GEMA-ICONETOS di hari kedua ini dilanjutkan dengan sesi pleno atau Plenary Session yang diisi dua keynote speaker Prof. Faisol Mahmud Adam Ibrahim dari Universitas Al-Qur’an Al-Kareem wa ‘Ulum Al-Islamiyyah, Sudan, dan Prof. Akira Kikuchi asal Hiroshima University, Japan, Jumat (11/10). Mengawali sesi pleno, Prof. Kikuchi sapaan akrab Akira Kikuchi menjelaskan perkembangan dunia digital era kekinian yang biasa disebut Industri 4.0. Seiring perkembangan teknologi, manusia mau tidak mau harus mengikuti perkembangannya. Era digital menjadi tren otomasi pertukaran data dengan cepat. "Data yang berada di internet menjadi sumber informasi dan mampu memberikan kontribusi informasi yang kreatif dan bisa juga merusak," paparnya.
Dalam lini kehidupan saat ini, komputer dan proses digitalisasi sudah menjadi bagian dari kebutuhan primer, misalkan saja keberadaan HP yang multifungsi serta sistem siber-fisik internet untuk memenuhi segala informasi yang dibutuhkan. "Perkembangan Industri 4.0 menghasilkan 'pabrik cerdas' dan kreatif, " paparnya. Mengakhiri paparan materinya yang bertajuk Does Environmental Monitoring Being Affordable and Participatory? Kikuchi berpesan bahwa perkembangan industri 4.0 ini harus diimbangi dengan sikap yang cerdas dalam menerima dan menggunakan teknologi yang terus mengalami perkembangan sangat pesat ini. "Teknologi yang berkembang harus pro lingkungan, jangan sampai kehadirannya malah merusak lingkungan yang ada, itu sangat berbahaya" pungkasnya mengakhiri paparan materinya di Hall Ijen Suites Malang.
GEMA-10th International Conference on Green Technology berhasil diadakan di Hotel Savana pada Rabu (2/10) hingga Kamis (3/10). Konferensi tahunan Fakutas Sains dan Teknologi UIN Malang tersebut pertama kali diadakan di luar kampus setelah sepuluh tahun. Jumlah peserta diperkirakan mencapai lebih dari 200 peserta dari berbagai cabang ilmu sains. Tak hanya berasal dari Indonesia, peserta juga hadir dari luar negeri, seperti Thailand, Malaysia, hingga Jerman.
Menurut ketua panitia, Rachmawati Ningsih, M.Si, konferensi ini memulung lebih banyak peserta dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Tahun-tahun sebelumnya biasanya diadakan di kampus atau rektorat. Tahun ini, pesertanya lebih banyak. Ya, dengan harapan bisa menjadi bentuk kontribusi terhadap penelitian masalah-masalah lingkungan,” ungkap Rachma. Tak hanya memberikan wadah pada peneliti-peneliti sekelas akademisi, Fakultas SAINTEK juga memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk berkarya. Total sejumlah 30 mahasiswa ikut serta mempresentasikan poster ilmiah dalam agenda ini. Sejumlah mahasiswa tersebut terjaring dalam Riset Kompetitif Mahasiswa (RKM). “Ini kolaborasi dengan dosen. Sebenarnya buat skripsi. Cuma karena kebetulan ada RKM ini, saya coba saja, siapa tahu dapat,” jelas Yolanda Sintia Dewi, salah satu mahasiswi jurusan Kimia yang turut dalam kompetisi poster.
Poster-poster karya mahasiswa tersebut rupanya menuai pujian dari pembicara utama. Menurut mereka, karya-karya tersebut sudah cukup bagus untuk dikompetisikan dalam konferensi-konferensi internasional. Reporter: Zahra
GEMA-Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag secara resmi membuka langsung kegiatan konferensi internasional pertama tentang Teknik, Teknologi, dan Ilmu Sosial atau the 1st Internasional Conference On Engineering, Technology and Social Science (ICONETOS) di hotel Ijen Suites Malang, Kamis (10/10). Turut hadir keynote speaker Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP, M.Ag, (Director of Islamic Higher Education) Prof. Faisol Mahmud Adam Ibrahim (Universitas Al-Qur’an Al-Kareem wa ‘Ulum Al-Islamiyyah, Sudan), dan Prof. Akira Kikuchi (Hiroshima University, Japan).
Prof. Haris dalam sambutannya menyampaikan bahwa UIN Malang telah melakukan upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui proses integrasi keilmuan yang dikembangkan di kampus ulul albab. Dia menilai Proses integrasi di UIN Malang bisa dilakukan melalui dua aspek yaitu keilmuan dan lembaga kampus. Ilmu itu tidak bisa lepas dari literasi, dan transendensi atau berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta, sehingga Allah dalam firmannya menegaskan melalui surat yang pertama kali diturukan kepada Rasulullah yaitu surat Al Alaq. "Sejak awal Islam tidak ada dikotomi keilmuan, ini terjadi karena arus sekularisme keilmuan menjadi terkotak-kotak," jelasnya.
Ada sekitar 73 makalah yang akan di bahas dalam konferensi tiga hari tersebut, untuk itu, tambah dia, melalui forum diskusi dari para ilmuan ini diharapkan bisa menyumbangkan pemikiran integrasi keilmuan yang dikembangkan di UIN Malang," harapnya. Sementara itu, salah satu kynote speaker Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP, M.Ag membeberkan perkembangan era digital 4.0 yang tidak bisa dipungkiri adanya. Kehadirannya harus bisa diambil manfaat dan kontribusinya. “Sehingga generasi milenial saat ini tidak ketinggalan,” paparnya. Adanya perkembangan teknologi ini, kata dia, memiliki dampaknya luar biasa, semua informasi bisa dihadirkan dengan cepat, sehinggah muncul istilah ustaz google dan ustadzah youtube. "Ketika siswa tidak puas dengan gurunya, maka mereka akan berselancar dengan google dan youtube untuk menggalih informasi," paparnya. Generasi milenial ini kiblatnya sudah ke internet, malalui pintu google yang mudah diakses di HP Androidnya masing-masing. Namun, ini bisa menjadi pemicu terjadinya kesalah pahaman dalam perbedaan. "Tentu kita tidak bisa mengklaim pemahaman kita benar dan yang lain salah, bisa jadi mereke yang lebih benar," paparnya. Tayangan televisi saat ini turut menjadi promosi gratis dan sekaligus memiliki dampak yang nyata terhadap prilaku masyarakat. "Ini menjadi penggerak nyata terhadap pola hidup bagi generasi dan masyarakat," paparnya.
Untuk itu, tambah dia, jadilah generasi kritis yang tidak mudah termakan hoax, selalu open mind, terbuka dan mau menerima masukan untuk perbaikan. “Seorang muslim yang moderat itu perlu melihat perkembangan global, lokal, dan bersikap moderat,” pungkasnya.
GEMA-Setiap tahunnya, kampus UIN Malang memiliki musim semi layaknya negara empat musim lainnya. Bunga-bunga berwarna kuning yang tersebar di hampir semua wilayah kampus tersebut memiliki nama asli Tabebuya atau Pohon Terompet Emas. Bunga-bunga indah ini selalu mekar sekitar akhir September hingga akhir Oktober. Tak heran jika momen ini pun dimanfaatkan mahasiswa untuk menjadi spot foto favorit. Apalagi jika terkena hembusan angin, maka akan ada efek gugur yang makin mempercantik bidikan kamera. Noor Aini Azizatu Uljana binti Musadi, mahasiswa asal Malaysia pun tak mau melewatkan momen ini. “View-nya bagus, yang foto di situ juga ramai jadi ngikutaja. Ternyata hasilnya bagus,” tutur mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam itu.
Bunga Tabebuya ini bisa dijumpai di sepanjang jalan kawasan Kampus Hijau. Terutama bagi yang melewati Lapangan Utama kampus, pohon ini banyak tersebar. Sehingga jalanan sekitarnya bagai berkarpet bunga kuning. Jangan lewatkan momen ini ya, guys. Yuk foto sebanyak-banyaknya sebelum musim semi lewat. (lai/nd)
GEMA-Tak hanya ingin berkiprah di lingkup Malang Raya, Halal and Thayyib Center (HTC) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut berpartisipasi dalam program di tingkat Provinsi Jawa Timur. Belakangan, pemerintah provinsi memang sedang mencanangkan Halal Tourism (Wisata Halal) khususnya di wilayah Jatim. Untuk itu, pemprov mengadakan East Java Halal Tourism di Grand City Surabaya selama enam hari (8-13/10). HTC UIN Malang yang memiliki visi-misi serupa pun ambil bagian dalam pameran tersebut. Ketua HTC UIN Malang Begum Fauziyah, M.Farm. menyatakan bahwa lembaganya menjadi satu-satunya Halal Center tingkat perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam acara besutan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim itu. “Kami tidak hanya berpartisipasi dalam pameran saja,” imbuhnya. Dosen Jurusan Farmasi tersebut juga menjadi pembicara dalam Talkshow bertema Peran Halal Center dalam Percepatan Pengembangan Halal Tourism di Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Begum mensosialisasikan kegiatan dan fokus lembaganya. Seperti, kurikulum edukasi dan sosialisasi halal, riset dan pengembangan produk halal dan thayyib. “Kami juga berbagi kegiatan yang telah dan sedang dilaksanakan seperti advokasi dan pembinaan atau pendampingan pariwisata halal,” papar alumni Universitas Airlangga Surabaya tersebut. Pihak HTC yakin bisa menjadi peserta aktif dalam membantu Pemprov Jatim untuk merealisasikan program wisata halal. “Kami tidak ingin jadi penonton saja, tetapi juga menjadi bagian dari program positif yang dicanangkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim ini,” ujarnya optimis. (nd)
GEMA-Gelaran Wisuda UIN Malang periode ketiga tahun 2019 meluluskan 800 wisudawan program sarjana dan pascasarjana, Sabtu (5/10). Rektor Prof. Dr. Abdul Haris M.Ag. mengukuhkan 305 wisudawan dan 495 wisudawati di Gedung Sport Center. Tidak kurang dari 61 persen wisudawan berhasil memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) berpredikat cumlaude. Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. M. Zainuddin rata-rata IPK periode ini lebih tinggi daripada periode lalu, yaitu 3.66. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan UIN Malang bersama enam PTKIN se-Indonesia akan bekerjasama dengan pemerintah Arab Saudi dalam program internasionalisasi kampus. “Total bantuan yang diberikan mencapai satu triliun,” ujarnya. Menurutnya, Kampus Hijau UIN Malang dipilih karena sudah memiliki modal yang mencukupi. Pasalnya, lanjut rektor, pelajar luar negeri yang melanjutkan studi di kampus ini berasal dari 42 negara dengan jumlah mencapai 373 mahasiswa. “Yang diwisuda hari ini berasal dari Rusia, Malaysia, dan Libya,” lanjutnya. Rektor menegaskan untuk mendukung program tersebut UIN Malang akan membuka prodi baru program pascasarjana. Salah satunya yang telah mendapatkan izin operasional yaitu S2 Psikologi. “Kami juga akan membuka S2 Teknologi Informasi,” tutur Prof. Haris. Proses Internasionalisasi, sebenarnya sudah ada di UIN Malang. Sehingga perbedaan bangsa dan budaya tidak menjadi persoalan. Hal tersebut terbukti dengan adanya peristiwa pernikahan antar negara di kampus ini. “Ternyata yang dinikahi mahasiswa Rusia kemarin dari Lamongan,” pungkas Rektor. (ir/nd)
GEMA-Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) sibuk mempersiapkan gawe tahunannya Islamic Education Festival (IEF). Kegiatan selama seminggu (13-18/10) tersebut merupakan rangkaian milad jurusan di bawah naungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Pada puncak acara (18/10) pihak jurusan akan mengundang Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang lebih dikenal sebagai Noe, vokalis band Letto. IEF akan terbagi menjadi tiga rangkaian kegiatan. Pertama, Forum Group Discussion (FGD) yang diikuti oleh seluruh mahasiswa PAI. Selanjutnya, panitia akan mengadakan kompetisi intra jurusan, seperti Futsal, Qiroah, Microteaching, dan Bazar. Gebyar IEF akan ditutup dengan santunan anak yatim dan pengajian bersama Noe Letto. Sibro Amulisi, Ketua Pelaksana IEF menuturkan ada beberapa kendala yang dihadapi timnya. Salah satunya ialah mencari sponsorship dari perusahaan yang ditarget panitia. “Namun, alhamdulillah persiapan sudah mencapai 89%,” jelasnya. Ia berharap acara tahunan tersebut berjalan sesuai rencana. Ia pun meminta agar mahasiswa Jurusan PAI memanfaatkan kegiatan tersebut untuk melakukan hal-hal menyenangkan. “Niat saya agar semua mahasiswa bisa menjalin tali silaturahmi yang baik tak terhalang oleh nama dan tahun angkatan,” imbuh mahasiswa semester tiga tersebut. (lai/nd)
BAGI ILMU: Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd saat menyampaikan materinya.
GEMA-Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar literasi, Sabtu (5/10). Seminar ini dilaksanakan di Auditorium Saintek lt. 4, dan diikuti kurang lebih 200 mahasiswa UIN Maliki sebagai peserta seminar. Literasi di era post-truth menjadi tema seminar kali ini karena dewasa ini, faktanya masyarakat lebih mempercayai perkataan tokoh terkenal dibanding dengan data dan fakta yang ada. “Era pasca-kebenaran merupakan bentuk perubahan yang luar biasa dengan sangat cepat”, Ujar Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. dalam memaparkan materinya. Era ini berada pada zaman disrupsi dimana perubahan yang sangat besar secara tiba-tiba yang menimpa seluruh sektor manusia. Tambah guru besar UM Malang tersebut. Indonesia sudah mulai memasuki zaman ini sejak dari 3-4 tahun yang lalu. Post-Truth juga dapat difahami dengan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi tetapi dibuat terjadi, seperti: hoax, fake news, kabar palsu dan istilah-istilah lainnya. Dalam revolusi 4.0 ini tidak ada yang dapat menanggulangi kemajuan teknologi, sehingga Kepala Perpustakaan Pusat UM ini memberikan beberapa prinsip kemanusiaan dan humanitisme yang harus dimiliki untuk mencegah hal tersebut.
Pertama, memiliki karakter, tata krama, akhlak, dan etika. Sehingga, karakter yang kuat dapat mengontrol diri dalam revolusi digital ini. Kedua, memiliki kompetensi, kemampuan dalam memilih dan memilah teknologi dan informasi secara baik dan benar. Ketiga, literasi digital, mengerti dan memahami informasi tersebut mulai dari sumber, isi, penganggung jawab dan mengerti dengan tepat mengenai hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang dalam dunia kepenulisan literasi. Setelah memahami prinsip, tidak bisa untuk dihindari dalam era revolusi digital ini dengan munculnya penyakit revolusi digital. Penyakit tersebut adalah kedangkalan berfikir. Dalam seminarnya Prof. Djoko memberikan dua pilihan untuk menghadapi revolusi digital yang kilat ini. Pertama, dengan memperlambat laju perubahan. Kedua, mempercepat laju perubahan. Menurut Prof. Djoko, lebih baik memilih untuk memperlambat lajunya karena untuk menyelamatkan saraf kejiwaan masing-masing individu. “Tujuannya agar seorang anak dapat tempat bercerita secara fluent kepada orangtuanya tanpa diburu kuota dan baterai,” terangnya. Melalui literasi ini tambah dia, informasi dapat cepat, tepat, cermat, cendikia, dan informatif. “Disinilah perpustakaan dan ilmu informasi memiliki peran yang menjadi tonggaknya masyarakat agar ber-literate dengan tepat”. Ucap pria ramah ini sebelum menutup materinya. Sehingga, ilmu perpustakaan menjadi mercusuar masyarakat untuk mencari informasi. (ofi)
GEMA-Pusat Kajian Zakat dan Wakaf “eL-Zawa” UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menyapa masyarakat dengan silaturahmi berikut santunan dhuafa. Berbeda dengan acara-acara sebelumnya, kali ini eL-Zawa melebarkan sayap ke wilayah luar Lowokwaru, tepatnya di Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun. Menurut Ketua eL-Zawa, Nurul Yaqien, hal tersebut merupakan upaya perluasan santunan eL-Zawa ke wilayah sekitar kampus. “Karena kan Kecamatan Sukun ini merupakan tetangga UIN Malang yang paling dekat. Sebelumnya belum pernah ada (santunan). Ini yang pertama,” ungkapnya. Tak hanya memberikan santunan, akses bantuan kesehatan dan fasilitas lain dari eL-Zawa kini juga dapat dinikmati oleh warga Karangbesuki. Prosedurnya sama, hanya perlu datang ke kantor terlebih dahulu. Perluasan bantuan ke wilayah Sukun ini pun mendapat sambutan hangat dari pihak kecamatan dan Kelurahan Karangbesuki. Seperti yang diungkap oleh Kepala Kelurahan, Bambang Heryanto, M.Si., kegiatan ini sangat membantu. “Kegiatan ini bagus sekali. Luar biasa. Supaya kampus itu bisa silaturahmi dengan tetangga. Jadi, (tetangga-tetangga) bisa mendapat biasnya, mendapat barokah,” jelas Bambang. Untuk selanjutnya, eL-Zawa akan melaksanakan silaturahmi dan santunan dhuafa yang serupa di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (*/nd)