GEMA-Lomba Debat Bahasa Arab di ajang Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 hari pertama berlangsung khidmat di Gedung Perkuliahan B Lt. 2, Rabu (17/7). Kompetisi yang dimulai tepat Pukul 08.00 WIB ini dilangsungkan di dua tempat, yakni B214 dan B215. Ruangan pertama dimulai dengan koalisi Pro 1 (UIN Banjarmasin), Pro 2 (UIN Malang), Kontra 1 (UIN Banten), dan Kontra 2 (IAIN Ternate). Sedangkan di ruangan kedua koalisi yang berhadapan ialah Pro 1 (IAIN Palu), Pro 2 (UIN Sumut Medan), Kontra 1 (IAIN Metro Lampung), dan Kontra 2 (UIN Yogyakarta). Perlombaan pertama ini dimulai dengan tema "Sarana Transportasi Online Menghentikan Perkembangan Transportasi Umum". Pemenang dalam perlombaan ini ditentukan dengan sistem poin. Dari 20 kontingen yang dilombakan dalam satu ruangan, diambil 8 kontingen untuk menuju ke semifinal. Di akhir perlombaan para kontingen saling berjabat tangan dengan damai. (*/nd)
GEMA-Lomba Cabang Olahraga Wall-Climbing hari kedua menguji para atlet kategori lead, Rabu (17/7). Kategori ini dilihat dari seberapa tinggi titik yang dicapai para atlet. Sebanyak 31 atlet putra dan 24 putri berkompetisi di kategori ini. Menurut Arifuddin, Juri Cabor Wall-Climbing, kategori lead fokus pada faktor olahraga. Rute yang dipanjat sudah dipasangi bolted atau hanger di interval ketinggian tertentu. Bagaimana dengan aspek kecepatan? Arif menjelaskan, “Itulah bedanya kategori speed kemarin dengan lead. Kecepatan tidak diutamakan di sini.” Untuk mengantisipasi atlet yang mengalami cedera, penanggung jawab Cabor Wall-Climbing menyiagakan Tim Medis dari UKM Korps-PMI UIN Malang. “Kami siap siaga merawat para atlet yang kemungkinan mengalami cedera dan kelelahan,” tutur Adi Sucipto, salah satu tim medis. (*/nd)
GEMA-Dari 19 pendaftar Lomba Desain Busana Islami untuk Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, dipilih 10 finalis yang berhak mempresentasikan karyanya di Ruang Sidang Student Center Lt. 1, Selasa (16/7). Tim juri melihat dari sisi orisinalitas busana, perpaduan warna, serta aplikasi gambar pada busana yang telah jadi. Kesepuluh finalis menonjolkan ciri khas daerahnya masing-masing. Terlihat dari pemilihan kain, model pakaian, hingga aksesoris pelengkap. Ciri khas tersebut dipadupadankan dengan nuansa modern agar tetap terlihat uptodate dan nyaman dikenakan. Nanang Inoransyah, salah satu juri, menyatakan lomba mendesain harus karya asli, bukan mencontoh. Jika ada peserta yang memang suka dengan karya seorang desainer, hendaknya itu cuma sebagai panutan. “Setiap desainer pasti memiliki karakteristik dan penjiwaan yang berbeda yang tertuang dalam karyanya,” jelas Nanang. Kesepuluh finalis akan mempertontonkan karyanya pada babak final di Lippo Plaza Kota Batu, Jumat (19/7).
GEMA-Tiga kategori cabang olahraga Catur Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 ditandingkan di Rumah Singgah Kampus Dua UIN Malang Lt. 4, Selasa (16/7). Kategori tersebut ialah perorangan cepat putra, perorangan kilat putra, dan perorangan standar putra. Masing-masing diikuti oleh 31, 20, dan 29 perwakilan PTKIN se-Indonesia. Di hari yang sama, panitia mengumumkan pemenang untuk dua kategori. Medali Emas kategori perorangan kilat putra ialah Surya Setiawan (UIN Raden Fatah Palembang) dengan perolehan enam poin dari enam ronde. Medali Perak disabet Shendy Widijayakusuma (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dengan lima poin dan Medali Perunggu diraih Mu’amar Fikri Ardiansyah, perwakilan tuan rumah UIN Malang dengan empat poin. Selanjutnya, Medali Emas kategori perorangan cepat putra diraih Fajar Fatikh kontingen dari IAIN Tulungagung. Ia merupakan juara bertahan PIONIR ke-8. Fajar mengumpulkan lima setengah poin setelah pada ronde terakhir mendapatkan hasil remis. Satria Dwi Firmansyah dari IAIN Kediri mendapatkan medali perak dan medali perunggu diraih oleh Aditya Ganta Saputra dari UIN Raden Fatah Palembang. Sementara itu, untuk kategori perorangan standar putra belum menghasilkan juara. Pasalnya, baru 3 ronde yang dipertandingkan. Tiga ronde berikutnya akan dilaksanakan pada Rabu (17/7) bersamaan dengan kategori perorangan kilat putri dan perorangan standar putri.
GEMA-Sejumlah 99 Qori-Qoriah cabang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 melantunkan dengan merdu bacaan Al Quran di Masjid At-Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (16/7). Saat pembukaan, Mahbub Ainurrofiq, Penanggung Jawab lomba menyatakan harapannya agar kegiatan ini berlangsung dengan lancar dan menjunjung sportivitas. Dengan didampingi oleh tiga Dewan Hakim yang kompeten di bidangnya, cabang lomba yang terdiri atas 48 putri dan 51 putra dari PTKIN se-Indonesia ini pun berlangsung khidmat. Siti Aisyah Hakim, salah satu Dewan Hakim menuturkan pihaknya menikmati penampilan para peserta. Masing-masing dewan hakim memiliki konsen penilaian yang berbeda. Mulai dari penilaian tajwid, fashohah, serta lagu dan suara. Ustazah asal Bawean yang merupakan Juara MTQ Nasional tahun 1985 ini bertugas sebagai penilai bidang lagu dan suara. Kepada Tim Media Center, beliau menuturkan dari tujuh belas Qori-Qoriah yang telah tampil, semuanya memiliki karakter lagu dan suara yang berbeda. “Saya sungguh berharap kegiatan ini dapat berjalan lancar sesuai dengan harapan semua pihak Tentunya, penampilan Qori-Qoriah pun akan mengalami peningkatan untuk peserta esok hari,” tutur pembina MTQ Kabupaten Malang tersebut. Nantinya cabang MTQ ini akan diambil enam semi finalis dari putra maupun putri, kemudian akan menjadi juara tiga teratas serta tiga juara harapan yang akan diseleksi kembali pada hari keempat pelaksanaan perlombaan ini. (aqa/nd)
GEMA-Venue cabang olahraga (Cabor) Bulu Tangkis di Gedung Sport Center UIN Malang riuh dengan kehadiran peserta dan penonton Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, Selasa (16/7). Para peserta tampil sportif dan maksimal dengan dukungan kerabat dan teman sesama atlet yang menonton. Tiga babak cabor ini akan diadakan selama tiga hari di tempat yang sama. Babak final akan dilaksanakan pada Kamis (18/7). Ashari Ferdiansyah, atlet asal IAIN Pontianak merasa sangat bersemangat bisa jadi bagian dari ajang akbar ini. Apalagi ia membawa nama almamaternya. “Hanya saja, saya harus benar-benar menyesuaikan diri dengan cuaca dan suhu Kota Malang,” imbuhnya. Ya. Pelaksanaan PIONIR 2019 ini memang berbarengan dengan suhu Kota Malang yang cenderung menurun. Sehingga peserta yang berasal dari luar Jawa yang notabene bersuhu tinggi, harus beradaptasi. Suyanto, Penanggung Jawab Cabor Bulu Tangkis, menuturkan wilayah perlombaannya berlangsung baik serta terkendali. Pada grand final nanti, tiga juara tunggal putra, tiga juara tunggal putri, tiga juara ganda putra, dan tiga juara ganda putri akan diumumkan.
GEMA-Medali Emas pertama perhelatan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 dikeluarkan oleh cabang olahraga (Cabor) Karate, Selasa (16/7). Perlombaan yang memang hanya berlangsung sehari dan diikuti 23 peserta kategori putra dan 18 kategori putri ini dilaksanakan di MAN 2 Kota Malang. Untuk kategori putri, juara pertama diraih kontingen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang atas nama Nur Kharisma. Disusul kontingen IAIN Purwokerto, Ayu Dian Ramadanti dan di urutan ketiga Nashihatul Insyiroh dari UIN Sunan Gunung Djati Banding pula.
Sementara itu, di kategori pertama, gelar juara pertama disabet M. Fuad Fikri (UIN Alauddin Makassar), juara kedua Dani Rafiq (UIN Bandung), dan juara ketiga Tri Anggoro (UIN Lampung). Nur Kharisma menyatakan kelegaannya pasca dinobatkan sebagai peraih medali emas. Ada beban karena kampus berlogo Ulul Albab ini bertindak sebagai tuan rumah. Maka, ia pun maksimal mengerahkan energi saat penampilan. “Ini sekaligus persembahan terakhir prestasi sebelum wisuda,” tuturnya. Agus, penanggung jawab cabor karate, menyatakan, kompetisi Karate dilakukan dalam tiga babak. Yakni penyisihan, penentu, dan final. Semua babak berlangsung lancar. “Acara ditutup pukul 2 siang beserta penyerahan penghargaan dan cinderamata.
GEMA-41 kontingen telah menampilkan yang terbaik pada lomba kategori seni Puitisasi al Quran dalam Pekal Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 untuk memperebutkan 10 kursi finalis, Selasa (16/7). Deny Mizhar, tim juri mengumumkan kesepuluh finalis yang akan bertanding pada 17 Juli di Hall Lippo Plaza Batu. Mereka adalah kontingen dari IAIN Syekh Nurjati Cirebon, UIN Gunung Djati Bandung, UIN Mataram, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, STAIN Teangku Dirundeng, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sumatra Utara Medan, IAIN Surakarta, dan IAIN Curup. Deny mengatakan peserta perlu memperhatikan gerak dan gestur saat membacakan puisi. “Tidak perlu berlebihan, ini bukan teaterikal puitisasi al Quran,” candanya. Nada dan teknik penggunaan mikrofon juga sangat penting. “Kalau terlalu teriak-teriak juga tidak bagus, sakit telinga pendengar,” jelasnya. Ia berpesan agar finalis bisa menampilkan yang lebih bagus pada final nanti.
Anwar Masadi selaku penanggungjawab lomba menjelaskan teknis final. Berbeda dengan babak penyisihan, finalis hanya perlu membacakan satu puitisasi pilihan. “Kita minta berbeda dari babak penyisihan biar ada pembaruan,” tegasnya. Ia juga memastikan prasarana final akan dilengkapi, seperti lampu waktu yang belum ada pada babak penyisihan. Ayu Wulandari kontingen asal STAIN Sorong Papua merasa bangga bisa mewakili kampus di ajang nasional. "Karena saya baru semester lima jadi ini pertama kali," ujar mahasiswi Ekonomi Syariah itu. Ia juga menambahkan persiapannya tidak terlalu lama. Pasalnya seleksi kontingen dilaksanakan baru Juni lalu. "Saya berharap bisa memberikan yang terbaik untuk kampus saya," tambahnya. (ir/nd)
GEMA-Cabang Seni Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) 10 Juz dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 diadakan di Masjid Ali Ash Shabuny Kampus Pascasarjana UIN Malang, Selasa-Sabtu (16-20/7). 72 peserta dari PTKIN se-Indonesia meregistrasikan diri dalam cabang lomba tersebut. Setiap harinya, 18 peserta lomba diuji hafalan al Quran yang sudah mereka persiapkan. Peserta harus memerhatikan tiga aspek yang ditentukan tim juri. Ketiganya meliputi kelancaran hafalan, tajwid, dan kefasihan dalam pelafalan. Sistem perlombaan yang digunakan penanggung jawab MHQ 10 juz tidak jauh berbeda dengan perlombaan hifzil Quran lainnya. Peserta mengambil soal yang berisi empat ayat acak. Panitia telah menyediakan 72 paket soal yang berbeda. Kemudian peserta wajib meneruskan ayat dari masing-masing keempat ayat tersebut hingga juri menekan bel tanda selesai. (ofi/nd)