GEMA-Prof. Dr. Irwan Abdullah, salah satu reviewer Scopus kali ini memberikan tips sukses menulis artikel yang bisa diterima di jurnal terindeks Scopus. Dia menegaskan bahwa tulisan yang bisa tembus kuncinya hanya dua, yaitu penguasaan literatur yang bagus dan data yang valid, Minggu (4/11). Penguasaan literatur yang bagus itu biasanya berbasis online dan berkualitas. Sumber yang dijadikan rujukan bisa dilacak secara online dan terdaftar secara resmi. Sehingga, saat pencarian validitas sumber,mudah dilacak melalui mesin pencarian. “Open access saat ini sudah menjadi kewajiban bagi setiap penulis artikel,” paparnya. Selain memiliki literatur yang bagus, penulis juga harus memilki data penelitian yang akurat. Semakin akurat data yang dimiliki, maka akan berdampak pada pembahasan penelitian yang akhirnya mengerucut pada hasil atau kesimpulan penelitian. “Jika semua sudah terpenuhi, maka penulis harus mengikuti aturan template jurnal yang ada,” pesannya. Jika dua kunci tersebut diikuti, tambah Bapak berkumis tersebut, maka kesempatan diterimanya artikel makin besar. Setiap tulisan tentu perlu komitmen dan kejelian dari penulis jika ingin diterima di scopus.
GEMA-Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang kembali mendatangkan Prof. Dr. Irwan Abdullah, salah satu reviewer Scopus untuk memberikan materi bagaimana cara menulis artikel yang berkualitas dan bisa diterima di scopus. Kegiatan workshop Academic Writing kali ini dilaksanakan di Hotel Pelangi dan diikuti seluruh calon guru besar UIN Malang. Minggu, (4/11). Prof. Irwan dalam paparan materinya menjelaskan bahwa banyak tulisan ditolak di scopus akibat banyak penulis yang melakukan penipuan. Anehnya, si penulis artikel sendiri tidak tahu kalau sudah melakukan penipuan. Bagi scopus, mudah sekali untuk mengetahui apakah artikel tersebut original atau malah hasil plagiat. “Scopus akan memasukkan naskah tersebut ke serch angine secara online dan original naskah tersebut akan akan langsung dicek bibliografinya,” paparnya. Dalam hitungan detik saja, kata dia, naskah yang dikirim tersebut akan ketahuan, apakah bibliografinya memilki link yang jelas atau malah bohongan. “Kita sering terperangkap dipermasalahan tersebut, ketika barcode sumber dicek keluar nama orang lain,” terangnya. Guru besar Antropologi UGM tersebut berpesan bahwa, jangan pernah mengutip bibliografi tulisan yang tidak bisa ditemukan secara online. Minimal, daftar rujukan yang diambil sudah terdaftar di googlescholar. “Mengutip apapun jangan sampai bersumber dari kebohongan,” tegsanya.
GEMA-Memasuki era industri 4.0, dunia pendidikan diminta untuk membekali masyarakat dengan nilai-nilai luhur. Salah satunya nilai keislaman. Hal ini senada disampaikan oleh Prof. Dr. Zahrah binti Hussain dan Prof. Dr. Ahmad Fuad Effendy. Keduanya merupakan pemateri utama dalam seminar internasional yang diadakan HMJ Pendidikan Agama Islam (PAI) di Aula Rektorat Lt. 5, Kamis (1/11). Teknologi, ujar Prof. Zahrah, akan selalu berubah mengikuti perkembangan keilmuan manusia. Wajar, karena manusia akan selalu beradaptasi dengan lingkungan dan zamannya. Namun, masalah lain tentu akan muncul. Para pakar pendidikan khawatir, nilai-nilai luhur nenek moyang akan semakin dilupakan. Faktanya, semakin banyak pemuda yang walau selalu update dengan teknologi, tetapi tidak memiliki perilaku yang baik. Alhasil, sikap negatif mereka sering nampak saat berinteraksi di dunia maya. “Jangan sampai kita sebagai muslim menjadikan alasan mengikuti arus globalisasi untuk meninggalkan nilai-nilai keislaman,” tegas guru besar di University of Malaya, Malaysia tersebut. Menurutnya, alasan mengikuti arus industri 4.0 tidak bisa dijadikan penghalang dalam bersikap luhur. Dengan adanya teknologi yang bervariasi, seseorang justru memiliki banyak pilihan untuk menebar hal positif. “Manfaatkan teknologi itu untuk mengajarkan orang lain dalam menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam al Quran,” jelas wanita berkacamata itu. Sementara itu, Prof. Fuad menyarankan agar seseorang tidak menutup diri di arus industri 4.0 ini. Teknologi dan segala produknya justru menjadi sarana efektif untuk berdakwah dengan menyasar para generasi muda. “Ibaratnya teknologi yang canggih ini jembatan kita untuk menyebar nilai positif Islam pada muda-mudi,” imbuh dewan pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Centre of Arabic Language ini. Ia juga menuturkan salah satu keuntungan yang bisa didapat jika kita mengikuti industri 4.0 dengan sikap positif ialah tidak mudah termakan hoax. Era informasi digital tentu menjadi tempat yang tepat untuk memeriksa kembali apa yang sudah kita terima. “Itulah yang kita namakan tabayyun dalam Islam. Semoga tidak ada lagi masyarakat yang termakan kontroversi murah jika tahu bagaimana ber-tabayyun menggunakan teknologi,” tambah lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor tersebut. Seminar internasional ini menjadi pembuka gebyar International Education Festival 2018 yang digagas HMJ PAI. Selanjutnya, acara akan diisi dengan beragam kompetisi antar kelas, jurusan, dan olimpiade PAI se-Jawa-Bali. (syf/nd)
LANCAR: Nur Fidayat berbagi pengalaman berburu Beasiswa LPDP dengan mahasiswa UIN Malang di aula Micro Teaching.
GEMA-Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) masih jadi favorit mahasiswa yang ingin melanjutkan S2. DEMA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menyelenggarakan Workshop Scholarship yang mendatangkan tiga narasumber penerima beasiswa LPDP, Kamis (1/11). Yaitu, Nur Fidayat, Andi Indra Saputra, dan M. Ali Machrus. Acara ini dilaksanakan di Gedung Micro Teaching, FITK. Nur Fidayat, mahasiswa S2 Universitas Negeri Malang, mengatakan ada empat hal yang harus diperhatikan saat mendaftar beasiswa LPDP. Namun yang terpenting adalah restu orang tua. "Jika kita mendapat restu dari ibu dan ayah kita, semua akan berjalan dengan lancar," jelasnya. Selanjutnya, niat dan mental harus ditujukan untuk berkontribusi kepada negara, bukan hanya mencari gelar. Selain itu, lanjut Fidayat, calon penerima beasiswa harus memiliki rasa kepekaan sosial. Caranya, dengan sering menjadi relawan atau membuka jasa les private untuk anak-anak di sekitar tempat tinggal. Unsur-unsur tersebut harus tercantum jelas dan logis di esai yang ditulis. "Rencana studi juga harus tercantum jelas di esai," imbuhnya. Ia juga menyarankan agar mahasiswa Andi Indra Saputra, mahasiswa S2 Universitas Brawijaya, menambahkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris juga penting. "Skor TOEFL minimal lolos seleksi LPDP reguler adalah 500 sedangkan LPDP Afirmasi 400," jelas mahasiswa Administrasi Bisnis tersebut. Ia menganjurkan agar mahasiswa ikut organisasi kampus meski skala kecil. "Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, Red.) ya," candanya. (ir/nd)
UPTODATE: Dr. Agus Maimun, Dekan FITK, memberikan sambutan dalam pembukaan gebyar International Education Festival 2018
GEMA-Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang membuka resmi International Education Festival (IEF) 2018, Kamis (1/11). Perhelatan ini akan diisi beberapa rangkaian acara. Rencananya, panitia akan menghadirkan Cak Nun dan Kiai Kanjeng di acara penutupan. Sebagai pembuka, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Dr. Agus Maimun menyatakan dukungan penuh. Segala aktivitas mahasiswa yang bernilai ilmiah dan akademik, akan selalu mendapat respon dan dukungan positif. “Karena ini juga merupakan upaya kita untuk membesarkan nama kampus dari segi intelektualitas dan kualitas,” tuturnya. Sementara itu, Ketua Jurusan PAI Dr. Marno menjelaskan pemilihan tema Reaktualisasi Nilai-Nilai al Quran dalam Mengembangkan Pendidikan Akhlak di Era Revolusi Industri 4.0. Aktualisasi dan urgensi menjadi pertimbangan panitia dalam pemilihannya. Perubahan era manual menjadi digital tentu juga memasuki ranah pendidikan. “Hal ini menjadi salah satu bahan kami itu menelaah kembali kurikulum yang sudah ada,” jelasnya. Pihaknya ingin ada reformulasi pendidikan yang diinisiasi oleh Jurusan PAI UIN Malang. Ia tidak ingin pendidikan yang ada tertinggal dari arus zaman yang mengglobal. “Tentunya, walau mengikuti perubahan zaman, model pendidikan tidak meninggalkan pendidikan akhlak,” imbuhnya. IEF 2018 diawali dengan seminar internasional yang mendatangkan dua pemateri. Yakni, Prof. Ahmad Fuad Effendy, MA. (King Abdullah bin Abdulaziz International of Arabic Language) dan Prof. Dr. Zahara binti Hussin (University of Malaya, Malaysia). Perhelatan akbar milik PAI ini juga diisi dengan perlombaan antar kelas dan jurusan. Panitia juga mengadakan Olimpiade PAI tingkat Jawa-Bali pada (3/11). (ptt/nd)
SIAP BANTU: Ketua Halal and Thoyyib Center siap membantu para pengusaha UMKM dalam pelabelan halal suatu produk
GEMA-Makin maraknya masyarakat yang ‘melek’ akan kehalalan suatu produk, tentu disadari pengusaha. Hal ini dibarengi dengan makin banyaknya laboratorium halal yang diinisiasi beberapa perguruan tinggi. Untuk memberi informasi terkait hal tersebut, lembaga Halal dan Thoyyib Center (HTC) mengadakan seminar Pengembangan Produk Halal, Rabu (31/10). Acara di Auditorium Saintek Lt. 4 ini menyasar pengusaha UMKM Malang Raya. Ketua HTC Begum Fauziyah menyatakan, pihaknya ingin memberi wawasan bagi yang sudah ataupun sedang mengembangkan produk halal. Biasanya, lanjut Begum, para pengusaha apalagi yang pemula merasa kesulitan dalam pengurusan sertifikasi halal. Tak sedikit pula yang terhambat karena hal ini. “HTC yang merupakan rintisan akademisi di UIN Malang siap menjadi jembatan untuk label halal suatu produk,” papar wanita berkacamata ini. Upaya konkrit HTC untuk membantu UMKM, lanjut Begum, ialah mendaftar dan mengelompokkan jenis produk yang dibina. Selain itu, HTC membantu mereka untuk menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untu pengajuan sertifikasi halal. HTC juga memberi pendampingan pengajuan PIRT merk dagang dan sertifikasinya. "Kami sudah bekerjasama dengan Dinas Koperasi Jawa Timur untuk melakukan upaya ini semua," imbuh Ibu dua orang putra ini. Wakil Rektor Bidang Akademik Dr. M. Zainuddin menjelaskan betapa pentingnya produk halal saat ini. Besarnya jumlah muslim di Indonesia juga menjadi salah satu faktornya. “Karenanya, peran lembaga penjamin produk halal sangat diharapkan,” imbuhnya. Tugas pengusaha tak berhenti jika label halal sudah didapatkan. Selanjutnya, kualitas produk tentu butuh dipertahankan. Pengembangan manajemen suatu usaha pun perlu ditingkatkan. “Sehingga suatu usaha akan mendapat nilai trust dari masyarakat,” ujarnya mengawali acara. (kh/nd)
BERINOVASI: Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. menerima penghargaan Santri of the Year Bidang Pendidikan 2018 karena kontribusi dan inovasinya selama fokus di dunia Pendidikan
GEMA-Penganugerahan Santri of the Year 2018 sukses digelar di Gedung Sport Center and Multipurpose, UIN Sunan Ampel Surabaya, Senin (29/10). Perhelatan ketiga kalinya ini merupakan kerjasama lembaga Islam Nusantara Center (INC) dan tuan rumah. Dalam gelaran tersebut, santri-santri berprestasi di berbagai bidang diberi penghargaan. Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. menjadi salah satu penerima award. Prof. Haris menjadi pemenang pada Santri Berprestasi Bidang Pendidikan. Menurut pihak INC, ia dinyatakan layak sebagai pemenang karena peran aktifnya dalam berbagai bidang khususnya Pendidikan. Sebelum menjadi rektor, Prof. Haris sudah aktif mengasuh lembaga Ma’arif dan menjadi penggagas beberapa bidang usaha di bawah naungan lembaganya itu seperti Ma’ Chick. Setelah terpilih menjadi rektor, masih dari informasi INC, Prof. Haris meneruskan program UIN Malang dan terus berinovasi meningkatkan program yang belum ada. Seperti, UIN Berbagi yang menarget fakir miskin dan janda dhuafa, menggagas Majelis Zikr wa al Ta’lim, dan melalui el-Zawa memberikan pinjaman modal usaha bebas bunga kepada masyarakat. Ke depannya, ia akan meluncurkan Laboratorium al Quran sebagai wadah uji coba implementasi ajaran al Quran. Segala inovasi di UIN Malang, kata Prof. Haris, merupakan cara agar UIN Malang sebagai penyedia jasa pendidikan semakin dekat dengan masyarakat. “Karena pendidikan harus berubah seiring dengan perubahan pola pikir masyarakat sebagai pengguna jasa,” jelasnya. Sebelum mendapatkan penghargaan, pihak INC telah setahun menelusuri latar belakang rektor yang gemar berpuisi ini. Pesaingnya ialah rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan rektor UIN Walisongo Semarang. Tahun sebelumnya, penghargaan ini disabet oleh Wakil Gubernur saat itu, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Dalam perhelatan tersebut, ada beberapa sosok lain yang mendapat penghargaan. Di antaranya, Gubernur Kepulauan Riau Dr. Nurdin Basirun (Santri Berprestasi Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintahan Provinsi), Pemilik Jawa Pos Group Dahlan Iskan (Santri Berprestasi Bidang Wirausaha/Entrepreneur), Pengasuh Pesantren Kota Alif Lam Miim KH. Ahmad Imam Mawardi (Santri Berprestasi Bidang Dakwah), Ponpes Al Mawaddah Kudus (Pesantren Entrepreneur), dan Veve Zulfikar (Santri Berprestasi Bidang Kesenian). Pada acara yang dihelat sore hari tersebut, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak turut hadir. Sambutan disampaikan oleh rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, wakil gubernur Jatim, dan direktur INC di kesempatan yang sama. (nd/aj)
GEMA-Studium Generale yang diadakan DEMA Fakultas Syariah mendatangkan Ketua Mahkamah Konstitusi RI, Yang Mulia Dr. Anwar Usman, Jumat (26/10). Melalui sambutannya, Dekan Fakultas Syariah Saifullah bersyukur dapat mengundang Dr. Anwar karena padatnya jadwal Ketua MK. Dr. Anwar diundang khusus sekaligus sebagai pembukaan rangkaian acara Gebyar Pekan Hukum Syariah. Ia juga secara langsung menjelaskan sejarah pendirian MK di negara Indonesia Dalam paparannya, Yang Mulia Dr. Anwar menyatakan bahwa nilai-nilai Islam sudah banyak terserap dalam penetapan konstitusi. Walaupun, Indonesia bukan negara Islam. “Contohnya saja di sila pertama Pancasila, tentu sama dengan yang tertulis dalam ayat pertama al Ikhlas,” jelasnya. Tak hanya itu, penyebutan nama Tuhan dalam pembukaan UUD 1945 juga merupakan bukti bahwa Indonesia menempatkan Tuhan di jajaran teratas. Di beberapa pasal undang-undang pun, nama Tuhan menjadi dasar. “Tentu karena Allah adalah Dzat yang kita sembah dan imani,” tegasnya. Sebagai alumni universitas Islam, ia sangat berharap agar nantinya,banyak alumni UIN Malang yang memiliki peran penting di negara. Dengan begitu, akan semakin banyak muslim yang bisa berjuang dengan ilmu dan sekaligus mempraktikkan nilai-nilai Islamnya. (aqa)
GEMA-Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk kali pertama mengkolaborasikan dua konferensi internasional. Yakni, International Conference on Islam, Science, and Technology (ICONIST) dan International Conference on Law, Technology, and Society (ICOLESS). Acara dihelat di Hotel Klub Bunga Batu (24-25/10). Kedua acara merupakan kerjasama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Fakultas Syariah UIN Malang serta LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ketua LP2M UIN Malang Dr. Tutik Hamidah menjelaskan, konferensi ini diadakan untuk membahas lebih spesifik mengenai pengembangan mutakhir ilmu pengetahuan, teknologi, dan Islam. “Kita bersama-sama bertukar pendapat dan memahami keilmuan secara mendalam,” ajaknya. Dengan berbagi, lanjut Tutik, hasil penelitian tidak hanya menjadi berkas yang tertata di rak perpustakaan. Namun bisa diimplementasikan untuk kepentingan bersama. “Seperti yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni melaksanakan pendidikan dan penelitian sebagai bentuk mengabdi pada masyarakat,” jelas wanita berkacamata ini. Rektor UIN Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag. pun turut mengajak peserta konferensi untuk mengembangkan beragam pengalaman. Karena forum ini memuat beragam keilmuan, ia harap, peserta akan memiliki pengetahuan baru di luar bidang yang diminati. Ia juga berharap agar konferensi internasional ini dapat memberi rekomendasi yang implementatif. “Agar selanjutnya dapat digunakan untuk membangun sinergi antara Islam, teknologi, dan sains untuk keadilan sosial,” tuturnya. (ofi/nd)