GEMA-Pusat Studi Gender dan Anak bersama Dharma Wanita Persatuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengundang Yulia Indriati, Direktur Keluarga Kita dalam webinar bertema Peran Keluarga dalam Menghadapi New Normal Life, Senin (22/6). Dalam sesinya, ia mencoba menjelaskan tantangan yang dihadapi para orang tua dalam masa pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease). Tantangan itu muncul karena situasi belajar anak yang berpindah dari sekolah ke rumah (Study from Home). Yulia menyatakan, perubahan situasi belajar ini turut mengaduk-aduk tatanan kehidupan sehari-hari di rumah. Karenanya, energi orang tua terbagi. Ketika energi tersebut tidak memadai, maka muncul lah emosi. “Saat seperti ini kita tahu bahwa mengatur emosi dan energi untuk berbagai macam kerjaan rumah itu penting,” jelasnya. Ia melanjutkan, jika biasanya orang tua pasrah dengan pendidikan anaknya pada institusi pendidikan, kali ini mereka harus turut berpartisipasi dalam prosesnya. “Sisi positifnya ialah ada kolaborasi maksimal guru di sekolah dan orang tua dalam proses belajar anak,” tuturnya. Di sini lah pentingnya kekompakan dari kedua pihak. Dalam proses menjadi pendamping belajar, masih kata Yulia, orang tua pun dituntut untuk bisa beradaptasi dengan teknologi. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan teknologi seperti platforme-learning, maka tidak ada masalah. “Masalahnya, Indonesia ini kan luas, dan tidak semua orang tua di daerah-daerah melek teknologi,” imbuhnya. Hal ini karena infrastruktur di Indonesia tidak merata. Wajar jika sebagian besar orang tua di daerah mengeluhkan pemakaian teknologi dalam proses Study from Home. Alhasil, banyak sekali orang tua yang kecewa karena hasil belajar anak tak sesuai harapan. Dalam hal ini, Yulia menjelaskan beberapa hal penting dalam perubahan tatanan belajar anak. Pertama, orang tua sepatutnya tidak terlalu memasang target yang terlalu tinggi. “Apalagi jika targetnya dipatok dari besaran angka,” imbuhnya. Daripada fokus pada nilai, ia lebih menyarankan agar orang tua lebih menitikberatkan pada pendampingan belajar. Pasalnya, tak banyak orang tua yang tahu tipe belajar anaknya sendiri. “Pahami keunikan anak-anak kita terutama gaya belajarnya, sehingga kita bisa menemaninya secara maksimal,” pesan Yulia. (nd)
GEMA-Inilah bukti inovasi hasil studi di UIN Maliki Malang serasa tiada henti. Salah satunya piranti cuci tangan produk rakitan Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek). Secara resmi, alat yang umumnya dikenal dengan sebutan westafel itu di launcing oleh Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan Dr. H. Isroqunnajah, M. Ag dan Wakil Rektor bidang AUPK Dr. Ilfi Nurdiana, M Si. Pelaksanaannya tepat di samping teras depan Gedung BJ. Habibie Fakultas Saintek UIN Maliki Malang, Selasa (23/6). Dalam pengantarnya, Gus Is sapaan akrab Dr. Isroqunnajah, M. Ag menjelaskan bahwa westafel produk Fakultas Saintek UIN Maliki ini berbeda dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan penggunaan westafel tersebut tidak secara manual namun melaui sensor. Selain itu, westafel produk Fakultas yang dipimpin oleh Dr. Sri Harini, M. Si ini didesain khusus bisa secara otomatis mengeluarkan air dalam jumlah terbatas dengan waktu tertentu. Sehingga setelah pemakaiannya, westafel tersebut tidak perlu dimatikan lagi karena sudah otomatis berhenti sendiri. "Jadi kita tidak perlu memegangnya ketika menggunakan westafel ini" terangnya. Selanjutnya, masih kata Gus Is bahwa westafel sensor tersebut rencananya akan disediakan di lingkungan kampus UIN Maliki terutama pada setiap fakultas. Kemudian, bagi siapa pun yang ingin membuat model westafel sensor yang serupa milik UIN Maliki itu tidak masalah. Apalagi biaya pembuatannya juga tidak mahal. "Cukup dengan Rp. 100.000,- s/d Rp. 125.000,- sudah bisa untuk merakitnya sampai selesai," imbuhnya. Ditemui saat uji coba westafel tersebut, Dr. Ilfi Nurdiana, M. Si menyatakan bahwa aplikasi alat tersebut sesuai standart dari WHO. "Kinerja westafel ini cukup simpel. Debit air yang dikeluarkan kurang lebih 600-700 mil dalam waktu 20 detik, sehingga sangatlah efisien, praktis dan juga hemat. Selamat kepada Fakultas Saintek UIN Maliki atas inovasinya ini," ucapnya seusai mempraktikkan pemakaian alat tersebut. (ptt)
GEMA-Mengakhiri minggu ketiga Juni, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. melantik empat kepala pusat di lingkungan kampus, Jumat (19/6). Mereka ialah Dr. Nur Ali, M.Pd. (Kepala Pusat Penelitian), Dr. Syaiful Musthofa, M.Pd. (Kepala Pusat Pengabdian), Ahmad Mukhlis, MA. (Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi), dan Prof. Dr. dr. Bambang Pardjianto, Sp.B., Sp.BP.,RE(K) (Kepala Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat). Pelantikan yang dilaksanakan di Ruang Rektor ini hanya dihadiri Kepala Pusat Penelitian dan Kepala Pusat Pengabdian. Sedangkan lainnya mengikuti pelantikan secara daring. Rektor berpesan agar seluruh kepala pusat mulai merencanakan program-program terbaru atau melanjutkan yang pernah diatur pada periode sebelumnya. “Kami harap agar kepala pusat mempunyai kreativitas yang tinggi agar nantinya segala program kerja dapat berkontribusi pada kemajuan bangsa,” tutur Prof. Haris. Khusus bagi kepala pusat yang hadir di tempat pelantikan, rektor pun berharap agar nantinya ada tindakan yang mendorong dosen-dosen di UIN Malang untuk giat meneliti. “Ini juga untuk mempercepat penyelesaian studi dosen-dosen yang sedang S3,” lanjutnya. Namun sebelumnya, rektor meminta agar ada perubahan dasar sebelum merancang program penelitian dan pengabdian masyarakat. Ia meminta agar tema besar dan arah penelitian dan pengabdian segera dirumuskan bersama. “Kampus harus punya standar penelitian dan pengabdian yang bereputasi internasional sesuai visi misi universitas,” lugas rektor kelahiran Lamongan tersebut. (nd)
GEMA-Mengawali webinar, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. menuturkan, selama kurang lebih dua bulan masa WFH (Work from Home), banyak hal yang telah dilakukan kampus, Selasa (16/6). Ini membuktikan bahwa kesan WFH membosankan dan pasif itu tidak benar. “Justru banyak hal yang kita capai selama WFH ini,” imbuhnya. Ia melanjutkan, jumlah artikel ilmiah yang ditulis dosen dalam dua bulan terakhir semakin meningkat. Artikel ini kemudian juga diajukan untuk diterbitkan di jurnal ilmiah terkemuka. Bahkan, buku-buku bertema Covid-19 (Corona Virus Disease) karya kolaborasi dosen-dosen UIN Malang juga sudah memasuki tahap penerbitan. Prof. Haris menambahkan, ada hal yang juga membuatnya bahagia. Yakni berkaitan dengan calon guru besar. “Total yang tercatat untuk mengajukan guru besar ada 20 dosen di tahun 2020 ini,” paparnya. Jumlah tersebut tentu melampaui targetnya di awal tahun. Dengan jumlah pengajuan yang banyak ini, ia yakin target guru besar tahun ini akan tercapai. (nd)
GEMA-Rapat Anggota Tahunan (RAT) kali pertama ini diselenggarakan secara virtual oleh Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pasalnya, situasi masa pandemi covid-19 sampai saat ini belum jua berakhir. Hadir langsung saat acara, Rektor UIN Maliki, Prof. Dr. H. Abdul Haris, M. Ag beserta jajaran pimpinan dan pengurus KPRI UIN Malang, perwakilan anggota serta perwakilan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil di Malang. Acara dilaksanakan di ruang rektor Lt. 1 Gedung Ir. Soekarno. Sabtu(13/6)
Seperti tahun-tahun sebelumnya, RAT virtual kali ini diawali dengan penyampaian laporan pertanggung jawaban (LPJ) baik dari dari pengurus dan juga pengawas. Dr. Umrotul Hasanah selaku Ketua Koperasi menyampaikan hasil laporan kepada para anggota meskipun tidak secara langsung bertatap muka. Kemudian dilanjut sesi pemilihan ulang kepengurusan KPRI UIN Maliki baru, yakni periode 2020 s/d 2022. Berbeda dengan tahun yang sebelumnya, karena RAT kali ini secara virtual maka dilakukanlah pemilihan voting online dengan dibantu aplikasi Zoom.
Akhirnya hasil voting kali ini memilih dan sekaligus melantik Dr. Suwandi, M.HI sebagai anggota Pengawas Koperasi yang sebelumnya juga menempati jabatan dan posisi yang sama. Sedangkan jabatan penting lainnya, seperti ketua koperasi, sekretaris, dsb tidak ada perubahan karena masa bakti jabatannya belum berakhir. Meskipun pada RAT kali ini tidak ada pembagian hadiah ataupun doorprice tetapi pelaksanaan rapat rutin setiap satu tahun sekali ini tetap berjalan dengan meriah dan lancar. (ptt)
GEMA-UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengundang tokoh pimpinan dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dalam acara website seminar (Webinar) Nasional. Mengambil tema "Menjalin Ukhuwah di Tengah Wabah", acara diskusi yang berbasis virtual ini diselenggarakan di ruang rektor, Lt. 1 Gedung Ir. H. Soekarno, Kampus I UIN Maliki Malang, Kamis (11/6). Hadir secara langsung saat acara, para Wakil Rektor, para Kabiro, jajaran dekanat, Kasubbag, kepala unit-unit dan para dosen serta sivitas akademika UIN Maliki lainnya. Dalam sambutannya, Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M. Ag mengungkapkan agar Indonesia bisa terhindar dari berbagai ancaman terutama saat masa pandemi covid-19 ini maka perlu dibangun persatuan atau ukhuwah.
"Ukhuwah harus dibangun agar dapat terhindar dari fitnah, ancaman dan segala hal yang membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)!," tegasnya. Apalagi, tambah dia, bahwa wabah Covid-19 ini telah menyerang dan mengancam kehidupan masyarakat di Indonesia, bahkan mengancam kebahagiaan masyarakat di berbagai negara yang ada di dunia ini. “Sehingga, terselenggaranya webinar ini diharapkan bisa menjadi jalan menjalin ukhuwah dan silaturahmi meskipun dengan cara virtual,” terangnya. Prof. Haris berharap, melalui webinar ini bisa menuangkan ide ataupun gagasan dari setiap tokoh untuk membantu memberikan solusi dalam menyelesaikan segala permasalahan yang dialami bangsa dan negara Indonesia terutama saat adanya wabah Cuvid-19 ini.
Masih kata Prof. Haris, sesungguhnya peran penting antara NU dan Muhammadiyah sudah berjalan dengan baik sejak lama. Bahkan ketika bangsa yang memiliki bendera pusaka merah putih ini berjuang menuju pintu kemerdekaan. “Kedua organisasi ini selalu terlibat aktif mensupport terwujudnya persatuan di Indonesia,” jelasnya. Oleh karena itu, UIN Maliki Malang memandang penting adanya suatu ukhuwah. Hal ini tidak hanya berlaku antara NU dan Muhammadiyah tetapi juga ormas-ormas lainnya. “Terutama ormas Islam untuk kepentingan Indonesia, khususnya dan umunya untuk negara-negs di seluruh belahan dunia,” pungkasnya mengakhiri. (ptt)