GEMA-Dalam agenda Halal Bihalal daring, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tak hanya mengundang Menteri Agama RI. Salah satu pemuka agama di Jawa Timur juga turut dihadirkan, yaitu KH. Agoes Ali Masyhuri. Memulai ceramahnya, ia menekankan pentingnya memupuk keikhlasan dalam hati, Rabu (19/5). Ia menjelaskan, tanda seseorang benar-benar ikhlas dalam beramal ialah, segala yang dilakukan hanya diniatkan untuk meraih ridho Allah. Artinya, bukan pujian manusia yang diharapkan. “Mohon maaf, tidak ada pencitraan dan tidak dibungkus untuk kepentingan tertentu,” ia melanjutkan, “Orientasi mereka hanya akhirat sehingga ikhlasnya tinggi.” Pengasuh PP. Bumi Sholawat, Sidoarjo ini menyatakan, dengan kadar ikhlas yang sangat tinggi ini, meski orangnya telah wafat, amalnya tetap dapat dirasakan. “Orang lain masih membahasnya,” imbuhnya. Selain itu, KH. Agoes Ali Masyhuri juga menuturkan, sebaik-baik manusia ialah mereka yang hidup dan matinya keramat. Yang ia maksud adalah seseorang yang berjasa semasa hidupnya, sehingga ketika wafat, masyarakat masih mengenang dan membicarakan untuk waktu yang sangat lama. “Bukan hanya sekadar prestasi yang ditorehkan, tetapi ada prasastinya,” paparnya. (nd)
GEMA-Tak banyak yang mengetahui asal-usul Halal Bihalal, sebuah tradisi pasca Idul Fitri di Indonesia. Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas mengulas singkat sejarah tradisi tersebut. Hal ini ia sampaikan saat memberikan sambutan di agenda Halal Bihalal daring UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (19/5). Halal Bihalal, kisahnya, adalah ijtihad salah satu Ulama pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Abdul Wahab Chasbullah. Pada Ramadhan tahun 1948, Presiden RI saat itu Ir. Soekarno merasa risau karena elit politiknya saling berseberangan dan tidak pernah bersepakat dalam majelis. Akibatnya, pertikaian terjadi di beberapa area di Indonesia, seperti Darul Islam, Tentara Islam Indonesia, dan PKI di Madiun. Mendengar kekhawatiran presiden, KH. Wahab menyarankan untuk mengadakan silaturrahim untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Namun, menurut Presiden Soekarno, kata silaturrahim tidak akan menarik minat para elit politik. Ia pun meminta istilah lain. Setelah berpikir, KH. Wahab menjawab bahwa saling bertikai itu dosa dan termasuk haram. Jadi, agar tidak dosa dan menjadi haram, maka harus dihalalkan. Maka, muncullah istilah Halal Bihalal. Menilik sejarahnya, sudah nampak bahwa tradisi Indonesia yang mencerminkan nilai keislaman ini hanya memiliki satu tujuan utama. “Halal Bihalal menyimpan makna bahwa penting sekali untuk merawat kebersamaan dan persatuan sesama manusia,” jelas Yaqut. (nd)
GEMA-Panitia Lokal UM-PTKIN Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan simulasi persiapan pelaksanaan ujian Sisitem Seleksi Elekteronik (SSE) Ujian UM-PTKIN 2021 di ruang pertemuan gedung Rektorat Lt.3, Senin (17/5). Hadir dalam kegiatan ini, Wakil Rektor Bidang Akadermik Prof. Dr. M. Zainuddin, MA, sekaligus Ketua Panlok UM-PTKIN UIN Malang, Kabiro AAKK Drs. Mahfudh Shodar, M.Ag dan Koordinator SSE Lokal UIN Malang Imam Ahmad, M.Ag Simulasi ini dilakukan untuk melihat persiapan panitia dalam proses pelaksanaan dan capaian selama masa seleksi mahasiswa. Output dari kegiatan ini lebih menitik beratkan kepada proses persiapan, pelaksanaan, dan capaian selama masa seleksi mahasiswa baru di PTKIN. Prof. Dr. M. Zainuddin berharap dari proses pelaksanaan simulasi ujian UM-PTKIN ini setidaknya bisa mengukur kesiapan panitia lokal UIN Malang, meski begitu semoga pelaksanaan simulasi ini bisa berjalan dengan baik, jika menemukan kendala bisa segera di evaluasi dan dilakukan perbaikan demi lancarnya proses ujian di hari H. Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator SSE Lokal UIN Malang Imam Ahmad, M.Ag. Semua Panlok se-Indonesia melakukan simulasi pelaksanaan ujian UM-PTKIN. UIN Malang bersama panitia selama empat hari kedepan 17-20 Mei 2021 akan melaksanakan simulasi sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, sehingga saat pelaksanaan ujian UMPTKIN bisa meminimalisir kendala yang ada. Meski begitu, Kepala Bagian Akademik dan Kemahsiswaan berharap melalui seleksi UM-PTKIN ini UIN Malang bisa menjaring mahasiswa yang unggul dan juga memiliki kemampuan dalam baca tulis Alquran. Pasalnya, semua mahasiswa UIN Malang dituntut tidak hanya pandai dalam disiplin ilmu umum saja, akan tetapi memiliki kemampuan tambahan terkait baca tulis Alquran tersebut.
Penyekatan arus lalu lintas di berbagai titik mudik pada hari pertama larangan mudik, Kamis (6/5/2021) sudah mulai diterapkan dengan tegas oleh pemerintah melalui Kementerian perhubungan dan kepolisian
Berdasarkan surat nomor: B-1430/Un.3/HM.00.6/04/2021 dan Pedoman Beasiswa Studi Lanjut S2 Pendamping Proyek Pinjaman Luar Negeri tahun 2019, maka bersama ini disampaikan bahwa waktu pendaftaran online yang semula dijadwalkan berakhir pada tanggal 30 April 2021 dinyatakan di perpanjang hingga 12 Mei 2021.
Laporan World Bank Education Global Practice mengejutkan kita semua, bahwa prestasi pendidikan Vietnam saat ini meraih skor 525, bahkan mengungguli Hongkong, dan Korea Selatan, padahal pendapatan per kapita Vietnam separuh dari Indonesia, yakni 5668 dollar AS
GEMA-Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. menerima buku karya salah satu dosen asing yang mengajar di kampusnya. Penyerahan buku di Lt.1 Gedung Rektorat tersebut dilakukan pasca rekaman Syiar Ramadan 1442 H. Dosen asing yang menyerahkan karyanya ialah Prof. Dr. Sulaiman Hassan Suleiman asal Libya. Ia mengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI), Senin (26/4). Prof. Haris menyatakan, buku itu merupakan karya pertama dosen asing yang ia terima. Buku tersebut berjudul "Al Afrikiyan Minal Hadharah ila At-Tabi’iyyah" (Afrika: Dari Peradaban Asli hingga Heteronomi [Sistem Politik Heteronomi]). Pembahasan utama buku tersebut yakni tentang hadharah atau peradaban Islam di Afrika dan juga kebudayaan yang membawa Islam masuk ke Indonesia. Rektor melanjutkan bahwa penulisan buku itu menggunakan perspektif politik dan partai. Isinya membahas topik penting tentang dampak dan konsekuensi kolonialisme bagi masyarakat pasca kemerdekaan. Terutama masyarakat Islam di Afrika yang berkaitan dengan sistem politik, hukum dan ekonomi-sosial serta gambaran terbalik buatan kolonialisme tentang bangsa yang dijajahnya. Selanjutnya, buku itu pun menjelaskan juga tentang wajah buruknya kolonialisme Eropa dan tindakan eksploitasi sumber daya manusia di benua Afrika. Misalnya, dalam bentuk perdagangan, perbudakan serta pencurian sumber daya alam berupa emas, uranium dan tambang berharga lainnya. Ia menambahkan, penjajahan lah yang merusak tatanan kehidupan karena adanya peperangan. Sehingga apa yang terjadi di Afrika itu mirip dengan yang dialami Indonesia. Penderitaan yang dialami penduduknya pun sama. "Oleh karena itu, Islam datang membawa peradaban dengan prinsip keilmuan dan pemikiran yang maju sehingga menuntun bangsa pemeluk Islam ikut maju," terang Prof. Haris. Rektor mengungkapkan betapa pentingnya kajian yang ada dalam buku itu. Ia berani mengungkapkan rahasia, intrik, dan pengaruh kolonialisme. "Saya berharap mahasiswa dan pembaca lainnya bisa mengambil manfaat dan bekal dari kajian luar biasa yang berharga ini, " tuturnya. (ptt/nd)