Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan ujian mandiri tulis, Selasa (23/7). Ujian tulis dilaksanakan mulai pukul 07.30 dan berakhir pukul 15.00 WIB. Khusus jalur prestasi menyesuaikan uji kompetensinya masing-masing. Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. M. Zainuddin, MA. menjelaskan bahwa seleksi mandiri tulis dan prestasi ini merupakan jalur terakhir dari lima seleksi yang diadakan di UIN Malang. Dia juga menegaskan bahwa di UIN Malang ada lima jalur seleksi masuk perguruan tinggi yaitu SNMPTN, SBMPTN, SPAN-PTKIN, UMPTKIN dan Jalur Mandiri Tulis serta Prestasi. “Semoga seleksi mandiri tulis dan prestasi ini bisa memenuhi kuota nasional yaitu 20% dari seluruh seleksi masuk perguruan tinggi yang sudah dilaksanakan,” harapnya saat ditemui di lokasi ujian.
Masih kata Zainuddin, sapaan akrab M. Zainuddin selaku Ketua Panitia Seleksi Mandiri ini menilai ujian mandiri kali ini berlangsung tertib, aman, dan terkendali. “Kuncinya semua panitia dan peserta harus memenuhi tata tertib seleksi mandiri yang sudah ditetapkan,” terangnya. Sementara itu, proses seleksi mandiri jalur prestasi bidang olahraga yang berlangsung di Gedung Sport Center Lt.2 juga berjalan dengan tertib. Sebagian calon mahasiswa baru terlihat tampak melakukan latihan untuk persiapan test kompetensi sesuai dengan prestasinya masing-masing.
Maklum saja, pasalnya test jalur prestasi ini tidak melalui test tulis. Akan tetapi, peserta langsung dites sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Test bidang olahraga mencakup Bola Basket, Bola Voli, Bulu Tangkis, Pencak Silat, Sepak Takraw, dan Tae Kwon Do. Proses seleksi ini dibantu juga oleh mahasiswa yang mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Unior, Tae Kwon Do dan UKM Pencak Silat Pagar Nusa. “Para mahasiswa tersebut membantu tim seleksi untuk memberikan intruksi kepada peserta tes,” paparnya. M. Anwar Firdausy selaku penanggung jawab seleksi mandiri prestasi menjelaskan bahwa, seleksi prestasi ini terdiri dari tiga tahap yaitu memberikan sertifikat, validasi sertifikat dan test kemampuan. “Seleksinya melalui tiga tahap dan diutamakan memiliki sertifikat tingkat nasional,” jelasnya. Penilaiannya, lanjut Bapak berbadan kekar tersebut, berdasarkan teknik apakah itu sesuai atau tidak dan sesuai dengan cabang olahraga yang diberikan pada sertifikat itu. “Tes ini untuk memastikan apakah sertifikat yang dimikinya sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya,” terangnya. Salah satu peserta seleksi mandiri prestasi, Nadia dari Trenggalek menjelaskan bahwa dirinya termotivasi masuk UIN Malang ingin menambah wawasan dan pengetahuan ilmu Agama. Ia mengikuti seleksi mandiri prestasi bidang olahraga bulutangkis. “Saya mengambil Prodi Perbankan Syariah dan Akuntansi,” jelasnya.
Reporter: Asrita Hana S. Fotografer: Ajay dan Putut
LIHAT LOKASI UJIAN: Dua calon mahasiswi baru jalur mandiri tulis melihat denah lokasi yang ada di baliho. Senin (22/7)
GEMA-Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kembali melakukan seleksi ujian mandiri tulis. Ujian kali ini diikuti sebanyak 5.558 peserta. Calon mahasiswa baru (Camaba) tersebut dijadwalkan mengikuti seleksi mandiri pada Selasa besok (23 Juli 2019 Red.), Senin (22/7). Menurut Kabag Bagian Akademik dan Administrasi Kemahasiswaan (BAAK) Hilmy menjelaskan bahwa seleksi mandiri ini dibagi menjadi tiga kategori, yaitu seleksi mandiri tulis, mandiri prestasi, dan mandiri khusus mahasiswa asing. “Pelaksanaan ujian mandiri ini berlokasi di UIN Malang yang tersebar di semua gedung perkuliahan serta beberapa gedung fakultas yang ada di UIN Malang.” terangnya. Hilmy menjelaskan dari proses seleksi mandiri ini rencananya akan diambil sebanyak dua puluh persen saja. Itu artinya 1 kursi diperebutkan lima calon mahasiswa baru. “Dari total 5.558 peserta ujian mandiri ini satu siswa akan bersaing dengan lima siswa untuk merebut satu kursi,” jelasnya. Sementara untuk ujian mandiri prestasi diikuti sebanyak 235 peserta, materi yang diiujikan menyangkut bidang hafalan tahfidz, bidang kesenian, bidang olahraga dan bidang akademik yang juga memperebutkan kursi mandiri dengan peserta jalur seleksi mandiri tulis. “rencananya hasil seleksi mandiri ini akan diumumkan 26 Juli 2019 mendatang,” terangnya. Reporter: Asrita Hana S. Fotografer: Asrita Hana S
GEMA-Penutupan event akbar Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 berlangsung meriah. Pada acara di Lapangan Utama UIN Malang tersebut, kontingen tuan rumah dinyatakan sebagai peraih Juara Umum, Sabtu (20/7). Tim kampus logo Ulul Albab berhasil mengumpulkan 22 medali dengan rincian 10 emas, 5 perak, dan 7 perunggu. Dalam sambutannya, Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. memberikan apresiasi tertinggi bagi seluruh peserta PIONIR 2019. Apresiasi ini diberikan karena ia menilai peserta PIONIR sangat sportif dan komitmen. Komitmen juga ditunjukkan dengan tidak berkurangnya peserta dari pembukaan hingga penutupan malam itu. Tercatat 3292 atlet dan 704 official pendamping tetap ada di UIN Malang. “Ini tanda kita komitmen dan serius dalam menyukseskan PIONIR,” imbuhnya.
Ia juga menyampaikan laporannya bahwa event bergengsi milik Kementerian Agama Republik Indonesia ini merebutkan 201 medali. Medali tersebut dibagi ke dalam beberapa cabang lomba. Yakni 12 kategori olahraga, 13 kategori seni, 7 kategori ilmiah, dan 4 kategori riset. Pada event itu, UIN Sunan Ampel Surabaya menempati posisi kedua dengan perolehan 7 medali emas. Sementara itu di posisi ketiga ditempati UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan 5 medali emas. (ptt/nd)
GEMA-Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Dr. Imam Syafi’i, M.Pd. secara resmi menutup Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni, dan Riset (PIONIR) ke-9 di Lapangan Utama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu malam (20/7). Acara berlangsung meriah dengan pemukulan gong dan pesta kembang api. Kemeriahan juga dirasakan oleh 3.292 atlet dan 704 official yang hadir saat itu. Menurut Dr. Imam, penutupan PIONIR 2019 tak hanya milik mereka yang dinobatkan sebagai pemenang atau peraih medali. Namun juga milik seluruh atlet yang telah mendaftarkan diri di ajang akbar milik Kementerian Agama tersebut. “Keringat yang mereka cucurkan saat mempersiapkan lomba dan bertanding juga harus diapresiasi,” ujarnya. Setiap kampus, lanjutnya, mengirimkan para atlet di ajang ini bukan semata untuk menjadi pemenang. Atlet didatangkan untuk menyelesaikan perlombaan. Karenanya, tidak boleh ada cemoohan bagi mereka yang belum beruntung dalam PIONIR 2019. Selanjutnya, Imam berharap agar kampus tetap mendukung penuh para atlet yang sudah mengerahkan tenaga untuk nama kampusnya. Sehingga nantinya, para atlet tak hanya bisa berlaga di event antar PTKIN namun di event nasional dan juga internasional. “Yang pasti, jangan cuma jago kandang,” tegas pria asal Jember ini. Pemilihan ‘Spirit of Unity’ sebagai tema PIONIR 2019, menurut Imam, sungguh filosofis. Dengan tema itu, ia ingin para atlet PTKIN bisa menjadi pemenang tanpa merasa mengalahkan, maju tanpa meninggalkan, dan juga merasa di atas tanpa menindas. “Yang menang jangan terlalu bangga. Yang kalah jangan mengeluh,” paparnya. Mengakhiri sambutan, Imam mengutip puisi KH. Arman Ar Roisi. “Kalau boleh aku memilih, biarlah aku menjadi bintang atau rembulan yang tidak angkuh ketika bertahta dan tidak mengeluh ketika terbenam. Atau biarlah aku menjadi sang fajar yang gigih mengusir kelam, namun rela menyingkir demi matahari yang lebih terang,” deklamasinya diiringi tepukan meriah para hadirin. (ptt/nd)
GEMA-Perwakilan desainer UIN Sunan Ampel Surabaya berhasil menjuarai Lomba Desain dan Peragaan Busana Muslimah pada Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, Jumat (19/7). Final lomba ini dihelat di Lippo Plaza Kota Batu. Desain busana muslimah yang menggunakan kain batik khas Madura ini berhasil mencuri perhatian juri ditambah dengan kecantikan model yang membawakan karya hasil busana kontingen asal UIN Surabaya tersebut. Perpaduan warna merah dan hitam dengan model trendi membuat batik yang dianggap kuno menjadi luar biasa. Wajar jika dewan juri terpikat akan desain perwakilan Kota Pahlawan tersebut. “Hasil karya desainer terlihat lebih menarik ketika diperagakan daripada yang terlihat di gambar,” kata Nanang Inoransyah, salah satu juri. (*/nd)
GEMA-Perhelatan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) 2019 mungkin tidak akan dilupakan oleh kontingen Debat Konstitusi IAIN Pare-Pare. Tim beranggotakan Wiwin, Riska Angriani, dan Nurul Annisa itu dinyatakan sebagai peraih medali emas dalam cabang lomba tersebut. Pengumuman tersebut mengejutkan bagi pihak kampus tersebut. Pasalnya, mereka masuk dalam tim non unggulan untuk menjadi juara lomba debat konstitusi di PIONIR ke-9 ini. Riska Anggriani mengungkapkan bahwa mereka tidak menyangka dapat menyabet medali emas. “Tapi kami sangat bersyukur karena kami berasal dari kampus yang jauh dan tidak difavoritkan jadi juara,” tuturnya. Ia juga menjelaskan bahwa dukungan teman-teman dan doa orang tua yang membuat mereka dapat terus konsisten dalam perlombaan itu. Sebelum perebutan juara satu dilakukan, terlebih dahulu dilaksanakan perebutan juara tiga. Pada babak ini, UIN Walisongo yang beranggotakan Candra Vira Faradillah, Akhmad Arif Khoirudin, dan Annisa Nindia Hayati berhasil keluar sebagai juara tiga setelah melawan IAIN Ambon. Sehingga IAIN Ambon yang beranggotakan Randi Latuconsina, Laode Nofal, dan Rafli Bufakar harus puas memperoleh juara harapan 1.
UIN Sunan Ampel Surabaya yang beranggotakan Yuliana Anggun Pertiwi, Yogo Risnandri, dan Helga Nurmila Sari harus puas duduk di posisi kedua setelah dikalahkan IAIN Pare-Pare. Meskipun didukung penuh oleh penonton yang datang jauh-jauh dari Surabaya, nampaknya Dewi Fortuna belum berpihak pada mereka. Namun, luka UIN Surabaya sedikit terobati setelah Helga Nurmila Sari memperoleh predikat Best Speaker menurut penilaian dewan juri. (*/nd)
GEMA-Dalam grand final Duta PTKIN 2019 pada Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, perwakilan tuan rumah berhasil menyandang gelar juara baik putra maupun putri. Cabang perlombaan Duta PTKIN ini pertama kali digelar dalam PIONIR tahun ini. Lomba ini digelar di Lippo Plaza Batu, Jumat malam (19/7). Perwakilan UIN Malang yang keluar sebagai pemenang ialah Yolanda Oktaviani dan Donny Candra. Peserta mengikuti beberapa seleksi seperti tes wawancara dan presentasi visi-misi maupun program kerja jika terpilih sebagai duta PTKIN 2019. Bukan hanya itu saja, peserta saling adu talenta dan bakat juga menjawab pertanyaan dari dewan juri. Kontingen UIN Malang berhasil mencuri perhatian para juri dengan talenta dan bakatnya. Sehingga, dewan juri tak ragu menetapkan mahkota juara pada perwakilan kampus berlogo ulul albab ini. Duta PTKIN juara dua diraih oleh UIN Surabaya Amanda Putri dan juara ketiga oleh UIN Jogjakarta Adelia Abidin. (*/nd)
GEMA-Kontingen IAIN Metro Lampung berhasil menjuarai cabang olahraga lempar pisau putra Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, Sabtu (20/7). Disusul UIN Sultan Syarif Kasim dan UIN Sumatera Utara. Sementera itu STAIN Bengkalis meraih emas untuk cabang putri, IAIN Metro Lampung di posisi kedua dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juara ketiga. Pengalungan medali dilaksanakan di kampus 2 UIN Malang oleh dewan juri yang berasal dari anggota TNI AD. Rian Hidayat perwakilan IAIN Metro Lampung mengaku sudah mendalami lempar pisau sejak 2015. Ia juga sempat menjuarai cabang lomba ini untuk pertandingan tingkat region Sumatera. Ia mengaku tidak ada kendala yang berarti. “Hanya saja pisau yang digunakan berbeda dari biasanya,” ujar mahasiswa yang aktif di komunitas lempar pisau Impeesa Metro Lampung tersebut. Hal senada disampaikan perwakilan STAIN Bengkalis Anggi Taqyyah. “Persiapan hanya satu bulan, karena sudah pernah mengikuti pelatihan,” terang anggota Resimen Mahasiswa itu.
Sertu Riski Septian selaku juri mengatakan pisau yang digunakan peserta adalah jenis Jasat. “Pisau ini paling aman tapi juga paling sulit digunakan karena ujung saja yang menancap,” terangnya. Ada tiga jenis pisau yang dikenal di TNI AD, Pisau Jasat, Pipih, dan Kapak. “Kalau kapak semua bisa melempar, kalau pipih semua sisi bisa menancap,” terang Riski. Ia menambahkan jarak antara peserta dengan sasaran sejauh 3 meter. “Untuk jenis pisau ini paling jauh sekitar 9 meter,” tambah Riski. Tingkat akurasi, lanjutnya lebih tinggi jika peserta memegang pisau bukan pada pegangan melainkan ujung pisau. “Kalau dilempar dari ujungnya akan menjadi dua setengah putaran dengan jarak 3 meter pasti menancap,” tambahnya. Teknik melempar juga perlu diperhatikan, pisau tidak boleh dihentakkan tapi dihantarkan. (ir/nd)
GEMA-Bravo IAIN Tulungagung. Di ajang Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, IAIN Tulungagung berhasil mengawinkan Medali Emas di Cabang Olahraga Bola Voli Putra dan Putri. Hebatnya tim putra kampus yang baru berubah menjadi IAIN enam tahun lalu ini melakukan hatrik (3 kali juara 1). Dalam final Jumat pagi (20/7), IAIN tulungagung berhasil menghempaskan perlawanan UIN Bandung dengan empat set ( 3-1) di Lapangan Utama UIN Malang. Bukan perkara mudah bagi IAIN Tulungagung mengalahkan UIN Bandung yang didukung banyak suporternya. Pada set pertama terjadi saling kejar poin. Wal hasil set pertama menjadi milik UIN bandung dengan skor 25 -19. Pada set kedua, perlahan tapi pasti, spike Aditya, pemain bernomor punggung 11 ini tidak mampu diblok para Bobotoh (UIN Bandung). Set kedua pun menjadi berimbang (1-1) untuk kemenangan IAIN Tulungagung dengan skor 25 -17. Selanjutnya pada set ketiga dan keempat terjadi perubahan strategi yang dilakukan UIN Bandung dengan selalu menekan lewat spike dan reli panjang. Namun pengalaman dan kematangan IAIN Tulungagung tak bisa dibohongi berhasil menghabisi secara telak dengan sisa dua set. Akhirnya IAIN Tulungagung mengukir sejarah hatrik dalam perhelatan PIONIR. (*/nd)