GEMA-Bersamaan dengan hari pembukaan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, seluruh pimpinan PTKIN se-Indonesia berkumpul. Forum Pimpinan PTKIN tersebut diadakan di Aula Lt. 5 Gedung Rektorat UIN Malang. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendis Kementerian Agama menjelaskan beberapa hal. Di antaranya persoalan penjaringan ketua program studi (Kaprodi) dan percepatan guru besar, Senin (15/7). Prof. Kamaruddin menjelaskan pihaknya mengkaji ulang beberapa hal terkait persyaratan dalam penjaring Kaprodi. Hingga sekarang, persyaratan masih berpedoman pada peraturan lama sehingga banyak hal menjadi kendala. “Sedangkan kadang kita ada di saat yang urgen dan butuh pengganti Kaprodi secepatnya,” imbuhnya. Untuk itu, lanjut pria kelahiran 1969 ini, persoalan kepangkatan sempat disinggung. Menurutnya, seseorang tidak perlu pangkat untuk dinyatakan layak sebagai Kaprodi. Pihak Pendis Kemenag akan menitikberatkan pada karya. Jika orang tersebut aktif menghasilkan karya dan memiliki visi-misi yang sejalan dengan program studi dan kampus, “Maka ia bisa diangkat jadi Kaprodi,” lugasnya. Setelah pemaparannya, Prof. Kamaruddin mendengarkan masukan dari beberapa pimpinan PTKIN yang hadir. Beberapa di antaranya menyinggung persyaratan untuk pengajuan guru besar. Menurut mereka, banyak hal yang dirasa berat. Terutama pada karya tulis yang harus termuat di jurnal dengan indeks Scopus. Mereka pun menyarankan, agar pengabdian calon guru besar juga memiliki bobot yang sama besar dengan karya tulis ilmiah. Menanggapi hal tersebut, Prof. Kamaruddin menyatakan bahwa pihaknya juga mengkaji hal tersebut. Ia sangat menyadari urgensi kebutuhan guru besar di institusi di bawah Kementerian Agama. Sehingga, ke depan, ia ingin agar tidak banyak dosen yang tertunda hanya karena persyaratan yang ruwet. (nd)
GEMA-Seluruh ibu rektor yang tergabung dalam perkumpulan darma wanita seluruh PTKIN se Indonesia menggelar Focus Group Discussion di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Senin (15/7). Hadir membuka sekaligus memberikan sambutan Ketua DWP UIN Malang Hj. Rif’ah Khoriyah Harits, dia menyampaikan terimaksih atas kehadiran para ketua DWP seluruh PTKIN di kampus ulul albab. Semoga kegiatan ini bisa memberikan pencerahan khususnya dalam persoalan pengembangan PTKIN. "Selamat datang dan semoga ibu-ibu bisa menikmati selama ada di Malang," paparnya.
Ketua FGD Darma Wanita PTKIN Ibu Titi KDI dalam sambutannya mengajak sharing pengelolaan PAUD yang dikelola langsung oleh ibu-ibu darma wanita persatuan DWP di lingkungan PTKIN. "Dengan adanya program PAUD yang dikelola DWP sama halnya meninggalkan sesuatu yang baik, sehingga bisa memberikan semangat bagi penerusnya," katanya. Jangan sampai, kata dia, DWP meninggalkan sesuatu yang tidak baik. Ciptakan sesuatu yang baik menjadi lebih baik melalui kerja keras ibu-ibu semua. "Kerahkan semua potensi yang dimiliki demi berkembangnya PTKIN kita ini," ajaknya serius.
GEMA-Sebanyak 58 Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se Indonesia siang ini menggelar rapat bersama membahas penyelenggaraan PIONIR yang ke-10 kalinya, Senin (15/7). Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abd. Harus, M.Ag dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas kehadiran seluruh pimpinan PTKIN di UIN Maliki Malang, dia mengajak melalui forum pimpinan ini bisa terus menjalin silaturahim menambah erat dan kebersamaan antara PTKIN di seluruh Indonesia. "Saya berharap kegiatan seperti ini bisa memajukan PTKIN di seluruh Indonesia," harapnya.
Prof. Haris, kegiatan ini bisa memberikan manfaat seluas-luasnya kepada seluruh PTKIN untuk bisa maju bersama-sama meningkatkan kualitas dan mengembangkan perguruan tinggi Islam di Nusantara ini. "Semoga pertemuan ini bisa memberikan manfaat bagi kemajuan PTKIN," harapnya. Sementara itu, Ketua Forum Pimpinan PTKIN. Prof. Dr. Babun Suharto dalam arahannya menegaskan bahwa kegiatan pertemuan rutinitas seperti ini untuk memper erat hubungan antara STAIN, IAIN, dan UIN seluruh Indonesia. "Forum ini milik kita bersama sehingga semua rektor memilki tanggung jawab yang sama," paparnya.
Pembahasan pelaksanaan PIONIR X yang rencananya akan di selenggarakan tahun 2021 sudah ada beberapa perguruan tinggi yang siap menjadi tuan rumah, salah satunya UIN Riau dan Papua. "Mereka yang siap akan kami koordinasikan dengan pihak kementerian dan keputusannya tetap ada di pak Menteri," jelasnya. Sebelum rapat dilanjutkan, seluruh pimpinan yang hadir sejenak disuguhi hiburan tari Nusantara dan tari Malang sebagai bentuk ucapan selamat datang dari mahasiswai Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang.
GEMA-Identitas seseorang bisa terlihat jelas, salah satunya, dengan memperhatikan cara berbicaranya. Pasalnya, setiap daerah pasti memiliki keunikan dalam bertutur kata. Hal ini dipaparkan oleh Dr. Suhandano, MA. pakar Linguistik Antropologis dalam Workshop Penelitian Linguistik Antropologi. Acara digagas oleh Lembaga Kajian Bahasa dan Budaya, yang bernaung di Fakultas Humaniora, Senin (15/7). Dihadiri para dosen pengampu mata kuliah bahasa di UIN Malang, workshop tersebut bertempat di Aula fakultas Lt. 3. Pada dasarnya, menurut Suhandano, Linguistik Antropologis mempelajari bahasa yang dikaitkan dengan budaya penuturnya. Tak hanya sekedar mengidentifikasi identitas penutur, namun cabang keilmuan tersebut juga mengupas tuntas kultur yang dianut si pembicara. “Seperti perbedaan ketika salam. Tata cara salam menunjukkan identitas orang tersebut,” papar dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. Karena itu, lanjutnya, tidak salah jika dikatakan, “Berbicara itu mempraktikkan budaya penutur.” Ketika mempelajari bahasa dari beragam budaya di dunia, kita akan menemukan hal-hal unik. Hal yang pastinya berbeda dengan budaya kita sendiri. Perbedaan ini, menurut peraih gelar master dari The Australian National University itu, disebabkan oleh konsep penutur yang juga sangat beragam. Ia memberi contoh, bagi penutur Bahasa Korea, mengatakan bayi yang lucu seperti anak anjing adalah hal yang positif. “Kalau di Indonesia? Tentu tidak, karena konotasi kata anjing sendiri tidak positif untuk budaya kita,” jelasnya. (nd)
GEMA-Workshop Penyusunan Standar Mutu Akademik Fakultas Psikologi berlangsung selama tiga hari (9-11/7) di SAMARA Hotel dan Resort, Batu. Pada hari terakhir, acara resmi ditutup Dr. Siti Mahmudah, M.Si., Dekan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Dekan Bagian Akademik Fakultas Psikologi Dr. Ali Ridho turut menyatakan workshop tersebut berjalan lancar dan sukses. “Ini menunjukkan komitmen kita yang kuat untuk bekerja,” tuturnya. Menurut Ali, sudah ada tahapan yang terlihat pasca diskusi saat workshop tiga hari tersebut. Hal ini tentu berkat kerjasama peserta yang merupakan dosen Fakultas Psikologi. Serta, berkat pantauan langsung tim ahli standar mutu dari Lembaga Penjamin Mutu UIN Malang. Ia ingin agar nantinya ada tahap lanjutan sebagai follow-up kegiatan. “Standar yang telah kita susun dan sepakati bersama akan dilakukan semacam kick off,” imbuhnya. Ia menarget, acara selanjutnya bisa dilaksanakan bersamaan dengan penyambutan mahasiswa baru tahun ajaran 2019. Senada dengan Ali, Siti Mahmudah juga dengan lugas menyampaikan bahwa workshop kali ini memenuhi kuota forum. Namun, tentu masih ada “Pekerjaan Rumah” yang harus diselesaikan. Misalnya, dari Komisi PKL, ada 12 dokumen yang harus segera dilengkapi. Mulai dari penyusunan buku pedoman, teknis, form, hingga tata tertib. Di Komisi Skripsi ada 21 dokumen dan Komisi Komprehensif memiliki 9 dokumen yang perlu diselesaikan. “Fakultas Psikologi akan terus memfasilitasi agar PR ini rampung,” tuturnya. Jika telah selesai, lanjut Bu Mamah, maka akan ada pembahasan lanjutan yang dipandu dan didampingi oleh Unit Penjaminan Mutu Fakultas Psikologi. Tentunya kegiatan lanjutan tersebut juga difasilitasi dan didukung penuh oleh Wakil Dekan Bagian Keuangan. (ptt/nd)
GEMA-Serasa tidak ingin menunda target perubahan dan perbaikan standar mutu dalam akademiknya, Fakultas Psikologi berusaha cepat tanggap. Salah satunya melalui workshop Penyusunan Standar Mutu Akademik. Acara yang dihadiri oleh jajaran pimpinan dan para dosen Fakultas Psikologi tersebut diselenggarakan di SAMARA Hotel dan Resort, Batu (9-11/7). Untuk memaksimalkan output workshop, Fakultas Psikologi mendatangkan pendamping standar mutu dari Unit Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Malang, Drs. Muh. Yunus dan Dr. Abdul Malik Karim Amrullah. Dalam pemaparannya, Yunus menjelaskan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang harus dipahami peserta. Secara spesifik, ia menjabarkan penetapan standar yang ada di manajemen SPMI. Menurut Kepala Pusat Pengembangan Standar Mutu ini, penyusunan standar yang baik ada dua versi, yakni sesuai standar internasional AUN-QA dan standar di Kemenristek Dikti. Jika, lanjutnya, penyusunannya sesuai standar AUN-QA maka harus memenuhi tiga syarat. Yakni harus ada verb (kata kerja), objek, dan konteks. Jika sesuai ketetapan Kemenristek Dikti, maka ada rumus ABCD. A ialah audience sebagai pelaku. B ialah behavior sebagai perilaku. Selanjutnya C ialah competence (kompetensi) dan D ialah degree (level). Yunus menambahkan, paling tidak menurut ilmu pendidikan, AB sudah cukup. “Ada pelakunya misalnya dosen membuat RPS. Itu sudah bisa diukur,” jelasnya. Di akhir pemaparan, Yunus berharap hal yang telah disampaikannya bisa menjadi stimulan agar di pertemuan tersebut dapat diperoleh capaian hasil penyusunan standar mutu yang disepakati. “Semoga selesai acara ini, kita bisa mendapatkan modul standar mutu akademik yang baik,” harapnya. (ptt/nd)
GEMA-Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Malang menyelenggarakan Workshop Pengembangan Dokumen Manual dan Formulir SPMI. Acara yang berlangsung dua hari tersebut bertempat di Balai Bagus, Ubud Hotel & Cottages Malang (3-4/7). Dalam sambutan sebelum workshop dimulai, Kepala LPM Dr. A. Muhtadi Ridwan, M.Ag. menjabarkan empat poin penting yang menjadi alasan terselenggaranya acara tersebut. Perubahan visi-misi universitas tentang statuta menjadi alasan pertama menurut Dr. Muhtadi. Selanjutnya, adanya rencana strategis yang telah disusun bersama sejak 2012 hingga 2022 mendatang. Tak hanya itu, ada pula tuntutan untuk menyesuaikan sembilan kriteria akreditasi. “Salah satunya ialah tiap kriteria diharuskan memiliki penjaminan mutu,” jelasnya. Hal ini karena di sistem yang baru, kita tidak bisa menilai diri sendiri. Namun harus melalui penilaian eksternal. Alasan terakhir, menurut Muhtadi, ialah sebagai respon atau tanggapan kebijakan Dirjen terkait road map persiapan UIN Malang menuju World Class University. “Ini alasan paling terbaru,” imbuhnya. Di hadapan 120 peserta yang terdiri dari para dekan beserta wakil bagian akademik, staf LPM, para ketua prodi beserta sekretaris, dan para UPM tiap fakultas, Muhtadi mengungkapkan target workshop. “Kita ingin agar hasil akhir workshop ialah terwujudnya standar dan dokumen manual yang implementatif,” papar ketua senat UIN Malang itu. (ptt/nd)
GEMA-Jika biasanya kegiatan bakti sosial UPT Pusat Kajian Zakat dan Wakaf (eL-Zawa) dilakukan dalam kampus, kali ini beda. eL-Zawa mendatangi langsung kelurahan untuk menunaikan kewajiban mereka. Dimulai dari yang paling dekat dari kampus, Kelurahan Sumbersari, Jumat (5/7). Seperti biasanya, sasaran baksos ialah warga kurang mampu, seperti manula dan anak yatim piatu. Ketua eL-Zawa, Nurul Yaqien, menyampaikan pesan Rektor UIN Malang agar kampus memperhatikan masyarakat sekitar. Menurut ajaran Islam pun, yang lebih berhak dan utama untuk menerima sedekah ialah yang paling dekat. “Maka kami mengawali agenda ini dari tetangga kampus,” imbuhnya. Selanjutnya, dalam periode dua tahun, UIN Malang akan mengagendakan acara serupa dengan mengunjungi kelurahan lain.
Kepala Kelurahan Sumbersari Dra. Sri Mariyani, M.Si. menyambut baik agenda UIN Malang di wilayahnya. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pihak kampus karena turut memperhatikan kesejahteraan warganya yang dhuafa. “Kami berdoa semoga para dosen, karyawan, dan semua warga kampus UIN Malang yang telah mendonasikan rejekinya ini senantiasa mendapatkan berkah, ridho dan balasan yang lebih mulia dari Allah SWT,” tuturnya. (ptt/nd)
GEMA-Sebelum tiga pakar bahasa Arab dari Riyad Saudi Arabia yaitu Prof. Dr. Saleh Al Shithri, Dr. Muhamed al Amer, Dr. Yaser al Budayye’ mengisi kegiatan Addauroh at Tadribiyah atau pembelajaran bahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mereka di ajak sejenak untuk melihat koleksi kegiatan yang dipajang di hall gedung rektorat saat Prof. Dr. Saleh Al Shithri menghadiri kegiatan The 3rd Intenational Conference of High Quality Assurance of Islamic Higher Education (ICQAIHE). Pada Desember 2016 di Hotel Club Bunga Batu. Prof. Dr. Saleh Al Shithri merasa mendapatkan kehormatan dari UIN Maliki Malang dengan adanya salah satu fotonya terpajang apik di salah satu sketsel foto tersebut, Senin (8/7).