GEMA-Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mempersiapkan diri untuk menjadi negara mandiri, makmur, dan madani dengan menjadi pusat Ekonomi Syariah dunia. Sebagai institusi pendidikan, perguruan tinggi mendukung masterplan pemerintah ini dengan beragam cara edukasi. Ada empat hal yang bisa dilakukan perguruan tinggi menurut penuturan Prof. Dr. Nur Asnawi, M.Ag. dalam orasi ilmiahnya, Rabu (17/2). Pertama ialah penguatan kemampuan literasi. Hal ini bisa dilakukan secara formal melalui pembukaan prodi Ekonomi Syariah dan juga secara informal melalui penyebaran konten di media massa dan sosial. Penguatan sumber daya manusia menjadi langkah kedua. Cara ini bisa dilakukan dengan mengajarkan sistem Ekonomi Syariah seperti perbankan dan industri halal kepada masyarakat. Cara ketiga dan keempat ialah dengan melakukan riset serta membangun lembaga kajian dan fatwa yang fokus pada tema tersebut. Prof. Dr. Nur Asnawi, M.Ag. yang juga merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Syariah. Ia tak hanya bergerak aktif di bidang pendidikan sebagai dosen, namun juga berkiprah sebagai entrepreneur. (nd)
GEMA-Fitofarmaka di Indonesia tak sepopuler jamu dan obat herbal terstandar meski ketiganya ada dalam satu kategori obat berbahan alam. Meski mengandung bahan tradisional, ia sudah disetarakan dengan obat modern karena beberapa alasan. Di antaranya karena proses pembuatannya yang telah terstandarisasi dan sudah ada uji klinik pada manusia dengan memenuhi syrat ilmiah. Karena keberadaannya yang masih asing inilah, maka dalam orasi pengukuhannya, Prof. Dr. Roihatul Mutiah, SF., M.Kes., Apt. mengenalkan istilah obat Fitofarmaka, Rabu (17/2). Prof. Roiha menjelaskan bahwa Fitofarmaka jika dibanding jamu, jumlahnya sangat sedikit yang terdaftar di BPOM. Ada beberapa hal yang menghambat suatu produk obat untuk berstatus Fitofarmaka. Salah satu yang memperlama prosesnya ialah uji klinik pada manusia. “Butuh biaya besar dan waktu yang lama,” imbuh Ibu empat anak ini. Sampai saat ini, obat-obatan Fitofarmaka bahkan belum dimasukkan dalam sistem JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Sehingga, penggunaannya di masyarakat kurang maksimal. Prof. Dr. Roihatul Mutiah ialah Guru Besar Bidang Biologi Farmasi. Ia profesor pertama yang dihasilkan dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tak cuma itu, di antara profesor yang dimiliki kampus berlogo Ulul Albab, ia adalah yang termuda dan tercepat menjadi profesor dengan hanya waktu tiga tahun setelah pendidikan doktornya selesai. (nd)
GEMA-Di era modern ini, masih saja ada golongan yang menganut nilai patriarki sehingga menempatkan kaum pria di level tertinggi. Paham ini lah yang kemudian sering menimbulkan masalah di tengah masyarakat karena memberikan porsi kecil kepada wanita. Prof. Dr. Roibin, M.HI. mencoba mencari akar masalah paham ini. Menurutnya, paham ini merupakan paham yang terlalu kuno karena jika dirunut, sistem patriarki ada di zaman pra Islam, Rabu (17/2). Setelah Islam datang dengan ajaran-ajaran dalam al Quran, lanjutnya, posisi wanita pun menjadi lebih terhormat. “Islam memberi ruang yang seimbang untuk kaum pria dan wanita,” jelas Prof. Roibin. Tak hanya itu, dalam Quran dan Sunnah, banyak dalil yang melindungi kaum wanita sehingga tidak dibenarkan jika ada golongan yang menganggap kaum wanita terbelakang. “Dengan ajaran yang dibawa Islam, martabat wanita diangkat,” imbuh Bapak kelahiran Nganjuk, 18 Desember 1968 tersebut. Ia menambahkan wanita saat ini memiliki ruang bebas yang sama dengan pria. Mereka bisa menempuh pendidikan dan memiliki jabatan setinggi-tingginya. Dengan ini, ia berharap tak ada lagi kasus pelecehan ataupun pengucilan di masyarakat terhadap kaum wanita. Prof. Roibin dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kajian Islam untuk Fakultas Syariah. Dengan pengukuhan ini, ia merupakan profesor ketujuh yang dimiliki fakultas tersebut. (nd)
Pada hari Selasa 16 Februari 2021 kemarin sempat menemui tamu dari tim industri film yang menawarkan platform pemberdayaan santri dalam membuat film pendek sebagai media dakwah
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta periode 1-7 Februari 2021, tercatat 581 penularan yang terjadi pada keluarga atau yang biasa disebut dengan klaster keluarga
Iman kepada taqdir Allah sudah barang tentu tidak bertentangan dengan usaha manusia, karena pada hakekatnya usaha yang dilakukan oleh manusia juga merupakan taqdir atau ketentuan dari Allah juga
RAPAT TERBUKA SENAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIL IBRAHIM MALANG DALAM RANGKA PENGUKUHAN GURU BESAR
Prof. Dr. Roibin, M.H.I (Guru Besar Bidang Ilmu Dirasah Islamiyah (Kajian Islam) Prof. Dr. Roihatul Mutiah, SF., M.Kes.,Apt (Guru Besar Bidang Ilmu Biologi Farmasi) Prof. Dr. Nur Asnawi, M.Ag (Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Islam)
GEMA-Tertanggal 18 Januari 2021, menurut Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang resmi memiliki tiga profesor baru lagi. Ketiganya ialah Prof. Dr. Roibin, M.HI. (Bidang Ilmu Kajian Islam), Prof. Dr. Nur Asnawi, M.Ag. (Bidang Ilmu Ekonomi Islam), dan Prof. Dr. Roihatul Mutiah, S.F., M.Kes., Apt. (Bidang Ilmu Biologi Farmasi). Dengan turunnya tiga SK ini, maka pihak kampus menjadwalkan pengukuhan ketiga guru besar di bulan Februari. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi kampus berlogo Ulul Albab. Sebab, dengan bertambahnya profesor, maka reputasi kampus akan terangkat. Idealnya, minimal jumlah profesor mengikuti jumlah prodi di kampus. UIN Malang memiliki 43 prodi, namun jumlah profesor belum mencapai angka tersebut. Karenanya, Rektor Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. pernah menyatakan akan berusaha agar kampus memenuhi syarat ideal. Caranya ialah dengan meneruskan program percepatan guru besar bagi dosen yang sudah memenuhi syarat. Program ini pun diatur secara maksimal bersama Unit LP2M dengan mengadakan klinik penulisan ilmiah selama beberapa hari di luar Kota Malang. Mengutip sambutan Prof. Haris saat menyerahkan SK tenaga kependidikan Januari lalu, sebelum masa jabatannya habis, ia ingin agar UIN Malang terus menambah jumlah profesor setidaknya di angka 35 (18/1). Semoga, program kerja yang digagas rektor dapat tercapai sehingga kiprah UIN Malang semakin menggema tak hanya di level nasional namun juga internasional. (nd)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah penutur bahsa Arab sebagai bahasa resmi pertama mereka yang tinggal di seluruh negara Arab adalah 279 juta jiwa, atau sama dengan 4,4% dari penduduk dunia