OPENING: Direktur Dirjen Pendis Kemenag RI saat membuka kegiatan ICON UCE
HUMAS-Kegiatan bergengsi Internatonal Conference on University Community Engagement (ICON-UCE) 2022 kali ini dilaksanakan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang diagendakan akan berlangsung selama tiga hari dan berakhir hingga 26 Oktober 2022, Senin (24/10).
ICON-UCE 2022 tahun ini mengambil tema Post-Pandemic Resilience: From Islamic Higher Education to Social Transformation atau “Resiliensi Pasca Pandemi: Dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk Transformasi Sosial”
Perhelatan ICON UCE dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP, M.T, Bapak Bupati Cirebon, Wali Kota Cirebon serta para aparat kepolisian dan unsur TNI juga turut hadir dalam pembukaan ICON UCE di kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Rektor IAIN Syekh Nurjati selaku tuan rumah menyampaikan terimakasih kepada Menteri Agama RI yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan sepenuhnya atas perhelatan akbar ICON UCE di IAIN Syekh Nurjati. "Dan terimakasih pula kepada seluruh PTKIN yang turut hadir berpartisipasi mengikuti kegiatan ekspo pendiidkan, produk penelitian hingga kolaborasi hasil penelitian di ICON UCE ini," ucapnya saat menyambut perhelatan nasional ini.
Sementara itu, Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP, M.T dalam sambutannya mengajak seluruh peserta yang hadir untuk sejenak mendokan keselamatan Dr. Swendi, M.Ag salah satu staf FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tengah mengalami insiden kecelakaan di ruas Tol Cipali saat hendak menghadiri acara ICON UCE ini. "Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesembuhan kepada beliau dan mampu melewati masa kritisnya," doanya bersama.
Terlepas dari itu, Ali Ramdhani juga mengajak seluruh PTKIN untuk senantiasa saling berbagi dan melengkapi satu sama lain untuk bisa maju bersama mengembangkan PTKIN yang ada di seluruh Indonesia. "Aya maju bersama dan jangan sampai ada sekat pembatas antara satu sama lain, karena kekuatan itu berada di kebersamaan dan saling silaturahim seperti ini," kata dia saat membuka perhelatan ICON UCE.
Selain itu, dalam opening seremoni kali ini juga dilaksanakan lounching buku pengabdian dengan Tiga metode sekaligus yaitu metode PAR , ABCD, dan juga Learning sistem. "Semoga dengan diresmikannya buku ini akan semakin menebarkan manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat khususnya para peneliti," paparnya.
Sementara itu, Rektor Syekh Nurjati Dr. H. Sumanta Hasyim, M.Ag menjelaskan bahwa perhelatan ICON UCE ke-4 tahun ini memiliki 12 sub tema yang berbeda diantaranya yaitu Perguruan Tinggi dalam Penguatan Ekonomi Masyarakat, Pendampingan dan Advokasi Anggaran Desa, Hemat Energi, Bank Sampah, dan Teknologi Terapan, Filantropi Islam dan Resiliensi Masyarakat, Peningkatan Kesehatan Masyarakat, Perguruan Tinggi dalam Tanggung Jawab Sosial, Pengabdian Masyarakat Berbasis Moderasi
Beragama, Pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Pemberdayaan Masyarakat, Kreativitas dan Inovasi Pelayanan KKN, Kemitraan Penta-Helix PTKI dalam Pemberdayaan Masyarakat, Gender dan Anak dalam Perubahan Sosial. "Dan yang terakhir yaitu Best Practice Integrasi Tri Dharma PTKI," jelas Rektor IAIN Syekh Nurjati.
Saat ditanya soal target ICON UCE tahun ini, orang nomor satu ini menegaskan bahwa target utamanya yaitu sebagai ajang silaturahim antar PTKIN untuk memuat makalah (research based) terkait metodologi dan karya-karya pengabdian yang telah dan sedang diselenggarakan, juga dilakukan training metode pengabdian kepada masyarakat yang terfokus pada dua metode yaitu Participatory Action Research (PAR) dan Asset Based Community Development (ABCD).
Selain itu, tambah dia, juga ada ekspose dan diseminasi hasil karya pengabdian dan karya inovasi terbaik di lingkungan PTKI dengan berbagai stakeholder. "Nanti diakhir kegiatan juga akan ada pemberian penghargaan atas penyelenggaraan KKN terbaik, tokoh inspiratif pengabdian kepada masyarakat, dan juga program
PKM terbaik dilombakan dan diikuti oleh seluruh dosen dan peneliti di PTKIN seluruh Indonesia," pungkasnya.
HUMAS-Unit Kesehatan Haji Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menyelenggarakan Simposium Internasional dengan tajuk The 3rd Annual Health Symposium on Hajj and Umrah (ANSHAR) 2022 secara daring, Sabtu-Minggu (22-23/10).
Panitia Simposium Internasional ANSHAR 2022 FKIK UIN Maliki Malang
Kegiatan ini selaras dengan visi Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Maliki Malang yang berkomitmen untuk mencetak lulusan Dokter dengan keunggulan ilmu kedokteran wisata, khususnya haji. Forum ilmiah ini ditujukan kepada dosen, peneliti, mahasiswa, dan pegiat ilmu kesehatan haji, baik dari internal maupun eksternal civitas akademika UIN Maliki Malang untuk saling berbagi hasil penilitian terkini terkait permasalahan bidang kesehatan pada penyelenggaraan Haji.
Tema yang diusung pada tahun ini adalah Heat Emergency on Hajj Pilgrims yang berfokus pada 5 topik, yaitupelayanan dan manajemen kesehatan (dokter, perawat, dan apoteker), perawatan kulit yang terbakar sinar matahari (medis, keperawatan, dan farmasi), pengembangan kosmetik/peralatan kesehatan haji dan umrah, ilmu keperawatan dan kefarmasian, serta topik yang berkaitan dengan kesehatan.
Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati, M.Kes, Sp.Rad (K), Dekan FKIK UIN Maliki Malang dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para partisipan yang mengikuti Simposium Internasional tersebut meskipun secara virtual. Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. M. Zainuddin, MA juga turut menyapa partisipan yang hadir. "Seminar ini diharapkan dapat mempersiapkan tenaga kesehatan dalam menghadapi permasalahan kesehatan Haji di tahun 2023 mendatang," ujarnya dalam sambutannya.
Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia saat menyampaikan Opening Speech
Berbagai pembicara telah berpartisipasi pada kegiatan kali ini, seperti Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D dari Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah memberikan opening speechnya pada Sabtu (22/10), lalu. Pada hari ini, akan disampaikan presentasi oral oleh beberapa keynote speakers, seperti Dr. Anas Khan, MBBS, MHA, SBEM selaku Director General of the Global Center for Mass Gatherings Medicine of Ministry of Health, Saudi Arabia dan masih banyak yang lainnya. (ndi/acg)
HUMAS-Tujuh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (Prodi BSA) Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang(UIN Maliki Malang) yang tergabung dalam komunitas El-Jidal patut diacungi jempol. Setelah sebelumnya tim debat Bahasa Arab ini telah berhasil menempati juara pertama dalam ajang Festival Padang Pasir di Semarang, kali ini juga berhasil membawa pulang dua piala debat Bahasa Arab dan satu piala lomba syair dalam Festival Gebyar Bahasa Arab (GBA) yang digelar IAIN Syech Nurjati Cirebon, Sabtu (22/10).
Ummi Hasanah, M. Zaimul Umam, dan M. Husain Rifa’i yang tergabung dalam tim inti debat Bahasa Arab telah memenangkan posisi pertama dalam perlombaan nasional tersebut. Serta tim kedua yang terdiri dari Betty Ayunda Wulandari, Sopyan Ade Saputra, dan Maurra Fatimah Azzahro berhasil meraih posisi ketiga pada kategori lomba yang sama. Hingga predikat Best Speaker satu dan dua didapatkan oleh Ummi Hasanah dan Betty Ayunda Wulandari
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur, karena kerja keras tim membuahkan hasil yang memuaskan. Saya harap pencapaian kami juga dapat menjadi pemicu mahasiswa UIN Malang lainnya untuk terus menorehkan prestasi dalam perlombaan apapun,” ujar Ummi Hasanah, Ketua Tim Debat El-Jidal.
Selain tim debat, pada cabang lomba puisi bahasa Arab, Robiah Mahmudah, juga berhasil menduduki juara pertama festival tersebut. Lima kategori yang diraih ketujuh mahasiswa BSA, berhasil menempatkan tim El-Jidal UIN Malang sebagai Juara Umum pada ajang festival Gebyar Bahasa Arab 2022 di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Capaian gemilang yang mengharumkan kampus UIN Malang di kancah nasional, menjadi sorotan para tim-tim debat bahasa Arab dari seluruh Indonesia. Pasalnya, dalam satu pekan ini mahasiswa BSA UIN Malang mampu mengantongi tiga piala lomba debat pada dua event nasional.
“Berhadapan dengan tim El-Jidal UIN Malang, sangat membutuhkan effort luar biasa,” ungkap Ketua Tim Debat dari UNIDA Gontor, Faris Istiqlal, pada pertemuan singkat dengan jurnalis Sahabat Kampus.(Na/Fer)
Ibu Hanifika Indriarida, S.E. (Head of Area Nestle Central Java Indonesia)
HUMAS-Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar acara Economy Festival Tahun 2022. Salah satu rangkaian acara yang dikhususkan kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang ini adalah Sharing Session Career Development yang bertajuk Making Steps to Build the Future, Sabtu (22/10).
Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang
DEMA FE mendatangkan narasumber General Administrator – Public Relation Section Bank Indonesia Malang, Ibu Erma Zein, S. Akun dan Head of Area Nestle Central Java Indonesia, Ibu Hanifika Indriarida, S.E. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang Ibu Dr. Indah Yuliana, S.E., M.M.
Materi pertama disampaikan oleh Ibu Erma tentang pengembangan diri.
“Kita harus mencoba mengeksplor diri untuk tahu kemampuan yang kita miliki, seperti membangun relasi yang baik dengan Bapak/Ibu Dosen dan juga tidak lupa untuk mempertahankan nilai akademik” jelasnya.
Sedangkan Ibu Hanifika Indriarida menyampaikan
“Jangan menyia-nyiakan proses yang kita hadapi dan kita jalani saat menempuh jenjang kuliah, karena setiap proses tersebut dapat dituliskan dalam Curriculum Vitae yang kita persiapkan untuk ke jenjang yang akan dihadapi setelah perkuliahan” jelasnya.
Dengan diadakannya Sharing Session Career Development ini diharapkan menambah wawasan mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi dunia kerja. (sm)
Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai hari Santri Nasional oleh Presiden RI, Joko Widodo melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015. Ketetapan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa para santri memiliki peran besar dalam pembangunan bangsa, termasuk pemerdekaan Republik ini. Ketetapan tersebut bertepatan dengan deklarasi Resolusi Jihad yang dilakukan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari di Surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945.
Kemajuan dan perkembangan sains dan teknologi serta budaya modern yang begitu akseleratif membuat banyak kalangan dan pemerintah khawatir akan berpengaruh fatal terhadap kehidupan manusia dan bahkan semua makhluk yang ada di bumi ini. Ketika perubahan sosial-budaya dalam masyarakat kita kian terasa, maka tuntutan terhadap peran agama semakin besar, sementara kepergian kiai atau ulama satu demi satu kian bertambah dan belum cukup signifikan penggantinya, maka pada gilirannya tuntutan terhadap keberadaan ulama pun tak kalah besarnya, sebab merekalah sebagai pembawa misi agama dan pewaris para Nabi. Selain itu memang kiai dengan pesantrennya telah memiliki kontribusi besar dalam pembangunan nasional.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, memiliki andil dalam pengembangan kepribadian, antara lain adanya perhatian besar kiai terhadap santri, rasa hormat dan tawadhu santri terhadap kiai, hidup sederhana, hemat dan mandiri, kesetiakawanan, saling menolong, disiplin serta tahan uji. Dalam kehidupan pesantren terlihat leburnya individualisme dan egoisme. Apalagi kalau dikaitkan dengan persoalan pengangguran, pesantren tidak akan khawatir dengan pekerjaan, sebab pesantren memang tidak menjanjikan kerja (promise of job). Tujuan pendidikan pesantren yang asasi adalah untuk mencetak manusia berilmu dan berkepribadian luhur. Dua entitas ilmu dan kepribadian tersebut harus dimiliki oleh seorang santri. Berilmu saja tanpa disertai moral akan beresiko tinggi, begitupun sebaliknya. Meski begitu, lulusan pesantren pada umumnya tidak kenal menganggur, karena dengan modal soft skill-nya mereka bisa bekerja di hampir semua sektor.
Sistem pendidikan pesantren hingga saat ini masih yang terbaik, karena tiga hal: Pertama, pola pendidikan live in (tinggal di ma’had) selama masa belajar. Kedua, adanya kurikulum yang tersembunyi (hidden curriculum) dari para kiai dan ustaz yang menjadi role model bagi para santrinya. Ketiga, tradisi santri yang memiliki sikap dan karakter yang excellent yaitu tawadhu’, ulet, dan mandiri. Sikap-sikap tersebut menjadi kebutuhan yang sangat didambakan di era modern seperti sekarang ini.
Selain itu, pendidikan di pesantren juga bersifat inklusif dan tidak membatasi usia santri. Siapapun bebas belajar (nyantri) di pesantren, termasuk yang tidak memiliki biaya hidupnya. Karena para kiai memiliki tanggungjawab dan perhatian besar terhadap keberlangsungan pendidikan anak bangsa. Tradisi pendidikan khas pesantren inilah yang kemudian menginspirasi para pengelola pendidikan di beberapa perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKIN) untuk menyelenggarakan program ma’had yang memadukan pendidikan tinggi dengan pesantren, seperti contohnya yang sudah berlangsung lama di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Jayalah santri, jayalah kiai, jayalah pesantren dan jayalah kita semua.***
HUMAS-Dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke-61 dan peringatan hari santri nasional 2022, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar lomba nadhaman kitab kuning bagi mahasantri Al Aly. Kegiatan kali ini berlangsung di Masjid at Tarbiyah, Kamis (20/10).
Penanggung jawab pelaksana lomba nadhaman kitab kuning Muhammad Nuruddien, menjelaskan bahwa lomba kali ini digelar untuk memperingati HUT UIN Maliki Malang sekaligus menggali skill mahasantri dalam kemampuannya menghafal kitab kuning yang berbahasa arab gundulan (tanpa harakat, red). Kitab yang dilombakan kali ini yaitu Kitab Turats, kata turats sendiri dalam bahasa Arab berarti warisan, maksudnya adalah buku-buku warisan atau peninggalan ulama-ulama klasik terdahulu. "Dengan digelarnya lomba nadham kitab ini diharapkan mahasantri bisa mempertahankan keilmuan turats para ulama terdahulu," jelasnya.
Selain itu, lomba ini juga untuk mengasah kompetensi para mahasantri dan mencari peserta terbaik yang bisa diharapkan menjadi delegasi lomba kitab kuning di kanca nasional maupun internasional. "Semoga para pemenang lomba ini bisa menjadi delegasi UIN Maliki Malang di perlombaan qiraatul kutub tingkat nasional maupun internasional," harapnya.
Saat ditanya soal aspek penilian lomba, M Nuruddien menjelaskan bahwa ada tiga aspek utama penilaian lomba kali ini yaitu dari aspek kelancaran hafalan, pemahaman, serta nahwu sorrof nya. "Jika terdapat skor penilaian yang sama, maka dewan juri akan mengutamakan di aspek pemahamannya," jelasnya.
HUMAS-Agus Mulyono, dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi panelis dada AICIS 2022. Tampil di room meeting 8 Fakultas Syariah UIN Mataram Lombok di hari kedua, Jumat (21/10).
Agus mempresentasikan makalahnya yang berjudul Development of Qirbah Made of Goats, Cow and Buffalo Skin to Increase Drinking Water Quality (Effort to Community the use of Qirbas and Reduce the use of Plastic)
Menurut Agus, penelitian yang dilakukan kali ini bermula dari hadits tentang Qirbah (tempat minum terbuat dari kulit. Red), sehingga menimbulkan rasa penasaran untuk lebih jauh lagi mempelajari Qirbah.
Bunyi hadits tersebut adalah “Diriwayatkan dari Jabir Radliallahu ‘anhu…, Rasulullah mengunjungi sebuah rumah milik kaum Anshor bersama seorang sahabatnya dan berkata kepada pemilik rumah : “Bila engkau memiliki air di dalam qirbah ( wadah air dari kulit) yang tersisa dari semalam, berikan kepada kami untuk minum; bila tidak biarlah kami minum dari aliran airnya langsung.” (Sahih Bukhari).
Dari hadits tersebut, kata Agus, menunjukkan bahwa terdapat hikmah yang besar berkaitan dengan penggunaan qirbah, bahwa nabi memilih minum dari aliran airnya langsung, jika tidak ada air yang disimpan satu malam dalam qirbah.
Apa itu hikmahnya?, Bisa jadi salah satunya adalah berkaitan dengan kualitas air minum, bahwa kualitasnya air minum akan meningkat jika air berada di dalam qirbah dalam satu malam. “Inilah yang menjadi ide untuk kami teliti lebih lanjut,” jelasnya.
Pebelitian yang dilakukan ini untuk melihat kualitas air yang disimpan dalam qirbah (dengan variasi lama penyimpanan air) yang terbuat dari kulit sapi, kulit domba, kulit kerbau, kulit kelinci dan lain sebagainya dan kemudian membandingkannya dengan kualitas air yang disimpan dalam botol berbahan plastik, kaca, kendi, keramik, juga berbahan bambu, batok kelapa, serta kulit buah labu dan beberapa bahan lainnya.
“Kemudian mengukur parameter fisika, kimia, dan biologi. mengukur PH, konduktivitas, kadar oksigen, jumlah bakteri tertentu (yang sebelumnya sengaja dimasukkan bakteri tertentu dan kemudian diamati kembali pertumbuhan bakteri tersebut,” jelasnya.
Hasilnya riset ini, tambah dia, menunnjukan bahwa qirbah dapat meningkatkan kualitas air minum dibandingkan dengan wadah yang lain. Menurut beberapa literatur ukuran standar qirbah jaman dulu bisa menampung air sekitar 38 liter. Ulama fiqih menggunakan ukuran 5 Qirbah yang setara dengan 2 Kullah air atau setara 190 liter. Ukuran 5 qirbah atau 2 kullah inilah yang menjadi batasan air yang tidak tercemari oleh najis. “Tapi untuk keperluan praktis, qirbah bisa dibuat ukuran kecil yang bisa dibawa kemana-mana,” harapnya sembari mencontohkan botol berukuran 500 ml.
Agus menjelaskan, hikmah yang lain dari Qirbah adalah dengan menggunakan qirbah mungkin bisa mengatasi masalah sampah plastik yang semakin menumpuk karena memang sangat sulit terurai. “Sementara qirbah akan cepat terurai oleh tanah karena dari bahan organik,” jelasnya.
Mungkin ada jutaan domba, kambing dan sapi dipotong setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi manusia, ini berarti ada jutaan kulit yang sebagiannya bisa dibuat Qirbah yang cukup memenuhi seluruh penduduk di dunia. Dan ini juga memotivasi untuk terus mengembangkan peternakan tidak saja untuk memenuhi kebutuhan daging tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan kulit untuk berbagai keperluan manusia. “Jadi tidak akan pernah kekurangan kulit, jika terus mengembangkan dunia peternakan,” paparnya.
Ini juga, kata dia, merupakan peluang menjadi bisnis yang menarik untuk terus mengembangkan peternakan, dan juga peluang untuk memulai membuat qirbah. “Ayo mumpung belum banyak persaingan peluang ini bisa dimanfaatkan,” ajaknya.
HUMAS-Pembukaan The 21 th Annual International Conference on Islamic Studies atau yang akrab di sevut AICIS 2022 yang tahun ini diselenggarakan UIN Mataram NTB Lombok ini diresmikan langsung Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas dengan ditandai pemukulan gendang beleq. Gendang beleq itu sendiri merupakan salah satu musik tradisional yang telah diwariskan orang terdahulu masyarakat Suku Sasak yang mendiami pulau Lombok, musik ini biasa digunakan oleh masyarakat untuk penyambutan tamu istimewa yang terus dilestarikan hingga sekarang. Pada pembukaan AICIS kali ini ada empat pimpinannyang naik kepanggung kehormatan untuk melakukan pemukulan gendang beleq yaitu Gus Menteri, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP, M.T, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Dr. H. Syafi’i, M.Ag, dan Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah. AICIS menjadi ajang bergengsi di lingkungan Kemenag yang dijadikan ajang silaturahim bagi para praktisi peneliti lokal maupun internasional. AICIS tahun ini mengangkat tema FUTURE RELIGION IN G-20: Digital Transformation, Knowledge management, and Social Resilience yang akan dijadwalkan selama tiga hari yaitu tanggal 20-22 dilaksanakan di UIN Mataram Lombok dan 1-4 November 2022 dilanjutkan di Bali.
HUMAS-The 21 th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2022 yang diselenggarakan di NTB Lombok dengan tuan rumah UIN Mataram Lombok pada tanggal 20-22 Oktober 2022 secara resmi dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas ditandai dengan pemukulan gendang belek. AICIS sudah menjadi ajang tahunan berkumpulnya para praktisi peneliti lokal maupun internasional. AICIS tahun ini mengangkat tema FUTURE RELIGION IN G-20: Digital Transformation, Knowledge management, and Social Resilience.
Gus menteri mengawali sambutannya mengapresiasi perhelatan AICIS yang dinilai telah menjadi miniatur kajian Islam yang tidak hanya moderat tapi juga bisa membentuk mentalitas yang kuat baik di sektor wawasan intelektual, agama, politik, maupun gerakan sosial kultural. "Sayang berharap AICIS yang mempertmukan para akademisi ini bisa membuat aksi nyata menuju bangsa yang moderat dalam beragama," tegasnya. Gus Yaqut meminta agar perhelatan konferensi skala internasional ini tidak hanya mampu menghasilkan paper atau artikel hasil penelitian saja. Akan tetapi, bisa membuat gerakan masif bagaimana Indonesia dengan kemajemukannya ini bisa menjadi contoh bagi negara lain akan toleransi dan moderasi agama masyarakatnya kuat. "Saya rasa permintaan ini tidak berlebihan sesuai dengan tema AICIS tahun ini," tegasnya.
Masih kata Gus Menteri, hari ini dunia mengalami resesi global, perang, hingga pertentangan keyakinan masih terjadi, sebagai cendekia muslim tidak boleh diam saja, harus memilih mana yang bisa diperbantukan untuk peradaban manusia. Sejarah telah membuktikan bahwa agama sering dijadikan sebagai pijakan perang dan konflik telah terjadi dengan mengatasnamakan agama. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memandang dirinya sebagai kelompok ekslusif. "Jika tampilan ini masih mendominasi agama akan dijadikan alasan yang nyaman untuk berkonflik," terangnya.
Untuk itu, tambah dia, mari tunjukkan ke dunia bahwa ajaran agama islam itu penuh rahmat dan selalu mengajarkan untuk saling menghargai antar sesama karena semua itu sudah menjadi ketentuan Allah SWT. "Masalah ini sudah dijelaskan di surat Almaidah ayat 48," tegasnya. Turut hadir Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP, M.T, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Dr. H. Syafi’i, M.Ag, dan Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag serta Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah. AICIS tahun ini menghadirkan sepuluh pembicara ahli yaitu James B. Hoesterey dari Emory University yang sekaligus Associate Professor and Winship Distinguished Research Professor of Religion (2019-2022), Yenny Wahid, Eny Retno Yaqut, Yo Nonaka, Mujiburrahman, Jeremy Menchik, Ali Munhanif, Masdar Hilmy, Azmil Mohd Tayeb, dan Iik Arifin Mansurnoor.
Dalam sambutannya, Ali Ramdhani meminta hasil AICIS bisa diimplementasikan untuk riset studi keislaman yag mendukung toleransi dan keharmonisan di tengah masyarakat. Ini akan menjadi pondasi terhadap moderasi beragama yang senantiasa memberikan nuansa keharmonisan ditengah kemajemukan masyarakat yang ada di Indonesia. "Saya ucapkan terimakasih kepada panitia yang telah menyiapkan AICIS yang spektakuler ini meski penuh dengan keterbatasan," ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah menjelaskan banyak orang menanyakan perkembangan agama di tengah era digitalisasi ini. Dengan adanya AICIS ini setidaknya bisa dilakukan transformasi yang bisa menghadirkan kebaikan bagi semuanya. "Semoga AICIS ini bisa menggerakkan para pemuda bangsa menjadi generasi unggul dan moderat dalam beragama" harapnya.