GEMA-Sebagai salah satu reviewer dalam seminar hasil penelitian dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) 2019, Prof. Dr. Muhammad Djakfar, SH., M.Ag. berbagi mengenai para peneliti tahun ini. Ditemui pasca menelaah semhas 14 judul penelitian, ia menuturkan beberapa hal. Menurutnya, para peneliti tahun ini menunjukkan peningkatan kualitas dibanding periode yang pernah ada. Mulai dari tahap proposal, seminar antara, hingga yang terakhir seminar hasil. “Terlihat peningkatan hasilnya yang semakin membaik entah itu dari segi umum maupun personal,” imbuhnya. Dari segi umum, ia mengapresiasi pemantauan dari Unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Malang. Dengan sistem yang dibuat dan terjadwal, peneliti menjadi lebih disiplin. Sedangkan dari sisi personal, ia menilai bahwa para peneliti sangat bertanggung jawab terhadap penelitiannya.
Hal ini, masih kata Prof. Djakfar, terlihat dari makin teratur dan patuhnya penerima dana BOPTN 2019. Semua dijalankan sesuai time table yang ditetapkan Unit LP2M. Melalui agenda seperti seminar antara dan pertemuan rutin dengan pembimbing, peneliti juga menunjukkan peningkatan dalam laporan penelitiannya. Ia menambahkan, sikap disiplin yang ditunjukkan para peneliti tentu berasal dari karakter mereka yang bertanggung jawab. “Mereka tahu bahwa hasil penelitiannya nanti dibaca banyak orang, jadi mereka tidak mungkin main-main pada prosesnya,” papar Guru Besar Bidang Ekonomi Islam tersebut. Dari sejumlah penelitian yang ia telaah selama proses semhas, ia bersyukur tidak ada kendala berarti. “Hanya ada revisi-revisi yang termasuk dalam kategori minor, selebihnya sudah hampir sempurna,” ujarnya. Unit LP2M mengumpulkan 152 penerima dana penelitian BOPTN 2019 untuk melakukan seminar hasil. Semhas yang dilaksanakan selama dua hari tersebut (28-29/10) bertempat di Spencer Green Hotel, Bumiaji, Kota Batu. (nd)
GEMA-Menjadi pengorganisir para penerima dana riset Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) 2019, Unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) memiliki tugas yang tidak sedikit. Ditemui di sela Seminar Hasil di Spencer Green Hotel, Kota Batu, Ketua LP2M Dr. Tutik Hamidah menjabarkan, pihaknya memantau dan membimbing penerima dana tersebut dari awal hingga akhir pelaporan. Tugas LP2M dimulai ketika BOPTN akan diturunkan. Pihaknya lalu menjaring para peneliti yang kompeten untuk mengajukan rencana penelitiannya. “Kami adakan waktu khusus untuk coaching penulisan proposal penelitian,” imbuhnya. Dalam sesi ini, peneliti-peneliti dengan proposal yang memenuhi syarat sesuai kluster yang diajukan pun terpilih. Selanjutnya, LP2M terus memantau apakah peneliti melakukan tugas sesuai kewajibannya. Termasuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan seperti perencanaan anggaran yang akan dikeluarkan selama penelitian. Kini, lanjutnya, memasuki tahap akhir yakni seminar hasil. Unit LP2M mengatur waktu dan tempat khusus agar peneliti dan reviewer berkumpul. “Jika diatur seperti ini, semua akan ketemu, maka berkas-berkas yang dibutuhkan pun cepat terkumpul,” papar Ibu berkacamata ini.
Apakah tugas LP2M tuntas setelah semhas? Menurut Tutik, masih ada satu hal lagi yang harus dikerjakan. Yakni terkait outcome yang dibebankan kepada penerima BOPTN 2019. Seluruh peneliti memiliki kewajiban untuk menerbitkan hasil penelitiannya dalam jurnal ilmiah sesuai level dana yang diterima. “Selain itu penerima dana riset harus menerbitkan buku juga ada HKI (Hak Kekayaan Intelektual, Red.),” ia melanjutkan, “Yang pasti semua wajib publikasi.” Dalam penyusunan laporan penelitian menjadi artikel ilmiah dan juga buku, Unit LP2M pun merasa wajib menjadi pembimbing. “Akan diadakan wokshop khusus penulisan artikel ilmiah bagi peneliti,” tutur Tutik. Hanya satu yang diharapkan Unit LP2M kepada penerima dana BOPTN 2019. Yakni, memenuhi hak dan kewajiban yang sudah disetujui ketika nama-nama mereka yang terpilih sebagai penerima dana. “Termasuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan yang sebenarnya untuk menambah wawasan keilmuan mereka,” harap Tutik menutup wawancara. (nd)
GEMA-Seluruh penerima dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) 2019 memasuki tahap akhir yakni Seminar Hasil (semhas). Unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) mengumpulkan para peneliti dan mengundang reviewer selama dua hari di Spencer Green Hotel, Bumiaji, Kota Batu (28-29/10). Setiap grup riset mempresentasikan hasil penelitiannya di depan reviewer. Reviewer berhak menanyakan dan meminta peneliti untuk merevisi hal-hal yang dianggap kurang. Ahmad Abtokhi, Sekretaris Unit LP2M mengungkapkan ada 152 penelitian yang diuji bergantian. Hasil riset tersebut dibagi menjadi 11 kluster sesuai bidangnya. Menurut data yang terkumpul, sebagian besar riset ada dalam kluster Penelitian Pembinaan/Peningkatan Kualitas. "Total 50 riset di kluster ini, selanjutnya yang kedua di kluster Penelitian Dasar Interdisipliner sebanyak 37," paparnya.
Ia melanjutkan, para penerima dana riset BOPTN 2019 harus menyerahkan dan mengunggah beberapa hal. "Seperti berkas-berkas hasil penelitian juga draf anggaran untuk laporan dana bantuan," imbuh warga Karangploso itu. Seluruh berkas yang disyaratkan, harus diunggah di laman resmi Litapdimas. Abtokhi juga menuturkan bahwa para peneliti wajib mempublikasikan hasil risetnya dalam jurnal ilmiah. "Itu outcome yang diminta pemberi dana riset," jelasnya. Level jurnal yang dituju disesuaikan dengan kluster penelitian. Jika dana yang diberikan besar, maka jurnal yang dituju harus sudah terindeks Scopus. Jika sebaliknya, maka cukup jurnal yang terakreditasi Sinta 2. Peraturan tersebut sudah tertulis di pedoman yang sudah dimiliki penerima dana riset BOPTN 2019. Sementara itu, reviewer Semhas Penelitian BOPTN 2019 tak hanya berasal dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Unit LP2M juga mengundang beberapa reviewer dari UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Reviewer dipilih sesuai bidang keilmuan yang diampu. (nd)
GEMA-UIN Maulana Malik Ibrahim kini telah menginjak usia ke-58. Tahun ini, telah banyak prestasi dan pengembangan akademis yang dilakukan oleh segenap civitas akademika kampus. Salah satunya adalah terlibatnya UIN Malang dalam pembukaan program studi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Mesir. Hal inipun menjadi salah satu topik yang disinggung oleh rektor UIN Malang, Prof. Dr. H. Abdul Haris, M.Ag, dalam Rapat Terbuka Senat Universitas pada Jum’at (25/10). Menurutnya, keberhasilan UIN Malang untuk membuka prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar merupakan pencapaian tersendiri. “Barusan ada dua utusan kita, Pak Warek bidang Kemahasiswaan dan Bu Dewi Chamidah yang ikut meresmikan (prodi) di Al-Azhar. Dari tiga negara yang bekerjasama, yang betul-betul diharapkan untuk mengelola program ini adalah UIN Maulana Malik Ibrahim,” jelas Prof. Haris. Tak hanya memaparkan program pembukaannya, Prof. Haris juga membuka kesempatan untuk dosen yang ingin mengajar di Universitas Al-Azhar. “Bapak Ibu, para dosen yang ingin menjadi dosen Bahasa Indonesia di Mesir, bisa menghubungi Bu Dewi atau Pak Warek 4 atau Warek 3. Tapi harus bisa bahasa Arab,” tutup Prof. Haris. Adapun dua kampus lain yang turut mengelola pembukaan prodi Bahasa Indonesia di UA adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Pembukaan prodi disepakati pada Focus Group Discussion (FGD) ketiga di UIN Malang pada 9 Oktober lalu. Reporter: Zahra
GEMA-Peringatan Dies Natalies ke-58 UIN Maliki Malang dilaksanakan dengan berbagai runtutan acara. Salah satunya adalah Rapat Terbuka Senat Universitas yang diadakan pada Jum’at (25/10). Rapat ini dibuka dengan pembacaan rentetan prestasi dan target kampus oleh rektor UIN Malang, Prof. Dr. H. Abdul Haris, M.Ag. Di hadapan ratusan civitas akademika dan perwakilan BAN-PT, Prof. Haris mengumukan akreditasi kampus yang berhasil dipertahankan dengan status A. “Keberhasilan ini harus disyukuri karena memang tidak banyak perguruan tinggi di Indonesia yang menyandang itu. Dari 58 PTKIN, hanya 7 PTKIN yang memperoleh status akreditasi A. Antara lain yang nilainya terbanyak adalah UIN Maliki,” ungkap Prof. Haris dalam sambutannya.
Di samping itu, Prof. Haris juga menyebutkan target peningkatan kualitas SDM dosen di UIN Malang melalui pengukuhan guru besar. Menurutnya, jumlah guru besar baru di UIN Maliki Malang bertambah secara signifikan selama dua tahun terakhir. “Selama kurang lebih dua tahun ini, sudah ada 4 guru besar. Dan ini kita syukuri karena 8 tahun sebelumnya, tidak satupun dosen tetap kita memperoleh (status) guru besar ini. Ada 5 lagi yang insya Allah akan dikukuhkan,” lanjut Prof. Haris. Hal tersebut akan terus dikembangkan dengan menargetkan 23 guru besar pada tahun 2020. Selain itu, kampus juga tengah menargetkan pembukaan 20 program studi baru dan perencanaan program akademik berbasis World Class University. Reporter: Zahra
GEMA-Rapat Terbuka Senat Universitas dalam rangka Dies Natalies ke-58 UIN Malang berhasil dilaksanakan pada Jum’at (25/10). Kali ini, orasi ilmiah disampaikan oleh ketua majelis BAN-PT, Prof. Ir. Dwiwahju Susongko, M.Sc, Ph.D. Dalam orasi ilmiahnya, lelaki yang akrab disapa Pak Song itu mengungkapkan beberapa karakteristik mahasiswa yang harus menjadi tolak ukur sistem akademis di universitas. Salah satunya adalah pemahaman dan keterbukaan GenZ terhadap kultur yang berbeda (different cultures). Hal tersebut, menurut Pak Song, berkesinambungan dengan program internasionalisasi UIN Malang. Program ini dilaksanakan dengan perencanaan pembangunan sistem akademis yang berorientasi pada standar internasional, sehingga UIN Malang dapat menjadi World Class University.
“Mahasiswa S1 kita adalah Generasi Z. Ini pasti pandangannya berbeda. Mereka ini lebih toleran. Senang sekali mendengar laporan dari Pak Rektor (tentang) adanya internasionalisasi. Tadi juga saya lihat testimoni dari mahasiswa luar negeri,” ungkap Pak Song dalam orasinya. Selain terbukanya kampus terhadap mahasiswa luar negeri, rektor UIN Malang, Prof. Dr. H. Abdul Haris, M.Ag, juga mengungkap target dibukanya UINMart di berbagai belahan dunia. “UIN Maliki punya pusat pengembangan bisnis. Kita juga telah membuka UINMart, dan tempatnya sangat strategis. Dan ini insya Allah kita kembangkan ke seluruh dunia. Karena alumni kita ini dari 32 negara. Kita bisa membuka UINMart di Rusia, Cina, dan lain sebagainya,” jelas Prof. Haris. Reporter: Zahra
GEMA-Unit Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memeriahkan Bulan Bahasa dan Sastra di Oktober ini dengan perayaan akademik. Selama beberapa bulan, pihak PPB menyiapkan International Conference on Language Teaching and Culture (ICOLTIC), Sabtu (26/10). Acara yang pertama kalinya diadakan ini menarik minat 50 pemateri dari beragam kampus dalam dan luar Pulau Jawa untuk berpartisipasi menjadi pembicara di sesi panel. Direktur PPB, Dr. Abdul Hamid menyatakan keunikan dari konferensi itu. Tak hanya tentang pengajaran dan budaya Bahasa Arab dan Inggris, namun juga Bahasa Mandarin. “Karena kami menaungi ketiga bahasa itu dan ada juga Bahasa Persia yang sedang kami kembangkan,” jelasnya. Melihat minat peserta, pihaknya pun optimis bahwa ICOLTIC akan diadakan setiap tahunnya. Namun, tentu akan diadakan evaluasi mendalam terlebih dahulu terkait acara yang memang baru berlangsung perdana ini. Mengingat ICOLTIC menjadi tempat berkumpulnya akademisi dari setidaknya tiga bahasa, juga menjadi bahan yang akan dievaluasi. “Kami akan mendiskusikan lagi apakah konsepnya tetap seperti ini atau akan kami pisah per bahasa agar lebih fokus,” paparnya.
ICOLTIC 2019 bertema New Trajectories on the Teaching of Foreign Languages in 4.0 Era. Ketua Panitia ICOLTIC Dr. Syamsudin menuturkan bahwa ada tiga tahap revolusi industri yang telah berlangsung. Beberapa tahun terakhir, dunia memasuki tahap keempat dimana merupakan era pengaruh revolusi industri. Berkembangnya teknologi secara masif dan cepat menjadi penandanya. “Maka di sinilah kita bertukar pikiran dan belajar bagaimana agar kita sebagai pengajar tetap kreatif dan inovatif menyikapi teknologi,” jelas dosen asal Yogyakarta tersebut. Sementara itu, panitia mengundang tiga pembicara utama dari luar kampus. Yakni Prof. Utami Widiati, MA., Ph.D. (Universitas Negeri Malang), Prof. Faishol Mahmoud Adam (University of al Quran al Karim, Sudan), dan Shi Yuxin, M.Hum. MA. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta). Sebagai pembuka acara, Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. M. Zainuddin, MA. hadir menyambut seluruh peserta yang hadir. Ia juga menyampaikan bahwa ICOLTIC merupakan salah satu acara penunjang visi-misi kampus yang fokus pada pengembangan kebahasaan asing. (nd)
GEMA-Agenda hari kedua Workshop Pengabdian Masyarakat Berbasis Riset 2019 LP2M UIN Malang, yakni praktik Partisipatory Action Research (PAR) langsung di masyarakat. Namun sebelumnya para dosen tidak langsung berbaur dengan masyarakat. Ada acara penyambutan dan pengarahan dari perangkat Desa Taji dan juga ketua LP2M UIN Malang, yang bertempat di Kantor Balai Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Sabtu(19/10). Kepala Desa (Kades) Didin Siswanto dan perwakilan Jabung Widodo menyambut kedatangan UIN Malang dengan ramah. Dalam sambutannya, mereka berharap UIN Malang dapat membantu mereka dalam pengelolaan potensi di Desa Taji. Didin mengatakan bahwa banyak sekali potensi di desa tersebut, antara lain di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan juga pariwisata. Selanjutnya, Dr. Tutik Hamidah, M.Ag Ketua LP2M juga menyampaikan harapannya yang sama dengan kedua tokoh tersebut. Tutik menambahkan agar nanti para dosen tidak hanya sekedar menjadi peneliti. Karena ini PAR, makan mereka diharapkan terlibat aktif terhadap hal apapun yang menjadi fokus penelitian. “Ini merupakan pengabdian dosen kepada masyarakat yang berbasis riset. Sehingga mereka harus bersungguh-sungguh karena LP2M UIN Malang siap memfasilitasi,” tegasnya. Di tengah arahannya, Tutik mengungkapkan rasa takjubnya dengan perjalanan menuju Desa Taji. Menurutnya, jalan menuju desa itu sangat unik, bisa menguji adrenalin tapi selalu diiringi pemandangan indah. “Akhirnya kami tiba juga di desa yang dijuluki dengan desa kaki langit. Luar biasa dan ini bisa disebut pengabdian berbasis wisata”, ucapnya. (ptt/nd)
GEMA-Dalam acara tahunan Lingua Scholarship Week ke-3, tak hanya talkshow tentang beasiswa saja yang dibahas. Direktur Lingua Institute Munir ingin ada yang berbeda tahun ini. “Sekarang ditambah bedah buku dan TOEFL and IELTS training,” jelasnya, Sabtu (19/10). Novel Finally, the Netherlands karya Fitria Sawardi menjadi bahan diskusi pada satu sesi. Penulis menjelaskan, ide penyusunan novel bertema beasiswa ini muncul dari blog suaminya, Irham. “Suami saya rajin menulis di blog, jadi saya kepikiran ini bagus kalau saya angkat jadi novel,” tutur Fitri. Ia juga menambahkan, kisah Zaki, pelaku utama dalam novel juga diambil dari kisah teman-teman Fitri yang memiliki semangat tinggi untuk sukses. “Saya ingin emosi pembaca bercampur aduk lewat konflik-konflik yang muncul,” tegas dosen Bahasa Arab tersebut. Pasalnya, Zaki harus melalui lima kegagalan. Salah satunya sudah mendapat LoA dari tiga kampus namun tidak mendapat satu sponsor sekalipun. Fitri memberikan motivasi cara menulis novel yang baik. Menurutnya, kunci utama adalah sering membaca. “Kalau mau nulis novel, baca banyak novel, kalau mau nulis puisi, ya banyak baca puisi,” tegas penulis yang mengidolakan Asma Nadia ini. Selain itu, ia juga memiliki kebiasaan membawa buku kecil dimanapun berada. Hal ini agar ia bisa menulis setiap ide yang muncul. “Saya sering terinspirasi dari lingkungan sekitar,” pungkas Fitri. (ir/nd)