GEMA-Lomba yang baru diujikan pada hari ketiga Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 ialah Musabaqoh Fahmil Quran (MFQ), Kamis (18/7). Bertempat di Gedung D UIN Malang kampus satu, MFQ dimulai pukul 08.00 WIB. 30 tim dari 30 kontingen beradu pengetahuan tentang al Quran di babak penyisihan. Dalam satu tim terdiri dari tiga peserta (wajib) dan satu pengamat (pilihan). Tugas pengamat ialah memantau jalannya lomba. Jika ada yang kurang sesuai, mereka berhak melayangkan protes. Penanggung Jawab MFQ Abdul Fattah menjelaskan, kompetisi beregu tersebut menguji pemahaman peserta akan al Quran. “Mulai dari hafalan dan keilmuan lain yang masih berkaitan dengan kalam Allah,” jelasnya. Ia melanjutkan, MFQ dalam PIONIR 2019 ini memberlakukan sistem gugur berdasarkan banyak poin per regu. Dalam satu soal, peserta diberi waktu untuk menjawab sesuai dengan bobot soal tersebut. Semakin sulit suatu soal, maka waktu yang diberikan lebih lama. Nilai tiap soal ialah 100. “Dalam babak ini, per ronde ada tiga tim yang bertanding,” paparnya. Untuk menghindari kecurangan dan protes peserta akan nilai, masih kata Fattah, pihaknya menampilkan nilai yang diperoleh tiap peserta di LCD Projector. “Biar ada transparansi sesuai nilai yang dijunjung panitia pelaksana,” imbuhnya. Untuk semifinal yang dilaksanakan keesokan harinya (19/7), 10 tim akan memperebutkan lima posisi di babak akhir. (*/nd)
GEMA-Kategori naskah Lomba Kaligrafi dalam perhelatan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset telah dilangsungkan dan menemukan jawaranya, Rabu (17/7). Perlombaan seni menulis Arab ini ditempatkan di Rumah Singgah Lt. 3 UIN Malang Kampus Dua. Cabang lomba yang termasuk dalam kategori seni ini menguras waktu dan tenaga karena durasi pengerjaannya ialah kurang lebih delapan jam. Lomba dimulai oleh panitia pada pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB. Kategori naskah putra diikuti 31 peserta, sedangkan putri 19. Ada tiga hal yang dijadikan kriteria penilaian oleh tim juri. Yakni kaidah, kreativitas, dan kebersihan. “Namun yang memiliki bobot banyak ialah kaidah karena menulis khat harus sesuai kaidah dengan baik dan benar,” jelas Athoillah, juri asal Jombang. Pemenang diumumkan pada pukul 20.00 WIB pada hari yang sama. Pada kategori naskah putra, Syaikhul Ansor (STAIN Bengkalis Riau) keluar sebagai juara pertama. Sedangkan juara kedua dan ketiga diraih Wahyu Al Hudaya (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Ali Basa (UIN Ar Raniry Aceh).
Sementara itu, juara pertama pada kategori naskah putri direbut Lely Khaeriyah (UIN Syeikh Nurjati Cirebon). Juara kedua ialah Alvia Wardani (UIN Antasari Banjarmasin) dan juara ketiga yakni Dessy Andini (UIN Sumatera Utara Medan). (*/nd)
GEMA-Hari kedua pelaksanaan Lomba Bulu Tangkis, Kamis (18/7), para atlet bertanding sengit untuk mengamankan posisi di semifinal. Semangat para atlet diimbangi dengan riuh suporter yang tak henti di Gedung Sport Center UIN Malang. Salah satu pertandingan yang cukup sengit ialah kategori ganda putri antara UIN Malang dan UIN Banten. Kedua kubu sama-sama kuat dibuktikan dengan perolehan seri di seluruh set. Pertandingan pada akhirnya dimenangkan oleh atlet UIN Banten. “Alhamdulillah, kami senang dan bangga bisa masuk semifinal di turnamen ini. Kami akan bermain bagus dan percaya diri,” tutur Ulfita Noviani Rizky, mahasiswi UIN Banten. Sementara atlet UIN Malang harus rela kehilangan posisi semifinal di kategori ganda putri. “Ke depannya, saya akan tetap melatih diri agar bisa mengembangkan teknik permainan saya,” ujar Ranie Septiarahmah, atlet UIN Malang. (*/nd)
GEMA-Cabang Olahraga Catur dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 pada Rabu (18/7) mempertemukan para atlet kategori perorangan kilat putri dan perorangan standar putra. Hingga pukul 10.00 WIB, kedua kategori telah mengeluarkan para jawaranya. Medali Emas untuk kategori perorangan kilat putri diraih oleh Siti Hayati (UIN Sunan Gunung Djati Bandung). Ia berhasil mengumpulkan lima setengah poin di enam babak permainan. Sedangkan medali perak dan perunggu diraih Tesha Putri (IAIN Batusangkar) dan Xena Lorens (UIN Raden Fatah Palembang).
Untuk kategori perorangan standar putra, kontingen asal IAIN Tulungagung Muhammad Iqbal Maulana berhasil meraih medali emas. Medali perak diraih Luthfi Nurul Huda (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan medali perak oleh Iwan Sahroni (UIN Sunan Gunung Djati Bandung). (*/nd)
GEMA-Cabang Lomba Musabaqah Qiraatul Kutub (MSQ) memasuki hari kedua, Rabu (18/7). Sama dengan hari sebelumnya, perlombaan berjalan kondusif dan lancar dengan jumlah peserta yang tampil sebanyak 19. Masih dengan kitab klasik yang sama Bidayatul Mujtahid, peserta menunjukkan kemahirannya membaca, memaknai, dan menjawab pertanyaan dari para juri. Pertanyaan yang dilontarkan para juri sekitar i’rab, makna kata, dan kaitan bacaan dengan permasalahan sosial di sekitar. Said, peserta asal IAIN Pontianak mengaku kesulitan dengan pertanyaan yang diajukan. Menurutnya, orang yang sudah membaca kitab kuning tersebut sebelumnya belum tentu bisa menjawab. “Peserta butuh wawasan yang luas dan belajar lebih keras lagi,” tuturnya. (*/nd)
GEMA-Final penentuan para juara cabang lomba seni Cipta Lagu Islami telah dilaksanakan di Home Theater Humaniora, Rabu (17/7). UIN Malang selaku tuan rumah berhasil membawa medali emas. Kontingen UIN Alauddin Makassar meraih juara kedua dan IAIN Kudus di posisi ketiga. Juri berharap panitia pelaksana bisa membuat kompilasi dari karya 10 finalis. “Karena membuat lagu itu susah, jadi perlu diabadikan dan diapresiasi,” jelas HB Eryawanto. Hal senada disampaikan juri Takdir Sugiarto. “Saking sulitnya bisa sampai ngga bisa tidur,” ujarnya. Menurut dewan juri semua lirik lagu yang ditulis para finalis terdengar flat, tapi cukup bagus.
Hidayatul Muharromah kontingen asal IAIN Kudus menceritakan asal lirik yang ia tulis. Ia mengatakan lirik lagu merupakan instropeksi dirinya. Ia juga mewawancara 30 orang tentang ketuhanan. “Dari semua responden saya ambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata,” jelas peraih medali perunggu tersebut. (ir/nd)
GEMA-Babak final cabang lomba seni Puitisasi al Quran telah dilangsungkan di Hall Lippo Plaza Batu, Rabu (17/7). Final yang diikuti 10 peserta terbaik ini dimenangkan oleh kontingen asal UIN Yogyakarta Fida’ulmu Fidah. Disusul dengan IAIN Surakarta di posisi kedua dan UIN Palembang juara ketiga. Posisi harapan pertama diraih oleh kontingen UIN Jakarta. Sedangkan harapan kedua dan ketiga diraih IAIN Syekh Nurjati dan STAIN Teungku Dirundeng. Fidah mengaku bangga bisa mengharumkan nama kampusnya. “Saya bangga bisa menjadi kontingen UIN Yogyakarta di cabang lomba ini,” jelasnya. Ia juga berterima kasih kepada UIN Malang selaku penyelenggara PIONIR ke-9. “Terima kasih UIN Maliki, PIONIR tahun ini seru sekali,” tambah Fidah.
Deny Mizhar, salah satu juri mengatakan tidak sulit untuk menentukan juara pertama. “Karena pilihan saya dan rekan saya sama untuk juara pertama,” ujarnya. Namun agak sulit untuk posisi kedua sampai harapan ketiga. Penguasaan teks, lanjut Mizhar, perlu diperhatikan oleh para finalis. “Banyak dari tulisan peserta yang ditulis A, namun akhirnya dibaca B,” tuturnya. Ia juga menambahkan salah satu kunci dari puitisasi adalah penafsiran. (ir/nd)
GEMA-Memasuki hari kedua perlombaan futsal di Lapangan Indoor Tidar Champion cukup menguras tenaga panitia Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, Rabu (17/7). Edi Setyo, Penanggung Jawab Cabor Futsal mengerahkan semua tenaga dan pikiran untuk menyukseskan acara ini. Mengkondisikan acara dari pagi hari hingga sore hari sudah menjadi tugas yang harus dilaksanakan panitia. Mulai verifikasi data peserta tiap tim, pendataan laporan pertandingan, dan pengkondisian suasana perlombaan yang cukup memiliki tensi tinggi. “memasuki seleksi delapan besar, dibutuhkan ketegasan dan kekompakan panitia,” ungkap Edi. Adapun tim futsal yang berhasil memasuki 8 besar ialah UIN Malang melawan UIN Surabaya, UIN Jakarta melawan IAIN Palopo, IAIN Madura melawan IAIN Palu, UIN Riau melawan IAIN Tulungagung. (ofi/nd)
GEMA-Hari kedua perlombaan cabang olahraga Futsal dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 memanas, Rabu (17/7). Pasalnya, 16 tim memperebutkan gelar 8 besar pada pertandingan yang dihelat di Lapangan Indoor Tidar Champion ini. IAIN Madura cukup membuat tim lawan gemetar dengan dukungan suporter yang kompak dan bersemangat selama pertandingan. Bermodal panggilan jiwa, suporter IAIN Madura berangkat secara pribadi untuk memberikan dukungan kepada timnya. “Dukungan akan terus kita berikan selama pertandingan agar dapat memberikan semangat kepada tim pemain,” ucap Rizal Umam, Ketua Suporter IAIN Madura. Masuk semi final dan jadi juara dalam cabang olahraga Futsal PIONIR tahun ini menjadi harapan besar pemain dan suporter kampus tersebut. “Kami ingin membanggakan nama kampus,” tambah mahasiswa Semester tujuh ini. (ofi/nd)