Daftar Penulis: Iffatunnida


DIKTIS HARAP UIN MALANG SEGERA JADI PTNBH
Selasa, 21 Juli 2020 . in Berita . 692 views
2854_webinar-putut-2.jpg

GEMA-Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS) Kemenag RI Prof. M. Arskal Salim, GP., MA., Ph.D. memotivasi dan mendukung UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), Selasa (21/7). Ia menambahkan, karena adanya konsep Kampus Merdeka, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan relaksasi dalam hal persyaratan transformasi pendidikan tinggi dari status Badan Layanan Umum menuju PTNBH. “Semoga pak rektor (UIN Malang, Red.) dan jajarannya sudah menyiapkan proposal dan rancangan agar UIN Malang menjadi salah satu kampus di bawah Kemenag yang berstatus PTNBH,” tuturnya. (ptt/nd)

Lebih Lanjut »
MERDEKA BELAJAR: BIARKAN MAHASISWA PILIH MINATNYA
Selasa, 21 Juli 2020 . in Berita . 1203 views
2851_arjun.jpg

GEMA-Menanggapi konsep Merdeka Belajar-Kampus Merdeka yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Nadiem Makarim, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membahasnya dalam episode webinar pendidikan terbaru, Selasa (21/7). Untuk menjelaskan konsep tersebut Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud RI, Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D. pun diutus menjadi pembicara.
Sistem pembelajaran di beberapa semester awal, jelas Aris, tidak akan jauh berbeda. Dari semester 1 hingga 5, mahasiswa harus mengikuti mata kuliah sesuai jurusan yang dipilih. “Di lima semester ini, CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan, Red.) mahasiswa di jurusannya harus tercapai,” imbuhnya.
Setelah itu, di semester berikutnya, mahasiswa boleh memprogram mata kuliah lintas jurusan. “Mereka bebas menambah pengetahuan lain yang diinginkan di jurusan manapun,” terang Aris. Hal ini dicanangkan agar mahasiswa tak hanya menguasai satu bidang saja, namun multidisiplin.
Pasca merampungkan jumlah SKS tertentu, mahasiswa tetap harus memprogram praktik kerja lapangan atau magang. Di sini pun, konsep Kampus Merdeka memiliki gebrakan baru. Mahasiswa tidak harus praktik di perusahaan layaknya karyawan, namun mereka juga bisa merencanakan praktik independen. “Bisa saja dalam bentuk proyek kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggalnya atau proyek kemanusiaan,” jelas Aris. (nd)

Lebih Lanjut »
NAMA SEMBILAN PIMPINAN DIABADIKAN DI KAMPUS SATU
Jumat, 17 Juli 2020 . in Berita . 2551 views
2850_peresmian.jpg

GEMA-Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. secara simbolis meresmikan nama-nama gedung di lingkungan Kampus 1. Tercatat ada sembilan nama mantan pimpinan yang diabadikan. Mulai dari pimpinan ketika kampus masih berstatus IAIN hingga beralih menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (17/7). Peresmian dilakukan pasca pelaksanaan acara rutinan Khotmil Quran dan Istighosah di Ruang Kuliah Bersama (RKB Gedung D).
Sembilan gedung yang resmi memiliki nama ialah Gedung D diberi nama Prof. Dr. H. Moh. Koesnoe, S.H., Gedung Fakultas Humaniora diberi nama Gedung KH. Oesman Mansoer, Gedung Micro Teaching FITK diberi nama Drs. KH. Maksoem Oemar, Gedung Kuliah A menjadi Gedung Drs. KH. Abd. Mudjib, Gedung Kuliah B menjadi Gedung Drs. H. Moh. Anwar, Sc., Gedung Poliklinik UMMI menjadi Gedung Prof. Dr. Hj. Zuhairini, Gedung Pusat Informasi menjadi gedung Dra. M. Djumransjah Indar, M. Ed. Gedung C Pusat Pengembangan Bahasa menjadi Gedung Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si., dan Bangunan Menara setinggi 60 meter diberi nama Prof. Dr. H. Imam Suprayogo.
Prof. Haris mengungkapkan, inisiasi pengabadian nama-nama tersebut ialah sebagai penghormatan tertinggi atas jasa pimpinan terdahulu. Kesembilan nahkoda kampus tersebut telah mengabdikan diri untuk mengembangkan kampus berlogo Ulul Albab ini. "Semoga pemberian nama ini memberi semangat tersendiri bagi sivitas akademik UIN Malang,” harapnya.
Nampak hadir Prof. Dr. Imam Suprayogo dan Prof. Dr. Mudjia Rahardjo dalam acara tersebut. Sedangkan perwakilan keluarga almarhum dan almarhumah pimpinan lain juga turut hadir. Peresmian nama gedung ditandai dengan penandatangananan prasasti yang telah disiapkan. (aj/nd)

Lebih Lanjut »
WAKTUNYA PEREMPUAN JADI PEACEMAKER
Kamis, 16 Juli 2020 . in Berita . 617 views
2843_umi.jpg

GEMA-Melalui webinar yang dihelat Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag. membahas keterlibatan perempuan dalam gerakan radikalisme, Kamis (16/7). Makin banyaknya jumlah perempuan dalam gerakan yang sering dikaitkan dengan kaum laki-laki itu, tentu menjadi PR bagi pemerhati kaum perempuan khususnya di Indonesia. Dalam paparannya, Prof. Umi menyatakan bahwa perempuan bisa menginisiasi diri sebagai agen perdamaian atau Peacemaker.
Mengapa harus perempuan? Nalurinya yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kelembutan dan rasa keibuan memungkinkan perempuan untuk menjadi agent of change. Menurut Prof. Umi, gerakan perdamaian dapat dilakukan dengan memperkuat pemahaman anti radikalisme dimulai dari keluarga kecil hingga lingkungan sekitar. Perempuan juga bisa mengkader banyak perempuan lainnya untuk menjadi daiyat yang fokus menyebarkan paham perdamaian. “Dengan begitu, seluruh elemen masyarakat dapat membangun kehidupan yang harmonis,” ujarnya.
Ia juga membahas faktor-faktor yang membuat perempuan tertarik masuk ke dalam gerakan radikalisme. Menurutnya, faktor religiusitas menjadi yang utama. Tak dapat dipungkiri jika perbedaan dalam memahami ajaran agama membuat sebagian orang membenarkan perbuatan-perbuatan radikal. “Mereka menganggap perbuatan tersebut merupakan simbol kemurnian agama,” imbuh Guru Besar Studi Islam itu.
Webinar bertema “Peta Intelektualisme Islam Pasca Orde Baru – Era Industri 4.0” ini digagas Pusat Studi Islam dan Masyarakat, Prodi Magister Studi Ilmu Agama Islam UIN Malang. Selain Prof. Umi Sumbulah, ada juga beberapa pembicara lain. Mereka ialah Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. (Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Malang), Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. (Rektor UIN Malang), dan Prof. Dr. M. Zainuddin, MA. (Wakil Rektor 1 UIN Malang). Selain dapat disaksikan melalui ruang virtual aplikasi Zoom, webinar ini juga bisa disaksikan melalui siaran langsung di saluran @PASCA UINMLG milik Pascasarjana UIN Malang. (nd)

Lebih Lanjut »
SMART CAMPUS: AKSES DATA 24 JAM NON-STOP
Rabu, 15 Juli 2020 . in Berita . 1987 views
2842_alfi.jpg

GEMA-UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan webinar bertema “Pengembangan dan Implementasi SMART Islamic Kampus: Peluang dan Tantangan”, Rabu (15/7). Selain pembicara dari dalam kampus, dua narasumber utama diundang dari luar kampus. Mereka ialah Alfi Asman (Direktur Bisnis, Lintasarta) dan Muhammad Anshari, Ph.D. (Senior Assistant Professor dari School of Business & Economics, Universiti Brunei Darussalam). Saat menjelaskan komponen infrastruktur yang harus diperbaiki agar menjadi Smart Campus, Alfi menekankan pentingnya pusat data (Data Center). Menurutnya, harus ada kesiapan dalam database agar semua sivitas akademik dapat mengakses seluruh data yang diperlukan. “Data harus tersedia selama 24 jam. Non-stop!” tegas pria kelahiran Yogyakarta ini.
Untuk merealisasikannya, Alfi menuturkan harus ada personel yang disiapkan untuk mengatur data center. Seluruh individu yang bertanggung jawab harus memiliki bekal yang memadai untuk menangani dan menjaga data. Dengan begitu, data yang tersimpan akan reliable karena jauh dari kesalahan.
Selain data center, infrastruktur lain yang harus diperhatikan saat merintis Smart Campus ialah WiFi (Wireless Fidelity). Tentu akses ke dalam data kampus tidak akan bisa tanpa koneksi internet. Karenanya, harus dipastikan jika seluruh individu memiliki sambungan internet yang memadai menggunakan operator seluler. “Bisa juga memanfaatkan sinyal wifi yang tersebar di wilayah kampus,” tuturnya.
Terakhir, Intranet Access juga menjadi hal yang harus dipikirkan. Pihak kampus juga harus memastikan bahwa data kampus dapat diakses sivitas akademik dimana pun mereka berada. Karenanya VPN harus disiapkan agar sistem siap diakses kapan saja. (nd)

Lebih Lanjut »
ADA PEKERJAAN YANG AKAN HILANG BEBERAPA TAHUN LAGI
Rabu, 15 Juli 2020 . in Berita . 1503 views
2841_ansh.jpg

GEMA-Mengikuti tren zaman, banyak hal yang dipermudah dan bahkan tergantikan oleh penggunaan teknologi. Dalam sesinya, Muhammad Anshari, Ph.D. (Senior Assistant Professor dari School of Business & Economics, Universiti Brunei Darussalam) mengajak peserta webinar untuk mulai mengantisipasi perubahan dengan melek teknologi, Rabu (15/7). Pasalnya, beberapa tahun ke depan akan ada beberapa pekerjaan yang tidak lagi dibutuhkan. Sebut saja kasir, pencuci piring, buruh, dan customer support.
Pernyataan ini ia keluarkan mengingat era Revolusi Industri 4.0 yang semakin menggeliat. Hal tersebut ditandai dengan makin familiarnya setiap individu dengan penggunaan gawai dan pemanfaatan aplikasi-aplikasi yang mempermudah aktivitas. “Di siklus ini pekerjaan jenis human-to-machine interaction akan lebih dibutuhkan,” tuturnya. Jenis profesi ini tidak dilakukan dengan manual. Segalanya tergantung kebutuhan yang dipenuhi dengan cara memanfaatkan teknologi. Beberapa pekerjaan yang termasuk dalam tipe ini ialah data scientist, application developer, cyber security, AI specialist, content creator, dan lainnya.
Menyikapi hal ini, lanjut Anshari, maka kampus perlu mendesain ulang kurikulum belajarnya. Tujuannya tentu agar lulusan yang dihasilkan nantinya lebih bersaing di era teknologi mutakhir dan modern. Istilah yang dipakai untuk perubahan kurikulum ini ialah Smart Campus. Dalam merubah imej kampus ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan. “Pada dasarnya, smart campus membutuhkan smart people, smart technology, dan smart process,” jelas pria asal Indonesia ini.
Untuk merealisasikannya, maka kampus perlu membangun ekosistem digital. Tak hanya sekadar berkutat dan familiar dengan penggunaan teknologi, dalam ekosistem ini, kampus bertugas merubah ilmu yang dipelajari menjadi suatu inovasi. “Karenanya kita butuh smart people dalam perubahan ini. Smart people didefinisikan sebagai mereka yang berpengetahuan dan inovatif,” ujarnya.
Namun, karena UIN Malang adalah kampus yang berbasis Islam, maka ada tambahan lagi untuk definisi smart people, yakni wisdom (kebijaksanaan). Walaupun era teknologi mutakhir, kualitas karakter tiap individu tetap diutamakan. Di sinilah peran universitas berbasis Islam untuk menjadi factory of wisdom. Lulusan-lulusan kampus Islam, selain dipersiapkan menjadi individu yang bersaing juga harus memiliki kepribadian yang mulia. (nd)

Lebih Lanjut »
DUA PRODUK UIN MALANG MASUK KATEGORI INOVASI TERBAIK
Selasa, 14 Juli 2020 . in Berita . 1111 views
2837_siperf.jpg

GEMA-Kementerian Agama mengumumkan 12 produk yang masuk dalam kategori inovasi pelayanan publik terbaik pada institusi naungannya, Rabu (8/7). Di antara yang tersebut, dua inovasi milik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang termasuk dalam kategori itu. Keduanya ialah SiPERFORMA (Sistem Pelaporan, Informasi, dan Realisasi Anggaran) dan Koin Mami Kelor. Wakil Rektor Bidang AUPK Dr. Ilfi Nurdiana, M.Si. mengapresiasi kedua produk asli kampus yang mendapat sorotan tersebut. Ia pun menyatakan akan terus mendorong sivitas akademik UIN Malang agar terus berinovasi dan menguatkan layanan terutama yang berhubungan dengan masyarakat.
SiPERFORMA merupakan produk yang dibangun oleh Unit PTIPD (Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data). Ia merupakan aplikasi berbasis website untuk mempermudah pengelolaan anggaran. Dengan situs tersebut, masing-masing bagian di kampus dapat melaksanakan perencanaan, realisasi, hingga evaluasi anggaran secara kolaboratif di jalur daring. “Dengan begitu akan meminimalisir human error,” jelas Mukhlis Fuadi, Ketua PTIPD.
Ia melanjutkan, kelebihan utama SiPERFORMA ialah memiliki algoritma khusus yang dapat memproses ribuan baris data keuangan dengan cepat. “Hal ini tidak dapat dilakukan oleh aplikasi Spreadsheet Excel yang selama ini digunakan oleh sebagian besar pengelola keuangan di lembaga pemerintahan,” imbuh Mukhlis. Untuk kemudahan, PTIPD merancang agar SiPERFORMA dapat diakses melalui PC ataupun smartphone.
Mukhlis kembali menjelaskan bahwa aplikasi ini juga menyajikan informasi personal para dosen dan karyawan. Seperti, informasi gaji, remunerasi, dan lainnya. SiPERFORMA juga memberi notifikasi update melalui aplikasi berbagi pesan Telegram ke akun masing-masing individu. “Dengan begitu, segala pengelolaan keuangan bisa lebih mudah dan efektif,” tuturnya.

2836_prods.jpg


Inovasi kedua yang juga mendapat apresiasi Kemenag ialah Koin Mami Kelor. Salah satu pelopor, Eny Yulianti menjelaskan produk minuman herbal tersebut mulai dirintis sejak 2016. Ia beserta tiga rekannya merasa prihatin akan kondisi kesehatan masyarakat yang kian menurun. Sesuai dengan namanya, produk ini memanfaatkan daun kelor yang dapat ditemukan dimana saja. Karena kemudahannya, maka produk ini pun terbilang murah, sederhana, namun kaya manfaat.
Eny pun mengaku senang karena produk yang ia gagas beserta timnya diapresiasi Kemenag. Ia pun menaruh harapan agar produknya dapat dimanfaatkan dan juga menjadi gerakan masif di masyarakat luas. “Dengan begitu semoga ini menjadi jariyah kami,” tambahnya. Melalui produknya, ia ingin menunjukkan bahwa alam sekitar tidak bisa dipandang sepele. Meski sederhana, manfaatnya sangat besar dan aman dikonsumsi untuk jangka panjang. (ptt/nd)

Lebih Lanjut »
CPL PRODI HARUS SELARAS DENGAN KKNI
Senin, 13 Juli 2020 . in Berita . 1002 views
2835_pepen.jpg

GEMA-Dalam webinar bersama Direktur DIKTIS yang digagas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Pepen Arifin, Ph.D., pakar yang berperan penting dalam proses akreditasi di Institut Teknologi Bandung menjelaskan hal apa saja yang perlu disiapkan dalam proses akreditasi internasional oleh lembaga ASIIN, Jerman, Senin (13/7). Salah satu yang diperhatikan oleh ASIIN ialah Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) prodi atau kualitas output yang dihasilkan.
Untuk mengukur sejauh mana kualitas CPL di prodi suatu universitas tentu harus merujuk pada kurikulum yang digunakan dan yang berlaku. Karena perguruan tinggi di Indonesia menggunakan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level 6, maka CPL yang dirancang harus selaras. “Jangan sampai CPL yang kita rancang lebih rendah dari KKNI karena itu berarti kualitas lulusan kita jauh dari standar,” jelas dosen Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, ITB ini.
Menanggapi pemilihan ASIIN sebagai lembaga akreditasi yang dipilih oleh DIKTIS Kementerian Agama, Pepen pun membagi pengalamannya. Hal ini ia sampaikan karena ia sudah sekitar 10 tahun menjadi bagian dari Unit Penjaminan Mutu ITB dan mengawasi proses akreditasi beberapa prodi yang menggunakan jasa lembaga ASIIN.
Ia menuturkan, ASIIN (Akkreditierungsagentur fur Studiengange der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik) adalah suatu lembaga akreditasi atau sertifikasi kredibel dari Jerman. Lembaga yang didirikan pada 1999 ini sudah berpengalaman dalam mengakreditasi lembaga maupun universitas yang selaras dengan keilmuan yang dituju di Jerman sendiri juga di beberapa negara terkemuka. ASIIN hanya berkutat dalam sertifikasi di beberapa bidang, yakni Ilmu Teknik, Ilmu Komputer, Ilmu Alam, Matematika, dan Keilmuan Interdisipliner yang masih sesuai dengan bidang yang tersebut. Akreditas yang dikeluarkan ASIIN berlaku lima tahun layaknya lembaga akreditasi lainnya.
Bagaimana biayanya? Pepen menyatakan, proses akreditasi ASIIN untuk satu prodi dapat menghabiskan 350 hingga 400 juta rupiah. Ini adalah hitungan kasar biaya pendaftaran akreditasi termasuk akomodasi saat mendatangkan asesor dari Jerman. Dalam sekali perjalanan asesmen, ASIIN akan mengirimkan empat orang asesor sekaligus. “Biaya pesawat dari Jerman ke Indonesia untuk sekelompok asesor saja sudah sekitar 80 juta, tidak termasuk penginapan dan lainnya,” jelas salah satu asesor AUN-QA ini.
Jika dibandingkan dengan biaya pendaftaran akreditasi BAN-PT dan AUN-QA, ASIIN terbilang mahal. Namun, Pepen melanjutkan, mahal atau tidaknya itu relatif. “Biaya yang kita keluarkan untuk melengkapi dan memperbaiki sarana-prasarana di universitas bahkan bisa sepuluh kali lipat lho,” sambungnya. Untuk mengantisipasinya, saat mendaftar akreditas di ASIIN, jangan hanya satu prodi yang diajukan. Kampus bisa mengajukan beberapa prodi sekaligus agar dapat menghemat biaya. (nd)

Lebih Lanjut »
AGAR KONTRIBUSI KITA TAK HANYA UNTUK INDONESIA
Senin, 13 Juli 2020 . in Berita . 440 views
2834_ars.jpg

GEMA-Banyak dan berkembangnya jumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia membuat Kementerian Agama ingin melebarkan sayap lebih luas lagi. Tak ingin perguruan tinggi di bawah naungannya hanya diakui di level nasional dan regional (ASEAN), kali ini Kemenag melalui Dirjen Pendis (Direktorat Jenderal Pendidikan Islam) menyiapkan diri untuk akreditasi internasional. Dalam webinar yang dilaksanakan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Direktur DIKTIS (Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam) Prof. M. Arskal Salim, GP., MA., Ph.D. menyampaikan beberapa hal terkait persiapan akreditasi internasional melalui lembaga ASIIN Jerman, Senin (13/7).
Menurut Prof. Arskal, mendaftarkan suatu universitas ke lembaga akreditasi internasional merupakan langkah yang sudah seharusnya ditempuh. Kampus tentu tak cuma ingin diakui di level nasional dan regional, tapi juga di level internasional. Pengakuan suatu kampus akan berpengaruh pada kualitas lulusannya. “Kita mau kontribusi mahasiswa-mahasiswa kita lebih meluas di mancanegara dengan ilmunya, tidak cuma untuk negara sendiri,” jelas lulusan The University of Melbourne ini. Dengan begitu, akan ada generasi keluaran perguruan tinggi Islam Indonesia yang bisa speak up di mancanegara.
Ia melanjutkan, DIKTIS menyiapkan tujuh kampus yang kali ini akan didorong untuk mendaftar pada akreditasi ASIIN, sebuah lembaga akreditas kredibel dari Jerman. Ketujuh kampus tersebut ialah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Wali Songo Semarang, UIN Alaudin Makasar, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kemenag melalui DIKTIS memiliki tiga tahapan dalam mendorong dan memperlancar proses akreditasi kampus. Pertama, DIKTIS memberi tiga dukungan yakni sumber daya, finansial, dan juga dukungan regulasi. Dalam tahapan awal ini, kampus akan dibina mengenai apa saja yang harus dipersiapkan untuk akreditasi. Tahap kedua ialah proses akreditasi atau sertifikasi. Di tahap ini, DIKTIS akan memberikan hak penuh pada pimpinan di tiap institusi untuk menindaklanjuti pembinaan yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Di sini, pimpinan harus menyiapkan segala hal termasuk borang yang akan diajukan saat pendaftaran formal ke board of accreditation. Tahap terakhir ialah pasca akreditasi. “Di tahap ini, kampus perlu mengadakan laporan kinerja tahunan untuk mengetahui apakah borang akreditasi dan pelaksanaannya sesuai,” papar Prof. Arskal. (nd)

Lebih Lanjut »

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up