GEMA-Dari pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, mahasiswa peserta Expo KKM UIN Mengabdi 2020 di 18 kecamatan meramaikan lt.4 dan lt.5 Gedung Rektorat, Senin (17/2). Beragam produk dari masyarakat desa yang ditempati hingga produk yang dibuat saat KKM dipajang. Selain itu, setiap kecamatan juga menugaskan perwakilannya untuk mengikuti kompetisi Presentasi Program yang dinilai juri tamu dari Dinas Kehutanan Wilayah Malang dan UIN Sunan Ampel Surabaya. Dr. Tutik Hamidah, Ketua Unit LP2M UIN Malang mengatakan bahwa Expo KKM UIN Mengabdi 2020 merupakan bagian rangkaian agenda KKM yang dilaksanakan sebulan. Dari 28 Desember 2019 hingga 28 Januari 2020, sejumlah 2.983 mahasiswa UIN Malang ditempatkan di 15 kecamatan di Kabupaten Malang dan 3 kecamatan di Kota Batu.
Ia melanjutkan, program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dirancang agar bersinergi bersama masyarakat untuk mengembangkan beberapa sasaran prioritas. Pertama, peningkatan kualitas keagamaan melalui aktivitas dakwah. Kedua, peningkatan kualitas pendidikan, seni, dan budaya. Ketiga, peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan. Keempat, peningkatan kualitas pangan dan ekonomi kreatif. Kelima, implementasi teknologi tepat guna dan teknologi informasi komunikasi serta kegiatan lainnya yang sesuai dengan kompetensi mahasiswa dan berdasarkan kebutuhan masyarakat menuju arah kemajuan. Hadir saat acara, para kepala kecamatan dari Kabupaten Malang dan Kota Batu, para dekan beserta jajarannya, para dosen pendamping lapangan (DPL), serta seluruh mahasiswa peserta KKM UIN Mengabdi 2020. (ptt/nd)
GEMA-Dalam Expo KKM UIN Mengabdi 2020, Walikota Batu Dewanti Rumpoko, M.Si. memberikan apresiasi atas program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang digagas UIN Malang, Senin (17/2). Ia menuturkan, program tahunan ini sangat bersinergi dengan visi kota yang ia pimpin. Yakni memberdayakan masyarakat agar menjadi lebih mandiri dimulai dari tingkat pedesaan. Tak hanya itu, dengan adanya sumbangsih keilmuan dari mahasiswa, pemerintah Kota Batu dapat dengan mudah mengeksekusi dana yang digelontorkan pemerintah pusat. Dana yang didapatkan oleh setiap desa ini tergolong banyak. Untuk desa di Kota Batu saja, masing-masing desa dipercaya mengelola minimal Rp. 4,5 Miliar. “Sayangnya, di tahun sebelumnya, dana tersebut harus dikembalikan karena tidak ada program bagus yang dilaksanakan,” imbuhnya.
Dewanti melanjutkan, walaupun ada sejumlah dana yang terserap, kegiatan yang digagas masyarakat kurang memberi manfaat jangka panjang. Maka, saat tahu bahwa UIN Malang berniat menjadikan desa-desa di Kota Batu sebagai tempat KKM, pihaknya menyambut positif. “Dengan sumbangsih pemikiran hasil belajarnya mahasiswa UIN Malang, ada program-program unggulan yang nantinya menguntungkan pihak desa juga Kota Batu,” tuturnya. Masih kata Dewanti, ia yakin, segala hal yang dilakukan mahasiswa UIN Malang selama KKM di wilayah manapun akan meninggalkan kesan. Terutama, ide-ide yang dikeluarkan demi pembangunan masyarakat pedesaan. “Jika ide yang disumbangkan dapat direalisasikan dalam jangka panjang, pastinya ini jadi amal jariyah juga bagi adik-adik mahasiswa,” harapnya. Expo KKM UIN Mengabdi 2020 tak hanya wadah memamerkan produk hasil KKM selama sebulan. Namun juga dijadikan ajang perlombaan. Setiap perwakilan di 18 tingkat kecamatan tampil mempresentasikan program kerja juga unggulannya. (nd)
GEMA-Expo KKM UIN Mengabdi yang dihelat oleh Unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) tidak hanya diisi dengan pameran produk masing-masing kecamatan, Senin (17/2). Selain memajang produk dari 18 kecamatan di Kabupaten Malang dan Kota Batu, peserta KKM juga mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti lomba presentasi di Aula lt. 5 Gedung Rektorat.
Setiap kecamatan mengirimkan dua presenter untuk menjabarkan program unggulannya di hadapan juri selama lima hingga sepuluh menit. Dengan pembawaan ala presenter profesional, para mahasiswa dengan lihai menjelaskan program unggulan di masing-masing desa. Bahkan beberapa perwakilan juga melihatkan secara langsung produknya berupa makanan dan kerajinan. Juri yang dipilih pihak LP2M ialah Sri Asih, MP. (Penyuluh Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan Malang) dan Agus Afandi, M.Fil.I (UIN Sunan Ampel Surabaya). Pada pukul 16.00 WIB panitia pun mengumumkan para juara untuk setiap kategori. Uniknya, di setiap kategori Presentasi Program dan Pameran Produk, Kecamatan Batu dinyatakan sebagai juara pertama oleh juri. Berikut adalah daftar juaranya. (nd)
Kategori Lomba Presentasi Program: Juara 1 Kecamatan Batu (470 poin) Juara 2 Kecamatan Pagelaran (440 poin) Juara 3 Kecamatan Bululawang (430)
Kategori Lomba Pameran Produk: Juara 1 Kecamatan Batu (460 poin) Juara 2 Kecamatan Bululawang (405 poin) Juara 3 Kecamatan Pagelaran (355)
GEMA-Unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) menutup rangkaian Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dengan pelaksanaan Expo KKM UIN Mengabdi 2020, Senin (17/2). Selain jajaran pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, para pejabat penting di Malang Raya pun diundang pada acara yang bertempat di Aula lt. 5 Gedung Rektorat tersebut. Seperti, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, M.Si., Bupati Kabupaten Malang Drs. M. Sanusi, beserta jajaran pimpinan di masing-masing institusi pemerintah. Bupati Kabupaten Malang menyatakan, masa depan Indonesia tidak perlu dikhawatirkan lagi. Pasalnya, universitas sudah menetapkan program-program berkualitas sehingga mencetak mahasiswa yang unggul. Salah satunya ialah melalui penyebaran mahasiswa dalam Program KKM UIN Mengabdi 2020 di seluruh desa yang butuh sentuhan modernitas. Kemampuan berupa ilmu pengetahuan serta literasi teknologi yang tinggi membuat mahasiswa saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata. “Dengan kesadaran dalam teknologi, mahasiswa bisa membuat rakyat Indonesia makin maju,” papar Bapak alumni UIN Malang ini. Ia pun mengutip ayat al Quran yang memuat janji Allah swt. kepada orang-orang yang menuntut ilmu. Bahwa, Allah akan meningkatkan derajat para pengabdi ilmu. “Itu sudah janji, selama ada ilmu dan iman, Allah akan tingkatkan derajat kalian. Apalagi, di UIN Malang yang tidak hanya mempelajari ilmu tapi juga memperdalam agama,” jelasnya. Sebelum menutup sambutannya dan menyambangi stan-stan produk KKM, ia juga memberi apresiasi. Pihaknya akan terus mendukung kerjasama apapun dengan institusi pendidikan. “Karena saya yakin, kebersamaan yang dijalin pemerintah kabupaten dan universitas pasti membuahkan sesuatu yang baik,” ujar Bapak berpeci tersebut. (nd)
BAHAGIA: Dekan Fakultas Psikologi Dr. Mahmuda saat menerima surat izin pembukaan program magister program studi psikologi UIN Maliki Malang di kantor Biro Hukum dan Organisasi.
GEMA-Setelah menempuh proses yang cukup panjang, akhirnya Dekan Fakultas Psikologi Dr. Mahmuda bisa tersenyum bahagia. Pasalnya, pengajuan program studi S-2 Psikologi akhirnya direstui oleh Kepla Biro Hukum dan Organisasi Dikti. Rencananya, tahun ini program studi Psikologi ini akan membuka calon mahasiswa baru, (Jumat, 7/2). Mahmuda menjelaskan bahwa terwujudnya keinginan UIN Maliki Malang untuk membuka program S2 Psikologi tidak terlepas dari upaya para dekan dan pimpinan sebelumnya. “Awalnya, memang pengajuan perizinian ini sempat tidak terurus, dan alhamdulillah dengan izin Allah SWT akhirnya pengajuan Program Pascasarjana Psikologi terwujud,” jelasnya penuh bahagia. Tantangan yang dihadapi saat ini, tambah dia dibutuhkan penataan pejabat struktural yang nantinya akan menjalankan program magister Psikologi tersebut. Tim akan berkoordinasi dengan pimpinan untuk mengatur formasinya, mulai dari ketua program studinya, hingga urusan lainnya. “Semoga dengan turunnya izin pembukaan program magister psikologi ini bisa menampung lulusan mahasiswa psikologi UIN Maliki untuk lanjut ke program magisternya,” harapnya. Sementara itu, Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag turut bersyukur atas terbitnya surat izin pembukaan prodi Magister Psikologi di UIN Maliki Malang. Hal ini senada dengan apa yang menjadi target UIN Maliki bahwa diupayakan setiap prodi yang ada di S-1 memiliki program magister S-2 di UIN Maliki, sehingga lulusan mahasiswa UIN Malang tidak bingung harus melanjutkan studinya di luar. “Mari bersama-sama memberikan yang terbaik bagi kampus yang kita cintai ini sebagai ladang ibadah kita semua,” ajaknya.
GEMA-Satu lagi program UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk meningkatkan excellent service di kampus, yaitu Kursus Bahasa Arab dan Inggris. Program baru di awal 2020 ini dikelola langsung oleh PKPBA dan PKPBI di bawah naungan Pusat Pengembangan Bahasa (PPB). Kursus mingguan ini dipusatkan di Ruang Perkuliahan Gedung C lt.1. Ditemui di ruangannya, Direktur PPB, Dr. M. Abdul Hamid menyatakan pihaknya menyambut positif amanah pimpinan kampus. Apalagi, tujuannya tak lain ialah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di kampus berlogo Ulul Albab ini. Ia dan timnya pun menawarkan pembelajaran yang berbeda dengan pelatihan bahasa asing lainnya. Dalam 60 menit tiap pertemuan, lanjutnya, peserta akan belajar dua bahasa sekaligus. Karenanya, dua dosen secara khusus mengelola satu kelas. Waktu kursus yang dilaksanakan saat jam kerja juga menjadi pertimbangan penentuan gaya belajar. “Kami aplikasikan strategi enjoy learning agar pembelajaran tidak kaku dan tetap aplikatif,” imbuhnya. Materi yang disiapkan tim Unit PPB, masih kata Hamid, dimulai dari materi dasar. “Kami tahu bahwa tidak semua karyawan mempunyai kemampuan dasar kedua bahasa ini,” papar Bapak berkacamata tersebut. Setiap pertemuannya, peserta juga langsung diajak praktik berbicara. Pihak PPB berharap, tidak akan lagi kendala bagi karyawan UIN Malang saat menghadapi tamu dari luar negeri. Sehingga, kampus dapat mencapai cita-cita tinggi untuk meraih taraf internasional atau yang sering disebut World Class University Ketua PKPBA, Danial Hilmi menambahkan, nantinya program ini tidak hanya berhenti untuk karyawan UIN Malang saja. Selanjutnya, pelatihan juga akan ditargetkan untuk para kepala bagian dan sub bagian juga pimpinan. “Kami ingin agar bilingual university tidak hanya slogan tapi juga diterapkan di kampus kita,” paparnya. (ptt/nd)
Catatan Peserta KKN Nusantara 3T 2020 di Provinsi Nusa Tenggara Timur*
GEMA-Melalui Unit LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya mengetahui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara 3T (Terdalam, Tertinggal, dan Terluar). Program dari Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) ini memberangkatkan 75 mahasiswa dari berbagai PTKIN di Indonesia ke Provinsi Nusa Tenggara Timur. UIN Malang mengirimkan dua delegasi, yakni saya dan Dyah Palupi (mahasiswi Jurusan Ahwal al Syakhsyiyah). Program ini dilaksanakan sejak 7 Januari hingga 13 Februari 2020. Ada hal yang menjadi fokus saya, yaitu literasi. Menurut saya, literasi adalah salah satu isu yang harus diperhatikan terutama di masa tumbuh kembang anak usia sekolah dasar dan menengah. Bersama beberapa peserta dengan visi yang sama, kami beraktivitas di sekolah satu atap di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Saya mengunjungi kelas tujuh SMPN 3 Sulamu (30/1). Di situ, saya berbagi pentingnya menjadikan membaca dan menulis sebagai hobi sehari-hari. Sebelumnya, saya menunjukkan beberapa buku anak populer yang ditulis oleh penulis seusia mereka. Seperti Kecil-Kecil Punya Karya, FantasTeen, dan Bintang Cilik. Tak hanya itu, saya juga menunjukkan beberapa karya buku yang saya tulis saat masih SMP. Saya tidak ingin memaksa mereka untuk membaca cerita tertentu. Maka, saya bebaskan mereka untuk menulis cerita pendek ala mereka sendiri di selembar kertas. Saya pun memberi iming-iming hadiah buku cerita yang saya tulis sendiri. Salah satu siswa, Dimalla Pian, 12 tahun, merasa bahwa menulis cerita singkat sangat mengasyikkan. “Saya bisa memilih cerita saya sendiri,” tuturnya. Tak hanya itu, beberapa siswa pun menyatakan bahwa mereka akhirnya tahu bahwa cita-cita di masa depan, tak hanya sekadar menjadi dokter, polisi, tentara, dan guru saja. “Ternyata kami bisa juga jadi Penulis dan Arsitek,” tambah Dimalla.
Ya. Mungkin hidup di daerah yang tidak memiliki banyak akses, akhirnya juga membatasi jangkauan pikir anak-anak tersebut. Dengan program KKN Nusantara 3T ini, mereka bisa bertemu dengan kakak-kakak dari daerah yang sangat jauh untuk berbagi mengenai banyak hal yang mungkin belum pernah mereka dengar. Sebagai seorang mahasiswa, saya merasa inilah tanggung jawab saya untuk memberi dan berbagi wawasan terutama dalam hal literasi. Dengan begitu, ada opsi lensa lain bagi adik-adik di daerah 3T untuk menentukan cita-cita mereka. Di masa mendatang, mereka akan menjawab, “Saya akan jadi Penyair atau Arsitek,” ketika ditanya cita-cita. Tak melulu, “Mau jadi Guru atau Dokter atau Polisi.” Program kelas kecil tentang wawasan literasi ini juga diadakan di beberapa sekolah. Sekolah yang mendapat giliran selanjutnya ialah SD Inpres Pitay. (*/nd)
GEMA-Tempat KKM UIN Mengabdi 2020 kelompok 165 di Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang dikenal sebagai pengolah Tanaman Obat Keluarga (Toga). Ia merupakan jenis tanaman kaya khasiat yang mudah dibudidayakan karena tidak membutuhkan lahan luas dan proses tanam yang ribet. Hampir seluruh bagian dari tanaman ini bisa dimanfaatkan untuk beragam produk makanan maupun minuman. Di Desa Karangrejo, Tanaman Toga diolah menjadi jamu tradisional. Mayoritas masyarakatnya bermatapencaharian sebagai penjual jamu gendong, jamu ekstrak, hingga permen tanaman Toga. Karena itu, pengurus desa setempat sedang mencanangkan pembangunan Desa Wisata Edukasi Jamu yang bisa menjadi salah satu pilihan wisata di Kabupaten Malang. Namun sayangnya, produk-produk olahan di desa itu tak banyak dikenal lantaran belum dipasarkan secara luas. Salah satu yang menjadi kendala ialah karena produknya belum memiliki izin usaha juga sertifikat halal. Maka, kelompok 165 KKM UIN Mengabdi pun mengadakan Penyuluhan Kewirausahaan. Acara tersebut difokuskan pada informasi pengurusan perizinan Produk Industri Rumah Tangga, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta sertifikat halal. Peserta KKM mengundang Lila Ardina, Ketua Asosiasi UMKM Sejahtera Kabupaten Malang. Ia memberikan banyak informasi kepada pelaku usaha rumahan di Desa Karangrejo terkait pengembangan bisnis. Pihaknya pun bersedia memberikan pendampingan lanjutan kepada ibu-ibu di desa tersebut agar produk dapat dijual di pasar yang lebih luas. “Tentu dengan begitu, ibu-ibu akan lebih semangat berwirausaha,” imbuhnya. (*/nd)
GEMA-Selama beberapa saat menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Mengabdi 2020 di Desa Petungsewu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, peserta KKM kelompok 186 menemukan masalah utama di area tersebut. Banyaknya sampah yang tidak dikelola dengan benar, menjadi masalah yang berlarut-larut. Bekerjasama dengan Ibu PKK RT 9 di desa tersebut, ke-15 mahasiswa peserta KKM mengajak warga untuk mengelola Bank Sampah (22/1). Halaman belakang rumah salah satu pengurus PKK dijadikan pusat pemilahan dan penimbangan sampah. Sampah dipilah sesuai materialnya. Seperti sampah plastik, kaca, botol, dan seng. Hasil timbangan ditulis dalam buku untuk menemukan nominal yang tepat. Yeni, Ketua PKK RT 9 menyatakan sampah yang sudah ditampung akan disetor pada pengepul sampah setiap dua minggu sekali. Uang yang terkumpul nantinya akan ditabung dan diambil di akhir tahun. Lamsri, salah satu warga menuturkan memang banyak sekali sampah di lingkungannya yang tidak terurus. “Saya sendiri mengumpulkan sampah di belakang rumah tapi tidak tahu mau dikemanakan, akhirnya nimbun banyak,” tuturnya. Dengan program Bank Sampah ini, ia jadi tahu bagaimana memilah-milih sampah dan menukarkannya dengan fresh money. (*/nd)