Daftar Penulis: Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M. Si


TEKNIK VALIDASI INSTRUMEN SERTIFIKASI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (1)
Rabu, 14 April 2010 . in Rektor . 1496 views

Sajian ini tidak dimaksudkan untuk memberikan panduan teknis-operasional validasi instrumen sertifikasi guru pendidikan agama Islam dan beberapa matapelajaran Madrasah, tetapi sekdar memberikan pengantar yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok kerja yang mendapat penugasan atau kewenangan untuk melakukan pengembangan dan pensahihan instrumen. Karena itu, meskipun beberapa kali menyinggung persoalan analisis, misalnya analisis butir (item analysis) atau analisis faktor (factor analysis), prosedur teknis-operasional analisis itu sendiri diasumsikan sudah dikuasai oleh kelompok kerja yang bersangkutan.

Lebih Lanjut »
Memori Kolektif Masyarakat Kita Lemah
Selasa, 13 April 2010 . in Rektor . 1058 views

Di saat saya berada di ruang tunggu bandara Banjarmasin untuk pulang lewat bandara Juanda kemarin, saya melihat ada sekelompok orang membaca koran nasional dan daerah yang membahas kasus akhir-akhir ini, terutama tentang mafia pajak dan korupsi. Orang yang duduk di sebelah saya berucap kalau terus saja ada kasus-kasus besar begini maka kasus yang lama bisa hilang tak terdengar. Ucapan itu disetujui beberapa kawannya.

Lebih Lanjut »
Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan?
Minggu, 11 April 2010 . in Rektor . 34159 views

Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Bagi manusia, kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. Ada yang hasratnya besar, sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja, sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu.

Lebih Lanjut »
Guruku Itu Entah di Mana
Sabtu, 10 April 2010 . in Rektor . 1233 views

Ketika   masih  di sekolah dasar, saya  punya guru yang sangat baik. Perilakunya santun, sayang  dengan murid-muridnya, pandai, sabar dan humoris, tetapi juga disiplin. Semua siswa di sekolah  itu menjadikan   beliau  sebagai guru  paling favorit. Kendati tempat tinggalnya jauh dari sekolah  tempat mengajar,  beliau tidak pernah terlambat dan justru datang paling awal dibanding guru-guru yang lain. Berpakaian rapi, rambut  mengkilap dan tersisir rapi, bajunya selalu dimasukkan ke celana dengan tas ransel di belakang sepeda pancalnya,  beliau tampak sebagai sosok guru  yang diidolakan.  Pakaian kesukaannya berwarna putih lengan panjang. Jika suatu kali beliau absen, para siswa pada bertanya di mana pak guru yang dicintai itu. Jangan-jangan sakit. Jika ada kelas kosong karena ada guru yang tidak masuk, beliau masuki kelas itu dengan memberinya tugas untuk dikerjakan siswa. Selain agar tidak gaduh dan dapat mengganggu kelas yang lain, pemberian tugas dimaksudkan agar tidak ada waktu yang berlalu sia-sia tanpa pelajaran. Beliau bisa membagi perhatian dengan mengajar di beberapa kelas pada saat yang sama. Kadang-kadang siswa diberi dongeng, atau ceritera rakyat yang lucu-lucu tetapi penuh hikmah, di saat yang lain siswa diberi tugas  untuk dikerjakan. Hebatnya, beliau menguasai banyak ilmu, mulai dari ilmu hitung (sekarang matematika), menyanyi (termasuk menyanyi Jawa), ilmu bumi, bahasa Indonesia, hingga bahasa Jawa. Jika siswa kelihatan ngantuk atau capek karena pelajaran berlangsung  di waktu siang,  beliau ajak muridnya untuk menyanyi. Lagu kesukaannya berjudul “Desaku”. Sampai  sekarang pun saya masih  hafal benar lagu itu yang menggambarkan suasana pedesaan yang asri, jauh dari hiruk pikuk modernisasi,  dan  tempat orangtua serta handai taulan tinggal. Selain memiliki kelebihan, beliau juga memiliki tanda yang khas. Kalau berbicara sering mengulang kata tertentu berkali-kali, yaitu kata “memang”.  saya tidak tahu mengapa beliau suka sekali kata itu. Tak mengherankan kawan-kawan saya dengan sembunyi-sembunyi sering memanggilnya “Pak Memang”. Anehnya, beliau tahu kalau para siswa dengan sembunyi-sembunyi memanggilnya “Pak Memang”. Tapi sama sekali tidak marah, dan malah tertawa. Suatu kali  ada gambar peta bumi di papan tulis, yang di dalamnya tentu ada peta Indonesia. Peta bumi itu belum dihapus oleh guru sebelumnya yang baru mengajar ilmu bumi. Beliau meminta para murid memerhatikan peta itu dan melarang menghapusnya. Ternyata Pak Guru itu menjelaskan lebih lanjut tentang peta bumi itu dengan sangat menarik. Beliau sangat menguasai semua bagian peta bumi berikut nama-nama negara, laut  dan samudera yang mengitarinya. Beliau tunjukkan posisi dan peta Indonesia yang terletak di garis katulistiwa. Para siswa diminta untuk memperhatikan posisi Indonesia di dalam peta bumi itu.  Beliau uraiakan Indonesia yang terdiri atas beribu-ribu pulau yang terbentang mulai Sabang sampai Merauke. “Indonesia adalah negeri nan Indah bagaikan zamrut di katulistiwa”, begitu ujarnya. Itulah pertama kali saya mengenal istilah zamrut. Rasa nasionalismenya luar biasa, terlihat dari kebanggaannya menjelaskan keindahan, kekayaan alam dan budayanya serta posisi strategis Indonesia di antara negara-negara lain di dunia. Tetapi beliau mengingatkan bahwa Indonesia yang terdiri atas gugusan pulau-pulau seperti ini rentan perpecahan dan konflik. Karena itu, tugas kita semua, apalagi para siswa sebagai calon penerus perjuangan bangsa, menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. Kita juga patut bersyukur kepada Allah dan berterimakasih yang tak terhingga kepada para pahlawan yang telah berjuang tanpa mengenal lelah dengan mengorbankan segalanya, termasuk jiwa dan raganya. “Karena itu, anak-anakku cintailah dan bangunlah negeri ini, tempat kita dan nenek moyang kita lahir dan hidup. Hormatilah semua warga bangsa ini, dari manapun mereka berasal, apapun suku, bahasa, adat istiadatnya, bahkan agamanya. Jangan lupa hormati guru dan orangtua”, begitu tandasnya.  “Cintailah desa kalian, sebab suatu saat anda semua akan meninggalkannya dan suatu saat pula akan merindukannya untuk kembali”, tambahnya. Guru saya itu memang hebat. Kendati hanya lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), wawasannya tidak kalah dengan lulusan Sarjana S1 saat ini. Penjelasan tentang peta dunia tadi sejatinya beliau ingin menegaskan betapa pentingya sikap nasionalisme sebagai bangsa Indonesia, yang ternyata saat ini merupakan persoalan serius. Apa yang beliau khawatirkan tentang rentannya negeri ini dari perpecahan dan konflik ternyata sekarang menjadi kenyataan. Keinginan beberapa daerah untuk memisahkan diri dari NKRI merupakan bukti. Terhadap gejala separatisme, pemerintah meresponnya dengan kebijakan otonomi daerah. Hal lain yang tidak dapat saya lupakan sampai sekarang adalah beliau selalu mengajak para siswa untuk selalu berdoa baik sebelum memulai maupun mengakhiri pelajaran. Padahal, beliau bukan guru agama. Jika sebelum pelajaran doanya adalah agar siswa diberi kemudahan menerima pelajaran pada hari itu, maka sebelum mengakhiri pelajaran beliau berdoa semoga ilmu yang diterima pada hari itu bermanfaat untuk mengisi kehidupan. Kendati doanya disampaikan dalam bahasa Indonesia, tetapi suasana khusuk dan hening dapat kami rasakan. Ini karena ketulusannya. Bukankah Allah menerima doa hamba-hambanya yang tulus walau dengan berbagai bahasa?. Suatu kali tepat di depan kelas beliau menepuk-nepuk bahu saya sambil berucap agar saya terus sekolah ke jenjang yang paling tinggi. Saya pun tidak menjawab apa-apa selain hanya senyum. Saya tidak tahu apa maksudnya dan mengapa beliau melakukan itu. Yang jelas harapannya telah saya laksanakan dan telah menjadi kenyataan. Sayang saya tidak tahu di mana beliau sekarang berada. Andai saja beliau telah berpulang, saya berdoa semoga semua amal ibadahnya diterima Allah dan kekhilafannya diampuni.  Tetapi, jika beliau masih hidup, akan saya cari dan jika ketemu akan saya cium tangannya yang dulu pernah menepuk-nepuk bahu saya.  Sampai sekarang saya masih bertanya “ Guruku entah di mana?”. _________ Malang, 9 April 2010

Lebih Lanjut »
RESEARCH DESIGN: QUANTITATIVE AND QUALITATIVE APPROACH
Jumat, 9 April 2010 . in Rektor . 2501 views

 

Lebih Lanjut »
Akhirnya MK Membatalkan UU BHP
Jumat, 9 April 2010 . in Rektor . 1566 views

Berita paling hangat di dunia pendidikan kita setelah pro kontra pelaksanaan UN adalah pembatalan Undang-Undang BHP (Badan Hukum Pendidikan) oleh Mahkamah Konstitusi pada 30 Maret 2010. Padahal, pemerintah Mendiknas di depan para Rektor PTN dan UIN se-Indonesia di Makassar beberapa waktu lalu mendesak agar PT yang saat ini sudah berstatus BHMN segera mengusulkan menjadi BHP. Yang sudah BLU segera mengusulkan menjadi BHMN, dan yang masih konvensional segera mengurus menjadi BLU. Himbauan lisan itu telah diikuti dengan himbauan tertulis secara resmi. Beberapa perguruan tinggi juga telah merespons himbauan Menteri dengan menyusun proposal. Dengan pembatalan tersebut tentu semua usulan mandek, alias tidak jadi diteruskan.

Lebih Lanjut »
Gayus dan Susno
Kamis, 8 April 2010 . in Rektor . 1721 views

Tiba-tiba nama Gayus Tambunan menjadi terkenal karena ditangkap petugas Kepolisian RI pada saat melarikan diri ke Singapura bersama anak dan istrinya. Di Singapura Gayus menginap di sebuah hotel mewah dengan sewa kamar jutaan rupiah per malam, yang tidak mungkin mampu dilakukan oleh seorang pegawai negeri sekelasnya. Sekarang Gayus sudah menjadi tersangka kasus mafia pajak yang merugikan negara miliaran rupiah. Merasa tak sendirian dalam aksinya, Gayus menyeret nama-nama pejabat tinggi di Mabespolri. Setidaknya sudah ada dua jenderal yang saat ini sedang diperiksa terkait dugaan mafia pajak. Yang satu sudah dicopot dari jabatannya sebagai Kapolda.

Lebih Lanjut »
Negeri Korup dan Tak Kredibel
Sabtu, 3 April 2010 . in Rektor . 965 views

Apa perasaan anda ketika melihat kasus Nenek Minah, perempuan uzur dan miskin, harus berhadapan dengan aparat keamanan dan hukum karena diketahui mencuri tiga buah kakao? Nenek itu akhirnya divonis satu setengah bulan kendati tidak harus tinggal di penjara karena dikurangi masa tahanan. Begitu juga ketika dua janda pahlawan, Nenek Soetari dan Nenek Roesmini, harus menghadapi ancaman hukuman dua tahun penjara karena jaksa mendakwa mereka menyerobot tanah orang lain dan menempati rumah negera milik Perum Pegadaian, sementara persoalannya masih dalam proses perdata. Tak ketinggalan kasus Pritasari yang berseteru dengan Rumah Sakit Internasional yang mengundang simpati masyarakat melalui urunan uang logam recehan sebagai bentuk perlawanan simbolik. Untuk ketiga kasus di atas aparat keamanan bertindak sigap sehingga dalam waktu sekejap mereka di hadapkan ke meja hijau.

Lebih Lanjut »
Ojo Dumeh
Sabtu, 3 April 2010 . in Rektor . 48083 views

Setiap masyarakat niscaya memiliki nilai-nilai luhur yang dijadikan pegangan tatanan hidup. Tatanan itu berlangsung turun temurun dan menjadi warisan sangat berharga bagi warganya. Jika dilanggar, masyarakat memberikan hukuman sosial kepada orang yang melanggar, setidaknya menjadi guneman orang banyak. Di masyarakat yang sudah modern seperti sekarang ini nilai-nilai luhur itu masih tetap ada, dan walau berubah biasanya tidak begitu banyak. Perubahan nilai berlangsung lambat, berbeda dengan perubahan fisik yang biasanya berlangsung cepat.

Lebih Lanjut »

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up