GEMA-Dilaksanakan pada hari terakhir Festival Budaya, Jum’at (1/11), Simposium Kebhinekaan berhasil meramaikan Aula Rektorat UIN Malang dengan ratusan audiens. Acara tersebut dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Malang, Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag. Dalam sambutannya, Gus Is memberikan apresiasi pada Senat Fakultas Humaniora untuk acara yang menguatkan kebhinekaan ini. “Kami berikan apresiasi yang luar biasa kepada Senat Mahasiswa Fakultas Humaniora. Dan kami harapkan kegiatan ini senantiasa melembaga,” ungkapnya. Tak hanya itu, Gus Is juga menegaskan tentang kampus UIN Malang yang telah menjadi kampus multikultural. Hal tersebut tampak jelas dengan adanya berbagai mahasiswa dari daerah dalam negeri dan luar negeri yang berbeda-beda. Untuk menangani hal ini, kata Gus Is, UIN Malang telah memiliki dua masjid dengan bahasa khutbah Jum’at yang berbeda. Satu dengan bahasa Indonesia, sedang yang lain berbahasa Arab dan Inggris. Gus Is juga mengungkap adanya beragam madzhab yang diafiliasikan oleh mahasiswa UIN Malang. “Madzhabnya sudah tidak lagi madzhab empat, tapi sudah madzhab lima. Jadi ada yang berafiliasi pada madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali, sampai pada madzhab Syi’i. Adapun acara Festival Budaya akan berakhir pada Jum’at malam (1/11) nanti dengan penampilan Didi Kempot dalam Intimate Ambyar Concert. Reporter: Zahra
GEMA-Gedung Rektorat UIN Malang tampak lebih ‘berwarna’ pada Jum’at (1/11). Pasalnya, puluhan mahasiswa serta tokoh agama Kristen, Buddha, Hindu dan Katolik turut hadir memeriahkan Simposium Kebhinekaan 2019. Simposium Kebhinekaan merupakan satu dari beberapa rangkaian Festival Budaya yang diadakan oleh Fakultas Humaniora. Berbasis pada prinsip keberagaman budaya dan agama di Indonesia, Simposium Kebhinekaan ini bertajuk Merawat Nusantara dengan Keberagaman. Tak tanggung-tanggung, lima tokoh dari lima sekolah berbasis agama hadir dalam acara ini. Antara lain: Prof. Dr. Masykuri Bakri, M.Si dari Universitas Islam Malang, Ir. Drs. Yohanes H.S., M.Div, M.E dari Universitas Kristen Cipta Wacana, Bhante Shubapanno Subanowo dari Sekolah Tinggi Agama Buddha, Dr. I Ketut Sudiartha, M.Pd.H dari Sekolah Tinggi Agama Hindu, serta RM. Albertus Herwanta, O.Carm., M.A dari Universitas Katolik Widya Karya. Acara inipun menuai pujian dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Malang, Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag. Menurutnya, acara yang mendukung kebhinekaan patut untuk dipertahankan dan dilembagakan. “Hari ini, (di Fesbud) yang di back-up akademiknya. Jadi mem-back-up kebhinekaan bahwa keragaman adalah sebuah keniscayaan. Karena itu kami berikan apresiasi yang luar biasa kepada Senat Mahasiswa Fakultas Humaniora. Dan kami harapkan kegiatan ini senantiasa melembaga,” terang Gus Is. Rangkaian acara Festival Budaya akan berakhir dengan malam puncak bertajuk Intimate Ambyar Concert yang akan dihadiri oleh Didi Kempot pada Jum’at (1/11) malam. Reporter: Zahra
DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
TAHUN 2019
Bagi pendaftar yang dinyatakan Lulus Seleksi Administrasi Penerimaan Dosen Tetap Bukan Pegawai Negeri Sipil Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2019 berhak mengikuti seleksi tahap berikutnya dengan Jadwal sebagai berikut:
Dr. Uril Bahruddin, MA. Wakil Rektor IV bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga membuka langsung International Conference on Halal Innovation, Engineering, and Science (ICOHTES) 2019
GEMA-Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) UIN Malang menyelenggarakan seminar international perdana, Rabu (30/10). Bertajuk International Conference on Halal Innovation, Engineering, and Science (ICOHTES) acara dibuka langsung oleh Wakil Rektor IV bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga Dr. Uril Bahruddin, MA. Konferensi yang mendatangkan narasumber dari berbagai negara ini berlangsung di Hotel Sahid Montana II Malang.
Director Halal Standard Institute of Thailand Prof. Dr. Pakorn Priyakorn saat menjadi salah satu narasumber halal tourism di Hotel Sahid Montana II
Director Halal Standard Institute of Thailand Prof. Dr. Pakorn Priyakorn menjadi salah satu narasumber berkenaan dengan halal tourism. Menurutnya ada beberapa fakta penting terkait dengan Halal Innovation di Thailand. Salah satunya negara ini menjadi satu dari sepuluh negara pengekspor produk halal terbesar di dunia. “Thailand also ranked 18 out of 130 destinations for muslims worldwide,” lanjut Pakorn. Langkah Thailand dalam mencapai hal tersebut adalah dengan menyesuaikan sistem sertifikasi halal. “Akan semakin banyak sertifikasi untuk hotel, restoran, produk, dan jasa lainnya untuk pelanggan muslim,” tambahnya. Sertifikasi ini telah diatur oleh kerjasama antara Halal Standard Institute of Thailand (HSIT), the Halal Science Center, Chulalongkorn University (HSC-CU) dan Central Islamic Council of Thailand (CICOT), salah satu badan sertifikasi terbaik dunia untuk produk halal. Hal senada disampaikan oleh Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Lc, MA., inisiator halal tourism di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang juga merupakan narasumber konferensi. Ia menegaskan kemajuan industri halal tidak ada kaitannya dengan faktor demografis. “Thailand bukan negara Islam, tapi bisa mencapai semua itu,” tuturnya. Menurutnya, yang terpenting ialah kebijakan dan keinginan politik pemerintah. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim, lanjut Zainul sudah didukung oleh sistem politik yang semakin kuat. “Jadi tidak berlebihan jika kita berharap nantinya Indonesia menjadi negara acuan halal industri,” jelasnya.
Ia melanjutkan, halal tourism bisa menunjukkan wajah Islam rohmatan lil alamin. Kebijakan pemerintah seharusnya tidak perlu membahas regulasi yang kebermanfaatannya hanya dirasakan internal muslim, seperti aturan sholat berjamaah. “Lebih baik memprioritaskan nilai-nilai Islam dalam regulasi pemerintah,” tambah Zainul. Terbukti dengan disahkannya NTB menjadi Halal Tourism, wisatawan asing bertambah mencapai 190%. “Selain itu mereka juga akan melihat Islam Indonesia yang moderat,” pungkasnya. (ir/nhl)
Tim Paduan Suara Mahasiswa Gema Gita Bahana UIN Malang saat tampil dalam kejuaraaan internasional Jakarta World Choir Festival (JWCF) 2019, Jumat-Sabtu (25-26/10).
GEMA-Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Mahasiswa Gema Gita Bahana UIN Maliki tampil dalam ajang bergengsi di Jakarta World Choir Festival (JWCF) 2019, Jumat-Sabtu (25-26/10). Sebelumnya, Bandung Choral Society sebagai penyelenggara telah sukses menyelenggarakan Bali International Choir Festival sejak 2012 sampai 2018, dengan peserta lebih dari 5000 orang. Tahun ini Ibu Kota Indonesia menjadi panggung internasional baru, dengan Taman Ismail Marzuki sebagai tempatnya. Kiprah Indonesia dalam dunia paduan suara telah diakui dunia, terbukti dari berbagai prestasi yang telah diraih. Dalam festival paduan suara taraf internasional ini terbagi dalam sembilan kategori yang dibagi dalam dua hari. Di hari pertama akan dilombakan 6 kategri mulai dari children’s choir, teeneger’s choir, folklore, music of religion, musica sacra, dan senior choir. Kamudian dilanjutkan hari ke dua dengan kategori pop and jazz, acapella and vocal group, youth choir, dan mixed choir. Gema Gita Bahana UIN Maliki dalam ajang internasional ini mengikuti dua kategori yakni folklore dan pop and jazz.
ISTIMEWA:Penyerahan medali oleh Tommyanto Kandisaputra Artistic Director Bandung Choral Society kepada pelatih PSM Gema Gita Bahana Insan Amuda didampingi Juri asal Filipina Jonathan Velasco (kiri) dan ketua official Gema Gita Bahana Aysha Ayundari Safaat.
Selama dua hari penuh tim PSM GGB ini mengikuti kompetisi untuk pertama kalinya. Meski ini merupakan kali pertama UKM paduan suara ini mengikuti ajang internasional ini, namun telah mampu menyumbangkan dua emas dalam dua kategori yang diikuti. “Persiapan tim kami tidak hanya monoton untuk ajang festival ini, tetapi dengan mengikuti kompetisi-kompetisi regional dan nasional sebelumnya,” ucap Habibah Fairuz Huwaida salah satu tim Gema Gita Bahana. Singer dari Jurusan Perbankan Syariah UIN Malang ini menjelaskan bahwa terdapat beberapa kejuaraan yang telah diikuti sebelum sampai di ajang internasional ini. Di mulai dari bulan april konser tahunan, bulan mei meraih juara 2 dalam lomba paduan suara di Universitas Brawijaya, kemudian bulan September tahun ini mendapatkan silver medal dan gold medal kategori folklore dan pop and jazz di Surabaya. Di akhir sebelum menutup wanwancara, Tim Gema Gita Bahana UIN Maliki berharap untuk setiap kompetisi yang diikuti dapat menjadi bahan evaluasi, sehingga kompetisi berikutnya mendapatkan sesuatu yang lebih membanggakan lagi. (ofi/nhl)
PENUNDAAN SELEKSI PENERIMAAN DOSEN TETAP BUKAN PNS
DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
TAHUN 2019
Berdasarkan Surat dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor: B-3643/DT.I/Dt.I.III/KP.07.06/10/2019 tanggal 28 Oktober 2019 dan Berdasarkan Pengumumam Nomor: 4526/Un.3/KP.01.4/10/2019tanggal 28 Oktober 2019 tentang Hasil Seleksi Administrasi Penerimaan Dosen Tetap Bukan PNS di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2019, maka Bersama ini disampaikan bahwa Pelaksanaan Ujian yang semula dijadwalkan pada hari Rabu-Kamis, 30-31 Oktober 2019 di tunda sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Demikian pengumuman ini, atas perhatian dan kerjasama yang baik disampaikan terima kasih.
GEMA-Sebagai salah satu reviewer dalam seminar hasil penelitian dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) 2019, Prof. Dr. Muhammad Djakfar, SH., M.Ag. berbagi mengenai para peneliti tahun ini. Ditemui pasca menelaah semhas 14 judul penelitian, ia menuturkan beberapa hal. Menurutnya, para peneliti tahun ini menunjukkan peningkatan kualitas dibanding periode yang pernah ada. Mulai dari tahap proposal, seminar antara, hingga yang terakhir seminar hasil. “Terlihat peningkatan hasilnya yang semakin membaik entah itu dari segi umum maupun personal,” imbuhnya. Dari segi umum, ia mengapresiasi pemantauan dari Unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Malang. Dengan sistem yang dibuat dan terjadwal, peneliti menjadi lebih disiplin. Sedangkan dari sisi personal, ia menilai bahwa para peneliti sangat bertanggung jawab terhadap penelitiannya.
Hal ini, masih kata Prof. Djakfar, terlihat dari makin teratur dan patuhnya penerima dana BOPTN 2019. Semua dijalankan sesuai time table yang ditetapkan Unit LP2M. Melalui agenda seperti seminar antara dan pertemuan rutin dengan pembimbing, peneliti juga menunjukkan peningkatan dalam laporan penelitiannya. Ia menambahkan, sikap disiplin yang ditunjukkan para peneliti tentu berasal dari karakter mereka yang bertanggung jawab. “Mereka tahu bahwa hasil penelitiannya nanti dibaca banyak orang, jadi mereka tidak mungkin main-main pada prosesnya,” papar Guru Besar Bidang Ekonomi Islam tersebut. Dari sejumlah penelitian yang ia telaah selama proses semhas, ia bersyukur tidak ada kendala berarti. “Hanya ada revisi-revisi yang termasuk dalam kategori minor, selebihnya sudah hampir sempurna,” ujarnya. Unit LP2M mengumpulkan 152 penerima dana penelitian BOPTN 2019 untuk melakukan seminar hasil. Semhas yang dilaksanakan selama dua hari tersebut (28-29/10) bertempat di Spencer Green Hotel, Bumiaji, Kota Batu. (nd)
GEMA-Menjadi pengorganisir para penerima dana riset Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) 2019, Unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) memiliki tugas yang tidak sedikit. Ditemui di sela Seminar Hasil di Spencer Green Hotel, Kota Batu, Ketua LP2M Dr. Tutik Hamidah menjabarkan, pihaknya memantau dan membimbing penerima dana tersebut dari awal hingga akhir pelaporan. Tugas LP2M dimulai ketika BOPTN akan diturunkan. Pihaknya lalu menjaring para peneliti yang kompeten untuk mengajukan rencana penelitiannya. “Kami adakan waktu khusus untuk coaching penulisan proposal penelitian,” imbuhnya. Dalam sesi ini, peneliti-peneliti dengan proposal yang memenuhi syarat sesuai kluster yang diajukan pun terpilih. Selanjutnya, LP2M terus memantau apakah peneliti melakukan tugas sesuai kewajibannya. Termasuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan seperti perencanaan anggaran yang akan dikeluarkan selama penelitian. Kini, lanjutnya, memasuki tahap akhir yakni seminar hasil. Unit LP2M mengatur waktu dan tempat khusus agar peneliti dan reviewer berkumpul. “Jika diatur seperti ini, semua akan ketemu, maka berkas-berkas yang dibutuhkan pun cepat terkumpul,” papar Ibu berkacamata ini.
Apakah tugas LP2M tuntas setelah semhas? Menurut Tutik, masih ada satu hal lagi yang harus dikerjakan. Yakni terkait outcome yang dibebankan kepada penerima BOPTN 2019. Seluruh peneliti memiliki kewajiban untuk menerbitkan hasil penelitiannya dalam jurnal ilmiah sesuai level dana yang diterima. “Selain itu penerima dana riset harus menerbitkan buku juga ada HKI (Hak Kekayaan Intelektual, Red.),” ia melanjutkan, “Yang pasti semua wajib publikasi.” Dalam penyusunan laporan penelitian menjadi artikel ilmiah dan juga buku, Unit LP2M pun merasa wajib menjadi pembimbing. “Akan diadakan wokshop khusus penulisan artikel ilmiah bagi peneliti,” tutur Tutik. Hanya satu yang diharapkan Unit LP2M kepada penerima dana BOPTN 2019. Yakni, memenuhi hak dan kewajiban yang sudah disetujui ketika nama-nama mereka yang terpilih sebagai penerima dana. “Termasuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan yang sebenarnya untuk menambah wawasan keilmuan mereka,” harap Tutik menutup wawancara. (nd)
DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
TAHUN 2019
Berdasarkan Hasil Verifikasi Berkas Penerimaan Dosen Tetap Bukan Pegawai Negeri Sipil Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2019, Dapat Di DOWLNOAD DISINI.