GEMA-Fakutas Ekonomi (FE) Program Studi S1 Perbankan Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang hari ini menjalani proses akrditasi. Proses asesmen lapangan berlangsung online dan dijadwalkan akan berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (18-19/12).
Dekan Fakultas Ekonomi Dr. Nur Asnawi, M.Ag menjelaskan bahwa visitasi ini merupakan hal yang sangat penting dilaksanakan di Fakuktas Ekonomi guna untuk perbaikan secara terus menerus. Pasalnya, dalam proses asesmen tentu akan ada banyak masukan untuk segera ditindak lanjuti untuk mendukung dan meningkatkan layanan bagi mahasiswa. "Saya berharap proses asesmen lapangan yang dilakukan secara daring ini bisa berjalan lancar dan membawa kemejuan Fakultas Ekonomi kedepan," harapnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag dalam sambutannya menegaskan, Prodi Perbankan Syariah ini menjadi sangat penting untuk kepentingan bersama dalam mewujudkan kampus yang ideal. UIN Malang, kata dia, sudah banyak menjalin kerjasama dengan perbankan, bahkan ada beberapa bank yang sudah membantu dan bekerjasama dalam hal pengelolaan keaungan kampus. "Eksitensi Perbankan Syariah (S1) dibutuhkan oleh masyarakat, terutama mengelolah perbankan sesuai ajaran Islam," terangnya.
Oleh karena itu, tambah dia, dengan dilaksanakannya akreditasi Prodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi ini diharapankan mampu menjadi salah satu prodi unggulan kampus UIN Malang. "Selain itu, kedepan semoga ada program studi lanjutan yakni S2 Perbankan Syariah di kampus UIN Malang," doanya seraya diamini para pimpinan.
Tim Asesor BAN-PT dari Universitas Diponegoro Dr. Agus Purwanto, SE, M.S., Akt mengawali sambutannya menyadari bahwa proses asesmen di masa pandemi ini mengharuskan tim asesmen lapangan dari BAN-PT harus melakukan proses asesmen secara daring. Akan tetapi, asesmen lapangan yang dilakukan secara daring ini sesungguhnya hampir sama dengan yang dilaksanakan secara luring atau offline. Ada beberapa item yang harus disiapankan dalam asesmen lapanagn seperti bukti-bukti dokumen yang ada diborang, wawancara dengan alumni, mahasiswa maupun dosen dan masih banyak lagi yang harus ditunjukkan saat asesemen berlangsung. "Saya berharap asesmen ini bisa berjalan dengan sebaik-baiknya dan tidak terjadi kendala apapun," harapnya.
Sementara itu, asesor BAN-PT asal Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr. Hikmah Endraswati, SE., M.Si., Akt turut menegaskan bahwa asesmen lapangan ini merupakan tindak lanjut dari borang yang sudah dikirimkan ke BAN-PT. Tim asesor akan malakukan konfirmasi terkait borang dengan fakta dan data riil yang ada di lapangan, apakah sesuai dengan borang akrieditas Prodi Perbankan Syariah UIN Malang. "Kami berharap asesmen lapangan dapat berjalan lancar dan sukses serta mendapatkan hasil yang terbaik untuk kemajuan prodi Perbankan Syariah (S1) Fakultas Ekonomi UIN Malang," pungkasnya. (Kh/*).
GEMA-UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menaruh perhatian besar terhadap perkembangan bahasa Arab, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia Internasional. Buktinya untuk menyambut peringatan hari Bahasa Arab Internasional tahun ini yang jatuh pada tanggal 18 Desember, kampus berlogo Ulul Albab di Malang Raya ini menyelenggarakan website seminar(webinar) Internasional, Jumat (11/12).
Tidak tanggung-tanggung, acara yang mengusung tema "Bahasa Arab di Indonesia: Perspektif Luar Negeri" ini mengundang pemateri di bidang pemerhati dan pakar bahasa Arab dari orang luar. Diantaranya yang pertama Prof.Dr. Dustin Cowell (University of Wisconsin) dari USA. Kedua Prof. Dr. )Shaleh Al Shitsri (King Khalid Military College) dari Saudi Arabia, dan ketigab Prof. Dr. Faisal Mahmoud Adam (University of the Holy Quran and Islamic Science) dari Sudan. Sehingga wajar saja webinar berskala internasional ini pelaksanaannya menggunakan bahasa Arab. Begitu interes-nya Rektor UIN Maliki, Prof.Dr. Abd Haris M.Ag saat sambutan mengungkapkan bahwa kampus yang ia pimpin memang mempunyai perhatian yang sangat tinggi terhadap bahasa Arab. Hal itu terbukti sampai sekarang UIN Maliki sendiri terus mengasah dan mempelajari bahasa Arab. Selain melalui proses perkuliahan dan juga seminar seperti ini, juga dilakukan melalui aktivitas di ma'had.
Dalam webinar kali ini, para pembicara memberikan pandangannya sebagai orang luar terkait bahasa Arab di Indonesia. Fokusnya pada eksistensi bahasa tersebut sejak awal datang, lalu perkembangannya sampai sekarang di Indonesia. Asumsi dasarnya mereka memandang bahwa bahasa Arab begitu kuat di Indonesia karena di Indonesia ini terkenal mayoritas penduduknya ialah muslim. Selain webinar, menurut Ketua panitia acara, Dr. H. Sutaman, MA ada lagi momentum penting yang saat itu digelar juga bersamaan di ruang rektor, Lt. 1 Gedung Ir. (HC) Soekarno, yakni launching pengurus konsorsium Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Maliki Malang. Dalam hal ini, yang mendapat amanah menjadi ketua konsorsium PBA adalah Dr. Sutaman sendiri selaku moderator saat acaranya berlangsung. Ditanya sesusai acara, Sutaman pun memiliki pendapat bahwa webinar tentang eksistensi Bahasa Arab di Indonesia dalam pandangan luar negeri merupakan hal sangat penting dalam pengembangan Bahasa Arab itu sendiri baik secara mikro maupun makro. Karena bahasa Arab merupakan bahasa Al Quran yang mayoritas sudah tidak asing digunakan oleh orang Indonesia. "Saya terkesan dengan komprehensipnya pandangan para pemateri terkait pendidikan Bahasa Arab di indonesia. Begitu pula antusias para peserta seminar dari berbagai negara dan seluruh PTKIN se-Indonesia. Harapannya hasil dari seminar itu bisa dijadikan rekomendasi bagi pemerintah dan pelaksana pendidikan khususnya di Indonesia," pungkasnya. Hadir saat acara Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Pengembangan Kelembagaan yang juga memberikan sambutan pembuka acara, Ketua Pusat Pengembangan Bahasa, Kepala PKPBA, Kaprodi beserta sekprodi PBA, para dekan dan ketua unit-unit yang terkait di UIN Maliki. (ptt)
GEMA-Dharma Wanita Persatuan(DWP) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mendapat kunjungan istimewa dari DWP Kementerian Agama (Kemenag) Pusat. Pasalnya, tamu yang hadir kali ini adalah Hj. Farichah, S. Pd. I, seorang publik figur di lingkungan DWP Kemenag Pusat sekaligus istri dari Prof. Dr. H. Nizar Ali, M. Ag, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia. Kedatangan orang nomer wahid dari DWP Kemenag Pusat itu disambut hangat oleh ketua DWP UIN Maliki Malang, Dra. Hj. Rif'atul Choiriyah beserta para pengurus di ruang rektor, Lt. 1 Gedung Ir. (Hc) Soekarno. Jumat(20/11)
Selanjutnya, dalam kesempatan yang berharga tersebut Farichah Nizar Ali, begitu nama panjangnya selain bersilaturahmi juga mendapat penghargaan sebagai narasumber dalam acara Focus Group Discussion(FGD) dengan tema "Meningkatkan Potensi Perempuan Dalam Mencapai Visi Misi Kementerian Agama". Acara tersebut diselenggarakan di Meeting Room, Lt. 3 Gedung Rektorat.
Maka dari itu, Ibu yang telah dikaruniai dua orang putra ini mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para pengurus DWP UIN Maliki sekaligus merasa tersanjung atas segala bentuk perhatian dalam menyambut kedatangannya. Memulai materi bahasan saat FGD, Farichah lebih detail menjelaskan tentang bagaimana upaya para warga DWP menghidupkan peranan dari organisasi yang semuanya beranggota ibu-ibu atau istri dari Aparatur Sipil Negara (ASN) di instansi manapun milik negara Republik Indonesia, tak terkecuali di instansi Pendidikan Tinggi berstatus Negeri.
Menurutnya, pondasi utama dari berdiri sampai tumbuh kembangnya keberadaan organisasi wanita (DWP) yakni adanya komitmen. "Jadi ibu-ibu sekalian, jika kita ingin organisasi DWP kita ini sukses maka modal utamanya harus ada komitmen!", tegasnya. Komitmen dalam hal ini, masih kata Farichah yakni komitmen yang bisa menyadarkan diri kepada para anggota untuk menyakini bahwa DWP bisa mandiri apa pun situasi dan kondisnya, aktif menjalankan peranannya, bertanggung jawab dan mampu bekerja sesuai dengan lima budaya kerja di Kemenag, antara lain: 1) integritas, 2) profesionalitas, 3) inovatif, 4) tanggung jawab dan 5) keteladanan.
Farichah menganalogikan bahwa semisal komitmen para pengurus DWP sudah benar-benar ada kemudian ditambah dengan adanya penerapan lima budaya kerja Kemenag, maka inshaa Allah kesuksesan bisa tercapai dan itu secara tidak langsung bersinergi dengan tujuan Kemenag RI. "Mari kita syukuri, menjadi pengurus DWP berarti berstatus sebagai istri dari pejabat ASN, itu adalah nikmat namun sekaligus juga amanah. Cara mensyukurinya yaitu dengan kita para pengurus DWP melakukan tugas dengan lebih baik dan semakin hari tambah baik", jelasnya.
Capaian dari suksesnya DWP itu yang paling sederhana seperti tujuanya yang tertulis di syair Mars DWP yakni: Tercapailah harapan kita, sejahteralah anggota dan keluarganya. "Semoga DWP UIN Maliki Malang di sini bisa sukses, mensejahterakan anggota dan keluarganya serta bermanfaat bagi lingkungan masyarakat di sekitarnya", harapnya seraya diamini oleh para pengurus DWP yang hadir. (ptt)
GEMA-Bersyukur patut selalu diungkapkan oleh segenap pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pasalnya, kemarin kampus Islami yang berlambangkan Ulul Albab di Malang Raya ini kedatangan tamu istemewa dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Diktis Kemenag), yakni Prof. Dr. Suyitno, M. Ag, Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Rabu (2/12). Dalam kunjungannya kali ini, Prof. Suyitno selain ingin bersilaturahmi juga mendapat kesempatan berharga untuk memberikan arahan dan support kepada para pimpinan universitas dalam acara Forum Group Discussion (FGD). Sesuai dengan visi UIN Maliki dan semangat membara para pimpinan kampus dalam mewujudkannya, maka FGD tersebut mengambil tema "Strategi Pengembangan Kelembagaan Bereputasi Internasional". Di awal arahannya, Direktur alumni S3 UIN Syarif Hidayatullah ini langsung menyakini bahwa UIN Maliki Malang bisa segera mewujudkan cita-citanya yakni menjadi kampus bereputasi internasional. "Apabila UIN Malang ini mendiklirkan diri siap menjadi Perguruan Tinggi bereputasi, saya kira itu hal yang bisa kita percayai dan saya menyakini itu bisa tercapai", ucapnya. Namun demikian, lanjut Prof. Suyitno apabila UIN Maliki Malang ingin menjadi kampus bereputasi Internasional maka yang mesti dicatat adalah harus memiliki tiga modal. Modal yang pertama adalah modal sosial, kedua modal intelektual dan yang ketiga yakni modal Sumber Daya Manusia(SDM) yang telah teruji. Selain itu menurutnya masih ada hal yang sangat perlu diwaspadai, yakni tentang kohesivitas yang berkaitan dengan kesamaan visi para pimpinan dan seluruh sivitas akademik UIN Maliki. Beliau begitu sangat mewanti-wanti terkait hal tersebut karena sebelumnya telah memiliki pengalaman berharga dalam berkarier di perguruan tinggi. Kemudian untuk menjaga kohesivitas tersebut, ia menghimbau kepada para pimpinan universitas, dekanat di fakultas hingga kepala biro dan ketua unit-unit agar selalu kompak (menjaga kebersamaan dan kesamaan visinya). Karena dengan begitu, seluruh warga kampus UIN Maliki bisa terhindar dari bahayanya rasa egoisme. "Jadi musuh tertinggi tata kelola Perguruan Tinggi itu adalah egoisme, yang merasa pinter sendiri, menang sendiri, paling berjasa dan tidak butuh orang lain, hal seperti ini tidaklah terjadi di UIN Malang ini", harapnya dengan penuh keyakinan. Di akhir arahannya pada topik bahasan FGD, Prof. Suyitno menyatakan keyakinannya bahwa UIN Maliki Malang telah memiliki modal sosial, sudah ada juga kohesivitas dan kebersamaan serta SDM yang mumpuni di dalamnya sehingga ke depan pada waktunya nanti akan segera mampu menjadi universitas bereputasi Internasional.(ptt)
GEMA-Semangat para pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang patut diacungi jempol. Buktinya, kampus berlogo Ulul Albab yang bulan kemarin genap berusia 59 tahun terus berupaya mewujudkan visinya. Salah satunya, melalui agenda Studi banding senat akademik di Universitas Negeri Surakarta (UNS). Dalam agenda yang dihadiri para tokoh penting antar kedua institusi ini, berlangsung di Ruang Sidang Lt.2, Gedung Ir. Prakosa, Kantor Pusat UNS, Rabu (25/11). Saat memberikan sambutan, Prof. Dr. Abd. Haris, M. Ag sebagai perwakilan tim Studi banding UIN Miliki Malang mengatakan bahwa kunjungannya bersama para wakil rektor, anggota senat dan guru besar ke UNS bertujuan untuk silaturahmi sekaligus menimba pengalaman dari Senat Akademik(SA) UNS. Khususnya, pengalaman UNS dalam hal internasionalisasi institusi.
"Tujuan kami datang ke sini(UNS) adalah tidak lain melainkan silaturahmi untuk share dan diskusi sekaligus ingin mendapatkan pengalaman implementasi UNS dalam mengembangkan status institusinya," ucap Prof. Haris sapaan akrab rektor UIN Maliki Malang. Selanjutnya, dijelaskan oleh ketua Senat Akademik UNS, Prof. Dr. Adi Sulistiyono, S.H., M.H bahwa adanya perubahan institusi UNS dari statusnya BLU menjadi PTN-BH membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Menurutnya, hal yang paling fundamental yakni soal modal. Meski bukan hal yang paling dasar namun modal berupa materi itu sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan status institusi. Selain itu faktor komunikasi internal, manajemen dan kerjasama serta networking dengan pihak terkait mesti diperhatikan. Sehingga pada akhirnya, apabila semua komponen telah ready to action kemungkinan peluang besar menuju perubahan status institusi pendidikan tinggi akan segera terealisasi. "Sungguh prosesnya itu tidaklah lama, asal segala syarat, komponen dan modalnya telah ada maka teruslah berusaha hingga terwujud perubahan pada hasilnya," pungkas Prof. Adi sapaan akrabnya.(ptt)
GEMA-Studi Banding UIN Maliki Malang tahun ini tidak hanya ke satu lokasi saja. Di hari kedua agendanya, tim studi banding yang dinahkodai langsung Prof. Dr. Abd. Haris, M. Ag selaku rektor UIN Maliki Malang melanjutkan kunjungannya ke salah satu PTN ternama di Semarang, yakni Universitas Diponegoro. Kedatangan tim yang terdiri dari para pimpinan universitas, anggota Senat dan guru besar UIN Maliki Malang disambut hangat oleh rektor UNDIP beserta segenap pimpinan Senat akademiknya. Pertemuan terselenggara di ruang Senat Lt.Gedung SA-MWA. Kamis (26/11).
Berbeda dengan kunjungan di UNS sebelumnya, karena pertemuan di UNDIP lebih berfokus pada pembahasan pengelolaan jurnal internasional (Scopus) dan proses percepatan menuju guru besar. Disetting dalam Forum Group Discussion (FGD) sehingga mampu menghidupkan suasana pertemuan yang lebih akrab. Saling bertukar pengalaman dan ilmu, salah satunya topik yang disampaikan oleh Sekretaris Senat Akademik UNDIP, Prof. Indah Susilowati. Ia menjelaskan secara detail tentang proses kiat percepatan menuju guru besar khususnya bagi peneliti di bidang sosial, agama dan budaya. "Anda tidak perlu khawatir karena akan ada aturan baru yang mengacu Kampus Merdeka dan pastinya ada kebijakan solutif bagi penelitian non-saintek dalam meraih gelar tertinggi akademik yakni profesor atau sebagai guru besar," ungkapnya. Topik diskusi lainnya, misal tentang spesifikasi Senat Akademik (SA)yang ada di UNDIP. Di sesi ini dijelaskan oleh Ketua Senat Akademik UNDIP, Prof. Dr. Ir. Sunarso, M.Si. Ia mulai menerangkan dari uraian susunan organisasi, landasan hukum, komponennya sampai pada wewenangnya. Menurutnya, keanggotaan senat akademik UNDIP terdiri atas dosen wakil fakultas ex officio sebanyak 17 orang, 18 orang dari guru besar, dan 34 orang wakil dari dosen non guru besar. ”Selain senat akademik, sesuai status UNDIP sebagai PTN-BH juga dibentuk majelis wali amanat dan dewan guru besar,” ungkapnya. Majelis Wali Amanat (MWA) adalah organ UNDIP yang menetapkan, memberikan pertimbangan pelaksanaan kebijakan umum dan melaksanakan pengawasan di bidang non-akademik. (PP52/2015 pasal 1 ayat 3. "Semoga informasi tentang SA UNDIP ini nanti bisa diambil inspirasi dan inovasinya oleh UIN Maliki yang sedang menuju perubahan statusnya dari BLU manjadi PTKIN-BH", harap Prof. Sunarso diakhir acara tersebut. (ptt)
GEMA-Universitas Islam negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menggelar Rapat Tinjauan Manajemen (RTM). Kegiatan tahunan ini dilaksanakan di Aula rektorat lt.5 dan dihadiri seluruh pimpinan di lingkungan UIN Maliki mulai dari tingkatan unit, lembaga, fakultas, dan pascasarjana, RTM kali ini dihadiri langsung Dewan Pengawas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, M.A. Pelaksanaan RTM dijadwalkan akan berlangsung selama tiga hari dan berakhir Senin (23/11).
Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Maliki Malang Dr. Malik Karim Amrullah menegaskan bahwa kegiatan RTM ini bukan hanya sebagai rutinitas tahunan saja. Akan tetapi, RTM ini dijadikan sebagai momen untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Dalam forum ini, semua pimpinan pemangku kebijakan hadir langsung dan menyampikan hasil dari evaluasi hasil output dari program yang sudah direncanakan sebelumnya. “Semua pimpinan yang hadir akan diberi waktu untuk menyampaikan capaian dari program yang direncanakan serta kendala apa saja yang di hadapi dan sekaligus mencari solusinya bersama,” terangnya.
Masih kata Malik, proses perbaikan mutu layanan pendidikan ini wajib dilakukan secara serentak dan menyeluruh, baik dari bawahan hingga atasan, baik di tingkat unit, lembaga, fakultas hingga tingkatan universitas. RTM ini kedepan harus menjadi siklus di semua lembaga, fakultas dan unit yang ada di institusi ini. “Alhamdulillah Audit Mutu Internal (AMI) mulai tahun depan sudah masuk kalender akademik,” terangnya. Apalagi kata dia, UIN Malang sudah menuju kampus bereputasi internasional, dan sudah melakukan proses asessmen AUN-QA dan semoga apa yang menjadi cita-cita UIN Malang bisa terwujud. “Yang terpenting, lembaga ini bisa terus melakukan perbaikan pelayanan dan meningkatkan reputasinya di kancah internasional,” pungkasnya.
Hal senada juga disampaikan Rektor UIN Maliki Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. dalam sambutannya dia menegaskan bahwa RTM ini untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di UIN Malang. Melalui LPM semua mutu layanan harus dikontrol dan di evaluasi secara berkala, RTM ini untuk melihat SWOT dan mengevaluasi kelemahan-kelemahan yang terjadi di lapangan. “Untuk itu, melalui RTM ini para pimpinan diajak untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh dan segera melakukan perbaikan,” tegasnya. “Saya yakin perguruan tinggi ini akan menjadi lebih baik asal temuan yang dihasilkan segera ditindaklanjuti,” pungkasnya.
GEMA-Tahun ini pelaksanaan Wisuda di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berbeda dengan tahun sebelumnya. Rektor UIN Maliki Malang Prof. Dr. Abd Haris M.Ag, menyampaikan permohonan maaf kepada wali atau keluarga wisudawan karena prosesi wisuda terpaksa tidak bisa dilakukan secara offline, Selasa (17/11). "Saya, atas nama pimpinan memohon maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa melaksanakan kegiatan wisuda secara offline," ucap Prof. Haris sapaan akrab rektor UIN Maliki saat mengawali sambutannya. Menurutnya, dengan adanya berbagai pertimbangan dan saran-saran dari banyak pihak, sehingga para pimpinan kampus berlogo Ulul Albab ini memutuskan untuk melaksanakan kegiatan wisuda periode II dan III semester gasal tahun ini secara online.
Prof. Haris menyadari adanya beberapa pihak yang kecewa karena wisuda digelar online. Akan tetapi, pihaknya menegaskan bahwa kebijakan ini demi kemaslahatan bersama. "Wisuda online ini sebagai upaya menjaga kemaslahatan bersama dan memutus penyebaran virus corona Covid-19 ini," terangnya. Prof. Haris berharap tahun depan suasana sudah kembali normal. "Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa normal kembali. Semoga Allah memberikan rahmat kepada kita semua umat manusia di dunia ini dan kita bisa melakukan kegiatan akademik secara normal sebagaimana biasa," harapnya.
Jumlah wisudawan tahap II tahun 2020 ini 800 orang. Mereka terdiri dari berbagai Fakultas. Pertama, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) berjumlah 205 mahasiswa. Kedua, Fakultas Syariah berjumlah 116. Ketiga, Fakultas Humaniora berjumlah 44, Fakultas Psikologi berjumlah 35, Fakultas Ekonomi berjumlah 87, Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) berjumlah 197. Terakhir, yakni Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) berjumlah 17. Sedangkan Program Pascasarjana total berjumlah 99 mahasiswa. “Kami ucapkan selamat dan semoga ilmu yang di dapat bisa bermanfaat bagi diri dan masyarakat secara luas,” doanya. (ptt)
GEMA-"Pendidikan itu yang penting bisa melahirkan manusia-manusia yang bener sekaligus pinter. Kalau yang pinter saja sudah banyak dan itu kita semua sudah tahu," ucap KH. Miftachul Akhyar, Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)saat berkunjung di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (10/11). Dalam acara silaturahmi yang dibalut dengan nuansa kekeluargaan itu, kedatangan Kyai Miftah sapaan akrabnya ini disambut ramah oleh Rektor UIN Maliki, Prof. Dr. Abd. Haris, M. Ag beserta para wakilnya. Pada kesempatan tersebut, Kyai kelahiran Surabaya tahun 1953 tersebut mengungkapkan sebagian keluh kesahnya atas kondisi pendidikan sekarang yang ada di negeri ini. Oleh karena itu, Kyai Miftah menyatakan bahwa perhatian pada pendidikan bagi NU merupakan sebuah amanah besar disamping persoalan ekonomi yang belum teratasi di Indonesia. "Alhamdulillah kalau permasalahan kesehatan sudah mulai muncul perubahannya," imbuhnya. Lanjut, masih kata Rais 'Aam pengganti KH. Ma'ruf Amin ini bahwa sudah sejak lama UIN Maliki Malang dikenal sebagai perintis pendidikan tinggi Islam dengan model pengelolaannya dipadu ala pesantren. Oleh, karena itu Kyai Miftah menegaskan bahwa sekarang ini sebenarnya tidak perlu lagi menambahkan orang-orang pintar saja jika mereka tidak benar. "Orang yang pinter tapi tidak bener nantinya jadi keblinger!," tegasnya. Maka Kyai jebolan alumni dari beberapa pesantren ternama di tanah Jawa ini menyatakan kelak pendidikan di pondok pesantren dan kampus-kampus berbasis pesantrenlah yang mampu melahirkan produk yang dibutuhkan tersebut. "Lha, UIN Maliki ini termasuk di dalamnya karena telah menerapkan sistem pendidikan pesantren," ungkapnya. Sehingga di akhir arahannya, Kyai Miftah dengan keyakinannya berharap UIN Maliki Malang bisa terus maju dan berkembang seiring perubahan zaman. "Semoga kampus ini mampu menaikkan grafiknya, maqom-nya terus menanjak hingga membanggakan kita semua dan para muaziz hingga nanti melahirkan manusia yang benar sekaligus pintar," pungkasnya. Hadir saat acara selain para wakil rektor, ada pimpinan pascasarjana, para dekan, para kabiro, ketua unit-unit universitas dan pejabat lain yang terkait. (ptt)