Abd. Haris, Lukman Hakim Saifuddin Menteri, Zawawi Imron, dan Alissa saat menghadiri Mengasah Jati Diri (MENGAJI) Indonesia di Lap. Utama UIN Maliki, Senin (08/10).
GEMA-UIN Maulana Malik Ibrahim menyelenggarakan Mengasah Jati Diri (MENGAJI) Indonesia di Lap. Utama, Senin (08/10).Mengaji ini merupakan salah satu program unggulan dari kementerian agama.Kegiatan besar ini diagendakan di beberapa universitas islam di Indonesia. Setelah dilaksanakan di UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Sumatra Utara, IAIN Tulung Agung, dan yang keempat ini dilaksanakan di UIN Maliki Malang. Program Kemenag ini bertujuan untuk mengasah nilai-nilai kehidupan nusantara yang mulai luntur karena perubahan dinamika kehidupan.
Acara yang dihadiri 13 ribu peserta ini dipandu langsung oleh Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama RI.Gelaran ini juga menghadirkan tokoh nasional seperti Abd. Haris Rektor UIN Malang, Alissa Wahid The Wahid Institute, dan Zawawi Imron Budayawan Nasional.
Sesuai tema Kita Indonesia Kita Bersinergi, Prof. Haris menuturkan. penting sekali mengasah nilai keindonesiaan dalam diri kita.Sebab kita hidup di Negara ini tidak individual melainkan secara bersama-sama.“Dengan adanya ‘Mengaji’ dapat merajut ukhuwah untuk mewujudkan persantuan Indonesia,” jelas Rektor Kampus Ulul Albab ini.
Senada dengan itu, Alissa Wahid Founder Gusdurian menyampaikan, sebagai makhluk sosial kita harus mampu menempatkan posisi kita. Menurutnya, ada tiga identitas dalam diri manusia yang harus dikenali yaitu: identitas ukhuwah, identitas wathoniyah, identitas basyariah. “Penting sekali mengelola watak, jika wataknya baik beribu macam ideologi akan tersaring dengan baik, dan melahirkan sikap yang baik pula,” pesan wanita asal Jombang ini.
Di samping itu, menurut Zawawi Imron, setiap orang Indonesia harus cinta tanah air. Kecintaannya pada tanah air diaktualisasikannya dengan puisi. “Agar Negara menjadi indah harus diurus dengan hati yang indah,” terang sastrawan asal Madura mengakhiri materinya.(syf/nhl)
Abd. Haris Rektor UIN Miliki Malang, Kamaruddin Amin Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, dan Lukman Hakim Saifuddin saat launching MORA-BASE dan MORA-REF, Senin (8/10)
GEMA-Dalam kesempatan International Coneference on University-Community Engagement 2018 ini,Kemenag akan meluncurkan terobosan anyar. Konferensi internasional ketiga ini dilaksanakan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang selama tiga hari, Senin-Rabu (8-10/10). Konferensi ilmiah ini dibuka langsung oleh Lukman Hakim SaifuddinMenteri Agama RI dan Kamaruddin Amin Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia.
ICON-UCE tahun ini tampil dengan membawa terobosan baru. Pasalnya, Kementrian Agama akan meluncurkan sebuah aplikasi yang akan memfasilitasi para peneliti. Aplikasi tersebut adalah MORA-BASE dan MORA-REF. Ministry of Religious Affairs Bank of Article System(MORA-BASE) merupakan sebuah sistem bank artikel penelitian yang akan dikumpulkan oleh kemenag. Sedangkan Ministry of Religious Affairs Refferences (MORA-REF) merupakan sebuah aplikasi yang dapat membantu peneliti untuk mencari referensi yang diperlukan. Kedua aplikasi ini bertujuan untuk penghimpunan hasil penelitian, memperbaiki, mengembangkan penelitian, dan menghimpun referensi dari jurnal se-asia tenggara.(ofi/nhl)
Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama RI bersama Abd. Haris Rektor UIN Malang saat membuka International Conference on University-Community Engagement (ICON-UCE) 2018, Senin (8/10)
GEMA-Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi tuan rumah International Conference on University-Community Engagement (ICON-UCE) 2018, Senin (8/10). Gelaran ini menjadi ajang berbagi pengalaman, sharing, dan diskusi tentang pengaruh perguruan tinggi dalam membangun masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh civitas akademika perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi keagamaan islam. Acara ini dihadiri langsung oleh Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama RI dan Kamaruddin Amin Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia.
ICON-UCE tahun ini tampil dengan tema From Research to Advocacy: Building Synergy between University and Community for Social Justice. Tema bertujuan untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian ini berbasis pada penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat di masyarakat secara langsung.
“Masyarakat harus benar-benar terlibat dan menjadi subjek dalam suatu penelitian,” tegas Lukman dalam sambutannya. Hal fatal yang dilakukan dalam penelitian adalah ketika peneliti tidak menjadikan masyarakat sebagai subjek penelitiannya. Menurutnya, tujuan dari penelitian adalah untuk menegakkan hukum, keadilan sosial, dan mengatasi problematika yang terus berkembang di tengah masyarakat masyarakat.
“Peneliti Perlu memperbanyak empirical research dibandingkan dengan library research,” tambah pria kelahiran Jakarta ini. Menurut Lukman, masyarakat memiliki dua masalah dari hasil penelitian itu sendiri. Pertama kurang adanya publikasi yang menyeluruh.Kedua peneliti belum mengadakan penelitian menyangkut masalah yang sedang terjadi dalam masyarakat.
“Semoga kegiatan penelitian ini dapat selalu dinamis,” harap Menteri Agama yang menjabat sejak Juni 2014 ini. Kajian jurnal tidak boleh mati tanpa adanya perubahan dalam hal-hal baik dalam membangun bersama masyarakat bangsa.(ofi/nhl)
Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama RI bersama Abd. Haris Rektor UIN Malang saat membuka International Conference on University-Community Engagement (ICON-UCE) 2018, Senin (8/10)
GEMA-Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi tuan rumah International Conference on University-Community Engagement (ICON-UCE) 2018, Senin (8/10). Gelaran ini menjadi ajang berbagi pengalaman, sharing, dan diskusi tentang pengaruh perguruan tinggi dalam membangun masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh civitas akademika perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi keagamaan islam. Acara ini dihadiri langsung oleh Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama RI dan Kamaruddin Amin Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia.
ICON-UCE tahun ini tampil dengan tema From Research to Advocacy: Building Synergy between University and Community for Social Justice. Tema bertujuan untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian ini berbasis pada penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat di masyarakat secara langsung.
“Masyarakat harus benar-benar terlibat dan menjadi subjek dalam suatu penelitian,” tegas Lukman dalam sambutannya. Hal fatal yang dilakukan dalam penelitian adalah ketika peneliti tidak menjadikan masyarakat sebagai subjek penelitiannya. Menurutnya, tujuan dari penelitian adalah untuk menegakkan hukum, keadilan sosial, dan mengatasi problematika yang terus berkembang di tengah masyarakat masyarakat.
“Peneliti Perlu memperbanyak empirical research dibandingkan dengan library research,” tambah pria kelahiran Jakarta ini. Menurut Lukman, masyarakat memiliki dua masalah dari hasil penelitian itu sendiri. Pertama kurang adanya publikasi yang menyeluruh.Kedua peneliti belum mengadakan penelitian menyangkut masalah yang sedang terjadi dalam masyarakat.
“Semoga kegiatan penelitian ini dapat selalu dinamis,” harap Menteri Agama yang menjabat sejak Juni 2014 ini. Kajian jurnal tidak boleh mati tanpa adanya perubahan dalam hal-hal baik dalam membangun bersama masyarakat bangsa. (ofi/nhl)
Prof. Al Makin saat menjadi narasumber dalam Workshop Tata Kelola Jurnal di Rumah Jurnal Perpustakaan Pusat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (5/10)
GEMA-Hari ini,Workshop Tata Kelola Jurnal yang diinisiasi Jurnal Ulul Albab sampai pada hari ketiga, Jumat (5/10). Pelatihan yang dilakukan selama tiga hari ini dilaksanakan di Rumah Jurnal Perpustakaan UIN Maliki Malang. Sebagai akhir pelatihan, Prof. Al Makin ditunjuk untuk memberikan materi pamungkas.
“Untuk menulis jurnal tidak perlu orang cerdas!” tegas lulusan McGill University Canada ini. Menurutnya, seorang penulis jurnal tidak membutuhkan kecerdasan. Syarat untuk menulis jurnal ada tiga. Ketiga hal inilah yang menjadi dasar bagi seorang penulis sekaligus ilmuan. Tiga syarat ini adalah sabar, ikhlas, dan tawakkal. “Berbekal tiga hal inilah yang akan menjadikan penulis hebat,” tutur lulusan Ph.D Universitat Heidelberg German ini.
“Menulis jurnal memiliki dua hal penting, riset dan literatur,” lanjutnya. Sayangnya, dalam jurnal yang telah terakreditasi Sinta, kedua hal ini kurang diperhatikan. Riset dapat berupa kajian perpustakaan, manuskrip, arkeologi, lapangan, atau berupa dokumen. Begitu pula literatur, literatur terbagi menjadi dua, primer dan sekunder. Literatur primer berseumber dari data penelitian. Sedangkan literatur sekunder berasal dari jurnal dan buku ter-update. (nhl)
Khoirul Hidayah Editor in Chief Jurnal Ulul Albab saat memberikan materi Workshop Tata Kelola Jurnal di Rumah Jurnal Perpustakaan UIN Malang, Kamis (4/10)
GEMA-Workshop Tata Kelola Jurnal dilanjutkan dengan assessment tata kelola jurnal. Materi yang akan mendampingi setiap jurnal untuk melakukan perbaikan ini akan diisi oleh Khoirul Hidayah. Editor in Chief Jurnal Ulul Albab UIN Malang ini akan mengawali materi pada hari kedua ini, Kamis (4/10).
“Konsistensi pengelola adalah hal utama untuk mengajukan akreditasi,” terang Khoirul. Dosen Fakultas Syariah ini menegaskan bahwa konsistensi pengelola dalam menyajikan jurnalnya perlu diperhatikan. Konsistensi ini meliputi banyak aspek, seperti jenis font, ukuran font, pilihan layout dan template. Sehingga setiap jurnal yang akan dipublikasikan memiliki sebuah standar baku yang seragam. Pengelola diharapkan untuk dapat mematuhi aturan ini saat menerima naskah. Akhirnya, setiap jurnal yang diterbitkan akan sesuai dan seragamtidak berubah-ubah.
“Terdapat sebuah kasus menarik, bahwa pernah ada seorang author yang mengirimkan naskahnya ke beberapa jurnal,” jelasnya mencontohkan. Di sela materinya, Wakil Dekan 2 Fakultas Syariah ini memberikan contoh nyata. Jika terdapat masalah seperti ini, maka konsistensi pengelola dalam melakukan review perlu ditingkatkan. “Jika pengelola telah konsisten dengan tata kelolanya, masalah demikian dapat dihindari,” terang penulis yang telah ber-ID Scopus ini. (nhl)
Muhammad Nida’ Fadlan Asisten Editor Studia Islamika saat memberikan materi dalam Workshop Tata Kelola Jurnal, Rabu (3/10)
GEMA-Workshop tata kelola jurnal berlanjut pada sesi dua. Pelatihan yang diinisiasi oleh Jurnal Ulul Albab berlangsung selama tiga hari, Rabu-Jumat (3-5/10). Setelah materi pertama tentang Tata Kelola Jurnal, materi kedua adalah tips untuk menuju jurnal internasional. Muhammad Nida’ Fadlan dipercaya untuk mengisi materi ini.
“Azyumardi Azra merupakan pendiri dari Jurnal Studia Islamika,” buka Nida’ bercerita. Asisten Editor Studia Islamika ini mengawali materinya dengan sejarah berdirinya jurnal terindeks Scopus ini. Jurnal ini diawali dengan sebuah semangat dan niat yang spesifik. Azyumardi mendirikan jurnal ini sepulang dari pendidikan Amerika. Pasalnya, akademisi muslim asal Indonesia ini tidak menemukan satu pun referensi kajian Islam Indonesia kala itu. “Kita ingin mempromosikan khazanah Islam di nusantara indonesia dan asia tenggara,” jelasnya.
Menurut Nida’, terdapat lima hal penting yang harus diperhatikan. “Untuk menuju jurnal terindeks Scopus diperlukan setidaknya lima hal,” terang lulusan Master of Philology di Universitas Indonesia. Lima hal tersebut meliputi journal policy, quality of articles content, journal and the editors standing, publishing regularity, dan online availability. “Akhirnya dengan adanya Jurnal Studi Islamika ini dapat mempromosikan Islam Nusantara ke kancah dunia,” tegasnya. (nhl)
RESMI: Tutik Hamidah Ketua LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang buka resmi Workshop Tata Kelola Jurnal dan Clinic of Academic Writing, Rabu (3/10)
GEMA-Jurnal Ulul Albab dan El Harakah menyelenggarakan workshop tata kelola jurnal, Rabu (3/10). Kedua jurnal UIN Malang ini menyiapkan rangkaian agar jurnal dapat terindek scopus. Selain itu, gawe yang melibatkan pengelola jurnal nasional ini juga akan mengagendakan clinic of academic writing.
Acara ini dibuka langsung oleh Tutik Hamidah Ketua LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim. Dalam sambutannya, Tutik menyampaikan tentang permasalahan tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tri Dharma yang mencakup tiga hal penting dalam perguruan tinggi ini menjadi bermasalah. Menurutnya, dari pengajaran dan penelitian, pengabdian adalah bagian yang belum terjamah dengan maksimal. “Seharusnya, peran jurnal tidak hanya berhenti pada tataran penelitian tapi juga pada aspek pengabdian masyarakat,” ujarnya. Sehingga tiga aspek Tri Dharma dalam jurnal ini akan saling memperkaya satu sama lain.
Dalam acara yang diselenggarakan di Rumah Jurnal UIN Maulana Malik Ibrahim, Tutik juga memberikan harapannya. “Dengan diselenggarakan workshop ini dapat meningkatkan kualitas jurnal masing-masing,” tambah dosen Fakultas Syariah ini. Sehingga Tri Dharma Perhuruan Tingga dapat saling memperkuat antara satu sama lain. (nhl)
GEMA-Keluarga Besar Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)melaksanakan agenda Serah Terima Jabatan Tahun 2017-2018.Sertijab ini dilaksanakan di Mini Hall Rumah Singgah Lt.3 Pascasarjana UIN Malang, Jumat (28/09).Rangkaian acara ini dihadiri oleh Dr.Syuhada’, Agung Sedayu reviewer Beasiswa LPDP, pengurus LPDP UIN Malang dan beberapa tamu undangan lainnya.
Seusai kepengurusan periode 2017-2018 kumpulanmahasiswapenerima beasiswa LPDP melaksanakan Serah Terima Jabatan kepada Pengurus Baru. Sertijab tersebut ditandai dengan tanda tangan berita acara penyerahan jabatan dari Ahmad Faiz Sholeh Lurah Lama kepada M. Ali Machrus Lurah Baru.
Dalam sambutannya, Ahmad Faiz Sholeh menuturkan, pergantian pengurus ini, semoga dapat menjadikan Keluarga Besar LPDP UIN Malang bertambah lebih baik.“Dapatmerealisasikan proker-prokernya, dan mampu bersinergi dengan kampus-kampus lain,” ujar mahasiswa MPBA ini.
Selanjutnya, Syuhada’ yang hadir mewakili Rektor UIN Malang juga turut menyampaikan harapannya. “Jadikan Beasiswa ini sebagai jembatan untuk mengabdikan diri kepada negeri atas ilmu yang telah didapatkan,” tutur Kaprodi S3 Pendidika Bahasa Arab ini. Baginya, niat yang kuat tidak menjadikan kekurangan sebagai penghalang.(syf/nhl)