Tatkala menginventarisasi kekayaan bangsa ini, maka orang segera menyebut bahwa negeri ini memiliki tanah yang subur dan luas, aneka tambang yang melimpah, kekayaan hutan, laut, jumlah penduduk yang besar, masyarakat majemuk tetapi bersatu, dan lain-lain.
Ketika diminta berceramah dalam pertemuan Pengurus dan Pimpinan Lembaga Pendidikan di lingkungan Hidayatullah se Indonesia pada hari Jum'at, tanggal 6 Juni 2014 di Suarabaya, saya mendapatkan pertanyaan sederhana, tetapi menurut hemat saya menarik untuk dijawab.
Sebenarnya saya tidak begitu suka menyebut kalangan tertentu sebagai orang kecil.
Merendahkan orang lain itu sebenarnya bukan perilaku atau cara-cara hebat.
Manakala penyebutan nama seseorang secara berulang-ulang dan dilakukan pada setiap hari dipandang sebagai pertanda bentuk kecintaannya, maka nama yang selalu disebut itu adalah Ibrahim, as.
Bangsa ini harus bersyukur, di tengah menghadapi berbagai persoalan berat, pelik, dan banyak teryata maih ada orang yang menyediakan dirinya untuk menjadi presiden dan wakil presiden.
Boleh-boleh saja siapapun mengejar-ngejar harta, agar menjadi kaya raya.
Dulu banyak pemimpin yang menggelorakan bahwa Pancasila adalah cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara.
Umat Islam jika tidak mau bersatu, sebenarnya sudah keterlaluan.