HUMAS-Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kedatangan tamu dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said Surakarta dalam rangka studi banding yang berhubungan dengan Program Organisasi Mahasiswa mereka yaitu Youth Leadership, Selasa (28/06).
Peserta studi banding meliputi Pimpinan, Staff, Ormawa dan LSO Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said Surakarta sebanyak 20 orang. Kegiatan ini dibuka oleh Dekan FE UIN Maliki Malang Dr. H. Misbahul Munir, Lc., ME.i dan juga Dekan FEBI UIN Surakarta Dr. M. Rahmawan Arifin, SE. M.Si.
Ormawa FE UIN Maliki Malang & FEBI UIN Surakarta
Setelah pemaparan tentang program-program fakultas dari Dr. Indah Yuliana, S.E, MM selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama FE UIN Maliki Malang dan pemutaran video profil FE, peserta diajak untuk Campus Tour dan berbincang ringan dengan Ormawa FE UIN Maliki Malang di Gazebo depan Gedung Rektorat. (as/sm)
12 Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memenangkan Pertandingan Futsal Nasional Brawijaya Tournament 2022 yang dilaksanakan di Kota Malang pada tanggal 23 hingga 26 Oktober 2022 yang diikuti oleh 10 tim dari berbagai Universitas di Indonesia, Jumat (28/10).
Pertandingan babak final berakhir dengan keunggulan 1-0 untuk UIN Maliki Malang atas Irfan Irsandi melawan Tim UPN Veteran Jawa Timur Surabaya. Kapten Tim Futsal UIN Maliki Malang Darwis Hamidi mengungkapkan
“Sebenarnya kita ikut pertandingan ini sebagai latihan untuk mempersiapkan perlombaan yang akan datang di bulan November nanti. Tapi alhamdulillah usaha kami ternyata membawa hasil yang baik kali ini” jelasnya.
Darwis juga mengatakan keinginannya mengadakan latihan futsal rutin untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berminat dalam bidang sepak bola mulai dari mahasiswa baru hingga semester akhir pun juga dapat turut bergabung. (sm)
Poster resmi kegiatan Qahwa Wa Syi'ir Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang
HUMAS - Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang gelar Qahwa Wa Syi'ir sebagai bentuk upaya memperingati Hari Bahasa Arab Se-Dunia, Jumat (16/12). Kegiatan ini diselenggarakan secara sederhana bertempat di depan pelataran Fakultas Humaniora dengan mempertontonkan hiburan-hiburan.
Kegiatan ini turut mengajak setidaknya 100 penyair muda untuk dapat berpartisipasi dan ikut meramaikan. Hal tersebut dikarenakan akan ditampilkannya pertunjukan yang spektakuler oleh mahasiswa-mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang, yaitu pembacaan 99 Syair Arab Berantai oleh penyair-penyair muda Indonesia.
Dekan Fakultas Humaniora, Dr. M. Faisol turut hadir dalam gelaran spesial ini. Dekan yang juga seorang penyair sastra Arab tersebut mengatakan melalui acara Qahwa Wa Syi'ir, bahasa Arab dapat terus mendunia. Ia didampingi oleh Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd., M.A. selaku Wakil Dekan bidang Akademik Fakultas Humaniora.
Sebelumnya, Fakultas Humaniora sejak Rabu (14/12) juga telah menggelar beberapa kegiatan untuk menyemarakkan Hari Bahasa Arab Se-Dunia. Beberapa kegiatan tersebut adalah berupa pameran Kaligrafi, produk hasil mata kuliah tertentu, penampilan baca puisi, dan juga presentasi ke khasan mata kuliah tertentu. (acg)
Pengurus SEMA Fakultas Syariah UIN Maliki Malang saat berfoto bersama setelah menyelesaikan kepengurusannya
HUMAS - Republik Mahasiswa yang berada di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tidak lain merupakan miniatur negara yang berfungsi sebagai pembelajaran mahasiswa untuk terjun di lingkungan pemerintahan yang ada di dalam kampus. Salah satu upayanya yaitu dengan diadakannya Musyawarah Senat Mahasiswa (MUSEMA - F) oleh Senat Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kegiatan MUSEMA ini diselenggarakan pada Hari Sabtu-Minggu (10-11/12/2022) secara Luring di Griya IMAFA Guest House Kota Batu. Turut hadir juga Senat Mahasiswa Universitas, Ad Hoc, SEMA DEMA Fakultas Syariah, dan Himpunan Mahasiswa Program Studi se-Fakultas Syariah.
Ketua SEMA Fakultas Syariah, Naufal Dava Gradysa saat menyampaikan sambutan terakhirnya
Acara ini dibuka langsung Oleh Wakil Dekan lll Kemahasiswaan Dr. M. Aunul Hakim, S.Ag. M.H. secara terbuka dan lancar. Ketua SEMA Fakultas Syariah, Naufal Dava Gradysa mengatakan rasa syukurnya dapat menjalankan kepengurusan dengan baik. "Harapan saya, kita tetap jaga marwa dan semangat, juga jangan lupa untuk tetap keren mendunia," imbuhnya.
Antusiasme seluruh peserta musyawarah sangat nampak. Hal itu juga tercermin dari seluruh pihak yang terlibat dalam MUSEMA-F yang mengharuskan acara berlangsung hingga malam hari.
DEMA, SEMA, dan seluruh OMIK Fakultas Syariah saat berfoto bersamaPembahasan pada MUSEMA ini meliputi program kerja serta realisasinya pada masing-masing Organisasi Kemahasiswaan (OMIK) di Fakultas Syariah. Juga tak lupa disampaikan hambatan dalam menjalani kepengurusan OMIK serta diakhiri dengan rekomendasi yang akan diajukan untuk periode kepengurusan OMIK Fakultas Syariah selanjutnya. (ffj/acg)
HUMAS UIN MALANG-Kepala Subdirektorat Ketenagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Ruchman Bashori, M.Ag hadir di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menutup kegiatan penguatan Moderasi Beragama (MB) di hadapan 41 peserta pelatihan moderasi, Senin (12/12).
Ruchman dalam arahannya meminta kepada seluruh peserta agar hasil pelatihan penguatan moderasi beragama bisa dipraktekkan secara masif. "Saya minta tolong hasil pelatihan MB ini digunakan dengan baik untuk melakukan perubahan," pintanya.
Ruchman menyampaikan, dosen harus bisa menjadi pelopor dan penggerak bagi gerakan moderasi ini. Pemerintah pusat melalui kementerian agama telah menggelontorkan biaya yang tidak sedikit demi terwujudnya ideologi yang suci dan mampu memberikan warna yang toleran. "Pemerintah telah menyiapkan biaya 648 M untuk kegiatan nasional ini," jelasnya.
Bagi para dosen yang sudah mengikuti pelatihan MB seyogyanya bisa memberikan pendampingan sekaligus narasumber untuk menyebarkan idelogi penguatan moderasi beragama. "Bapak Ibu harus mampu menjadi yang terdepan dalam menanggulangi kelompok intoleran dan radikal," pintanya kepada seluruh peserta MB.
Selain itu, sambungnya, selain memiliki kewajiban menjalankan tridharma nya, jangan lupa agar pergerakan peribadatan mahasiswanya terus di awasi agar jangan sampai salah dalam memilih guru dalam belajar ilmu agamanya. "Awasi anak didiknya dalam mempelajari ilmu agama," pesannya.
Alumni IAIN Walisongo itu juga menghimbau agar seluruh dosen di perguruan tinggi agar bijak dalam bermedia sosial. Pasalnya, seoarang dosen harus bijak dalam menyampaikan kata hikmah yang bisa dikonsumsi oleh mahasiswanya sebagai generasi milenial saat ini. "Karena generasi milenial saat ini sangat dekat dengan medsos baik IG, FB, Tweeter, WA, maupun Youtube," paparnya.
Permasalahan mendasar negara saat ini yaitu munculnya kelompok khilafah yang intoleran dan radikal. Kelompok ini bersumber dari Abdurahman ibnu Muljam yang dalam sejarah tega membunuh Sayyidina Ali dengan sangat keji. "Sekarang generasinya sudah menyebar melalui medsos," terangnya.
Ruchman berpesan, para dosen bisa menjadi pelopor dalam mengonter kelompok radikal. Jangan ada satupun kelompok yang menyerukan negara khilafah di NKRI ini.
"Kelompok ini selalu merasa paling Islam dan beriman seperti kelompok Abdurrahman ibnu Muljam pembunuh Ali," tukasnya.
Hal senada juga di sampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag agar para dosen UIN Maliki Malang yang telah mengikuti pelatihan penguatan moderasi beragama bisa melakukan gerakan secara masif minimal dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. "Jadilah penggerak dalam menyebarkan moderasi beragama di masyarakat," pintanya.
HUMAS-Perubahan kebijakan tentang kepangkatan dosen, seusai dengan keluarnya aturan kepangkatan yang baru PO PAK 2019 berikut Suplemen+ Penyesuaian 2022, yang efektif per Juli 2022. Untuk itu Perguruan Tinggi dan para dosen harus mengetahui dan menyesuaikan dengan aturan kepangkatan tersebut, agar mengurus kepangkatan lebih lancar. Hal ini di kemukakan oleh Prof. Dr. Achmad Sani Supriyanto, SE, M.Si, Guru Besar Fakultas Ekonomi serta Ka.Prodi S2 Ekonomi Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sekaligus Tim PAK Penilaian Dosen Nasional RistekDikbud. Paparan tersebut disajikan dalam kegiatan “Optimalisasi Proses Pengurusan Kenaikan Jabatan Akademik Dosen, Biro Umum,
Kepegawaian, Dan Keuangan”, Universitas Jember (UNEJ). Kegiatan yang di hadiri oleh sekitar 42 pegawai di Biro Biro Umum, Kepegawaian, dan Keuangan ini berlangsung selama 2 hari, tanggal 9-11 Desember 2022 di Hotel Grand Valonia Jember.
Dalam presentasinya Prof. Sani mengingatkan bahwa perlunya penyamaan persepsi baik dosen maupun tim teknis di biro kepegawaian untuk dapat memahami aturan perubahan PO PAK ini, secara benar sehingga tidak menimbulkan adanya kesalah pahaman. Dalam peraturan tersebut ada 5 item yang berubah diantaranya, berkaitan dengan proporsi nilai KUM penulis karya ilmiah, dimana penulis pertama dan koresponding author mempunyai nilai yang sama. Perubahan lainnya untuk yang loncat jabatan dari Lektor ke Guru Besar, maka syarat khususnya mempunyai karya ilmiah atau artikel di jurnal internasional bereputasi, minimal 4 karya ilmiah dan 50% diantaranya wajib SJR diatas 0,4. Demikian juga loncat jabatan dari Asisten Ahli ke Lektor Kepala, maka harus mempunyai karya ilmiah atau artikel di jurnal internasional bereputasi minimal 2 karya ilmiah dan 50% diantaranya wajib SJR diatas 0,4.
Sementara itu untuk Dosen yang belum 3 tahun lulus S3 (Doktor) juga bisa mengajukan ke Guru Besar dengan melampiran karya ilmiah atau artikel di jurnal internasional bereputasi sebagai syarat khusus minimal 2 jurnal internasional bereputasi, dengan SJR 0,10 atau WoS, JIF 0,05. Sedangkan karya ilmiah atau artikel selama studi S3 tidak dapat diajukan sebagai syarat khusus, papar Prof Sani. Yang tidak kalah pentingnya, yang dimaksud dengan syarat khusus dipastikan bahwa adanya kesesuaian karil/artikelnya dengan keilmuan S3 (disertasi), adanya proses review yang benar, artikel ditulis sesuai dengan penulisan kaidah ilmiah (IMRAD), dan tidak ditemukan format/ gaya selingkung, lay-out yang berbeda-beda. Termasuk juga tidak masuk predator List Bell’s, tidak Cancelled atau Discontinued, termasuk tidak ditemukan 2 atau lebih nama penulis yang sama, dalam 1 volume jurnal, editor dapat ditelusuri secara daring, adanya proses review yang wajar, serta scoupe jurnal tidak boleh multidisciplinary, papar Prof Sani
Kegiatan ini di buka secara resmi oleh Wakil Rektor II Bidang Keuangan Dan Perencanaan UNEJ, Prof. Dr. drg. Sri Hernawati, M.Kes. Dalam sambutannya Prof. Hernawati, menekankan pentingnya bagian kepegawaian dan juga para dosen untuk memahami aturan PO PAK yang baru ini, agar mempermudah dalam mengajukan kepangkatannya. Aturan ini sebenarnya lebih memudahkan dan mempercepat proses kepangkatan dosen, papar Prof Hernawati. Beliau mengharapkan agar semua tenaga kepegawaian di UNEJ untuk menyimak materi yang di sampaikan oleh Prof Sani sebagai Tim PAK Penilaian Dosen, agar ada penyamaan persepsi tentang aturan tersebut. Dan berharap agar kegiatan ini dapat berlangsung dengan lancar dapat meningkatkan dan mempercepat kepangkatan para dosen untuk segera ke Guru Besar serta menambah jumlah Guru Besar yang ada di UNEJ. (San22)
HUMAS UIN MALANG-Plt. Direktur PTKIN, Dr. Syafi'i, M.Ag hadir di tengah-tengah peserta pelatihan enggerak penguatan moderasi beragama di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Minggu (11/12).
Kementerian Agama begitu komit dalam Moderasi beragama iniAas dan menjadi leading sektor dalam keberhasilan moderasi beragama ini. Presiden Jokowi menegaskan bahwa tidak ada visi kementerian, yang ada para menteri harus mengimplementasikan visi presiden itu adalah terwujudnya Indonesia yang maju berdaulat, mandiri berkepribadian berdasarkan gotong royong. "Menteri tugasnya mengimplementasikan visi presiden sesuai dengan tugasnya," tegasnya.
Sehingga, kata laki-laki kelahiran Demak ini, visi Kementerian Agama yang merupakan turunan dari visi presiden yaitu “Kementerian Agama yang profesional dan andal dalam membangun masyarakat yang saleh, moderat, cerdas dan unggul untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan gotong royong”
"Visi kementerian agama ini merupakan turunan dari visi presiden sesuai dengan tupoksinya Kemenag," paparnya.
Penguatan moderasi beragama dalam RPJMN 2020-2024 itu bertujuan untuk memperkuat moderasi beragama dalam mengukuhkan toleransi, kerukunan, dan keharmonisan sosial. "Moderat itu menjadi sesuatu yang harus di wujudkan, untuk itu para dosen ini bisa menjadi aktor sekaligus contoh orang yang berperilaku agama yang soleh sekaligus moderat," harapnya.
Menjadi moderat, kata dia, memang berat. Akan tetapi, ini menjadi pilihan terbaik yang harus diimplementasikan di NKRI ini, sehingga harus diupayakan agar Indonesia tetap terjaga keragamannya, mulai persoalan keragaman budaya adat istiadat bahkan hingga ragam agama. "Maka kita harus mengedepankan sikap moderat dan memiliki toleransi yang tinggi," pesannya.
Penguatan cara pandang dan sikap moderat untuk memantapkan persaudaraan dikalangan umat beragama itu mencakup perdamaian dan kemaslahatan umat, penguatan sistim pendidikan yang moderat, menjadikan tempat ibadah sebagai pusat syiar agama yang toleran. "Selain itu juga bisa memanfaatkan ruang publik untuk pertukaran ide dan gagasan di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda lintas budaya, lintas agama, dan lintas suku bangsa," tegasnya.
Jadi persoalan moderasi beragama ini kalau bisa tuntas di tahun 2023, jadi di kalangan ASN Kementerian Agama harus sudah tuntas. "Kedepan ASN sudah harus menjadi penggerak dan memiliki kepribadian yang moderat dan toleran terhadap sesama," harapnya.
HUMAS UIN MALANG-Dr. H. Anis Masykur, MA Kasubdit Bina MA MAK GTK Madrasah Kementerian Agama RI hadir secara virtual zoom memberikan materinya tentang Pengembangan dan Penguatan Moderasi Beragama pada Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Minggu (11/12). Penguatan Moderasi Beragama ini sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pemerintah. Melalui pendidikan tinggi, pemerintah pusat meminta para dosen dan cendikia bisa menjadi mediator yang mampu menerjemahkan moderasi beragama ini ke dalam tataran praktis dan implementatif. "Ini tugas yang cukup menantang bagi para akademisi," tegasnya. Moderasi bergama, kata dia, harus bisa dipahami secara praktis dan mudah diterjemahkan dan diterima oleh masyarakat dan para akademisi. Jangan sampai keberadaan moderasi beragama ini dipahami sesuatu yang eksklusif dan ekstrim. "Untuk itu, moderasi ini jangan hanya dikaji saja. Akan tetapi harus diimplementasi dan diinternalisasikan kepada masyarakat," ajaknya. Jangan sampai keberadaan moderasi beragama ini berada di puncak menara gading yang jauh dan sulit dijangkau oleh masyarakat apa lagi dipahami sesuatu yang ekstrim. "Untuk itu, tugas para Dosen membantu menjembatani terhadap kelompok masyarakat dalam memahami dan menginternalisasikannya sehingga moderasi beragama ini bisa sampai tataran praktis," harapnya. Lalu, bagaimana implementasi moderasi beragama dalam pendidikan Islam? Setidaknya ada empat indikator utama dalam moderasi beragama yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap budaya lokal. "Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan pemahaman dan pengalaman kita dalam beragama," tegasnya. Menyampaikan moderasi beragama, tambah Anis, tidak harus muncul di permukaan yang terpenting Sembilan kunci utama moderasi itu harus muncul. Sembilan konsep kunci moderasi beragama diantaranya; Adil, Berimbang, Menjunjung tinggi nilai luhur kemanusiaan, Menjaga kemaslahatan dan ketertiban umum, Mentaati kesepakatan Bersama dan taat konstitusi, Komitmen kebangsaan, Toleransi, Anti kekerasan. "Orang disebut sudah moderat itu bisa dilihat dari cara pandang cara berprilaku yang adil dan berimbang dengan di dasari dengan ilmu, dan keadilan itu basisnya ilmu pengetahuan bukan nafsu," pungkasnya mengakhiri materinya.
HUMAS UIN MALANG -Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Kelembagaan Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag hadir menjadi narasumber dengan materi visi misi UIN Maliki Malang dan nilai-nilai moderasi beragama di hadapan para peserta penguatan moderasi beragama yang berlangsung di hall hotel Aliante, Minggu (11/12).
Gus is, sapaan akrab Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag mengawali paparan materinya mengingatkan kembali visi Kementerian Agama RI dan UIN Maliki Malang bahwa keduanya memiliki kesamaan yaitu mewujudkan generasi yang unggul yang memiliki kedalaman spiritual.
Untuk itu, pentingnya menyiapkan generasi yang unggul itu dimulai dari pendidikan keluarga. Oleh karena itu, mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dan profesional serta peka terhadap perubahan era serba digital ini harus diwujudkan dengan model penyelenggaraan pendidikan yang santun dan terintegrasi. "Anak-anak sekarang tidak banyak yang mau mendekat kepada masjid maupun musholla, berbeda dengan era dulu yang senantiasa musola ataupun masjid dijadikan tempat belajar Al Qur'an dan keagamaan," terangnya.
Kesadaran masyarakat sekarang ini mengalami distorsi yang luar biasa, untuk itu, hal ini perlu adanya pemahaman teologis yang monoteis dan pemahaman yang inklusif.
Untuk itu, kesadaran masyarakat Islam Indonesia tentang arti penting lembaga pendidikan Islam sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas SDM masih belum mendapatkan tempat yang maksimal. "Pendidikan Islam itu sebagai sarana untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai keislaman dan keindonesiaan kepada generasi yang akan datang," tegasnya.
Hadirnya perguruan tinggi Islam yang tersebar di Indonesia ini tidak lain adalah untuk memberikan warna keislaman di Nusantara ini. Begitu juga dengan UIN Maliki Malang yang hadir dengan visi mulianya yaitu pendidikan tinggi Islam yang unggul dan bereputasi internasional. "UIN Maliki Malang memiliki empat bidang utama dalam mewujudkan kampus yang unggul dan bereputasi internasional," tegasnya.
Empat bidang itu, kat Gus Is, yaitu unggul dalam moral dan akademik, unggul dalam manajemen dan penggalian sumber-sumber pendanaan, unggul dalam kinerja mahasiswa atau lulusan, serta unggul dalam pengembangan kerjasama. "Itulah unggul yang dimaksud dalam visi UIN Maliki Malang, jadi ini harus dipahami oleh seluruh sivitas akademika," harapnya.