GEMA-Banyak dan berkembangnya jumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia membuat Kementerian Agama ingin melebarkan sayap lebih luas lagi. Tak ingin perguruan tinggi di bawah naungannya hanya diakui di level nasional dan regional (ASEAN), kali ini Kemenag melalui Dirjen Pendis (Direktorat Jenderal Pendidikan Islam) menyiapkan diri untuk akreditasi internasional. Dalam webinar yang dilaksanakan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Direktur DIKTIS (Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam) Prof. M. Arskal Salim, GP., MA., Ph.D. menyampaikan beberapa hal terkait persiapan akreditasi internasional melalui lembaga ASIIN Jerman, Senin (13/7). Menurut Prof. Arskal, mendaftarkan suatu universitas ke lembaga akreditasi internasional merupakan langkah yang sudah seharusnya ditempuh. Kampus tentu tak cuma ingin diakui di level nasional dan regional, tapi juga di level internasional. Pengakuan suatu kampus akan berpengaruh pada kualitas lulusannya. “Kita mau kontribusi mahasiswa-mahasiswa kita lebih meluas di mancanegara dengan ilmunya, tidak cuma untuk negara sendiri,” jelas lulusan The University of Melbourne ini. Dengan begitu, akan ada generasi keluaran perguruan tinggi Islam Indonesia yang bisa speak up di mancanegara. Ia melanjutkan, DIKTIS menyiapkan tujuh kampus yang kali ini akan didorong untuk mendaftar pada akreditasi ASIIN, sebuah lembaga akreditas kredibel dari Jerman. Ketujuh kampus tersebut ialah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Wali Songo Semarang, UIN Alaudin Makasar, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Sunan Ampel Surabaya. Kemenag melalui DIKTIS memiliki tiga tahapan dalam mendorong dan memperlancar proses akreditasi kampus. Pertama, DIKTIS memberi tiga dukungan yakni sumber daya, finansial, dan juga dukungan regulasi. Dalam tahapan awal ini, kampus akan dibina mengenai apa saja yang harus dipersiapkan untuk akreditasi. Tahap kedua ialah proses akreditasi atau sertifikasi. Di tahap ini, DIKTIS akan memberikan hak penuh pada pimpinan di tiap institusi untuk menindaklanjuti pembinaan yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Di sini, pimpinan harus menyiapkan segala hal termasuk borang yang akan diajukan saat pendaftaran formal ke board of accreditation. Tahap terakhir ialah pasca akreditasi. “Di tahap ini, kampus perlu mengadakan laporan kinerja tahunan untuk mengetahui apakah borang akreditasi dan pelaksanaannya sesuai,” papar Prof. Arskal. (nd)
GEMA-Salah satu pembahasan yang menjadi fokus dalam pelaksanaan Webinar internasional dengan tajuk Sosialisasiakreditasi internasional ASIIN Jerman dan strategi Menuju WCU. Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengajak seluruh Dosen serta para Profesor untuk terus aktif menulis membuat karya ilmiah yang terpublikasi, baik di jurnal nasional maupun internasional, seperti scopus dan lainnya. Senin (13/7). Untuk memperbaiki mutu kualitas perguruan tinggi di PTKIN pemerintah mendukung sepenuhnya PTKIN bisa mencapai World Class University (WCU). Rektor menegaskan bahwa menuju WCU bukanlah perkara mudah. Akan tetapi, bukan berarti tidak bisa diwujudkan, kuncinya bisa dilakukan mulai sejak dini. “Tentunya perguruan tinggi harus menyiapkan SDM yang mumpuni dalam menunjang tujuan kampus menuju WCU,” terangnya. Salah satu caranya bisa dengan meningkatkan kualitas tulisan dari para dosen serta berupaya terus menambah jumlah profesor di kampus ini hingga mencapai formulasi yang ideal. “UIN Malang terus berupaya meningkatkan mutu SDM baik di sektor pegawai tenaga pendidiknya maupun para dosen,” tegasnya.
Soal prosentase hasil penelitian ilmiah, diakui atau tidak Indonesia masih tertinggal dengan negara tetangga, misalkan saja dengan Malaysia, Thailand dan Singapura. Para dosen UIN Malang jangan terjebak dengan kesibukan normatif saja, misalkan lebih disibukkan dengan persoalan administratif yang bisa berdampak kurtang produktifnya para dosen menelurkan tulisan hasil penilitiannya di jurnal imiah yang terakreditasi. “UIN Malang siap memfasilitasi para dosen yang produktif melakukan risetnya,” ujarnya sembari memberi semangat menulis kepada para desen di lingkungan UIN Malang. Perguruan tinggi saat ini tidak hanya sebagai agen pendidikan saja, lebih dari itu keberadan perguruan tinggi juga harus bisa menggerakkan masyarakat sekitar agar lebih mandiri. “Khusunya dalam sektor ekonomi melalui hasil inovasi riset yang dilakukan oleh para dosen,” terangnya. Selain itu, segala upaya telah dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maliki Malang melalui program unggulannya yaitu UIN Mengadi Qaryah Thayyibah 2020. Dengan adanya rogram tersebut para dosen dan mahasiswa bisa melakukan riset secara langsung di tengah masyarakat. “Sehingga diharapkan hasil penelitiannya bisa lebih tepat sasaran bagi masyarakat,” pungkasnya. Dalam pelaksanaan webinar kali ini ada empat narasumber yaitu Direktur PTKI Kemenag RI Prof. M. Arskal Salim GP, M.A., Ph.D. Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag., Ketua Forum Penjaminan Mutu PTKIN Dr. Helmi Syaifuddin, M.Fil., dan Pepen Arifin, Ph.D dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
GEMA-Website Seminar atau yang lebih dikenal dengan Webinar mulai menjadi primadona saat masa pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease), khususnya di ranah pendidikan. Webinar makin diminati saat orang-orang merasa bahwa upgrade informasi harus tetap jalan dengan tetap menerapkan aturan social and physical distancing. Seiring dengan merebaknya pelaksanaan webinar, aplikasi-aplikasi pendukung pun bermunculan. Yang masih sering digunakan saat ini ialah Zoom dan Microsoft Team Live Event. Sama seperti seminar konvensional, webinar menampilkan beberapa pemateri dengan rentang waktu presentasi. Peserta pun hadir dan menyaksikan langsung di depan gawai masing-masing (ponsel, tab, komputer, atau laptop). Materi presentasi dapat tetap disaksikan dengan screen sharing. Sesi tanya jawab tetap ada dengan memanfaatkan fitur Raise Hands (pada aplikasi Zoom) dan fitur Show Q&A (pada aplikasi Microsoft). Namun, tentu ada sisi tak menyenangkan karena webinar berkaitan erat dengan teknologi. Ditemui pasca mengisi webinar yang diadakan Fakultas Humaniora bekerjasama dengan UIN Alaudin Makassar, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan ADIA, Rohmani Nur Indah menceritakan pengalamannya. “Sudah siap semua kamera dan materi untuk sharing-nya, komputer tiba-tiba mati,” tuturnya. Menurutnya, karena webinar memang bergantung pada teknologi, maka kejadian seperti itu pasti terjadi. Jika sudah familiar dengan penggunaan aplikasi seperti Zoom, maka tentu tidak akan ada kendala besar. Pihak panitia (host) pun harus memastikan bahwa peserta dan khususnya pemateri sudah cukup terbiasa dengan segala perangkat webinar. (nd)
GEMA-Tak sedikit orang tua yang merasa kelimpungan saat perpindahan sistem Study from Home (Belajar dari Rumah). Baik itu karena tak familiar dengan materi belajar, teknologi, maupun tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak sedikit juga yang melayangkan komplain ke sekolah dengan beragam alasan. Namun, menurut Dr. Muhammad Walid saat begini justru orang tua harus banyak mengevaluasi diri. Sudahkah selama ini mereka turut berperan dalam pembelajaran anak di sekolah? “Karena kebanyakan orang tua merasa, bayar SPP ya sudah, selanjutnya itu tanggung jawab guru di sekolah dalam urusan mendidik,” imbuhnya. Hal ini ia sampaikan dalam webinar yang diadakan oleh Rumah Jurnal FITK, Rabu (8/7). Dalam acara bertema “Merdeka Belajar dan Madrasah Unggulan: Tetap Unggul di Masa New Normal”, tiga pimpinan FITK menjadi narasumber utamanya. Mereka ialah Dr. Agus Maimun, M.Pd. (Dekan), Dr. Moh. Padil, M.PdI. (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama), dan Dr. Muhammad Walid, MA. (Wakil Dekan Bidang Akademik). Walid melanjutkan, pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab pihak sekolah. Justru pendidikan yang baik itu tak hanya komunikasi searah. “Harus ada komunikasi intens antara siswa, orang tua, dan pihak sekolah,” imbuhnya. Ketika ada masalah yang muncul dalam proses belajar, maka semua pihak harus membicarakan dan mencari solusinya. Walid pun membahas pentingnya seorang guru untuk memahami kembali hakikat profesinya. Ia menekankan bahwa seorang guru tidak diperkenankan hanya memberi ceramah selama proses belajar. “Karena yang harus diingat adalah bukan teacher for teaching tapi teacher for learning,” tutur Walid. Ketika guru menempatkan diri sebagai teacher for teaching, maka pembelajaran akan didominasi ceramah. Padahal, sistem ceramah akan mematikan kreativitas siswa karena menutup kesempatan mereka untuk mengeksplor banyak hal tentang materi yang sedang diajarkan. Sebaliknya, jika sistem teacher for learning, maka akan ada interaksi dua arah antara guru dan siswa. Dengan begitu akan membuka banyak peluang bagi siswa untuk mempelajari hal lain yang masih berhubungan dengan mata pelajarannya. (nd)
At present the religious community is faced with a problem of universal humanity, that is increasingly complex in line with the progress of the age that continues to accelerate
GEMA-Persoalan klise yang selalu dialami hampir seluruh pengelola jurnal ialah kurangnya jumlah naskah. Masalah ini makin diperparah jika jurnal sudah memasuki masa penerbitan. Namun, bukan berarti pengelola jurnal lantas menerima segala naskah untuk melengkapi jumlah artikel ideal saat terbit. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. M. Zainuddin, MA. saat rapat bersama seluruh pengelola jurnal di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (3/7). Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menjaga dan juga meningkatkan kualitas jurnal. Ia tidak mau jurnal di UIN Malang dianggap sepele sehingga mudah menerima naskah yang berkualitas rendah. “Pengelola jurnal harus tegas, jika ada penulis yang mengirimkan naskah yang tidak sesuai tema dan visi ya harus ditolak,” tegasnya. Selain itu, dalam aturan komposisi penulis saat ini juga sudah diatur. Yakni, 60 persen penulis dari luar institusi sedangkan 40 persen dari dalam. Ini sudah menjadi aturan bagi seluruh pengelola jurnal dan siapapun harus mengikutinya. Ketua LP2M UIN Malang Dr. Tutik Hamidah melaporkan, ada 34 pengelola jurnal di kampus berlogo Ulul Albab ini. 22 di antaranya telah terakreditasi Sinta. “Meski masih banyak yang Sinta 3 tapi ada beberapa yang sudah meningkat ke Sinta 2,” jelasnya. (nd/aj)
GEMA-Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. M. Zainuddin, MA. mengundang seluruh pengelola jurnal di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Rapat kali ini dilakukan di Kampus 3, Jumat (3/7). Ia mengajak para pengelola jurnal kembali bersemangat mempublikasikan hasil penelitian para dosen di bawah arahan Ketua Pusat Penelitian Dr. Nur Ali, M.Pd. Ini dilakukan agar jurnal-jurnal di kampus dapat menuju Web of Science (WOS). Prof. Zain menganjurkan dosen untuk selalu produktif menulis karya ilmiah yang layak publikasi selama masa pandemi. Untuk itu, Pusat Penelitian harus memberi pendampingan khusus dibantu langsung oleh Unit LP2M. “Para calon penulis jika butuh coaching clinic berkala, tentu harus difasilitasi agar menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas,” lanjut guru besar Bidang Sosiologi Agama. Kepala LP2M Dr. Tutik Hamidah sepenuhnya mempercayakan perihal pengembangan hasil penelitian kepada Pusat Penelitian. Sehingga kendali seluruh jurnal di UIN Malang terpusat dengan baik. “Dengan begini, kami harap para pengelola jurnal makin solid dan bisa berkomunikasi intens apapun permasalahan yang dihadapi,” imbuh Tutik. Sementara itu, Ketua Pusat Penelitian Dr. Nur Ali mengungkapkan bahwa jurnal fisik masih diperbolehkan. Ia merujuk pada aturan Dirjen Dikti yang menyatakan tentang aturan pencetakan jurnal. “Namun, aturan ini dibatasi bagi jurnal yang terakreditasi Sinta 2 saja,” tegas mantan dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan itu. (aj/nd)
GEMA-Pasca pelaksanaan Sholat Jumat di masjid Kampus Tiga UIN Malang, Rektor Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. meresmikan nama dua gedung baru (3/7). Gedung Program Studi Profesi Dokter diberi nama Gedung Ibnu Thufail, sedangkan Gedung Perkuliahan Farmasi dinamakan Gedung Al-Biruni. Kedua tokoh yang diabadikan namanya ini terkenal di kalangan filsuf. Namun, sumbangsih keduanya di bidang medis sangat besar dan berpengaruh. Rektor menyatakan, sebelum memutuskan kedua nama ini, ada beberapa daftar nama dari tokoh terkenal yang menjadi kandidat. Nama-nama tersebut kemudian dibagikan melalui aplikasi berbagi pesan WhatsApp. Diskusi pun terjadi. “Setelah melalui berbagai pertimbangan, dua nama ini yang diputuskan untuk diabadikan di gedung FKIK,” ujarnya. Menurut sejarah, masih kata Prof. Haris, kedua filsuf yang dipilih namanya tersebut merupakan cendekiawan multi disipliner. Ibnu Thufail juga aktif di bidang hukum karena ia merupakan seorang pejabat pengadilan sekaligus seorang dokter yang termasyhur. Sedangkan, Al-Biruni ialah seorang matematikawan yang memberi sumbangsih sangat besar di bidang obat-obatan.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati Prabowowati Wadjib, M.Kes., Sp.Rad(K) yakin bahwa pemberian nama untuk kedua gedung akan membawa pengaruh positif. Pasalnya, dua nama besar ilmuwan Islam lah yang dikukuhkan. “Semoga mahasiswa FKIK dapat menjadikan keduanya role model di bidang medis,” doanya. Ia pun menyiapkan dua tumpeng sebagai tanda peresmian nama gedung yang berlokasi di Dusun Precet, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu tersebut. (ptt/nd)