BERTUGAS: Kajur PBS Eko Supriyanto melantik pengurus Komunitas Sahabat Pendamping, Komunitas Entrepreneur, dan Komunitas El Dinar Finance House
GEMA-Jurusan Perbankan Syariah (PBS) serius membina komunitas mahasiswa. Awal November ini, pengurus tiga komunitas sekaligus dilantik, Kamis (8/11). Ketiganya ialah Komunitas Sahabat Pendamping, Komunitas Entrepreneur, dan Komunitas El Dinar Finance House. Pelantikan tersebut diselenggarakan bersamaan dengan Family Gathering 2018 Jurusan PBS di Aula Rektorat Lt.5. Fathul Arifin Muis, pengurus Komunitas El Dinar Finance House, memaparkan tiga komunitas ini memiliki tugas khusus. Komunitas Sahabat Pendamping bertugas mendampingi mahasiswa baru PBS di tahun pertama. “Biasanya di momen pemrograman KRS dan visiting company,” jelasnya. Selanjutnya, Komunitas Entrepreneur bertugas memotivasi dan melatih jiwa kewirausahaan. Salah satu kegiatannya ialah membuka stan jual produk saat momen besar kampus. Terakhir, Muis menjabarkan Komunitas El Dinar, “Bertanggung jawab atas Laboratorium Perbankan El Dinar yang diasuh Jurusan PBS.” Eko Supriyanto, Ketua Jurusan PBS, memaparkan bahwa tiga komunitas ini dibentuk atas hasil evaluasi alumni. Banyak yang merasa kurang bekal softskill dan kepercayaan diri saat kuliah. Selain itu, pihaknya melihat fenomena problem makro seperti tingginya pengangguran dan inflasi. “Hanya sekitar enam persen lulusan perguruan tinggi yang jadi pengusaha,” jabarnya. (ir/nd)
SHARING: Di salah satu sesi AICOLLIM 2018, Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si. dan Charlotte Blackburn didaulat menjadi pemateri utama.
GEMA-Akrabnya mahasiswa dengan teknologi membuat konsentrasi mereka terpecah saat di kelas. Tak jarang, banyak dosen yang harus mengingatkan mereka untuk tetap fokus belajar. Namun, daripada sekedar meminta mereka me-nonaktif-kan gawai (gadget), Dekan Fakultas Humaniora Dr. Syafiyah justru merasa tertantang untuk memanfaatkan benda favorit itu untuk pembelajaran terutama kelas bahasa asing. Hal ini ia sampaikan saat memberi sambutan pembuka dalam Annual International Conference on Language, Literature, and Media (AICOLLIM) 2018, Selasa (6/11). Menurutnya, dunia pendidikan tidak seharusnya membatasi diri dengan kemajuan teknologi. “Teachers, lecturers, and researchers’ job is to think how this rapid development of technology can be implemented in foreign language classes,” tutur wanita asal Jombang ini. Terlepas dari efek negatif maupun positif yang dibawa teknologi, ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri. Syafiyah melanjutkan, teknologi memberi perubahan yang sangat besar dalam kehidupan.”It changes the way we live, communicate, and think,” imbuhnya. Setiap orang, masih kata wanita yang berulang tahun tiap 10 September itu, pasti memiliki perspektif yang berbeda dalam menyikapi teknologi canggih. Namun, di zaman industri 4.0 ini, mengabaikan kecanggihan ini berarti harus bersiap untuk tertinggal. “That is why we are here sharing our ideas related to advanced technology, mainly, on language teaching,” tutupnya. AICOLLIM merupakan konferensi perdana besutan Fakultas Humaniora. Rencananya, konferensi ini akan diadakan setiap tahun dengan tema yang mutakhir. Bertempat di Home Theatre, pihak penyelenggara menghadirkan beberapa pemateri utama. Yakni, Dr. Faris Badr (Yaman), Waleed el Sayyid (Mesir), Charlotte Blackburn (Amerika), Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si. (Indonesia), dan Ooi Choon Meng (Malaysia). (nd)
GEMA-Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghelat seminar nasional penyembelihan halal dan proses produksi kehalalan makanan. Acara yang berlangsung di Auditorium Saintek Lt.4 ini mengundang empat narasumber. Yakni, Dr. Isroqunnajah, M.Ag., Dr. drh. Bayyinatul Muchtaromah, Dr. Drs. Abdul Rahem Apt, M.Kes, serta Ir. Dina Sudjana, Senin (5/11). Isroqunnajah menegaskan penting bagi masyarakat untuk mengetahui proses suatu makanan. Tidak semua makanan yang terlihat baik (thoyyib) akan terjamin kehalalannya. Dalam Islam, lanjutnya, asal usul makanan sangat diperhatikan. Sebab, makanan sebagai asupan energi akan didistribusikan ke dalam tubuh. Kita akan menggunakan energi dari makanan tersebut salah satunya untuk beribadah. “Jika makanan yang dikonsumsi bukan makanan halal tentu akan berdampak negatif dalam diri kita,” jelasnya. Gus Is, sapaannya, juga menyampaikan, segala sesuatu yang diperintahkan Allah akan memiliki manfaat. Begitu juga segala yang dilarang memiliki dampak, termasuk dalam kehalalan dan keharaman suatu makanan. Bayyin, pemateri selanjutnya, memaparkan tren makanan halal yang makin marak saat ini. Makin sadarnya masyarakat akan manfaat makanan halal dibaca oleh pemerintah. “Tahun depan, pemerintah akan mewajibkan pemeriksaan dan pemberian label halal untuk semua makanan yang beredar di Indonesia,” tutur mantan dekan Fakultas Saintek itu. (syf/nd)
GEMA-Kunjungan kedua Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang disambut dengan hangat. Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris bahkan memberikan kalung bunga, Senin (5/11). Nahrawi menuturkan dalam kuliah tamu di Aula Rektorat Lt. 5 bahwa mahasiswa PTKI juga berkesempatan mengukir prestasi di olahraga. Ini mengaca pada salah satu atlet Ju Jitsu yang juga mahasiswa UIN Malang, Ilma Yeni Megawati. Juli lalu, ia diganjar medali emas di ajang Abu Dhabi Grand Slam World Tour di Tokyo, Jepang. Bahkan menjadi salah satu atlet yang diturunkan di ajang bergengsi Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Prestasi mahasiswa PTKI di bidang apapun, lanjut menteri asal Bangkalan itu, akan menjadi nilai plus di kemudian hari. “Nama kampus pun akan turut terangkat kalau mahasiswanya berprestasi,” imbuhnya. Untuk meningkatkan semangat olahraga, Menpora dan UIN Malang bekerjasama memberikan beasiswa lanjut studi S2. Prof. Haris berharap, jumlah penerima beasiswa dapat bertambah tahun depan. “Saat ini hanya sekitar 30 penerima beasiswa. Tahun depan kami target 50 orang,” paparnya. Melalui kerjasama ini, Prof. Haris ingin UIN Malang membantu negara dalam mempersiapkan generasi yang siap membangun Indonesia. Generasi yang dimaksud ialah mereka yang mumpuni di bidangnya dan juga memiliki etika baik. (ich/zaw/nd)
GEMA-Prof. Dr. Irwan Abdullah, salah satu reviewer Scopus kali ini memberikan tips sukses menulis artikel yang bisa diterima di jurnal terindeks Scopus. Dia menegaskan bahwa tulisan yang bisa tembus kuncinya hanya dua, yaitu penguasaan literatur yang bagus dan data yang valid, Minggu (4/11). Penguasaan literatur yang bagus itu biasanya berbasis online dan berkualitas. Sumber yang dijadikan rujukan bisa dilacak secara online dan terdaftar secara resmi. Sehingga, saat pencarian validitas sumber,mudah dilacak melalui mesin pencarian. “Open access saat ini sudah menjadi kewajiban bagi setiap penulis artikel,” paparnya. Selain memiliki literatur yang bagus, penulis juga harus memilki data penelitian yang akurat. Semakin akurat data yang dimiliki, maka akan berdampak pada pembahasan penelitian yang akhirnya mengerucut pada hasil atau kesimpulan penelitian. “Jika semua sudah terpenuhi, maka penulis harus mengikuti aturan template jurnal yang ada,” pesannya. Jika dua kunci tersebut diikuti, tambah Bapak berkumis tersebut, maka kesempatan diterimanya artikel makin besar. Setiap tulisan tentu perlu komitmen dan kejelian dari penulis jika ingin diterima di scopus.
GEMA-Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kembali mendatangkan Prof. Dr. Irwan Abdullah, salah satu reviewer Scopus untuk memberikan materi bagaimana cara menulis artikel yang berkualitas dan bisa diterima di scopus. Kegiatan workshop Academic Writing kali ini dilaksanakan di Hotel Pelangi dan diikuti seluruh calon guru besar UIN Malang. Minggu, (4/11). Prof. Irwan dalam paparan materinya menjelaskan bahwa banyak tulisan ditolak di scopus akibat banyak penulis yang melakukan penipuan. Anehnya, si penulis artikel sendiri tidak tahu kalau sudah melakukan penipuan. Bagi scopus, mudah sekali untuk mengetahui apakah artikel tersebut original atau malah hasil plagiat. “Scopus akan memasukkan naskah tersebut ke serch angine secara online dan original naskah tersebut akan akan langsung dicek bibliografinya,” paparnya. Dalam hitungan detik saja, kata dia, naskah yang dikirim tersebut akan ketahuan, apakah bibliografinya memilki link yang jelas atau malah bohongan. “Kita sering terperangkap dipermasalahan tersebut, ketika barcode sumber dicek keluar nama orang lain,” terangnya. Guru besar Antropologi UGM tersebut berpesan bahwa, jangan pernah mengutip bibliografi tulisan yang tidak bisa ditemukan secara online. Minimal, daftar rujukan yang diambil sudah terdaftar di googlescholar. “Mengutip apapun jangan sampai bersumber dari kebohongan,” tegsanya.
GEMA-Memasuki era industri 4.0, dunia pendidikan diminta untuk membekali masyarakat dengan nilai-nilai luhur. Salah satunya nilai keislaman. Hal ini senada disampaikan oleh Prof. Dr. Zahrah binti Hussain dan Prof. Dr. Ahmad Fuad Effendy. Keduanya merupakan pemateri utama dalam seminar internasional yang diadakan HMJ Pendidikan Agama Islam (PAI) di Aula Rektorat Lt. 5, Kamis (1/11). Teknologi, ujar Prof. Zahrah, akan selalu berubah mengikuti perkembangan keilmuan manusia. Wajar, karena manusia akan selalu beradaptasi dengan lingkungan dan zamannya. Namun, masalah lain tentu akan muncul. Para pakar pendidikan khawatir, nilai-nilai luhur nenek moyang akan semakin dilupakan. Faktanya, semakin banyak pemuda yang walau selalu update dengan teknologi, tetapi tidak memiliki perilaku yang baik. Alhasil, sikap negatif mereka sering nampak saat berinteraksi di dunia maya. “Jangan sampai kita sebagai muslim menjadikan alasan mengikuti arus globalisasi untuk meninggalkan nilai-nilai keislaman,” tegas guru besar di University of Malaya, Malaysia tersebut. Menurutnya, alasan mengikuti arus industri 4.0 tidak bisa dijadikan penghalang dalam bersikap luhur. Dengan adanya teknologi yang bervariasi, seseorang justru memiliki banyak pilihan untuk menebar hal positif. “Manfaatkan teknologi itu untuk mengajarkan orang lain dalam menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam al Quran,” jelas wanita berkacamata itu. Sementara itu, Prof. Fuad menyarankan agar seseorang tidak menutup diri di arus industri 4.0 ini. Teknologi dan segala produknya justru menjadi sarana efektif untuk berdakwah dengan menyasar para generasi muda. “Ibaratnya teknologi yang canggih ini jembatan kita untuk menyebar nilai positif Islam pada muda-mudi,” imbuh dewan pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Centre of Arabic Language ini. Ia juga menuturkan salah satu keuntungan yang bisa didapat jika kita mengikuti industri 4.0 dengan sikap positif ialah tidak mudah termakan hoax. Era informasi digital tentu menjadi tempat yang tepat untuk memeriksa kembali apa yang sudah kita terima. “Itulah yang kita namakan tabayyun dalam Islam. Semoga tidak ada lagi masyarakat yang termakan kontroversi murah jika tahu bagaimana ber-tabayyun menggunakan teknologi,” tambah lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor tersebut. Seminar internasional ini menjadi pembuka gebyar International Education Festival 2018 yang digagas HMJ PAI. Selanjutnya, acara akan diisi dengan beragam kompetisi antar kelas, jurusan, dan olimpiade PAI se-Jawa-Bali. (syf/nd)
LANCAR: Nur Fidayat berbagi pengalaman berburu Beasiswa LPDP dengan mahasiswa UIN Malang di aula Micro Teaching.
GEMA-Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) masih jadi favorit mahasiswa yang ingin melanjutkan S2. DEMA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menyelenggarakan Workshop Scholarship yang mendatangkan tiga narasumber penerima beasiswa LPDP, Kamis (1/11). Yaitu, Nur Fidayat, Andi Indra Saputra, dan M. Ali Machrus. Acara ini dilaksanakan di Gedung Micro Teaching, FITK. Nur Fidayat, mahasiswa S2 Universitas Negeri Malang, mengatakan ada empat hal yang harus diperhatikan saat mendaftar beasiswa LPDP. Namun yang terpenting adalah restu orang tua. "Jika kita mendapat restu dari ibu dan ayah kita, semua akan berjalan dengan lancar," jelasnya. Selanjutnya, niat dan mental harus ditujukan untuk berkontribusi kepada negara, bukan hanya mencari gelar. Selain itu, lanjut Fidayat, calon penerima beasiswa harus memiliki rasa kepekaan sosial. Caranya, dengan sering menjadi relawan atau membuka jasa les private untuk anak-anak di sekitar tempat tinggal. Unsur-unsur tersebut harus tercantum jelas dan logis di esai yang ditulis. "Rencana studi juga harus tercantum jelas di esai," imbuhnya. Ia juga menyarankan agar mahasiswa Andi Indra Saputra, mahasiswa S2 Universitas Brawijaya, menambahkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris juga penting. "Skor TOEFL minimal lolos seleksi LPDP reguler adalah 500 sedangkan LPDP Afirmasi 400," jelas mahasiswa Administrasi Bisnis tersebut. Ia menganjurkan agar mahasiswa ikut organisasi kampus meski skala kecil. "Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, Red.) ya," candanya. (ir/nd)
UPTODATE: Dr. Agus Maimun, Dekan FITK, memberikan sambutan dalam pembukaan gebyar International Education Festival 2018
GEMA-Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membuka resmi International Education Festival (IEF) 2018, Kamis (1/11). Perhelatan ini akan diisi beberapa rangkaian acara. Rencananya, panitia akan menghadirkan Cak Nun dan Kiai Kanjeng di acara penutupan. Sebagai pembuka, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Dr. Agus Maimun menyatakan dukungan penuh. Segala aktivitas mahasiswa yang bernilai ilmiah dan akademik, akan selalu mendapat respon dan dukungan positif. “Karena ini juga merupakan upaya kita untuk membesarkan nama kampus dari segi intelektualitas dan kualitas,” tuturnya. Sementara itu, Ketua Jurusan PAI Dr. Marno menjelaskan pemilihan tema Reaktualisasi Nilai-Nilai al Quran dalam Mengembangkan Pendidikan Akhlak di Era Revolusi Industri 4.0. Aktualisasi dan urgensi menjadi pertimbangan panitia dalam pemilihannya. Perubahan era manual menjadi digital tentu juga memasuki ranah pendidikan. “Hal ini menjadi salah satu bahan kami itu menelaah kembali kurikulum yang sudah ada,” jelasnya. Pihaknya ingin ada reformulasi pendidikan yang diinisiasi oleh Jurusan PAI UIN Malang. Ia tidak ingin pendidikan yang ada tertinggal dari arus zaman yang mengglobal. “Tentunya, walau mengikuti perubahan zaman, model pendidikan tidak meninggalkan pendidikan akhlak,” imbuhnya. IEF 2018 diawali dengan seminar internasional yang mendatangkan dua pemateri. Yakni, Prof. Ahmad Fuad Effendy, MA. (King Abdullah bin Abdulaziz International of Arabic Language) dan Prof. Dr. Zahara binti Hussin (University of Malaya, Malaysia). Perhelatan akbar milik PAI ini juga diisi dengan perlombaan antar kelas dan jurusan. Panitia juga mengadakan Olimpiade PAI tingkat Jawa-Bali pada (3/11). (ptt/nd)