GEMA-UIN Sunan Ampel Surabaya tampil sebagai pemenang Cabang Lomba Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 dengan gemilang, Jumat (19/7). Perlombaan berlangsung meriah. Tepuk tangan dilonntarkan para penonton karena masing-masing dari peserta selalu tampil dengan memukau. Penentuan juara dinilai dengan sistem poin yang dinilai dari ketiga juri. Juara pertama yaitu Ariel Ahmad dari UIN Surabaya dengan poin 369. Juara kedua yaitu Nor Lutfi Fais dari IAIN Semarang dengan poin 341. Juara ketiga yaitu Masud dari IAIN Pekalongan dengan poin 337.
Ariel, perwakilan UIN Surabaya terlihat sangat menguasai kaidah-kaidah kitab kuning baik dari segi i’rab, makna kata, maupun kajian fiqih kontemporer. Terlihat para juri menguji dengan sungguh-sungguh materi yang dikuasai oleh Ariel terkait materi pengembangan fiqih kontemporer. “Qishas adalah hal yang sangat rentan karena salah sedikit saja orang bisa mati terbunuh,” jawabnya sebagai penutup yang mengantarkannya menjadi jawara MQK. (*/nd)
GEMA-Tidak seperti babak sebelumnya, pada semi final Debat Konstitusi, penonton diperbolehkan masuk dalam chamber. Dewan juri pun bertambah, dari tiga juri pada babak-babak sebelumnya, panitia menambah hingga total sembilan juri di semi final. Panitia berdalih, hal ini untuk melatih mental debator yang bertanding. Di babak ini, hanya empat tim yang tampil.
Mosi untuk semi final ialah “Judicial Preview oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia” dan “Kebijakan Sistem Zonasi Peserta Didik Baru”. Seperti pada perempat final, case building dilakukan sebelum debat dimulai. Mosi kali ini dibagikan langsung oleh panitia ketika pengumuman tim yang yang lolos ke babak semifinal. Sehingga hal ini membuat babak semifinal menjadi lebih ketat. Mengingat mereka diberi waktu yang sangat terbatas untuk mempelajari mosi tersebut. Babak final akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2019 di Ruang Senat Gedung Rektorat Lt. 4. (*/nd)
GEMA-Sebanyak enam finalis Musabaqoh Karya Tulis al Quran di Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 mempresentasikan karya yang dibuat pada babak penyisihan, Jumat (19/7). Mereka adalah yang terpilih dari 39 peserta awal. Di hari yang sama pula, panitia telah memutuskan ketiga juara. Peserta asal IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, I’syatul Luthfi dinobatkan sebagai juara pertama dengan total nilai 307. Juara kedua diraih Rofiatul Windariana (IAIN Madura) dengan nilai 300 dan juara ketiga diraih Anisa Nuril Fajriyah (IAIN Surakarta) dengan poin 287. M. Alifudin Ikhsan, Juri MKTQ menjelaskan bahwa perjuangan peserta masih panjang. Mengikuti lomba tersebut adalah tahapan awal. Peserta perlu mengembangkan gagasan dan solusi yang ditawarkan. “Ke depan, naskah para finalis akan dipublikasikan di jurnal yang disasar panitia,” ujarnya. (*/nd)
GEMA-Hadrah, cabang lomba seni yang hanya dihelat sehari dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 ini sudah mengumumkan para pemenangnya di sore hari, Kamis (18/7). Lomba ini diikuti 15 perwakilan dari seluruh PTKIN di Indonesia. Lomba tersebut diadakan di depan Mabna Al Ghazali UIN Malang kampus satu. Ahmad Faruq, Penanggung Jawab Hadrah, menyatakan pihaknya memberi kebebasan pada peserta untuk berkreasi. Dengan ini, panitia berharap kreativitas peserta semakin beragam. “Kami harap di tahun mendatang, peserta lomba ini semakin banyak,” tuturnya.
Kontingen UIN Syarif Hidayatullah dinyatakan oleh juri sebagai peraih medali emas pada PIONIR tahun ini. Berikut daftar lengkap pemenang Lomba Hadrah PIONIR 2019: Juara 1: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Juara 2: IAIN Kediri Juara 3: IAIN Cirebon Harapan 1: IAIN Kudus Harapan 2: IAIN Jember Harapan 3: IAIN Ponorogo
GEMA-Salah satu cabang olahraga yang selesai pada hari ketiga Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 ialah Panjat Dinding, Kamis (18/7). Ahmad Sholehuddin, Atlet UIN Sultan Syarif Kasim Riau merebut medali emas pada kategori lead putra. Dari babak semi final, ia sudah tampil memukau. Dari seluruh atlet putra, hanya dia yang bisa mencapai titik tertinggi yang membuatnya mendapat posisi di final. Lagi-lagi, ia memukau penonton dan dewan juri dengan capaian tertingginya di babak final. Meski tampil di urutan terakhir, ia tetap tangguh dan tak gentar. Performanya justru semakin baik. Sedangkan, di posisi kedua ada Yukasmi Syamsisko (IAIN Kerinci) dan Ziqwan Rivaldo Tamel (UIN Imam Bonjol Padang) di posisi ketiga.
Sementara itu, di kategori lead putri, Nofi Ningtiyasari (UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten) menjadi juara pertama. Disusul Nurul Khasanah (IAIN Surakarta) pada posisi kedua dan terakhir Ukhti Melati (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). (*/nd)
GEMA-Semi final Cabang Lomba Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) berlangsung dengan penuh khidmat, Jumat (19/7). Peserta nampak siap menjawab pertanyaan rumit apa saja yang akan diutarakan ketiga dewan juri. Para penonton pun memperhatikan soal-soal yang diberikan. Tidak seperti sebelumnya, para peserta semi final diseleksi lebih ketat dengan hanya dua pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan sama seperti sebelumnya, hanya harus disertai dalil-dalil dari kitab lainnya yang telah dihafal peserta sebelumnya. 40 menit peserta harus tampil dan menjawab pertanyaan tersebut. Aril, peserta MQK dari UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan bahwa pertanyaan yang diberikan sangat berat. Tidak seperti mata kuliah yang ada di kampus. "Ilmu fiqih modern memang berbeda dengan fiqih klasik. Lebih luas cakupannya," ucapnya. (*/nd)
GEMA-Perwakilan UIN Sunan Kaijaga Yogyakarta berhasil memenangkan perlombaan di cabang Karya Tulis Ilmiah Ilmu Sosial pada Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9, Kamis (19/8). Perlombaan ini berlangsung sangat kompetitif karena melibatkan PTKIN di berbagai daerah dan materi yang dipresentasikan juga beragam. M. Al Faridho Awwal dengan karyanya berjudul Sedekah QR (SQR): Penawaran Skema Sedekah Non Tunai Demi Meningkatkan Minat Sedekah Masyarakat Milenial itu berhasil menyumbangkan medali emas setelah mengalahkan 10 finalis yang lain. “Alhamdulilah saya senang sekali. Insya Allah, saya tidak akan sombong, saya akan rendah hati dalam menerapkan ilmu yang saya miliki,” tuturnya. Ia juga mengungkapkan terima kasihnya pada teman-teman, pelatih, dan panitia PIONIR 2019 yang sudah menyukseskan acara tersebut. Sementara itu, medali perak diraih Novia Elga Rizqiya (UIN Sunan Ampel Surabaya) dan medali perunggu oleh Nur Hamidah (UIN Sunan Gunung Djati Bandung). (*/nd)
GEMA-47 finalis Duta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) saling menunjukkan kualitas dan bakat yang dimiliki. Lomba yang termasuk dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9 ini dihelat di Lippo Plaza Kota Batu, Kamis (18/7). Ketiga juri yang diundang untuk menilai para peserta ialah Dra. Siti Sakdiyah, M.Pd., Wahyu Sopyan, S.Ag., dan Wahyu Agus Setiono, S.I.Kom.
Apapun talenta dan bakat yang dipilih peserta, diperbolehkan oleh tim panitia selama masih dalam koridor visi-misi PTKIN. Beragam hal dipertunjukkan, seperti menyanyi, puisi, pantun, tari daerah, monolog, pidato, mengaji bahkan membuat makanan penutup. Peserta tuan rumah UIN Malang menunjukkan kebolehan menari tradisional, yakni Tari Topeng khas Malang. “Kita harus bangga karena mahasiswa PTKIN tak hanya bisa mengaji, namun juga bakat lainnya,” ujar Siti Sakdiyah. (*/nd)
GEMA-Ketua Taekwondo Kota Malang Bambang Kalijogo menyatakan keterkejutannya setelah melihat minimnya jumlah atlet yang mengikuti Lomba Cabang Olahraga Taekwondo. Pasalnya, lomba ini ada dalam ranah nasional sekelas Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) ke-9. Pernyataan itu ia sampaikan saat membuka perlombaan yang berlangsung di MAN 1 Kota Malang, Kamis (19/7). “Saya kaget dengan jumlah ini, bahkan perlombaan tingkat kota jauh lebih banyak,” tuturnya. Tercatat, ada 16 peserta mahasiswa dan 17 mahasiswi yang mendaftar di cabor ini. Novarli, Pelatih Taekwondo Kontingen UIN Sunan Ampel Surabaya juga memiliki kesan yang sama. Namun ia memaklumi. Pasalnya, dari 58 PTKIN se-Indonesia, hanya beberapa saja yang memiliki UKM Taekwondo. “Jadi hanya sedikit kampus yang mendapat undangan untuk berpartisipasi di PIONIR,” jelasnya. Dengan jumlah peserta yg relatif minim ini pihak panitia langsung menjaring peserta untuk maju ke final. Masing-masing kategori, baik putra maupun putri diambil delapan peserta saja untuk melaju ke laga final pada Jumat (20/7).