Daftar Penulis: Iffatunnida


MENCARI & BERBAGI ILMU DI WEBINAR
Kamis, 9 Juli 2020 . in Berita . 641 views
2831_web.jpg

GEMA-Website Seminar atau yang lebih dikenal dengan Webinar mulai menjadi primadona saat masa pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease), khususnya di ranah pendidikan. Webinar makin diminati saat orang-orang merasa bahwa upgrade informasi harus tetap jalan dengan tetap menerapkan aturan social and physical distancing. Seiring dengan merebaknya pelaksanaan webinar, aplikasi-aplikasi pendukung pun bermunculan. Yang masih sering digunakan saat ini ialah Zoom dan Microsoft Team Live Event.
Sama seperti seminar konvensional, webinar menampilkan beberapa pemateri dengan rentang waktu presentasi. Peserta pun hadir dan menyaksikan langsung di depan gawai masing-masing (ponsel, tab, komputer, atau laptop). Materi presentasi dapat tetap disaksikan dengan screen sharing. Sesi tanya jawab tetap ada dengan memanfaatkan fitur Raise Hands (pada aplikasi Zoom) dan fitur Show Q&A (pada aplikasi Microsoft).
Namun, tentu ada sisi tak menyenangkan karena webinar berkaitan erat dengan teknologi. Ditemui pasca mengisi webinar yang diadakan Fakultas Humaniora bekerjasama dengan UIN Alaudin Makassar, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan ADIA, Rohmani Nur Indah menceritakan pengalamannya. “Sudah siap semua kamera dan materi untuk sharing-nya, komputer tiba-tiba mati,” tuturnya.
Menurutnya, karena webinar memang bergantung pada teknologi, maka kejadian seperti itu pasti terjadi. Jika sudah familiar dengan penggunaan aplikasi seperti Zoom, maka tentu tidak akan ada kendala besar. Pihak panitia (host) pun harus memastikan bahwa peserta dan khususnya pemateri sudah cukup terbiasa dengan segala perangkat webinar. (nd)

Lebih Lanjut »
SAATNYA ORANG TUA AMBIL PERAN DALAM STUDI ANAK
Rabu, 8 Juli 2020 . in Berita . 479 views
2830_walid.jpg

GEMA-Tak sedikit orang tua yang merasa kelimpungan saat perpindahan sistem Study from Home (Belajar dari Rumah). Baik itu karena tak familiar dengan materi belajar, teknologi, maupun tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak sedikit juga yang melayangkan komplain ke sekolah dengan beragam alasan. Namun, menurut Dr. Muhammad Walid saat begini justru orang tua harus banyak mengevaluasi diri. Sudahkah selama ini mereka turut berperan dalam pembelajaran anak di sekolah? “Karena kebanyakan orang tua merasa, bayar SPP ya sudah, selanjutnya itu tanggung jawab guru di sekolah dalam urusan mendidik,” imbuhnya.
Hal ini ia sampaikan dalam webinar yang diadakan oleh Rumah Jurnal FITK, Rabu (8/7). Dalam acara bertema “Merdeka Belajar dan Madrasah Unggulan: Tetap Unggul di Masa New Normal”, tiga pimpinan FITK menjadi narasumber utamanya. Mereka ialah Dr. Agus Maimun, M.Pd. (Dekan), Dr. Moh. Padil, M.PdI. (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama), dan Dr. Muhammad Walid, MA. (Wakil Dekan Bidang Akademik).
Walid melanjutkan, pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab pihak sekolah. Justru pendidikan yang baik itu tak hanya komunikasi searah. “Harus ada komunikasi intens antara siswa, orang tua, dan pihak sekolah,” imbuhnya. Ketika ada masalah yang muncul dalam proses belajar, maka semua pihak harus membicarakan dan mencari solusinya.
Walid pun membahas pentingnya seorang guru untuk memahami kembali hakikat profesinya. Ia menekankan bahwa seorang guru tidak diperkenankan hanya memberi ceramah selama proses belajar. “Karena yang harus diingat adalah bukan teacher for teaching tapi teacher for learning,” tutur Walid.
Ketika guru menempatkan diri sebagai teacher for teaching, maka pembelajaran akan didominasi ceramah. Padahal, sistem ceramah akan mematikan kreativitas siswa karena menutup kesempatan mereka untuk mengeksplor banyak hal tentang materi yang sedang diajarkan. Sebaliknya, jika sistem teacher for learning, maka akan ada interaksi dua arah antara guru dan siswa. Dengan begitu akan membuka banyak peluang bagi siswa untuk mempelajari hal lain yang masih berhubungan dengan mata pelajarannya. (nd)

Lebih Lanjut »
WR I: TOLAK JIKA TULISAN TIDAK SESUAI TEMA JURNAL
Selasa, 7 Juli 2020 . in Berita . 669 views
2826_r2.jpg

GEMA-Persoalan klise yang selalu dialami hampir seluruh pengelola jurnal ialah kurangnya jumlah naskah. Masalah ini makin diperparah jika jurnal sudah memasuki masa penerbitan. Namun, bukan berarti pengelola jurnal lantas menerima segala naskah untuk melengkapi jumlah artikel ideal saat terbit. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. M. Zainuddin, MA. saat rapat bersama seluruh pengelola jurnal di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (3/7).
Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menjaga dan juga meningkatkan kualitas jurnal. Ia tidak mau jurnal di UIN Malang dianggap sepele sehingga mudah menerima naskah yang berkualitas rendah. “Pengelola jurnal harus tegas, jika ada penulis yang mengirimkan naskah yang tidak sesuai tema dan visi ya harus ditolak,” tegasnya.
Selain itu, dalam aturan komposisi penulis saat ini juga sudah diatur. Yakni, 60 persen penulis dari luar institusi sedangkan 40 persen dari dalam. Ini sudah menjadi aturan bagi seluruh pengelola jurnal dan siapapun harus mengikutinya.
Ketua LP2M UIN Malang Dr. Tutik Hamidah melaporkan, ada 34 pengelola jurnal di kampus berlogo Ulul Albab ini. 22 di antaranya telah terakreditasi Sinta. “Meski masih banyak yang Sinta 3 tapi ada beberapa yang sudah meningkat ke Sinta 2,” jelasnya. (nd/aj)

Lebih Lanjut »
DUA NAMA ILMUWAN MEDIS DIABADIKAN DI GEDUNG BARU FKIK
Senin, 6 Juli 2020 . in Berita . 674 views
2823_gedn1.jpg

GEMA-Pasca pelaksanaan Sholat Jumat di masjid Kampus Tiga UIN Malang, Rektor Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. meresmikan nama dua gedung baru (3/7). Gedung Program Studi Profesi Dokter diberi nama Gedung Ibnu Thufail, sedangkan Gedung Perkuliahan Farmasi dinamakan Gedung Al-Biruni. Kedua tokoh yang diabadikan namanya ini terkenal di kalangan filsuf. Namun, sumbangsih keduanya di bidang medis sangat besar dan berpengaruh.
Rektor menyatakan, sebelum memutuskan kedua nama ini, ada beberapa daftar nama dari tokoh terkenal yang menjadi kandidat. Nama-nama tersebut kemudian dibagikan melalui aplikasi berbagi pesan WhatsApp. Diskusi pun terjadi. “Setelah melalui berbagai pertimbangan, dua nama ini yang diputuskan untuk diabadikan di gedung FKIK,” ujarnya.
Menurut sejarah, masih kata Prof. Haris, kedua filsuf yang dipilih namanya tersebut merupakan cendekiawan multi disipliner. Ibnu Thufail juga aktif di bidang hukum karena ia merupakan seorang pejabat pengadilan sekaligus seorang dokter yang termasyhur. Sedangkan, Al-Biruni ialah seorang matematikawan yang memberi sumbangsih sangat besar di bidang obat-obatan.

2824_gedn2.jpg


Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati Prabowowati Wadjib, M.Kes., Sp.Rad(K) yakin bahwa pemberian nama untuk kedua gedung akan membawa pengaruh positif. Pasalnya, dua nama besar ilmuwan Islam lah yang dikukuhkan. “Semoga mahasiswa FKIK dapat menjadikan keduanya role model di bidang medis,” doanya. Ia pun menyiapkan dua tumpeng sebagai tanda peresmian nama gedung yang berlokasi di Dusun Precet, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu tersebut. (ptt/nd)

 

Lebih Lanjut »
PROF. ZAINUDDIN: AKHLAK TAK HANYA SEBATAS SOPAN SANTUN
Jumat, 3 Juli 2020 . in Berita . 1160 views
2821_borang-perpus.jpg

GEMA-Di awal tahun 2020, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengukuhkan Prof. Dr. M. Zainuddin, MA. sebagai Guru Besar Bidang Sosiologi Agama (8/1). Ia menyinggung permasalahan kehidupan beragama disandingkan dengan kehidupan berdemokrasi pada orasi ilmiah yang disampaikan di Aula Gedung Rektorat lt. 5. Beragam masalah yang timbul dalam suatu negara seharusnya menjadi sorotan para pakar di bidang pendidikan, khususnya pendidikan agama.
Ia menyatakan, output pendidikan tercermin dari akhlak seseorang. Kata “akhlak” di sini sering diartikan secara sempit. “Orang-orang memahami akhlak sebatas sopan santun. Padahal, akhlak karimah itu mencakup berbagai kebajikan,” paparnya. Salah satu kebajikan yang sering diabaikan ialah menjaga alam semesta. Secara tak sadar, banyak sekali perilaku manusia yang berimbas negatif bagi lingkungannya sendiri.
Dalam konteks demokrasi, lanjutnya, akhlak ditunjukkan dengan komitmen dan moralitas. Keduanya akan keluar dengan alami sebagai bukti dari hasil pendidikan. “Sudah sepatutnya ada reorientasi pendidikan agama di sekolah,” lugas wakil rektor bidang akademik UIN Malang ini. Dalam reorientasi tersebut, perlu diperhatikan lagi ajaran untuk kesadaran sosial. “Kita tahu manusia adalah makhluk sosial, jadi sepatutnya diberi bekal kebermasyarakatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, seiring dengan mengajarkan kesadaran dalam kehidupan bermasyarakat, ada juga hal yang harus ditanamkan dalam pendidikan agama. “Bahwa agama harus dipahami sebagai suatu kebenaran, bukan hanya sebagai identitas, simbol, dan politis,” jabarnya.
Ajaran agama, masih kata Prof. Zainuddin, harus dipahami maknanya secara substansial. Dengan pemahaman yang menyeluruh tentang agama di institusi pendidikan, maka tidak mustahil akan lahir manusia dengan akhlak yang benar-benar mulia di segala aspek. “Ini akan menjadi indikator keberhasilan dakwah agama dalam dunia pendidikan,” tutur Pria kelahiran Kabupaten Bojonegoro ini.
Namun, permasalahan yang mengaitkan agama di suatu negara bukan cuma menjadi tanggung jawab pribadi ataupun pelaku pendidikan. Harus ada peran pemerintah agar problem tersebut tidak berlarut. “Peran negara menjadi esensial untuk mengantisipasi dan juga mengatasi masalah kehidupan beragama dan demokrasi di Indonesia, seperti konflik, ekstremisme, terorisme, dan intoleransi,” jelasnya.
Pengukuhan Prof. Zainuddin Januari lalu menambah jumlah guru besar di UIN Malang. Total 13 profesor yang dimiliki kampus berlogo Ulul Albab itu. Jumlah tersebut tentu masih jauh dari ideal. Pasalnya, jika dirasiokan dengan jumlah dosen dan mahasiswa, UIN Malang harus memiliki 84 guru besar yang tersebar di seluruh program studi. (nd)

Lebih Lanjut »
ORANG TUA HARUS ATUR EMOSI DAN ENERGI
Selasa, 23 Juni 2020 . in Berita . 738 views
2840_psga.jpg

GEMA-Pusat Studi Gender dan Anak bersama Dharma Wanita Persatuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengundang Yulia Indriati, Direktur Keluarga Kita dalam webinar bertema Peran Keluarga dalam Menghadapi New Normal Life, Senin (22/6). Dalam sesinya, ia mencoba menjelaskan tantangan yang dihadapi para orang tua dalam masa pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease). Tantangan itu muncul karena situasi belajar anak yang berpindah dari sekolah ke rumah (Study from Home).
Yulia menyatakan, perubahan situasi belajar ini turut mengaduk-aduk tatanan kehidupan sehari-hari di rumah. Karenanya, energi orang tua terbagi. Ketika energi tersebut tidak memadai, maka muncul lah emosi. “Saat seperti ini kita tahu bahwa mengatur emosi dan energi untuk berbagai macam kerjaan rumah itu penting,” jelasnya.
Ia melanjutkan, jika biasanya orang tua pasrah dengan pendidikan anaknya pada institusi pendidikan, kali ini mereka harus turut berpartisipasi dalam prosesnya. “Sisi positifnya ialah ada kolaborasi maksimal guru di sekolah dan orang tua dalam proses belajar anak,” tuturnya. Di sini lah pentingnya kekompakan dari kedua pihak.
Dalam proses menjadi pendamping belajar, masih kata Yulia, orang tua pun dituntut untuk bisa beradaptasi dengan teknologi. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan teknologi seperti platform e-learning, maka tidak ada masalah. “Masalahnya, Indonesia ini kan luas, dan tidak semua orang tua di daerah-daerah melek teknologi,” imbuhnya.
Hal ini karena infrastruktur di Indonesia tidak merata. Wajar jika sebagian besar orang tua di daerah mengeluhkan pemakaian teknologi dalam proses Study from Home. Alhasil, banyak sekali orang tua yang kecewa karena hasil belajar anak tak sesuai harapan.
Dalam hal ini, Yulia menjelaskan beberapa hal penting dalam perubahan tatanan belajar anak. Pertama, orang tua sepatutnya tidak terlalu memasang target yang terlalu tinggi. “Apalagi jika targetnya dipatok dari besaran angka,” imbuhnya. Daripada fokus pada nilai, ia lebih menyarankan agar orang tua lebih menitikberatkan pada pendampingan belajar. Pasalnya, tak banyak orang tua yang tahu tipe belajar anaknya sendiri. “Pahami keunikan anak-anak kita terutama gaya belajarnya, sehingga kita bisa menemaninya secara maksimal,” pesan Yulia. (nd)

Lebih Lanjut »
KEPALA PUSAT DITUNTUT GIAT DAN KREATIF
Senin, 22 Juni 2020 . in Berita . 789 views
2839_kapus.jpg

GEMA-Mengakhiri minggu ketiga Juni, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. melantik empat kepala pusat di lingkungan kampus, Jumat (19/6). Mereka ialah Dr. Nur Ali, M.Pd. (Kepala Pusat Penelitian), Dr. Syaiful Musthofa, M.Pd. (Kepala Pusat Pengabdian), Ahmad Mukhlis, MA. (Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi), dan Prof. Dr. dr. Bambang Pardjianto, Sp.B., Sp.BP.,RE(K) (Kepala Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat). Pelantikan yang dilaksanakan di Ruang Rektor ini hanya dihadiri Kepala Pusat Penelitian dan Kepala Pusat Pengabdian. Sedangkan lainnya mengikuti pelantikan secara daring.
Rektor berpesan agar seluruh kepala pusat mulai merencanakan program-program terbaru atau melanjutkan yang pernah diatur pada periode sebelumnya. “Kami harap agar kepala pusat mempunyai kreativitas yang tinggi agar nantinya segala program kerja dapat berkontribusi pada kemajuan bangsa,” tutur Prof. Haris.
Khusus bagi kepala pusat yang hadir di tempat pelantikan, rektor pun berharap agar nantinya ada tindakan yang mendorong dosen-dosen di UIN Malang untuk giat meneliti. “Ini juga untuk mempercepat penyelesaian studi dosen-dosen yang sedang S3,” lanjutnya.
Namun sebelumnya, rektor meminta agar ada perubahan dasar sebelum merancang program penelitian dan pengabdian masyarakat. Ia meminta agar tema besar dan arah penelitian dan pengabdian segera dirumuskan bersama. “Kampus harus punya standar penelitian dan pengabdian yang bereputasi internasional sesuai visi misi universitas,” lugas rektor kelahiran Lamongan tersebut. (nd)

Lebih Lanjut »
REKTOR: SELAMA WFH, MAKIN PRODUKTIF
Selasa, 16 Juni 2020 . in Berita . 2138 views
2789_webnar16.jpg

GEMA-Mengawali webinar, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. menuturkan, selama kurang lebih dua bulan masa WFH (Work from Home), banyak hal yang telah dilakukan kampus, Selasa (16/6). Ini membuktikan bahwa kesan WFH membosankan dan pasif itu tidak benar. “Justru banyak hal yang kita capai selama WFH ini,” imbuhnya.
Ia melanjutkan, jumlah artikel ilmiah yang ditulis dosen dalam dua bulan terakhir semakin meningkat. Artikel ini kemudian juga diajukan untuk diterbitkan di jurnal ilmiah terkemuka. Bahkan, buku-buku bertema Covid-19 (Corona Virus Disease) karya kolaborasi dosen-dosen UIN Malang juga sudah memasuki tahap penerbitan.
Prof. Haris menambahkan, ada hal yang juga membuatnya bahagia. Yakni berkaitan dengan calon guru besar. “Total yang tercatat untuk mengajukan guru besar ada 20 dosen di tahun 2020 ini,” paparnya. Jumlah tersebut tentu melampaui targetnya di awal tahun. Dengan jumlah pengajuan yang banyak ini, ia yakin target guru besar tahun ini akan tercapai. (nd)

Lebih Lanjut »
PROF. HAEDAR NASHIR: BELAJAR DEWASA SIKAPI PERSELISIHAN
Kamis, 11 Juni 2020 . in Berita . 3067 views

 2778_nasir.jpg

Penulis & Editor: Iffatunnida

GEMA-Begitu banyak konflik yang terjadi di negeri ini pada waktu yang bersamaan. Apalagi di saat pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease), banyak sekali oknum yang dengan sengaja mencari bahan untuk mengadu domba masyarakat dan pihak pemerintah, khususnya. Seberapa keras kita berusaha, konflik dalam hidup manusia tidak akan pernah habis. Pasalnya, menurut Ketua Umum PP. Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. secara sosiologis, konflik akan selalu ada selama manusia hidup. Hal ini ia sampaikan pada webinar yang diselenggarakan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (11/6).
Ia menyatakan, walau konflik selalu ada, namun ujung dari konflik tersebut tetap bergantung pada manusia. Apakah ingin diselesaikan atau dibiarkan berkepanjangan dan berkelanjutan. Sayangnya, banyak sekali konflik di kehidupan manusia yang dibiarkan tanpa solusi. Alhasil, konflik pun berujung perpecahan. Maka, Prof. Haedar menegaskan,”Ada baiknya kita belajar dewasa untuk mencegah perpecahan.”
Menurut Bapak kelahiran Bandung tersebut, ada tiga faktor yang sering menimbulkan perpecahan. Pertama ialah ghonimah. Secara histori, ghonimah diartikan harta rampasan perang. Namun, dalam konteks kekinian, ghonimah dapat disamakan dengan tiga hal yaitu jabatan atau kekuasaan, harta, dan segala hal yang bersifat prestisius.
Yang sering terjadi, lanjut Prof. Haedar, ialah perpecahan karena kekuasaan. Segala cara dilakukan agar jabatan yang diincar didapatkan. Namun, seringkali cara yang ditempuh lebih ke arah negatif. Bahkan, konflik tetap terjadi ketika sudah mendapatkan jabatan incaran. “Jika (jabatan) sudah di tangan, akan susah dilepas. Akan dipertahankan walau harus mengorbankan persaudaraan,” lugas guru besar kelahiran 1958 ini.
Faktor kedua ialah perbedaan paham keagamaan. Ini sering terjadi di Indonesia dan negara-negara dengan mayoritas muslim karena banyaknya organisasi Islam dengan paham yang beraneka ragam. “Hal ini makin rumit saat konflik keagamaan bertemali dengan politik keagamaan,” imbuh guru besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut.
Solusi bagi perbedaan paham agama ini ialah dialog. Namun, menurutnya, walau solusi ini terlihat sederhana, praktiknya sangat susah. Banyak pihak yang terkadang tidak ingin duduk dan menyampaikan pendapatnya dengan kepala dingin. “Banyak yang gak sabar saat proses dialog. Semua ingin menang,” tutur Prof. Haedar.
Faktor penyebab perpecahan yang terakhir ialah faktor luar. Hal ini bisa saja dalam bentuk peperangan antar negara seperti yang terjadi di Palestina. Juga segala pemicu lain yang sering luput dari pengawasan. “Maka yang perlu kita lakukan untuk meminimalisir hal ini ialah bersikap seksama, waspada,” paparnya.
Webinar kali ini bertema Merawat Ukhuwah di Tengah Wabah. Selain Ketua Umum PP Muhammadiyah, sedianya, Ketua Umum PBNU juga didaulat menjadi narasumber. Namun karena agenda lain, maka Sekjen PBNU Dr. Helmy Faishal Zaini, M.Si. yang menggantikan. (nd)

Lebih Lanjut »

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up