It is essential to study language by tracing back the phases when language was first studied. What is meant by language is always human language, as animals have no language, though they communicate to each other. As animal symbolicum, human beings have symbolized realities by using language. This brings to succeed to add human knowledge. Knowledge can add through language. Due to the importance of the essence of language, it is not only useful, but also important to study the periods when and by whom language is scientifically studied.
Seorang kawan yang sudah lama bermukim di luar negeri pulang kampung tempat kelahirannya untuk berkunjung ke orangtua dan sanak keluarganya yang masih hidup. Betapa kagetnya dia melihat desa kelahirannya dan tempat sanak kelurganya tinggal itu kini telah berubah total. Jalan-jalan beraspal halus, sepeda motor dan bahkan mobil banyak lalu lalang, rumah-rumah penduduk tidak ada lagi yang berdinding bambu (Jawa: gedhek), banyak toko di pinggir jalan, listrik ada di setiap rumah, beberapa rumah bahkan memasang pesawat telepon. Gedung Sekolah Dasar tempat dia belajar dulu juga telah berubah menjadi bangunan modern. Langgar kecil tempat kami mengaji dulu kini tekah diubah menjadi masjid yang cukup besar untuk ukuran desa. Yang lebih mengagetkan lagi adalah banyak anak-anak muda memegang hand phone. Dia masa dia anak-anak seusia itu dulu pekerjaannya merumput (Jawa: ngarit) untuk makanan ternak.
Selasa, 30 Maret 2010, saya mewakili Rektor menghadiri acara pembukaan Kongres Sepakbola Nasional 2010 di Gelanggang Olah Raga Ken Arok Malang. Pembukaan dilakukan oleh Presiden SBY, yang didahului oleh sambutan Ketua Panitia Kongres, Agum Gumelar, Gubernur Jawa Timur, H. Soekarwo, dan Menteri Pemuda dan Olah Raga, Andi Malarangeng. Acara cukup meriah karena selain dihadiri oleh pengurus teras PSSI, KONI, para Bupati dan Walikota, juga para supoter sepakbola dari seluruh Indonesia.
Pada 26 s.d 27 Maret 2010 saya berada di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mewakili Rektor untuk menghadiri pertemuan dengan Wakil Presiden Bank Pembangunan Islam (IDB) dari Jeddah, Saudi Arabia, bersama para pimpinan PTAIN yang lain. Selain para pimpinan PTAIN, hadir pula perwakilan kantor IDB di Kuala Lumpur, pejabat Bappenas, Kementerian Keuangan, dan para pejabat Kementerian Agama. Inti pertemuan adalah IDB meminta masukan atas pelaksanaan proyek di Indonesia, manfaat dan agenda ke depan.
Suatu hari saya berkunjung ke rumah teman. Ketika akan masuk, rumah terkesan sepi seperti tidak ada orang. Saya ketuk pintu. Tidak ada jawaban. Saya semakin yakin penghuni rumah sedang tidak ada di tempat. Saya bermaksud pulang dan akan berkunjung di lain hari. Tetapi beberapa saat kemudian kawan yang saya kunjungi itu membuka pintu dan mempersilakan saya masuk. Suasana terasa aneh, sebab di hari-hari lain biasanya rumah itu ramai dan penghuninya ceria. Tetapi kali itu sungguh berbeda. Dari body language tuan rumah terasa ada ketegangan. “Ada apa gerangan?” pikir saya.
Setelah itu kawan saya memulai pembicaraan. Benar. Dia baru saja gegeran dengan istrinya. Apa pasalnya? Anak lelakinya yang baru berumur 2 tahun terpeleset jatuh di kamar mandi dan bibirnya memar sampai berdarah. Dia marah kepada istrinya karena sang istri menyalahkan pembantunya karena kejadian itu. Pembantunya dianggap yang paling bersalah karena teledor hingga anaknya jatuh. Kawan saya itu tidak rela ketika kesalahan dilimpahkan ke pembantunya. Kata kawan saya itu sang istri memang sering memarahi pembantunya yang berasal dari sebuah desa itu. Gadis desa yang polos itu diam saja tatkala dimarahi, walau mungkin hatinya berontak. Tetapi karena itu hanya persoalan sepele dan urusan rumah tangga dia, saya tidak mau terlibat lebih dalam. Saya pun segera mengalihkan pembicaraan mengenai maksud kunjungan saya. .
Kendati saya telah berusaha mengalihkan pembicaraan dengan tema maksud kunjungan saya itu, sang kawan masih belum bisa melepaskan secara total peristiwa yang baru saja terjadi. Tampak sekali dia mendongkol dengan istrinya. Sampai akhir kunjungan saya, dia tidak memanggil istrinya untuk bersama-sama menemui saya. Padahal, saya juga kenal baik.
Peristiwa di atas mungkin juga pernah kita jumpai di tempat lain, atau malah di tempat kita sendiri. Tatkala dalam perjalanan meninggalkan keluarga itu saya berpikir mengapa pembantu sering menjadi sasaran kesalahan dan menjadi kambing hitam setiap terjadi ketidakberesan di sebuah rumah tangga. Misalnya, masakan tidak enak --- kurang garam atau terlalu banyak garam --- karena kesalahan pembantu. Cucian tidak kering karena pembantu. Hasil setrika baju tidak rapi juga karena pembantu. Anak tidak mau makan juga karena pembantu. Koran tidak datang pun pembantu terlibat kesalahan. Nasi habis dianggap pembantu kurang antisipatif. Kok sial sekali nasib pembantu !
Saya merenung siapa sesungguhnya pembantu itu. Bukankah dari sisi kemanusiaan dia adalah saudara kita? Siapa yang mau menjadi pembantu? Bukankah situasi sosial dan ekonomilah yang memaksa dia bekerja di bawah kendali majikan. Bukankah semua manusia terlahir bebas, tanpa direndahkan dan dikuasai oleh manusia lainnya? Bukankah kondisi dan aturan hidup yang membuat munculnya pekerjaan menjadi pembantu?
Saya yakin istri kawan saya tadi tidak mudah marah ke pembantunya andai saja dia sadar bahwa dalam hidup ini setiap orang tergantung pada orang lain. Coba bayangkan bagaimana rasanya bagi keluarga yang sudah terbiasa dengan kehadiran pembantu dan tiba-tiba pembantu itu pulang karena sesuatu hal. Lihat saja bagaimana warga ibukota yang terpaksa menginap di hotel-hotel pada saat hari raya Idul Fitri karena pembantunya pulang kampung. Seorang ibu rumah tangga ibukota pernah mengeluh bahwa biaya menginap di hotel selama satu minggu jauh lebih banyak daripada gaji yang dia keluarkan untuk dua orang pembantunya selama satu tahun.
Roda kehidupan justru tidak mungkin berputar jika semua orang memperoleh pembagian rezeki yang sama. Persoalan rezeki sangat tergantung pada banyak hal: ketrampilan, bakat, kesempatan, pengetahuan, kondisi kehidupan dan hubungannya dengan orang lain dan sebagainya. Dan, yang terakhir tentu sangat tergantung pada ketentuan sang Maha Pemberi Rezeki. Karena itu, perolehan rezeki dari satu orang ke orang lain tentu berbeda-beda. Perbedaan itu justru merupakan sesuatu yang penting untuk melaksanakan tugas manusia di muka bumi.
Coba kita bayangkan seandainya semua itu merupakan cetakan yang berulang-ulang, tentu kehidupan tidak akan berlangsung dan pekerjaan tidak akan memperoleh balasan yang setimpal dan tidak akan pula ditemukan orang yang akan melakukannya. Sebab, semua orang telah memperoleh pembagian rezeki yang sama. Allah telah menjadikan perbedaan dan kecukupan untuk melaksanakan peran yang dituntut dalam kehidupan. Karena itu, Allah menghendaki diantara manusia ada saling ketertundukan, tolong menolong, dan saling melayani untuk mengisi kehidupan. Semua ini bisa terjadi jika di antara manusia ada perbedaan-perbedaan status, peran, tugas, dan tanggung jawab.
Keadilan Allah justru ketika membagi rezeki bagi manusia secara berbeda-beda Kehadiran sang pembantu di keluarga kawan itu pun adalah sebuah bukti keadilan Allah yang mesti disambut syukur, bukan malah dimarahi ketika ada ketidakberesan. Di hadapan Yang Kuasa kita semua sama, yang membedakan adalah derajat keimanan dan ketakwaan kita masing-masing. Karena takwanya, siapa tahu justru pembantu itu lebih mulia di hadapan Yang Kuasa ketimbang sang majikan perempuan yang sering memarahinya.
Berita Kompas (19/3/2010) halaman 12 tentang rendahnya kemampuan guru menulis karya ilmiah tidak mengejutkan banyak orang karena bukan hal baru. Berita sejenis sebelumnya pernah dimuat oleh beberapa media. Sebenarnya, lemahnya tradisi menulis ilmiah tidak saja terjadi di kalangan guru, tetapi juga dosen. Penyebabnya macam-macam. Tetapi umumnya antara lain karena lemahnya kesadaran pentingnya menulis, tidak tahu manfaat menulis, keterbatasan mengakses informasi sehingga tidak tahu apa yang harus ditulis, lemahya penguasaan metode ilmiah, kurangnya dorongan pimpinan sekolah kepada para guru untuk menulis. Khusus untuk dosen, penyebab yang lain adalah karena menulis dianggap membuang waktu dan tidak menguntungkan secara material. Sebab, daripada waktu untuk menulis lebih baik dipakai untuk mengajar yang bisa memperoleh keuntungan material secara langsung.
Ada hal menarik di dalam pesawat Garuda yang saya tumpangi beberapa menit menjelang mendarat di bandara Internasional Juanda di Surabaya beberapa hari lalu dalam perjalanan pulang dari Jakarta. Seperti biasanya, ketika akan mendarat pilot mengumumkan bahwa pesawat segera mendarat yang didahului dengan mengenalkan namanya. Setelah itu, pilot menyampaikan jam atau waktu setempat serta tidak ada perbedaan waktu antara Surabaya dan Jakarta. Para penumpang diminta tetap duduk tenang, mengencangkan sabuk pengaman, dan tidak menghidupkan telepon genggam sampai pesawat benar-benar berhenti dengan tenang. Kepada penumpang transit diminta keluar dari pesawat untuk melapor ke petugas. Setelah itu, pengumuman dengan isi yang sama disampaikan dalam bahasa Inggris yang sangat bagus dan komunikatif. (Di pesawat yang lain sering kali pengumuman tidak jelas, karena seperti dibaca sehingga tidak komunikatif).
Pada 23 s.d 25 Maret 2010, Makassar akan menarik perhatian masyarakat, khususnya warga nahdliyin. Seperti biasanya, pengamat dari luar negeri dan ilmuwan-ilmuwan politik dari berbagai negara pun juga hadir. Pasalnya, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-32. Muktamar merupakan ajang pertemuan tertinggi warga nahdliyin untuk memilih Ketua Umum (eksekutif) dan Rais Am Syuriah (pemimpin tertinggi majelis syura). Kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi yang mengendalikan NU sejak 1999 lewat Muktamar di Lirboyo Kediri akan segera berakhir. Kendati anggaran dasar tidak membatasi periode kepemimpinan Ketua Umum, KH Hasyim Muzadi menyatakan tidak bersedia dipilih kembali.