GEMA-Pembukaan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 di Lapangan Utama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dimeriahkan dengan beragam penampilan, Senin malam (15/7). Suguhan-suguhan apik ditampilkan mahasiswa-mahasiswa kampus berlogo Ulul Albab ini untuk menyambut atlet-atlet dari PTKIN seluruh Indonesia. Di awal acara, mahasiswa Fakultas Humaniora membuka penampilan dengan Tari Saman khas Aceh. Penampilan diiringi nyanyian live tersebut mencuri perhatian penonton. Dilanjutkan dengan tarian tradisional oleh mahasiswa Jurusan PGMI angkatan 2017. Ke-17 mahasiswa yang tergabung dalam Sanggar Seni Bina Madrasah ini menampilkan secara medley, tarian dan nyanyian nusantara. Penampilan ini tak pelak menjadi hiburan bagi peserta PIONIR yang memang berasal dari beragam daerah di Indonesia.
Panitia pelaksana juga menghadirkan iringan menggunakan kostum dari ajang tahunan Karnaval Malang. Kostum meriah dengan hiasan bunga yang memang menjadi ikon Kota Malang itu kembali menjadi pusat perhatian di perhelatan pembukaan PIONIR 2019. Selanjutnya, ada pula penampilan dari mahasiswa UKM Taekwondo. Selain menampilkan jurus-jurus secara seni, mereka melengkapi aksinya dengan beragam akrobat. Beberapa performa lagu juga dihadirkan di panggung bernuansa dominan hijau semalam.
GEMA-Di hadapan ribuan atlet Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Dirjen Diktis Kamaruddin Amin, rektor UIN Malang, rektor UIN Ar Raniry Aceh, dan ketua forum wakil rektor bidang kemahasiswaan membuka resmi perhelatan akbar Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, Senin malam (15/7). Kembang api pun menghiasi langit malam di area Lapangan Utama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam pemaparannya, menteri agama dan seluruh pihak di kementeriannya mendukung penuh kompetisi besar dwi tahunan tersebut. PIONIR disebutnya sebagai pelengkap pendidikan formal dalam kelas di setiap kampus. Ikhtiar pendidikan, ujarnya, ialah memanusiakan manusia. Untuk mencapainya, pendidikan formal saja tentu tidak akan cukup. “Maka diperlukan kegiatan ekstrakurikuler di luar kelas formal,” lanjutnya.
Kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi salah satu kebijakan Kemenag. Kegiatan di luar kelas menjadi salah satu program strategis, di antaranya melalui aktivitas seni dan riset ilmiah. Segala ikhtiar ini, masih kata Lukman Hakim, ditujukan untuk mencapai cita-cita besar PTKIN. Yakni, menghasilkan lulusan yang profesional serta memiliki asas sosial kemasyarakatan. Sehingga nantinya, lulusan PTKIN bisa bergerak aktif serta positif di masyarakat dan berkontribusi untuk memajukan bangsa Indonesia. (nd)
GEMA-Perhelatan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 mencakup puluhan cabang perlombaan. Maraknya mafia saat perlombaan, menjadi concern Dirjen Diktis Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA. Karena ajang besar ini ada dalam naungan Kementerian Agama, ia menekankan pentingnya kejujuran dalam bertanding. Hal ini ia sampaikan saat memberikan sambutan di panggung pembukaan PIONIR ke-9 di Lapangan Utama UIN Malang, Senin malam (15/7). Menjadi juara, ujarnya, memang penting. Seseorang tentu memiliki kebanggaan dan kepuasan saat dinobatkan sebagai Sang Juara dalam event sebesar PIONIR. “Jadi juara memang penting, namun menanamkan kejujuran dalam bertanding lebih penting lagi,” tegasnya. Dalam kompetisi antar mahasiswa PTKIN se-Indonesia ini, Prof. Kamaruddin berharap agar tidak ada praktik kecurangan. Pihak panitia penyelenggara dan pelaksana sangat teliti dalam memilih juri agar tidak ada subjektivitas. “Semua kompetisi kita laksanakan dengan semangat kebersamaan dan sportivitas,” tutur lulusan Universitat Bonn, Jerman ini. Di masa mendatang, Prof. Kamaruddin berharap atlet-atlet yang diterjunkan dalam ajang dwi tahunan PIONIR ini juga berkesempatan menjadi atlet yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah nasional dan internasional. “Mahasiswa PTKIN harus memiliki cita-cita luhur untuk secara aktif berkontribusi bagi bangsa,” imbuhnya. Terakhir, ia ingin agar seluruh peserta memanfaatkan ajang tingkat nasional di antara institusi PTKIN ini. Pasalnya, tidak semua mahasiswa berbakat di bidang olahraga, seni, maupun riset ilmiah bisa lolos untuk dikirimkan menjadi salah satu kontingen mewakili kampus. (nd)
GEMA-Ribuan atlet dari seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Kementerian Agama berkumpul di Lapangan Utama UIN Malang untuk memeriahkan grand opening Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, Senin (15/7). Pasca beragam persembahan dari mahasiswa-mahasiswa UIN Malang, Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. menyampaikan laporannya sebagai tuan rumah pelaksana. Ia mengajak seluruh peserta PIONIR dari segala penjuru Indonesia untuk bersama-sama membangun imej PTKIN. Imej yang diinginkan ialah menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dan menjadi jujugan para orangtua untuk mendidik putra-putrinya. Tak hanya sekadar membangun imej secara institusional, Prof. Haris juga menegaskan bahwa mahasiswa-mahasiswi PTKIN pun memiliki tugas untuk membentuk imej selama belajar. “Mahasiswa-mahasiswi PTKIN ialah mereka yang beretika, sehingga menjadi lulusan berilmu dan juga bermoral luhur,” tutur rektor kelahiran Lamongan ini. Sehingga nantinya, tak hanya institutional building yang terbangun secara positif melalui perhelatan PIONIR ini. Namun juga character building para lulusannya yang diharapkan menjadi panutan bagi masyarakat sekitar. Pembukaan PIONIR ke-9 dimeriahkan dengan persembahan mahasiswa-mahasiswa UIN Malang. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka secara resmi perhelatan dwi tahunan tersebut. Tampak pula Plt. Bupati Kabupaten Malang Sanusi, Dirjen Diktis Prof. Kamaruddin Amin, serta Dirjen PTKIN Prof. M. Arskal Salim. (nd)
GEMA-Setelah mempersiapkan selama berbulan-bulan, akhirnya Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 segera dimulai. Malam ini (15/7), bertempat di Lapangan Utama UIN Malang Kampus Satu, seluruh pimpinan dan para atlet PTKIN se-Indonesia akan menyaksikan Grand Opening gawe dwi tahunan tersebut. Rencananya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak akan turut membuka acara yang berlangsung hingga 21 Juli ini. Kedatangan wagub mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang berhalangan karena jadwal yang padat. Panitia Pelaksana juga turut mengundang walikota Malang, bupati Kabupaten Malang, dan walikota Batu. Sejak akhir pekan, panggung utama telah dipersiapkan oleh Event Organizer di depan Gedung Pusat Bahasa. Panggung berdominan hijau tersebut dilengkapi dengan layar LED serta dua layar di sisi kanan dan kiri. Pihak EO juga melengkapi panggung dengan speaker berkualitas tinggi agar gaung pembukaan PIONIR 2019 semakin meriah.
GEMA-Bersamaan dengan hari pembukaan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, seluruh pimpinan PTKIN se-Indonesia berkumpul. Forum Pimpinan PTKIN tersebut diadakan di Aula Lt. 5 Gedung Rektorat UIN Malang. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendis Kementerian Agama menjelaskan beberapa hal. Di antaranya persoalan penjaringan ketua program studi (Kaprodi) dan percepatan guru besar, Senin (15/7). Prof. Kamaruddin menjelaskan pihaknya mengkaji ulang beberapa hal terkait persyaratan dalam penjaring Kaprodi. Hingga sekarang, persyaratan masih berpedoman pada peraturan lama sehingga banyak hal menjadi kendala. “Sedangkan kadang kita ada di saat yang urgen dan butuh pengganti Kaprodi secepatnya,” imbuhnya. Untuk itu, lanjut pria kelahiran 1969 ini, persoalan kepangkatan sempat disinggung. Menurutnya, seseorang tidak perlu pangkat untuk dinyatakan layak sebagai Kaprodi. Pihak Pendis Kemenag akan menitikberatkan pada karya. Jika orang tersebut aktif menghasilkan karya dan memiliki visi-misi yang sejalan dengan program studi dan kampus, “Maka ia bisa diangkat jadi Kaprodi,” lugasnya. Setelah pemaparannya, Prof. Kamaruddin mendengarkan masukan dari beberapa pimpinan PTKIN yang hadir. Beberapa di antaranya menyinggung persyaratan untuk pengajuan guru besar. Menurut mereka, banyak hal yang dirasa berat. Terutama pada karya tulis yang harus termuat di jurnal dengan indeks Scopus. Mereka pun menyarankan, agar pengabdian calon guru besar juga memiliki bobot yang sama besar dengan karya tulis ilmiah. Menanggapi hal tersebut, Prof. Kamaruddin menyatakan bahwa pihaknya juga mengkaji hal tersebut. Ia sangat menyadari urgensi kebutuhan guru besar di institusi di bawah Kementerian Agama. Sehingga, ke depan, ia ingin agar tidak banyak dosen yang tertunda hanya karena persyaratan yang ruwet. (nd)
GEMA-Seluruh ibu rektor yang tergabung dalam perkumpulan darma wanita seluruh PTKIN se Indonesia menggelar Focus Group Discussion di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Senin (15/7). Hadir membuka sekaligus memberikan sambutan Ketua DWP UIN Malang Hj. Rif’ah Khoriyah Harits, dia menyampaikan terimaksih atas kehadiran para ketua DWP seluruh PTKIN di kampus ulul albab. Semoga kegiatan ini bisa memberikan pencerahan khususnya dalam persoalan pengembangan PTKIN. "Selamat datang dan semoga ibu-ibu bisa menikmati selama ada di Malang," paparnya.
Ketua FGD Darma Wanita PTKIN Ibu Titi KDI dalam sambutannya mengajak sharing pengelolaan PAUD yang dikelola langsung oleh ibu-ibu darma wanita persatuan DWP di lingkungan PTKIN. "Dengan adanya program PAUD yang dikelola DWP sama halnya meninggalkan sesuatu yang baik, sehingga bisa memberikan semangat bagi penerusnya," katanya. Jangan sampai, kata dia, DWP meninggalkan sesuatu yang tidak baik. Ciptakan sesuatu yang baik menjadi lebih baik melalui kerja keras ibu-ibu semua. "Kerahkan semua potensi yang dimiliki demi berkembangnya PTKIN kita ini," ajaknya serius.
GEMA-Sebanyak 58 Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se Indonesia siang ini menggelar rapat bersama membahas penyelenggaraan PIONIR yang ke-10 kalinya, Senin (15/7). Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abd. Harus, M.Ag dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas kehadiran seluruh pimpinan PTKIN di UIN Maliki Malang, dia mengajak melalui forum pimpinan ini bisa terus menjalin silaturahim menambah erat dan kebersamaan antara PTKIN di seluruh Indonesia. "Saya berharap kegiatan seperti ini bisa memajukan PTKIN di seluruh Indonesia," harapnya.
Prof. Haris, kegiatan ini bisa memberikan manfaat seluas-luasnya kepada seluruh PTKIN untuk bisa maju bersama-sama meningkatkan kualitas dan mengembangkan perguruan tinggi Islam di Nusantara ini. "Semoga pertemuan ini bisa memberikan manfaat bagi kemajuan PTKIN," harapnya. Sementara itu, Ketua Forum Pimpinan PTKIN. Prof. Dr. Babun Suharto dalam arahannya menegaskan bahwa kegiatan pertemuan rutinitas seperti ini untuk memper erat hubungan antara STAIN, IAIN, dan UIN seluruh Indonesia. "Forum ini milik kita bersama sehingga semua rektor memilki tanggung jawab yang sama," paparnya.
Pembahasan pelaksanaan PIONIR X yang rencananya akan di selenggarakan tahun 2021 sudah ada beberapa perguruan tinggi yang siap menjadi tuan rumah, salah satunya UIN Riau dan Papua. "Mereka yang siap akan kami koordinasikan dengan pihak kementerian dan keputusannya tetap ada di pak Menteri," jelasnya. Sebelum rapat dilanjutkan, seluruh pimpinan yang hadir sejenak disuguhi hiburan tari Nusantara dan tari Malang sebagai bentuk ucapan selamat datang dari mahasiswai Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang.
GEMA-Identitas seseorang bisa terlihat jelas, salah satunya, dengan memperhatikan cara berbicaranya. Pasalnya, setiap daerah pasti memiliki keunikan dalam bertutur kata. Hal ini dipaparkan oleh Dr. Suhandano, MA. pakar Linguistik Antropologis dalam Workshop Penelitian Linguistik Antropologi. Acara digagas oleh Lembaga Kajian Bahasa dan Budaya, yang bernaung di Fakultas Humaniora, Senin (15/7). Dihadiri para dosen pengampu mata kuliah bahasa di UIN Malang, workshop tersebut bertempat di Aula fakultas Lt. 3. Pada dasarnya, menurut Suhandano, Linguistik Antropologis mempelajari bahasa yang dikaitkan dengan budaya penuturnya. Tak hanya sekedar mengidentifikasi identitas penutur, namun cabang keilmuan tersebut juga mengupas tuntas kultur yang dianut si pembicara. “Seperti perbedaan ketika salam. Tata cara salam menunjukkan identitas orang tersebut,” papar dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. Karena itu, lanjutnya, tidak salah jika dikatakan, “Berbicara itu mempraktikkan budaya penutur.” Ketika mempelajari bahasa dari beragam budaya di dunia, kita akan menemukan hal-hal unik. Hal yang pastinya berbeda dengan budaya kita sendiri. Perbedaan ini, menurut peraih gelar master dari The Australian National University itu, disebabkan oleh konsep penutur yang juga sangat beragam. Ia memberi contoh, bagi penutur Bahasa Korea, mengatakan bayi yang lucu seperti anak anjing adalah hal yang positif. “Kalau di Indonesia? Tentu tidak, karena konotasi kata anjing sendiri tidak positif untuk budaya kita,” jelasnya. (nd)