GEMA-Setelah membahas Covid-19 (Corona Virus Disease) dengan pakar Ilmu Kedokteran dan Sains di talkshow sebelumnya, kali ini Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. mengundang pakar di Bidang Keislaman, Kamis (2/4). Dr. Badruddin, salah satu pemateri menyatakan Covid-19 tetap harus disikapi dengan baik. Ia beralasan bahwa segala sesuatu di alam yang merupakan ciptaan Allah adalah baik. “Entah hal tersebut dipandang manusia sebagai kebaikan atau musibah,” imbuhnya. Ia mengaitkan ini dengan Rukun Iman yang keenam. “Artinya, apapun takdir yang diberikan Allah, suka atau tidak, semua adalah demi kebaikan,” tutur Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah itu. Ia melanjutkan, Allah menakdirkan baik buruk untuk hambanya dengan tetap memperhatikan human scale (skala manusia). “Sehingga Allah tahu, meski itu musibah, Dia tahu manusia masih mampu mengatasinya,” jelas dosen berkacamata tersebut. Sehingga, Muslim harus senantiasa meneguhkan iman agar apapun cobaannya, akan dapat dilalui dengan baik. Tema talkshow rutin ini ialah “Perspektif Sufisme Menghadapi Covid-19”. Selain Dr. Badruddin, ada juga beberapa pemateri lain, yakni Dr. Ahmad Muzakky dan Dr. Halimi Zuhdi (Fakultas Humaniora). Tak ketinggalan juga dosen dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan dr. Dharsim. (ptt/nd)
GEMA-Selama masa lockdown dari pemerintah pusat, Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris membuat beberapa acara dadakan dengan jumlah partisipan terbatas. Salah satunya ialah Talkshow Interaktif yang dilakukan di halaman depan Gedung Rektorat. Talkshow dilakukan tanpa atap karena dilakukan sambil berjemur menyerap Vitamin E dari sinar matahari. Rektor bertindak langsung sebagai pembawa acara sedangkan narasumber ialah dosen-dosen UIN Malang. Dalam talkshow episode ketiga, Senin (30/3), narasumber yang dihadirkan ialah dr. Abdul Malik (Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan), Dr. Sri Harini (Fakultas Sains dan Teknologi), Dr. Siti Mahmudah (Fakultas Psikologi), dan Dr. Isroqunnajah (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan). Topik utama masih sekitar Covid-19 (Corona Virus Disease) dan pencegahannya. Dalam pemaparannya, dr. Malik menjelaskan kampanye sosialisasi pencegahan Covid-19 yang sudah disebarkan di media sosial dan juga dalam bentuk poster. Kampanye tersebut ialah mencegah Corona dengan ‘BISMILLAH’. “Tapi bukan berarti hanya dengan ucapan basmalah lantas virus tersebut musnah,” imbuhnya. Ia melanjutkan, BISMILLAH ialah akronim yang memuat tindakan pencegahan. Tak hanya pencegahan yang disarankan pemerintah, tapi juga yang sesuai dengan syariat Islam. Berikut adalah penjelasan dari kampanye yang disampaikan dr. Malik. B : Berdiam diri di rumah I : Istighfar kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan S : Social distancing (pencegahan utama) M : Mencuci tangan dengan rutin dan sempurna I : Ikuti maklumat dari pemerintah L : Laporkan kepada satgas jika demam/panas di atas 38 derajat L : Laporkan kepada satgas jika batuk mendera A : Apalagi dari kota yang positif terjangkit Corona H : Hanya kepada Allah kita berserah diri.
Malik menekankan pada huruf H di akhir BISMILLAH. Menurutnya, segalanya yang ada di dunia ini datangnya dari Allah swt, termasuk wabah pandemi Covid-19. Maka, sebagai hamba yang taat, sudah sepatutnya umat manusia berserah diri. “Semoga wabah ini segera diambil kembali oleh Allah dan kita semua senantiasa dalam Ridho dan perlindungan-Nya,”doanya. (ptt/nd)
Reporter & Fotografer | Putut Wahyu Hardianto, S. Psi.
GEMA-Berbagai upaya dilakukan untuk menangani kasus penyebaran virus corona dieses 2019 ( Covid-19). Seperti halnya yang dilakukan oleh jajaran pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Meski kali ini bukan dengan tindakan secara langsung. Namun sebagai salah satu usahanya melalui media sosialisasi, baik kepada warga kampus UIN utamanya dan masyarakat luar pada umumnya. Maka dengan kreatifitas yang solutif diadakan talkshow interaktif dengan tema “Management Krisis, Kasus covid-19”. Acara tersebut bertempat di depan Kantor Pusat, Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Jumat(27/3). Tidak tanggung-tanggung, talkshow interaktif yang diisi diskusi sambil berjemur bersama kali ini mendatangkan narasumber, yakni Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati PW, M.Kes, Sp.Rad(K). Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang (UB). dr. Christyaji Indradmojo, dosen Fakultas Kedokteran UIN Maliki Malang, Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, Wakil Rektor UIN Maliki bagian AUPK dan Prof. Dr. Suhartono,S.Si, M.Kom, Guru besar UIN Maliki bidang Ilmu Komputer.
Dalam paparannya sebagai narasumber pertama Prof. Yuyun sapaan akrabnya menjelaskan secara singkat namun detail terkait apa itu sebenarnya virus corona. “Ini memang virus baru yang di temukan di daerah Wuhan, China pada bulan Desember 2019 sehingga namanya adalah Corona Virus Disiases 2019 ( Covid-19). Selanjutnya dokter yang juga mengabdikan diri di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang ini menghimbau agar semua khususnya pihak yang berada di ranah akademisi harus tetap waspada namun tidak boleh panik. “Karena kita yang di kawasan akademisi itu adalah role model bagi masyarakat”, ucapnya menirukan perkatakan Prof, Haris saat pembukaan acara. Pasalnya, memang sejak tanggal 11 Maret 2020 yang lalu, pemerintah telah menyatakan bahwa penyebaran wabah virus corona ini pada level pandemi. Karena penyebarannya sudah di banyak negara. Meskipun demikian, pada virus memang memiliki infeksi yang tinggi, tetapi sebenarnya memiliki angka mortalitas yang rendah. “Cepat sekali menular atau menginfeksi ke orang lain namun memiliki angka kesembuhan yang tinggi”,jelasnya. Sehingga pada orang yang positif terjangkit virus corona sesungguhnyamemiliki angka kesembuhan yang tinggi.
Selanjutnya dari paparan dr. Christyaji menjelaskan tentang sekilas wabah virus corona itu merupakan bagian dari bencana. Namun, Covid-19 ini sudah dinyatakan sebagai pandemi, karena merupakan suatu bencana dengan karakter khusus. Maka sebenarnya laju pengaruhnya secara progresif. Sifatnya berjalan secara pelan-pelan dan puncaknya bukan yang sekarang atau hari ini melainkan akan berada di hari ke depannya. Oleh karena itu, ada tiga fase, yakni pra-krisis- fase krisis dan pasca krisis. Pada fase krisis maka dibutuhkan kesadaran bersama. Baik dari pemerintah mapun masyarakat. Secara singkat yang perlu dilakukan adalah besama-sama membahu menangani virus itu saat di fase krisis. Beberapa upaya preventif bisa dilakukan guna terhindar dari penyebaran virus corona dengan mengetahui tiga faktor penyebab pandeminya, yakni ancaman virus itu sendiri, kerentanan masyarakat dan berkurangnya fasilitas. Sebagai ketua Satgas Covid-19 UIN Maliki Malang, ia menyarankan untuk mensikapi pandemi virus corona itu, sebisa mungkin lebih baiknya meninggalkan pada faktor yang pertama yakni ancaman dari Covid-19. “Memilih menjauhi virus tersebut! Itu pilihannya”, ungkapnya. Salah satu usaha menjauhi ancamannya yakni dengan social distansing atau fisical distansing. Bisa diartikan menjaga jarak ketika bersosialisasi dengan orang lain. Sehingga menurut dosen muda itu, sikap tersebut merupakan jalan yang solutif dan lebih aman daripada melakukan tindakan yang kurang bijak sekali menggerakan diri mendeklarasikan untuk melawan virus. (ptt)
GEMA-Walau kampus dalam masa lockdown, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ingin agar tetap ada kegiatan yang mendidik di masa tersebut. Salah satu kegiatan yang digagas ialah talkshow rutin dengan mendatangkan berbagai narasumber. Yang unik, acara ini dilakukan di luar ruangan, yakni di halaman depan Gedung Rektorat, tanpa atap. Seperti yang terlihat pada Jumat (27/3), beberapa kursi ditata sedemikian hingga dengan tidak melanggar aturan yang ditetapkan pemerintah. Yakni jarak antar kursi minimal 1 meter. Kali itu, narasumber yang didatangkan ialah Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati PW., M.Kes. Sp.Rad(K) (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang), dr. Christiaji Indradmojo (Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Malang), Dr. Ilfi Nurdiana, M.Si. (Wakil Rektor Bidang AUPK UIN Malang, dan Prof. Dr. Suhartono, M.Kom. (Fakultas Saintek UIN Malang). Acara tersebut dimoderatori langsung oleh Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag.
PEDULI: UIN Malang menggelar program diskusi sambil berjemur dengan tajuk Manajemen Krisis, Kasus Covid 19, Jum'at (27/3).
Namun, ia berpesan agar para akademisi termasuk sivitas akademik UIN Malang dapat membantu pemerintah dalam mengedukasi masyarakat. Caranya dengan membagi informasi yang valid tanpa menakut-nakuti. “Karena tipe masyarakat kita itu cepat panik. Maka, peran kita di sini sebagai role model,” tutur dokter yang juga bertugas di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang ini. Karenanya, akan sangat berguna jika menjalankan saran dari pakar kesehatan. Beberapa di antaranya ialah social distancing dengan membatasi pertemuan dengan orang lain apalagi berada di kerumunan. Manfaatkan masa lockdown dari pemerintah dengan maksimal. Selanjutnya, menjaga kebersihan diri dan keluarga dengan cara rajin mencuci tangan dengan sabun. Menggunakan masker terutama bagi yang sedang batuk dan pilek juga perlu dilakukan. (ptt/nd)
PEDULI: UIN Malang menggelar program diskusi sambil berjemur dengan tajuk Manajemen Krisis, Kasus Covid 19, Jum'at (27/3).
GEMA-Hampir seluruh negara di belahan dunia sama-sama ‘memerangi’ suatu wabah penyakit global atau yang akrab di sebut pademi coronoa virus (Covid-19). Segala strategi pencegahan dilakukan oleh pemerintah khusunya di Indonesia sendiri. UIN Malang juga turut serta membantu pemerintah untuk menangani pencegahan Covid-19 dengan cara menciptakan salah satu alat dengan nama kabut anti virus atau (Kavi), selain itu juga dilakukan sosilaisasi soal pencegahan virus corona melalui program diskusi sambil berjemur dengan tajuk Manajemen Krisis, Kasus Covid 19, Jum'at (27/3). Acara yang digelar sejak pukul 08.30 hingga pukul 10.00 WIB itu dihadiri langsung oleh empat nara sumber yaitu Prof. Dr. dr. Yuyun, SpRad, dr. Cristiyaji, SpEm dr. Malik, Prof. Dr. Suhartono, dan Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si. Acara ini dimoderatori langsung Rektor UIN Maliki Prof. Dr. Abd. Haris M. Ag. Mengawali pembahasan kasus Corona, Prof. Dr. dr. Yuyun, SpRad mengajak seluruh masyarakat untuk tidak perlu panik menghadapi Covid-19 ini, yang terpenting ikuti intruksi dari pemerintah dan terus waspada dan menjaga kesehatannya. Misalkan saja, mengurangi berdiam diri di dalam rumah, hindari social distance, dan jangan merasa kuat dan kebal virus. “Ingat, virus Corona ini berdasarkan penelitian mampu hidup di benda-mati selama empat hari, jadi tetap harus waspada diri,” terangnya. Hal senada juga disapaikan dr. Cristiyaji, SpEm dalam penjelasannya sebagai umat Islam tentu Rasulullah sudah mengajarkan kepada umatnya dalam menghadapi wabah atau musibah seperti ini. Salah satu caranya yaitu melakukan isolasi diri, jaga kebersihan, dan maknlaah makanan yang halal dan menyehatkan. “Dalam ikhtiar tentu harsu disertai dengan doa dan memperbanyak istighfar kepada Allah sebagai bentuk pengakuan sebagai hamba yang lemah di hadapan Allah SWT,” paparnya. Ilfi Nur Diana meminta agar UIN Malang selalu siap meberikan pelayanan kepada masyarakat sekitar kampus, khusunya dalam persoalan kebersihan. UIN Malang juga sudah melakukan gerakan membentuk satgas agar membagikan sanitizer secara gratis kepada warga. Selain itu juga membuat alat kabut anti virus (Kavi). Alat ini digunakan untuk pencegahan anti virus. Semua yang masuk ke area kampus diharuskan dites melalui Kavi itu. Selain itu mobil yang masuk ke kawasan kampus pun juga akan dilakukan screening. “Semua alat ini rencananya akan dibuat masal dan akan diberikan kepada masyarakat di sekitar kampus,” paparnya. Sementara itu, Prof. Dr. Hartono guru besar bidang ilmu komputer menilai virus corona ini disebabkan ion udara yang turun dan akibatnya tubuh manusia menghirup udara yang kurang sehat. “Sehingga, saya membuat alat dengan nama mega ion, dengan tujuan untuk menjernihkan udara dari visrus-virus yang sangat kecil dan kasat mata,” terangnya. Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Abd. Haris terus berupaya agar UIN Maliki Malang terus berupaya memiliki kontribusi terhadap penagangan Covid-19 ini. Selain itu, melalui diskusi ringan ini diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat agar lebih hati-hati. “Semoga kegiatan ini bermanfaat dan memberikan pelajaran bagi kita semua,” pungkasnya.
GEMA-Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim malang terus meningkatkan pengawasan dan pencegahan atas mewabahnya Covid-19 (Corona Virus Disease). Menyikapi langkanya produk hand sanitizer di pasaran, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang akhirnya memproduksi produk tersebut sekitar 4000 botol untuk mahasantri yang masih tinggal di ma’had. Sosialisasi dan pembagian hand sanitizer dilakukan di dua tempat yakni di Aula Halaqoh Mahad lt. 1 bagi mahasantri putra dan di Masjid Ulul Albab bagi mahasantri putri, Selasa (17/3). Wakil Rektor Bidang AUPK Dr. Ilfi Nurdiana, M.Si. turun langsung untuk membagikan hand sanitizer gratis tersebut. Ia menyampaikan bahwa produksi massal ini wujud kepedulian UIN Malang terhadap mahasiswa. “Pembagian hand sanitizer kepada mahasiswa ini semoga dapat membantu untuk pencegahan virus dan bentuk service excellent university,” ujarnya. Sementara itu, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang Dr. Sri Harini, M.Si memberikan arahan kepada seluruh mahsantri untuk menggunakan hand sanitizer ini dengan tepat. “Kami produksi massal demi mahasantri Pusat Mahad al Jamiah UIN Malang yang akan pulang ke kampung halamannya,“ tuturnya. (kh/nd)
GEMA-Tak ingin berdiam diri saja selama masa lockdown, UIN Malang mengenalkan inovasi terbaru untuk membantu pemerintah memutus rantai Covid-19 (Corona Virus Disease). Salah satunya ialah pembuatan Room Screening yang dinamai KAVi (Kabut Anti Virus). Ini adalah alat berupa ruangan kecil cukup untuk dimasuki satu orang yang digunakan untuk sterilisasi secara menyeluruh dari kepala hingga kaki. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr. Isroqunnajah menjelaskan penamaan KAVi diambil dari isim fa'il kata 'kaafii' yakni 'kaafi'. Secara denotatif, kata itu berarti mencukupi atau memenuhi. KAVi juga diambil dari akar kata 'kaffa' yang berarti sesuatu yang menolak. "Sehingga jika dimaknai, KAVi ini berarti sesuatu yang cukup untuk menolak virus," jelas Gus Is, sapaan akrabnya. Penamaan ini sekaligus sebagai doa juga ikhtiar yang dilakukan UIN Malang untuk memutus penyebaran Covid-19. Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. menuturkan bilik KAVi ini sangat menghemat penggunaan cairan sanitizer. "Untuk sekali penyemprotan di seluruh tubuh, tidak butuh banyak cairan namun sangat merata," ujarnya. Pasalnya, KAVi tidak dalam bentuk spray melainkan uap yang berpartikel sangat kecil. Alat ini pun sangat efektif, mudah, dan yang pasti murah. Wakil Rektor Bidang AUPK Dr. Ilfi Nurdiana menjelaskan pembuatannya. KAVi membutuhkan bilik kecil, humidifizer yang telah dimodifikasi untuk merubah air menjadi kabut, selang penghubung humidifizer ke bilik, dan cairan sanitizer berkadar alkohol 70% sebanyak 1 liter. Cara kerja KAVi sangat mudah. Selama selang penghubung dipasang dengan baik, maka humidifizer bisa dinyalakan. Dengan begitu, kabut dari sanitizer akan masuk dan memenuhi bilik. "Satu liter cairan sanitizer bisa digunakan selama 5 hingga 7 jam," jelasnya. (nd)
GEMA-Pasca keluarnya Surat Edaran Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang No. 1171 Tahun 2020 tentang Kesiapsiagaan dan Tindakan Antisipasi Pencegahan Infeksi Virus Corona (Covid-19) di Lingkungan UIN Malang, Ketua Tim Satgas kampus dr. Christiaji Indradmodjo beserta anggotanya memberikan pengarahan kepada sivitas akademik. Kegiatan tersebut dilakukan setelah pelaksanaan Shalat Jumat di Masjid at Tarbiyah, Jumat (20/3). Materi sosialisasi ialah arahan dan kebijakan yang diputuskan pimpinan kampus berlogo Ulul Albab. Materi lebih dikhususkan kepada mahasantri yang masih tinggal di lingkungan kampus. Akses keluar-masuk area Kampus 1 dan 2 yang dibatasi ditekankan oleh Tim Satgas. “Kampus memberlakukan satu pintu gerbang yang dijaga ketat tim keamanan. Gerbang pejalan kaki pun ditutup,” tutur dr. Christiaji. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mahasantri yang akan keluar-masuk kampus harus membawa surat izin dari Kantor Ma’had. Dengan peraturan ini, pihak kampus memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan mereka selama 14 hari (11-28/3). Tak hanya bagi mahasantri, sekuriti juga akan memeriksa identitas (card-access) dosen dan karyawan yang keluar-masuk universitas. “Otomatis, tamu luar yang masuk kampus pun akan diperiksa kartu identitasnya,” imbuhnya. Terakhir, Tim Satgas mengharap kerjasama yang baik dengan seluruh warga kampus dan sekitarnya. Meski beberapa peraturan dianggap akan mengganggu kenyamanan, pihak kampus tentu memiliki tujuan baik agar pencegahan penularan Covid-19 dapat berjalan maksimal khususnya di lingkungan UIN Malang. (ptt/nd)