Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak
Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak
GEMA-Seri webinar terbaru yang dihelat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kali ini khusus mengundang para Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di beberapa negara, Rabu (22/7). Menjadi pembuka dari ketiga narasumber, Mokhammad Farid Maruf, Ph.D., Atdikbud KBRI di Kuala Lumpur, Malaysia menyoroti perubahan drastis pembelajaran di masa pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease).
Di tengah momen yang sangat bergantung pada teknologi ini, ia menyatakan bahwa perguruan tinggi harus siap. Baik itu dari pihak dosen, mahasiswa, maupun juga sarana dan prasarana yang disiapkan pihak kampus. Pembelajaran yang beralih ke jalur daring ini tentu membutuhkan persiapan yang ekstra dan tidak biasa. “Media belajar bisa menggunakan animasi-animasi yang menarik,” imbuhnya.
Untuk mewujudkannya, kata Farid, setiap perguruan tinggi harus menyiapkan tim IT yang kuat dan solid. Tugas tim ini adalah untuk merealisasikan media pembelajaran yang membutuhkan kelihaian orang-orang IT. “Bukan malah kita memaksa dosen untuk harus bisa membuat media animasi pembelajaran. Buang-buang waktu,” tutur pria berkacamata ini.
Dengan menyediakan tim sumber daya manusia yang mumpuni, maka perguruan tinggi mempunyai support system yang memadai. “Kreativitas pembelajaran pun terjamin,” jelasnya. Karenanya, harus ada komunikasi antara tim pengajar dan tim IT untuk merealisasikan apa saja yang dibutuhkan selama proses belajar-mengajar.
Selain Atdikbud KBRI di Malaysia, ada dua atase lain yang menjadi narasumber di webinar ini. Mereka ialah Usman Syihab, Ph.D. (Atdikbud KBRI Kairo, Mesir) dan Achmad Ubaedillah, MA., Ph.D. (Atdikbud KBRI Riyadh, Arab Saudi). (nd)
GEMA-Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS) Kemenag RI Prof. M. Arskal Salim, GP., MA., Ph.D. memotivasi dan mendukung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), Selasa (21/7). Ia menambahkan, karena adanya konsep Kampus Merdeka, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan relaksasi dalam hal persyaratan transformasi pendidikan tinggi dari status Badan Layanan Umum menuju PTNBH. “Semoga pak rektor (UIN Malang, Red.) dan jajarannya sudah menyiapkan proposal dan rancangan agar UIN Malang menjadi salah satu kampus di bawah Kemenag yang berstatus PTNBH,” tuturnya. (ptt/nd)
GEMA-Menanggapi konsep Merdeka Belajar-Kampus Merdeka yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Nadiem Makarim, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membahasnya dalam episode webinar pendidikan terbaru, Selasa (21/7). Untuk menjelaskan konsep tersebut Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud RI, Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D. pun diutus menjadi pembicara.
Sistem pembelajaran di beberapa semester awal, jelas Aris, tidak akan jauh berbeda. Dari semester 1 hingga 5, mahasiswa harus mengikuti mata kuliah sesuai jurusan yang dipilih. “Di lima semester ini, CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan, Red.) mahasiswa di jurusannya harus tercapai,” imbuhnya.
Setelah itu, di semester berikutnya, mahasiswa boleh memprogram mata kuliah lintas jurusan. “Mereka bebas menambah pengetahuan lain yang diinginkan di jurusan manapun,” terang Aris. Hal ini dicanangkan agar mahasiswa tak hanya menguasai satu bidang saja, namun multidisiplin.
Pasca merampungkan jumlah SKS tertentu, mahasiswa tetap harus memprogram praktik kerja lapangan atau magang. Di sini pun, konsep Kampus Merdeka memiliki gebrakan baru. Mahasiswa tidak harus praktik di perusahaan layaknya karyawan, namun mereka juga bisa merencanakan praktik independen. “Bisa saja dalam bentuk proyek kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggalnya atau proyek kemanusiaan,” jelas Aris. (nd)
Setting Historis
Berbicara tentang “intelektualisme Islam Pasca Orde Baru” tidak lepas dari cara pandang kita pada para intelektual Islam dari masa ke masa
GEMA-Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. secara simbolis meresmikan nama-nama gedung di lingkungan Kampus 1. Tercatat ada sembilan nama mantan pimpinan yang diabadikan. Mulai dari pimpinan ketika kampus masih berstatus IAIN hingga beralih menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (17/7). Peresmian dilakukan pasca pelaksanaan acara rutinan Khotmil Quran dan Istighosah di Ruang Kuliah Bersama (RKB Gedung D).
Sembilan gedung yang resmi memiliki nama ialah Gedung D diberi nama Prof. Dr. H. Moh. Koesnoe, S.H., Gedung Fakultas Humaniora diberi nama Gedung KH. Oesman Mansoer, Gedung Micro Teaching FITK diberi nama Drs. KH. Maksoem Oemar, Gedung Kuliah A menjadi Gedung Drs. KH. Abd. Mudjib, Gedung Kuliah B menjadi Gedung Drs. H. Moh. Anwar, Sc., Gedung Poliklinik UMMI menjadi Gedung Prof. Dr. Hj. Zuhairini, Gedung Pusat Informasi menjadi gedung Dra. M. Djumransjah Indar, M. Ed. Gedung C Pusat Pengembangan Bahasa menjadi Gedung Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si., dan Bangunan Menara setinggi 60 meter diberi nama Prof. Dr. H. Imam Suprayogo.
Prof. Haris mengungkapkan, inisiasi pengabadian nama-nama tersebut ialah sebagai penghormatan tertinggi atas jasa pimpinan terdahulu. Kesembilan nahkoda kampus tersebut telah mengabdikan diri untuk mengembangkan kampus berlogo Ulul Albab ini. "Semoga pemberian nama ini memberi semangat tersendiri bagi sivitas akademik UIN Malang,” harapnya.
Nampak hadir Prof. Dr. Imam Suprayogo dan Prof. Dr. Mudjia Rahardjo dalam acara tersebut. Sedangkan perwakilan keluarga almarhum dan almarhumah pimpinan lain juga turut hadir. Peresmian nama gedung ditandai dengan penandatangananan prasasti yang telah disiapkan. (aj/nd)
GEMA-Keseriusan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam melakukan pelatihan audit internal kepada para dekan dan kabag di masing-masing fakultas terus dilakukan. Kali ini mereka kembali mengikuti proses Surveillance Audit ISO 9001:2015 kelima di Ruang LPM, Kamis (16/7).
Mengawali kegiatan tersebut Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. membuka langsung acara yang diikuti 35 auditor tersebut. Dalam arahannya, Prof. Haris meminta kepada seluruh pemimpin di unit, lembaga, dan fakultas betul-betul menguasai dan memahami situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan kerjanya. Hal ini untuk mengontrol dan mengendalikan semua yang terjadi. Sehingga, pimpinan bisa sesegera mungkin mengambil keputusan yang tepat sasaran.
Adanya pelatihan audit ini, menunjukkan bahwa wewenang dan tanggung jawab seorang pimpinan betul-betul dipertaruhkan. Baik buruknya pendidikan di perguruan tinggi ini tergantung dari para pimpinannya. Sehingga, seorang pemimpin harus mengetahui apa yang terjadi di lembaganya masing-masing.
Melalui audit internal ini diharapkan para auditor bisa menemukan formulasi yang tepat bagaimana proses akademik dilakukan dan mengetahui apa kekurangannya hingga mengetahui apa yang harus diperbaiki dan dilakukan ke depannya.
Melalui audit mutu ini, tambah dia, pimpinan perguruan tinggi juga bisa mencermati kesesuaian antara standar pendidikan tinggi yang ditetapkan dengan kenyataannya di lapangan. Untuk itu, audit mutu harus dilakukan secara utuh dan tidak lagi sekadar formalitas saja. (aj/nd)
GEMA-Sebanyak 35 auditor dari berbagai fakultas mengikuti proses pelatihan Surveillance Audit ISO 9001:2015 kelima di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Rektor Bidang AUPK UIN Malang Dr. Ilfi Nurdiana, M.Si. meminta seluruh auditor untuk bekerja secara total dan menyampaikan data seakurat mungkin, Kamis (16/7).
Menurutnya, meskipun masyarakat masih berjuang dalam kondisi pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease), tetapi semangat untuk menuntaskan tugas dan amanah tidak boleh kendor. Jangan sampai, situasi pandemi menjadi alasan untuk malas-malasan melaksanakan tugas. "Jadi auditor jangan dijadikan sebagai beban. Ini amanah yang dititipkan ke Bapak Ibu untuk dilaksanakan sebaik mungkin," tuturnya.
Ia melanjutkan, dengan menjadi auditor, peserta pelatihan memiliki kesempatan untuk menemukan gap yang harus diperbaiki di lingkungan kerjanya. Setelah menemukannya, maka kita bisa mencari tahu solusi untuk menjadikannya lebih baik. Jika proses audit bisa dilakukan rutin per semester dan ditangani oleh tenaga kompeten, maka akselerasi perbaikan mutu lembaga akan terwujud.
Ilfi menegaskan, proses audit mutu yang benar juga akan mewujudkan budaya mutu di perguruan tinggi. Artinya perguruan tinggi tersebut sudah memiliki modal besar untuk bersaing bukan saja pada level lokal, atau bahkan nasional, tetapi juga global. Imbas positifnya, akreditasi unggul juga akan mudah diperoleh, bahkan akreditasi internasional. (aj/nd)
GEMA-Persoalan audit jaminan mutu sebenarnya pembahasan yang saling terkait satu sama lain. Seperti halnya tali atau rantai yang saling terhubung. Satu persoalan saja bisa berpengaruh pada persoalan yang lain. Hal ini disampaikan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Dr. Malik Karim Amrullah dalam sesi kelima Pelatihan Surveillance Audit ISO 9001:2015, Kamis (16/7).
Malik dalam arahannya mengajak seluruh peserta agar bekerja sesuai dengan sistem yang ada dan menjalankan segala aturan sesuai dengan standar ISO. Hal ini dilakukan untuk menjaga mutu layanan pendidikan dan kualitas output atau lulusan di kampus berlogo Ulul Albab ini.
Seorang auditor internal kampus, lanjutnya, harus bisa menentukan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan, menentukan waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyajikan laporan pemeriksaan. Tidak hanya itu, hasil auditnya pun harus dilakukan dengan transparan dan akuntabel, sehingga proses perbaikan bisa dilakukan secara menyeluruh dan bisa dipahami oleh semua pihak yang berkepentingan.
Seorang Auditor juga harus bisa memberikan peringatan bila ditemukan adanya penyelewengan pada lembaga kemahasiswaan yang diauditnya dan melakukan penyelidikan dalam proses audit yang dilakukan. (aj/nd)