambutan di hadapan para hadirin. Ia menuturkan, menjadi lulusan perguruan tinggi itu mudah. Namun, menerapkan ilmu dalam kehidupan justru sulit. Ia mencontohkan Ali bin Abi Thalib dan Muadz bin Jabal. Dari segi kepandaian, Muadz lebih unggul. Ia dikenal sebagai sahabat nabi yang alim dan pandai. Namun, Ali lebih populer. “Karena ia memiliki peran besar dalam implementasi ilmu,” ujar alumni Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Lirboyo ini. Belajar dari hal tersebut, Anas melanjutkan, mendapatkan ilmu bukanlah sebuah tantangan. Menerapkan dan membagi ilmu hingga memiliki asas kebermanfaatan bagi lingkungan, agama, dan negara menjadi tantangan dan tanggung jawab terbesar bagi pencari ilmu. Sebelum menutup sambutannya, ia mengajak para wisudawan untuk meminta maaf kepada orang tua dan guru atau dosen. Meminta maaf tak hanya sekedar diucapkan saat bersalaman. “Kami akan selalu selipkan nama guru-guru kami dalam setiap doa yang kami panjatkan,” tutupnya. (ofi/nd)