GEMA-Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. menyerahkan langsung Surat Keputusan (SK) Kenaikan Pangkat dan Jabatan Fungsional Tenaga Pendidik PNS dan DTB-PNS. Karena masih masa pandemi, pelaksanaannya dibagi menjadi beberapa sesi. Jumlah kehadiran para penerima SK dijadwal dan dijaga dengan mengikuti protokol kesehatan. Penyerahan SK dilakukan di Ruang Rektor, Gedung Rektorat lt. 1, Senin (27/7). Kenaikan pangkat ini, menurut Prof. Haris tidak perlu selebrasi yang berlebihan. Pasalnya, ada tanggung jawab baru dan lebih berat yang juga disematkan kepada para penerima SK. “Kami ingin Bapak-Ibu bekerja sesuai bidangnya dengan sungguh-sungguh sehingga visi universitas tercapai,” pesan rektor kelahiran Lamongan tersebut. Ia menambahkan, agar dosen yang masih bergelar master segera melanjutkan ke studi doktor. Bagi yang sudah mendapat gelar doktor, Prof. Haris berharap agar segera mengejar poin untuk menjadi guru besar. “Dan jangan lupa untuk mempelajari dua bahasa asing, Arab dan Inggris,” imbuhnya. Seremonial penyerahan SK, masih kata rektor, adalah bentuk pengakuan kedudukan dan apresiasi atas pengabdian. Tak hanya loyalitas yang menjadi tolak ukur, namun juga kerja keras dan dedikasi nyata. “Mari kita lebih bersemangat dalam menjalankan amanah berupa pekerjaan ini,” ajaknya. (ptt/nd)
GEMA-Mendekati perayaan Idul Adha, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menginisiasi seminar nasional daring bertema “Kurban, Sembelihan Halal dan Kewajiban Sertifikasi Halal RPH/U”, Sabtu (25/7). Dr. Mastuki, M.Ag., Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal di Kementerian Agama (Kemenag) RI menyoroti tren frozen food untuk produk-produk hewani yang di masa pandemi ini semakin marak. Sebut saja bakso, nugget, sosis, dan sebagainya. Menurutnya, produk frozen food masih aman dikonsumsi. Hanya saja, perlu diperiksa lagi apakah produk berbahan dasar daging tersebut memenuhi standar kehalalan atau tidak. Pengawasan kehalalan untuk makanan beku yang dikeluarkan industri rumahan masih mudah untuk dipantau. Namun, untuk proses produksi dalam jumlah besar tentu memerlukan pengawasan yang ekstra. Mastuki melanjutkan, seluruh proses tentu kembali kepada source of origin-nya. Apakah daging yang digunakan merupakan produk hewan yang diperbolehkan menurut syariah atau tidak. Setelah itu, baru masuk ke dalam proses penyembelihan sesuai anjuran agama dan proses produksi hingga pengemasannya. Ia mewanti-wanti agar produsen mengawasi dengan seksama selama proses produksi makanan beku. “Jangan sampai dalam prosesnya tercampur dengan bahan-bahan yang dinilai najis,” jelasnya. Untuk memastikannya, masih kata Mastuki, peran Lembaga Jaminan Produk Halal (JPH) sangat diperlukan. Sertifikat halal yang nantinya dikeluarkan melalui perantara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal di bawah naungan Kemenag akan meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha. “Logo halal yang tertera di suatu produk akan memberikan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan. Sehingga, konsumen tidak ragu untuk membeli produk tersebut,” paparnya. Narasumber lain yang juga dihadirkan pada seminar daring tersebut ialah Dr. Isroqunnajah, M.Ag., Ketua PCNU Kota Malang yang juga merupakan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Malang. Selain itu, Eko Saputro, M.Si., Widyaiswara Juru Sembelih Halal di Balai Besar Pelatihan Peternakan, Kota Batu juga menyampaikan persyaratan penyembelih saat momen Idul Adha nanti. (nd)
GEMA-Pasca pemberian nama-nama gedung (17/7) di lingkungan Kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, rektor mulai melakukan pemasangan prasasti. Prasasti pertama disematkan di menara samping Masjid At Tarbiyah yang bernama Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Jumat (24/7). Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. mengungkapkan bahwa pemilihan nama Prof. Imam untuk menara merupakan pilihan yang bersangkutan. Ia meminta agar namanya diabadikan di bangunan yang paling tinggi. Prof. Haris pun tak lupa mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Prof. Imam yang telah memimpin kampus berlogo Ulul Albab ini selama beberapa periode, bahkan sejak masih berstatus STAIN Malang. Dr. Moh. Padil (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) dan Dr. Abdul Bashith (Wakil Dekan Bidang AUPK, FITK) menyatakan bahwa pengabadian nama-nama para pemimpin terdahulu adalah bukti penghargaan tinggi kampus. Mereka berharap agar jasa-jasa para pimpinan terdahulu dapat diresapi oleh seluruh sivitas akademik UIN Malang. “Semoga siapa saja yang melihat Menara Prof. Imam Suprayogo ini mendapat insporasi untuk membangun lembaga pendidikan Islam di mana saja,” tutur Moh. Padil. (ptt/nd)
GEMA-BTN Syariah menambah fasilitas parkir roda dua di area UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Peresmian lahan parkir dua lantai ini dilakukan bersamaan dengan acara rutinan Khotmil Quran yang kali ini dilaksanakan di area parkir lt. 2 depan Gedung Fakultas Sains dan Teknologi, Jumat (24/7). Nurul Astuti Branch Manager BTN Syariah didampingi Deputy Branch Manager Business Abdul Syukur beserta jajarannya memberikan tanda serah terima kepada Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag.
Rektor mengapresiasi niat BTN Syariah Kota Malang untuk membantu mencarikan solusi terhadap kurangnya lahan parkir di area kampus. Dengan memanfaatkan lahan kosong di depan Fakultas Saintek, penataan ruang di UIN Malang diharapkan semakin rapi. Nurul pun mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan UIN Malang terhadap timnya. Ia berharap agar kerjasama antara kedua pihak ini makin erat dan berlangsung untuk jangka waktu yang lama. “Semoga bantuan dari pihak BTN Syariah kepada UIN Malang bermanfaat untuk semua sivitas akademik,” tuturnya. (ptt/nd)
PENERIMAAN TENAGA KONTRAK PROJECT MANAGEMENT UNIT (PMU)
DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
TAHUN 2020
Panitia Penerimaan Tenaga Kontrak Project Management Unit Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang memberi kesempatan kepada mereka yang memenuhi syarat untuk mengisi lowongan Tenaga Kontrak Project Management Unit Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2020, sebagai berikut:
GEMA-Menjadi salah satu narasumber dalam webinar yang dihelat Pusat Studi Gender dan Anak UIN Malang, Fauziah Fauzan El Muhammady, M.Si., Pengasuh Perguruan Diniyyah Puteri, Padang Panjang mengungkapkan bahwa anak di usia dini pun bisa mengalami stres layaknya orang dewasa, Kamis (23/7). Bedanya, jika orang dewasa masih bisa berpikir untuk mencari solusi dari stres yang diderita, anak kecil justru sebaliknya. Alhasil, proses tumbuh kembang anak menjadi tidak normal. Zizi, sapaan akrabnya, mengenalkan istilah toksin stres yang berarti derita mental yang bersifat merusak. Menurut penelitian yang ia baca, toksin stres dialami sebagian besar anak. Mereka banyak yang menjadi korban perundungan (bullying) di sekolah. Bukan siksaan dalam bentuk fisik yang sering terjadi, namun siksaan verbal. Kata dan kalimat tidak pantas sering dilontarkan anak-anak usia sekolah dimana pun. Ditambah lagi, masih kata Zizi, ketika di rumah mereka juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Dan ini dilakukan oleh para orang tua yang seharusnya menjadi sumber kasih sayang,” imbuhnya. KDRT yang mereka dapatkan bermacam-macam. Persentase terbanyak masih dalam bentuk verbal. “Seperti hinaan, cacian, dan makian,” jelasnya. Tak hanya itu, ada juga yang sudah memasuki wilayah kekerasan fisik seperti pukulan dan menjewer telinga. Jika terjadi secara berulang-ulang dan dalam kurun waktu yang cukup lama, bisa dipastikan, di usia mudanya, anak tidak tumbuh dengan semestinya. Banyak yang akhirnya menjadi pendiam dan bermental pesimis. “Penelitian juga menunjukkan bahwa akibat dari bullying yang berulang ini merubah struktur otak,” tambahnya. Akibatnya, koneksi saraf dalam tubuh anak tidak berkembang. (nd)
GEMA-Makin terbukanya ruang media bagi pembaca atau audien, membuat topik bahasan makin menarik. Ini sejalan dengan konsep Discourse on Media yang memang mengharuskan audien dalam praktiknya. Hal tersebut disampaikan Pakar Studi Budaya dan Media dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Rulli Nasrullah, M.Si. dalam webinar bertema Jurnalistik yang diselenggarakan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (23/7). Beberapa tahun belakang, dengan pemanfaatan internet sebagai wadah penyiaran berita, makin bermunculan pembaca-pembaca aktif. Jika dulu pembaca hanya sekadar membaca melalui koran dan menyaksikan berita di televisi dan radio secara pasif, kali ini pembaca bisa dengan bebas memberi komentarnya di setiap berita yang dipajang melalui dari. Bahkan, komentar-komentar para warga internet (netizen) pun menjadikan sebuah produk Jurnalistik makin hidup. Mulai dari yang bernada positif bahkan mungkin lebih banyak yang mengandung unsur negatif. “Karena komentar-komentar yang tidak bisa dikontrol ini, maka muncullah istilah maha benar netizen dengan segala komentarnya,” ujar Rulli. Ia bahkan tidak menampik jika terkadang lebih seru membaca komentar netizen dibanding berita utamanya. Narasumber lain di webinar tersebut, Dr. Mundi Rahayu pun menambahkan bahwa hal ini mungkin karena media menjadi open space bagi semua orang untuk berinteraksi. Komentar netizen pada sebuah berita menjadikan sebuah berita terlihat atraktif. Pasalnya, media online memberi peluang luas bagi pembaca untuk memberi feedback berupa komentar. “Yang bahkan terkadang itu semua out of our control,” imbuh dosen Jurusan Sastra Inggris tersebut. Dengan adanya media yang mewadahi audien untuk interaktif ini, membuat media makin dinamis. “Ada ruang-ruang yang membuat audien bisa menyuarakan kepentingan dan melakukan resistensi yang lebih frontal,” jelas lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu. Selain Rulli dan Mundi, narasumber lain yang juga berkesempatan berbagi mengenai pandangannya tentang wacana Jurnalistik ialah Saira Asad, Ph.D. (Universiti Tun Hussein Onn, Malaysia). Rencananya, akan ada webinar lanjutan dengan tema Jurnalistik di lain waktu. (nd)
GEMA-Memperingati Hari Anak Nasional 2020, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghelat webinar yang khusus membahas hal berkaitan dengan anak. Dalam sambutan pembukanya, Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag., Rektor UIN Malang, mengaku takjub dengan tradisi turun-temurun yang sering dilakukan ibu-ibu di Jawa yang berkaitan dengan pendidikan anak, Kamis (23/7). Yang ia maksud ialah, kebiasaan calon ibu atau ibu hamil untuk membaca surat-surat tertentu dalam Alquran. “Biasanya mereka membaca Surat Maryam atau Surat Yusuf setiap hari,” jelasnya. Kebiasaan ini merupakan gambaran bahwa seorang Ibu menaruh harapan yang sangat tinggi kepada anaknya. Dengan membaca kedua surat tersebut, mereka ingin anak-anaknya tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam kisah Nabi Yusuf dan Sayyidah Maryam (Ibunda Nabi Isa). Kebiasaan yang dilakukan ibu-ibu ini menurut Prof. Haris merupakan realisasi dari hadis Nabi Muhammad saw. bahwa pendidikan anak dimulai sejak masih dalam kandungan. Dengan memberi eksposur yang bernilai agama kepada mereka sejak dalam rahim Ibu, anak diharapkan dapat menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan. “Ini bentuk tanggung jawab yang luar biasa besar dari Ibu-Ibu yang terefleksikan dalam sebuah tradisi positif,” ujar rektor kelahiran Lamongan tersebut. Webinar yang digagas PSGA ini juga menghadirkan tiga narasumber utama. Mereka ialah Drs. M. Sanusi, MM. (Bupati Kabupaten Malang), Harry Setia Budi, M.Si. (Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten Malang), dan Fauziah Fauzan El Muhammady, M.Si. (Pengasuh Perguruan Diniyyah Puteri, Padang Panjang). (nd)
GEMA-Bupati Kabupaten Malang, Drs. M. Sanusi, MM. Menyampaikan sambutan singkatnya melalui webinar yang digagas Pusat Studi Gender dan Anak UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sambutan yang fokus pada realisasi hak anak ini dilakukan sebagai perayaan Hari Anak Nasional tahun ini, Kamis (23/7). Ia menekankan bahwa seluruh pihak harus bekerjasama untuk memastikan anak-anak Indonesia, khususnya yang ada di area Malang Raya, agar terpenuhi hak-haknya. Hak yang dimaksud termasuk hak memperoleh tempat tinggal dan kasih sayang dari keluarga, hak belajar, dan hak dalam layanan kesehatan. Ia berharap, tumbuh kembang anak akan semakin meningkat seiring perkembangan zaman. “Kita bangun lingkungan yang ramah anak sehingga tidak ada lagi pelanggaran hak-hak anak,” paparnya sebelum berpamitan untuk mengikuti acara lain di Kabupaten Malang. (ptt/nd)