Selasa, 29 September 2020 . in Berita . 2728 views
GEMA-Fakultas Ekonomi (FE) tetap memperluas kerjasama meski di masa pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease). Kali ini mereka menggandeng PT. NUTRIFOOD Indonesia, perusahaan yang memproduksi minuman kesehatan. Produk-produk mereka yang sangat dikenal masyarakat Indonesia di antaranya Nutrisari, HiLo, dan Tropicana Slim. Naskah kerjasama ditandatangani oleh Dekan FE Dr. Nur Asnawi dan perwakilan perusahaan yaitu Vito Dwiki Jhalu Adjie (Customer Development Associate Area Jawa Timur) dan dilakukan langsung di kantor PT. NUTRIFOOD Indonesia, Jakarta, Rabu (23/9). Vito menuturkan, dalam naskah kerjasama tersebut tertulis harapan dari kedua belah pihak untuk segera direalisasikan demi kebaikan bersama. Karena masa pandemi, maka beberapa kegiatan yang direncanakan akan berjalan daring, baik itu melalui aplikasi Zoom, Google Meet, dan lainnya. “Dan kami juga berharap kerjasama dengan UIN Malang ini berkelanjutan di masa mendatang,” tambah Vito. Dekan FE, Dr. Nur Asnawi optimis bahwa kerjasama yang digagas ini akan meningkatkan reputasi kelembagaan fakultasnya. Dengan menambah kerjasama dengan perusahaan terkemuka, akan ada hal yang menguntungkan kedua pihak. “Kerjasama ini juga akan menjadi spirit sivitas akademik Fakultas Ekonomi untuk menjadi yang terdepan,” paparnya. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama FE Prof. Dr. Achmad Sani juga menyambut baik program kerjasama ini. Usaha ini ialah salah satu realisasi networking dengan dunia usaha terkemuka di Indonesia. Akan ada banyak program dari PT. NUTRIFOOD Indonesia, Jakarta yang bisa diikuti sivitas akademik FE, seperti Nutrifood Leadership, Nutrifood Award, Nutrifood Research, dan Nutrifood Health. Selain itu, perusahaan tersebut juga membuka kesempatan bagi mahasiswa FE untuk magang, mengikuti seminar dan konferensi di PT. NUTRIFOOD Indonesia. “Semua program ini akan berimbas baik untuk meningkatkan reputasi FE,” jelas Prof. Sani. (*/nd)
GEMA-Ditetapkannya pesantren sebagai cluster baru penyebaran Covid-19 (Corona Virus Disease) di Indonesia tentu menjadi concern bagi pemerintah. Melalui webinar yang diselenggarakan Halal and Thoyyib Center (HTC) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Ditjen Pendis Kemenag, Suwendi menegaskan bahwa pesantren harus memiliki edukasi yang memadai untuk menanggulangi Covid-19, Rabu (23/9). Edukasi yang bisa diberikan ialah bagaimana masyrakat harus mengubah gaya hidup selama masa pandemi. Hingga saat ini, masih banyak orang yang tidak sepenuhnya menyadari pentingnya untuk tetap selalu higienis. Seperti menggunakan masker dengan benar dan membawa hand sanitizer. “Kita tidak sadar, segala hal yang kita pegang itu bisa saja jadi perantara banyak penyakit, termasuk Covid,” tutur Suwendi. Membawa hand sanitizer, menurutnya, sangat diperlukan karena kita tidak selalu punya akses untuk mencuci tangan dengan air. Suwendi mengapresiasi HTC UIN Malang dengan mengadakan webinar yang memberikan edukasi terutama kepada mereka yang mengelola pesantren. Tak hanya itu, salah satu materi yang diberikan juga menurutnya sangat bermanfaat, yakni membuat hand sanitizer dengan bahan-bahan yang sudah ada di sekitar kita. “Ilmu mahal seperti ini kita apresiasi karena HTC UIN Malang bersedia membagikannya dengan gratis untuk kepentingan kita semua,” ujarnya. (nd)
GEMA-Setelah mengisi workshop khusus bagi calon guru besar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Irwan Abdullah mengisi seminar yang diprakarsai Pusat Studi Sosial Budaya di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Selasa (22/9). Seminar terbatas tersebut fokus pada kearifan sosial budaya Indonesia sebagai topik penelitian. Peserta seminar yang bertempat di Aula Gedung Rektorat lt. 5 itu ialah para dosen UIN Malang dari berbagai program studi. Prof. Irwan menuturkan tidak sulit menemukan objek penelitian di Bidang Sosial Budaya selama calon peneliti peka. Pasalnya, banyak yang merasa, tidak ada kearifan lokal yang bisa dijadikan objek penelitian. Ada beberapa kearifan lokal di sekitar kita yang bisa dijadikan topik penelitian. Etika dan hukum yang berlaku di suatu komunitas, menurut Prof. Irwan, sangat menarik untuk dibahas. Karena walau di area yang sama, bisa jadi ada beberapa macam komunitas yang juga berimbas pada perbedaan hukum. Calon peneliti juga bisa menggali informasi dari kelembagaan sosial atau adat di suatu wilayah. Tak hanya itu, falsafah hidup yang dipegang komunitas tertentu juga dapat dijadikan topik riset. “Selain itu, ada juga sumber-sumber tertulis seperti kitab yang dijadikan pedoman. Jangan biarkan kitabnya sampai rusak tanpa diteliti,” papar profesor asal Aceh ini. Dengan menjadikannya sebagai topik penelitian, kearifan lokal di suatu daerah akan tetap terjaga. Karena, ada dokumentasi tertulis yang membahas kebudayaan tersebut sehingga dapat dipelajari oleh generasi selanjutnya. Seminar yang dibatasi untuk 100 peserta ini merupakan salah satu rangkaian Dies Maulidiyah UIN Malang yang ke-59. Tahun ini, pihak kampus mengusung tema Revolusi UIN Maliki Malang Menuju Smart Islamic University. (nd)
GEMA-Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) memulai pembekalan para calon profesor di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (21/9). Sebanyak 20 dosen bergelar doktor masuk dalam gelombang pertama Bimtek Penulisan Artikel Jurnal Bereputasi Internasional. Sebelum dikirim ke Yogyakarta untuk dilatih lebih intensif lagi, mereka mendapatkan materi awal di kampus. Guru besar dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. Dr. Irwan Abdullah pun didatangkan. Selama seminggu nantinya di Yogyakarta, Prof. Irwan menegaskan, seluruh calon profesor harus siap menyusun dua artikel ilmiah sekaligus. Pada prosesnya, mereka harus menghasilkan setidaknya satu artikel yang siap dikirimkan ke jurnal Scopus. “Tidak boleh pulang kalau artikelnya belum selesai,” tegas Guru Besar Bidang Ilmu Antropologi tersebut. Menurutnya, menulis adalah proses sistematis. Ia tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru atau instan. Ada beberapa proses yang harus dilalui sebelum sebuah artikel itu dikatakan jadi. Bahkan ditolak oleh redaktur jurnal pun adalah proses. “Tidak boleh malu kalau artikelnya ditolak, apalagi putus asa dan berhenti menulis,” pesannya. Ia mengungkapkan, ada satu hal krusial yang membuat sebuah artikel ditolak oleh jurnal terindeks Scopus. Yakni, tidak adanya transparansi data. “Data sendiri setidaknya ada tiga, tergantung mana yang kita tulis di metode penelitian,”ujar Prof. Irwan. Ia memaparkan lebih lanjut tentang tiga data itu. Pertama, penulis lupa menuliskan hasil wawancara dalam kutipan di bodi artikel. Kedua, hasil observasi langsung tidak dimasukkan, entah itu berupa foto atau narasi. Terakhir, apa yang dibaca dalam sumber rujukan tidak dikutip dalam artikel kita. “Kalau hal-hal ini tidak ditulis, artikel akan dikira hasil karangan,” jelasnya. (nd)
REKTOR UIN Malang membuka Bimtek yang dikhususkan bagi calon guru besar.
GEMA-Rangkaian Bimbingan Teknis Penulisan Artikel Jurnal Bereputasi Internasional yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Malang dimulai. Sebagai permulaan, Prof. Dr. Irwan Abdullah dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mempersiapkan calon guru besar untuk mulai merumuskan topik yang akan dibahas dalam artikel ilmiah, Senin (21/9). Workshop yang bertempat di Ruang Meeting Gedung Rektorat lt.3 dilaksanakan hingga sore hari. Prof. Irwan mengatakan, untuk memulai menulis memang membutuhkan usaha yang sangat luar biasa. Pasalnya, tidak gampang menata niat apalagi merealisasikannya. Namun, bukan berarti kita tetap santai dan akhirnya tidak menghasilkan karya ilmiah. Untuk mulai menghapus rasa malas, Prof. Irwan menyarankan agar ada hal yang harus dibiasakan, yakni menulis beberapa paragraf. “Kalau saya ajarkan ke mahasiswa, setiap pagi tulis satu paragraf. Itu sudah dapat sekitar 150 kata,” tuturnya. Jika dibiasakan, maka dalam sebulan, ada sekitar 4.000 kata yang akan terkumpul. “4.000-an kata itu sudah jumlah ideal bagi sebuah artikel ilmiah di jurnal terindeks Scopus,” lanjutnya. Jika, masih kata Prof. Irwan, dalam sebulan seorang dosen bisa menghasilkan satu artikel, maka dalam setahun total 10 artikel. “Kalau ada banyak artikel begini kan kita tidak bingung misal satu atau dua artikel ditolak oleh redaktur jurnal,” ujar Guru Besar Ilmu Antropologi. (nd)
GEMA-Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. menegaskan bahwa rencana strategis yang telah dirumuskan dalam RIP (Rencana Induk Pengembangan) harus diketahui seluruh pimpinan. Hal ini ia tuturkan pasca presentasi oleh Koordinator Tim Perumus RIP di Ruang Rektor, Rabu (16/9). Dalam membuat renstra di tingkat fakultas dan juga prodi, ia tidak ingin ada yang melenceng dari RIP yang nantinya akan disahkan bersama anggota senat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Rektor melanjutkan, meski telah dirumuskan, tim harus memberi celah beberapa persen untuk perubahan. “Walau sudah ada rujukan, bisa jadi nanti ada hal-hal yang tidak bisa kita prediksi,” lanjutnya. Ini perlu diantisipasi sejak awal karena segala sesuatu akan mengalami perkembangan. Karena itu, review berkala pasti akan dilakukan. “Perubahan di pertengahan bukan berarti rumusan kita jelek, tapi itu proses penyempurnaan,” lugas Prof. Haris. Ketua Senat UIN Malang Prof. Dr. A. Muhtadi Ridwan, M.Ag. menambahkan, RIP ini nantinya juga akan dipaparkan dalam forum senat. Ia berharap akan ada masukan positif dari anggota senat demi kebaikan kampus. “Tidak boleh ada yang tidak tahu mengenai dokumen ini,” tegasnya. (nd)
GEMA-Bertempat di Ruang Rektor Gedung Rektorat lt. 1, rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengesahkan Tim Perumus RIP (Rencana Induk Pengembangan) Periode 2021-2045, Rabu (16/9). Penandatanganan tersebut disaksikan oleh petinggi kampus hingga dekan di semua fakultas. Sebelumnya, Koordinator Tim Perumus RIP Slamet Ph.D. mempresentasikan rumusan rencana strategis fase 1 (tahun 2021-2025). Ia menuturkan, timnya telah merencanakan secara matang apa saja yang harus dilakukan setiap tahunnya. Output yang diharapkan di setiap tahun pun ditarget sejak awal baik itu dalam bentuk kegiatan maupun dokumen. Setiap tahun, akan ada evaluasi bersama para pimpinan. “Syukur-syukur kalau kita bisa mencapai target fase satu di pertengahan,” harapnya. Untuk itu, segala data harus dikumpulkan untuk keperluan evaluasi. “Jika tidak ada yang bisa dievaluasi, berarti ada data yang kurang,” papar Slamet. (nd)
GEMA-Saat masih mahasiswa, Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. punya kenangan tersendiri dengan almarhum Prof. Dr. (H.C.) Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc. Sebagai dosennya, ia tidak pernah memperlakukan mahasiswa seenaknya. Walau lebih senior, Prof. Malik mengajak bicara mahasiswanya dengan penuh santun. “Biasanya kan dosen kalau ngomong sama mahasiswa pakai ngoko (Bahasa Jawa informal, Red.) ya. Beliau tidak, bahasanya tetap santun,” kisah Prof. Haris. Meski berada di ormas (organisasi kemasyarakatan) yang berbeda, Prof. Malik tidak pernah bersikap bias terhadap mahasiswa yang bergabung di organisasi lain. Ia selalu menekankan kepada mahasiswanya agar tidak terperangkap dalam ormas masing-masing. “Jadikan ormas untuk mencapai tujuan bersama. Itu yang selalu saya ingat dari nasihat beliau,” kenang rektor. (nd)
GEMA-Pasca kegiatan Khotmil Quran yang rutin dilaksanakan Hari Jumat, rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengajak seluruh sivitas akademik untuk mendoakan Prof. Dr. (H.C.) Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc. yang baru saja berpulang. Setelahnya, rektor secara khusus menyematkan nama almarhum di Gedung Asrama Pendidikan, Jumat (11/9). Selain itu, Gedung Halaqoh Ma’had al Jami’ah juga diberikan nama KH. Drs. Achmad Masduqi Machfudz. Keduanya merupakan tokoh berpengaruh dan berjasa yang termasuk sebagai pendiri kampus. Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag., Rektor UIN Malang menegaskan bahwa pemberian nama gedung-gedung di kampus bukan tanpa makna. Ia menyatakan, menuliskan nama-nama para tokoh pendiri UIN Malang adalah bentuk apresiasi. “Agar kita ingat, ada nama-nama beliau yang berjasa membangun UIN Malang sejak awal,” jelasnya. Nama para tokoh diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa yang masih belajar agar bisa berkiprah seperti pendiri kampus. (nd)